
Sebelum kejadian di lift, Iyan sedari sore merasakan hal yang tidak karuhan. Satu nama yang selalu dia ingat, Riana.
"Ada apa dengan Kak Ri?" tanya Iyan pada dirinya sendiri.
Rasa khawatir itu semakin menjadi ketika menjelang malam. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Echa. Padahal waktu sudah menunjukkan jam sembilan.
"Ada apa, Yan?" tanya Echa.
"Kak Ri."
Dahi Echa mengkerut mendengar ucapan Iyan. Wajah Iyan nampak cemas sekali.
"Dia lagi di Magelang," balas Echa.
"Tolong hubungi, Kak."
Baru saja Echa akan menghubungi Riana, Aksa sudah terlebih dahulu menghubunginya. Menjelaskan apa yang terjadi terhadap Riana dan membuat Echa murka.
"Firasat Iyan benar 'kan." Echa mengusap lembut kepala sang adik dan memeluknya.
"Jangan bilang dulu ke Ayah, ya. Nanti biar Kakak yang bilang." Iyan mengangguk.
Ternyata Rion sudah dihubungi Fikri ketika tengah malam tiba. Apalagi Fikri membawa bukti bahwa Arka pun mengalami kekerasan fisik dan akan menuntut anak dari Gio tersebut. Rion yang masih memendam rasa kecewa terhadap Aksa langsung tersulut emosi.
Pagi harinya, tanpa memberitahukan kepada Echa. Rion mendatangi kantor Gio ditemani Fikri yang rela terbang dari Jogja. Dia tahu Gio sudah tidak sekuat dulu. Dia terlalu yakin akan menang menghadapi Gio. Apalagi Rion yang tidak menyukai Aksa. Sudah pasti akan cukup membantunya.
Tibanya di kantor, Rion meluapkan segala amarahnya. Namun, Gio tetap santai menghadapi kemarahan Rion. Seperti dia sudah tahu betul watak Rion seperti apa. Yang membuat Fikri tercengang ketika Gio menyerahkan rekaman cctv serta hasil visum kepada Rion hingga amarah Rion berbalik pada Fikri.
"Berengsek!"
Rion sudah mencengkeram kerah kemeja Fikri dengan sangat keras. Urat-urat kemarahan di wajah Rion terpampang jelas.
"Anak lu hampir aja melecehkan anak gua!" geramnya.
"Gu-gua gak tau," kilah Fikri.
Tangan Rion sudah mengapung di udara. Namun, suara seseorang menghentikan tindakannya.
"Jangan Ayah!" cegah Echa.
Echa menghampiri empat pria itu. Tak lupa mencium tangan sang papa. Echa menghembuskan napas berat sebelum berbicara. Mata Echa menatap tajam ke arah Fikri.
"Saya sudah menekankan, bersaing lah secara sehat. Kenapa Arka melakukan tindakan pelecehan? Jika, Aksa tidak ada di sana sudah pasti adik saya akan hancur," ucap Echa dengan nada penuh penekanan.
"Apa itu rencana Anda? Menghancurkan hidup adik saya agar bisa menikahinya?" hardiknya dengan suara penuh emosi.
__ADS_1
"Jangan harap!" sentak Rion melanjutkan ucapan sang putri.
Fikri tersentak mendengar ucapan Echa. Mulut anak Rion sangatlah berbisa jika berbicara.
"Bukan hanya anak Om yang melakukan pelecehan, anak dia pun sama," kilah Fikri seraya menunjuk Gio.
"Oh ya? Apa ketika bersama Aksa adik saya terlihat menangis dan tersiksa? Jika, mereka melakukannya (kissing) itu menandakan mereka sama-sama suka," tegas Echa.
"Jika, pria itu boleh melakukannya terhadap Riana. Berarti anak saya pun boleh juga melakukannya," sahut Fikri.
Gio, Rion serta Remon melebarkan mata ketika mendengar ucapan dari Fikri. Sedangkan Echa sudah berdiri menatap tajam ke arah Fikri.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Fikri. Tangan halus Echa mampu memberikan sensasi yang panas di pipi Fikri.
"Jaga bicara Anda!" Suara yang menggema seperti alarm peringatan.
"Saya sudah berbaik hati memberikan anak Anda kesempatan, meskipun saya tahu anak Anda tidak akan pernah bisa masuk ke dalam hati adik saya," bentaknya.
"Adanya kejadian ini dan dengan mendengar ucapan Anda saya semakin yakin, bahwa anak Anda memang tidak pantas untuk adik saya," tukas Echa.
"Seorang pria sejati akan melindungi dan menjaga wanitanya. Bukan malah menghancurkan," pungkasnya lagi.
Gio bangga kepada putrinya ini. Wanita yang sangat tegas dan juga pintar. Di balik kecantikannya terselip ketegasan yang luar biasa.
"Iya Ayah."
"Bagaimana kabar kamu?" Pertanyaan yang Rion sudah tahu jawabannya.
"Baik, Ayah. Ri kangen Ayah, Ri ingin peluk Ayah."
Mendengar ucapan Riana seperti itu menandakan bahwa Riana memang sedang tidak baik-baik saja. Hanya dekapan ayahnya lah yang mampu membuat hati Riana tenang.
"Sabar ya, Ri. Nanti Ayah akan ke sana. Kamu bisa memeluk Ayah sepuas hati kamu." Sakit hati Rion mengatakan ini. Sedangkan di seberang telepon sana Riana sudah menitikan air mata.
"Iya Ayah. Ri, udah gak sabar ingin bertemu Ayah." Suara Riana nampak bergetar.
"Jaga kesehatan ya, Ri. Ayah ingin melihat kamu cantik ketika memakai baju toga nanti."
Sambungan telepon pun terputus. Rion menghela napas kasar. Begitu juga Riana yang sudah menundukkan kepalanya. Namun, yang Riana bingung ayahnya tidak menanyakan Arka. Biasanya hal pertama yang ayahnya tanyakan adalah Arka.
Malam hari, rumah Echa kedatangan tamu yang tidak diharapkan. Echa yang sedang menemani ketiga anaknya belajar harus menoleh ketika sang suami membisikkan sesuatu. Hanya helaan napas kasar yang terdengar.
"Kalian belajar sama Om kecil dulu, ya. Bubu harus menemui tamu dulu di bawah." Ketiga anak Echa mengangguk.
__ADS_1
Sebelum turun, Echa memanggil Iyan untuk menemui si triplets belajar.
"Ngapain mereka ke sini?" Pertanyaan Iyan bernada penuh kemarahan dan juga ketidak sukaan.
"Nggak tahu, makanya Kakak mau temuin dulu. Kamu jaga si kurcaci imut aja, ya." Iyan menuruti perintah sang kakak.
Tibanya di ruang tamu, Rion sudah ada di sana dengan tatapan tajam yang penuh dengan kemarahan. Sedangkan Arka sudah menunduk dalam.
"Ada apa Anda ke sini?" Ucapan Echa sangat tidak bersahabat terlebih melihat wajah Arka yang sangat membuat Echa ingin menamparnya.
"Kami mau minta maaf, Cha," jawab Chintya.
"Arka khilaf," lanjutnya lagi.
"Khilaf? Jika, kekhilafan selalu dimaafkan. Maka, akan terjadi kekhilafan-kekhilafan selanjutnya yang disengaja," balas Echa.
"Saya bukan orang yang mudah memaafkan," tukasnya.
Mulut Chintya membeku begitu juga Fikri yang sudah tahu bagaimana sifat asli Echa. Chintya yang sesama wanita pun di skakmat oleh Echa. Seketika keadaan pun hening, tidak ada yang membuka suara.
"Maafkan Arka, Kak," sesal Arka yang kini mulai berani menatap Echa.
"Arka ... sakit melihat Riana bersama pria itu," lirihnya.
Sememelas apapun wajah Arka, tidak akan pernah mampu mengubah keputusan yang Echa ambil.
"Riana nampak bahagia bersama dia. Apalagi senyum Riana selalu mengembang." Kini Arka menundukkan kepala. Menikmati kesedihan dengan apa yang dia katakan.
"Kamu dengar 'kan Echa. Arka sangat mencintai Riana. Harus kamu tahu, Arka pun mendapat kekerasan fisik dari Aksa." Chintya memperlihatkan sudut bibir Arka yang masih membiru.
"Baru ditonjok, belum diantar ke liang lahat," ketus Rion yang semakin menatap Arka tajam.
Keluarga Arka tersentak mendengar ucapan dari Rion. Pria yang biasanya berbicara lembut kini malah sebaliknya. Sedangkan Radit sudah mengulum bibirnya. Mertuanya ini masih sama saja seperti dulu, bermulut pedas.
"Aksa tidak akan pernah berbuat kekerasan jika tidak ada yang memulai. Saya tahu siapa Aksa dan saya sangat mengenal Aksa," pungkas Echa.
Chintya mulai memohon kepada Echa. Dia malah bersimpuh di hadapan Echa membuat Echa semakin jengah.
"Tante, saya bukanlah orang yang mampu luluh dengan cara seperti ini. Malah cara seperti ini membuat saya muak!"
"Saya dibesarkan bukan dari keluarga yang berdrama, maka jangan harap saya bisa luluh dengan ucapan-ucapan yang dibuat memilukan seperti ini." Echa menjeda ucapannya.
"Kesalahan yang anak Tante perbuat sudah fatal. Apalagi sudah melukai fisik serta psikis adik saya. Saya harap ... jauhi Riana mulai dari sekarang."
...****************...
__ADS_1
Jangan pelit komen ya ...😁