Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Menghakimi


__ADS_3

Sedari malam, candaan Gio masih terngiang-ngiang di kepala Riana.


Karma itu, Bang. Tadi, kamu nyuruh si Ziva minum racun serangga pakai es batu.


"Ada apa sebenarnya?" gumamnya.


Keesokan paginya, Riana tersentak ketika ada tangan yang melingkar di pinggangnya dari belakang.


"Kenapa ngelamun?"


Aksa sudah meletakkan dagunya di pundak sang kekasih. Sedangkan Riana masih betah memandang ke arah jendela kamar.


"Apa ada masalah lagi dengan Ziva?"


Pertanyaan datar Riana membuat Aksa menegakkan kepalanya, tanpa melepaskan pelukan di pinggang Riana. Dia tidak menjawab, dia malah membalikkan tubuh Riana dan menatap lekat manik mata wanita di depannya.


"Meskipun dia berulah. Keputusan Abang tidak akan pernah bisa diubah."


Riana masih bergeming, tatapannya masih datar. Terlihat sorot mata penuh kecemburuan. Aksa mengecup kening Riana sangat dalam. Kemudian, memeluknya.


"Dia mau mati pun Abang tidak peduli. Sekarang, kamu lah yang selalu Abang pikirkan. Kamu lah prioritas Abang."


"Kenapa Abang gak bilang sama Ri? Harusnya Abang terbuka sama Ri perihal apapun."


Aksa mengurai pelukannya. Menangkup wajah cantik Riana.


"Abang dijemput sama Christian. Dia gak bilang apa-apa. Tahu-tahu mobilnya berhenti di rumah sakit. Ternyata ada orang yang sedang ingin melakukan bunuh diri secara streaming," kekehnya.


Wajah datar Riana membuat Aksa gemas. Apalagi diamnya Riana.


"Udah dong, Abang minta maaf. Jangan cemberut begitu. Jelek tahu." Aksa mengusap lembut pipi Riana.


Aksa menariknya lagi ke dalam pelukan. Mengecup ujung kepalanya berulang.


"Jangan tinggalin Ri lagi. Cukup dulu Abang ...."


"Abang tidak akan pernah tinggalin kamu lagi. Abang janji." Aksa semakin mempererat pelukannya.


Dari balik pintu kamar, seorang playboy tengik sedang tersenyum bahagia. Abangnya yang telah hilang kini kembali lagi. Aksa yang dingin dan kaku kini sudah kembali seperti dulu.


Mereka turun untuk sarapan. Lengkungan senyum terukir di wajah Ayanda dan juga Gio. Apalagi, wajah putranya yang berseri nampak terlihat jelas.


"Kapan kalian akan terbang ke Jogja?" Gio membuka suara.


"Ayah sudah meneror Mommy terus. Menanyakan kapan anak gadisnya dikembalikan," sambung Ayanda.


"Mungkin siang," jawab Aksa yang masih fokus pada ponselnya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Aksa kembali ke kamar untuk mengambil jas serta tasnya.


"Sayang, Abang berangkat, ya."


Suara Aksa membuat Riana yang sedang berbincang dengan Ayanda menoleh. Balutan jas hitam di tubuhnya membuat Riana terpesona untuk sesaat.


Sangat tampan.


Aksa memberikan senyum termanisnya dan tak segan mengecup ujung kepala Riana yang masih duduk bersama sang Mommy.


"Antar Aksa ke depan, Ri."


Riana pun mengikuti perintah dari calon ibu mertua. Tangan Aksa menggandeng tangan Riana dengan sangat mesra. Langkah Aksa terhenti tepat di samping mobilnya yang sudah terparkir.


"Abang berangkat, ya. Sebelum makan siang Abang usahakan sudah pulang dan kita akan terbang ke Jogja." Riana mengangguk.


Kecupan hangat mendarat lagi di kening Riana.


"I love you."


Riana hanya tersenyum. Ketika Aksa hendak membuka pintu mobil, Riana memanggilnya kembali dan membuat Aksa menoleh. Riana sudah mendekat. Aksa menangkap jika ada sesuatu hal yang ingin Riana sampaikan.


"Ada apa, Sayang?"


Riana masih memilin-milin ujung bajunya dan menggigit bibir bawahnya.


"Sayang," panggil Aksa lagi.


"Tentu saja boleh, Sayang."


Wajah tertunduk Riana mulai dia tegakkan. Sudut bibirnya terangkat dengan sempurna.


"Makasih, Sayang." Riana mengecup bibir Aksa sekilas, mata Aksa melebar seketika. Namun, Riana buru-buru kabur seraya melambaikan tangan.


"Hati-hati, Abang!"


Aksa tertawa melihat tingkah lucu, polos dan lugu Riana.


"Arghh! Pengen cepat-cepat halalin kamu," erangnya.


Seketika dia teringat akan ayah dari Riana yang belum memberi restu. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Perjuanganmu belum berakhir Aksa," gumamnya pada diri sendiri.


Di Jogja.


Rion tengah uring-uringan karena Riana belum kembali juga.

__ADS_1


"Engkong bisa duduk gak? Pusing Dedek Ya tuh lihat Engkong mondar-mandir terus." Mulut Aleeya mengomel dengan sangat lancarnya.


"Aunty pasti kembali, Kong. Gak usah lebay," timpal Aleesa.


Echa dan Radit tertawa mendengar Omelan anak-anaknya untuk sang kakek.


"Seriusan Ayah belum restuin hubungan Kak Ri sama Abang?" Kini Iyan yang sudah berbicara.


Rion terdiam, dia tidak bisa menjawab apa-apa.


"Harus dengan cara apa lagi mereka membuktikan cintanya, Yah?" Echa juga mulai membuka suara.


"Status Aksa."


"Kenapa dengan status duda? Si Abang memang duda, tapi Echa yakin dia masih perjaka."


Hembusan napas berat terdengar. Rion mendudukkan diri di sofa.


"Engkong terlalu mendambakan sosok yang sempurna. Sebelum Engkong menginginkan hal itu, seharusnya Engkong bercermin terlebih dahulu. Apakah Engkong sudah sempurna?"


Apa mungkin anak berusia lima tahun bisa berkata seperti itu? Jawabannya iya, ucapan yang sangat menusuk ulu hati serta jantung Rion dilontarkan oleh Aleena. Anak pertama Raditya Addhitama yang memang berbeda dengan kedua saudaranya. Irit bicara, tetapi mulutnya memiliki bisa yang sangat mematikan.


Kebiasaan Aleena adalah menonton acara motivasi. Berbeda dengan anak seusianya yang hobi menonton film kartun.


"Good job, Nak." Radit mengacungkan kedua jempolnya kepada Aleena.


"Kenapa sekarang kalian seolah menghakimi Ayah?" Rion masih ingin membela diri.


"Kami tidak menghakimi, hanya saja kami ingin Ayah membuka lebar-lebar mata Ayah. Masalah hati tidak bisa dipaksakan. Jodoh juga rahasia Tuhan. Apa salahnya jika Ayah memberikan sedikit angin segar kepada hubungan Riana dan juga Aksa," tukas Echa.


Rion kembali terdiam. Apa yang dikatakan oleh Echa benar. Sekeras apapun dia memisahkan Aksa dan Riana, jika mereka berjodoh pasti akan bersatu. Begitu juga sebaliknya.


Ponsel Echa berdering, dahinya mengkerut ketika menerima sambungan video call dari Aksa. Bukannya wajah Aksa yang terlihat melainkan gambar Riana yang sedang bersimpuh di hadapan pusara sang bunda.


Echa menunjukkan video call tersebut kepada semua orang. Seketika keadaan menjadi hening.


"Bunda ... kedatangan Ri ke sini bukan untuk bercerita tentang kesedihan lagi, melainkan ... kebahagiaan yang baru saja Ri dapat. Sekarang, Ri sudah lulus kuliah dengan hasil nilai yang sangat baik. Semoga di sana Bunda juga bahagia melihat Ri memakai baju toga sama halnya dengan Ayah dan Kakak."


Terlihat Riana tersenyum perih dari balik sambungan video.


"Ri, tidak ingin menangis lagi di depan rumah Bunda. Ri, ingin terus mengukirkan senyum bahagia agar di surga sana Bunda juga tenang. Kali ini ... Ri datang bersama pria yang sangat Ri sayangi. Pria yang pernah menorehkan luka juga di hati Ri. Namun, rasa cinta yang Ri miliki sangat besar, sehingga dapat menyembuhkan luka yang pernah dia torehkan. Luka yang disebabkan karena kesalah pahaman. Bunda tahu kok orangnya. Laki-laki yang sejak remaja Ri cintai."


"Bunda ... tolong restui hubungan Ri dengan Abang. Ri ingin hidup bahagia dengannya. Maafkan Ri, Bunda ... Ri sudah menjadi anak yang sangat egois. Ingin memiliki Abang meskipun Abang belum sah bercerai dengan istrinya. Bukankah Ri juga berhak untuk bahagia? Ri, lelah jika harus terus jadi pecundang."


"Bunda ... hari ini Ri akan kembali lagi ke Jogja. Doakan Ri semoga Ri bisa dapat pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita Ri. Doakan Ri juga, semoga ... Ayah cepat memberi restunya kepada hubungan Ri dan Abang. Tanpa restu dari Ayah, Ri tidak akan pernah berani untuk menikah dengan Abang. Ri, tidak ingin menjadi anak durhaka. Disetiap langkah Ri, pasti ada doa dari Ayah dan restu Ayah adalah jalan menuju kebahagiaan untuk Ri."


Hati Rion mencelos mendengar ucapan terakhir Riana. Seperti dihantam batu yang sangat besar dadanya.

__ADS_1


...****************...


Komen atuh lah ...


__ADS_2