Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Jujurlah


__ADS_3

"Mbak-nya ... itu hape apel kegigit gua!" pekik Beeya.


Kini, air mata yang sedari tadi dia bendung tak tertahan juga. Lelehan air mata membasahi wajah Jingga. Aska menatapnya tanpa ekspresi.


"Maaf." Suara yang terdengar sangat berat.


Jingga mengambil ponsel yang sudah tergeletak di lantai. Dia memberikannya kepada Beeya.


"Saya tidak sanggup menggantinya. Lebih baik, Kakak bilang saja ke pacar Kakak untuk memecat saya." Jingga berlalu saja dan keluar dari Jomblo's kafe.


"Kak." Kini, Riana sudah membuka suara dan menatap Aska dengan penuh permohonan.


Aska bangkit dari duduknya dan pergi dari Jomblo's kafe. Ken dan Juno terperangah dengan apa yang dilihatnya.


"Ada hubungan apa di antara mereka berdua?" batin Ken.


Beeya menatap ke arah Riana juga Aksa dengan dahi yang mengkerut. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi.


"Ponsel kamu biar Kak Ri yang ganti." Riana menatap ke arah sang suami untuk meminta ijin. Aksa mengangguk seraya mengusap lembut perut Riana.

__ADS_1


Di pinggir jalan, Jingga terus melangkah tak tentu arah dengan air mata yang sudah membasahi wajah.


"Neng, ojeknya, Neng," tawar salah seorang tukang ojek pengkolan.


Jingga tidak menggubrisnya. Dia terus berjalan tanpa arah tujuan. Di belakanganya ada Aska yang terus mengikutinya tanpa berlari. Tanpa mengejarnya juga.


Di sebuah taman tak jauh dari kafe Jingga menghentikan langkahnya. Dia memilih duduk seorang diri di kursi taman di tengah teriknya matahari. Kepalanya menunduk dan punggungnya bergetar. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Aska. Sakit hatinya melihat Jingga seperti ini. Namun, ini maunya Jingga Jingga yang membiarkannya pergi. Menolak sebuah cincin yang kini menjadi liontin di kalung yang Aska gunakan.


Jika, menuruti ego dia tidak akan mau menghampiri Jingga. Namun, rasa sayangnya lebih dari egonya.


Hiks! Hiks!


Tangisan itu keluar dari mulut Jingga dan terdengar hingga ke telinga Aska. Dia melangkah pelan, kemudian dia duduk bersimpuh di hadapan Jingga yang masih menunduk. Terlihat, air matanya jatuh mengenai pahanya.


Suara yang juga terdengar berat di telinga Jingga, membuatnya menegakkan kepala. Wajah pria yang dia tangisi kini ada di hadapannya. Air mata Jingga terus berjatuhan.


"Kamu yang udah nolak aku. Kamu yang menyuruh aku pergi, tetapi kenapa kamu yang tersakiti? Bukannya aku yang harusnya tersakiti karena sebuah penolakan yang tak beralasan?"


Jingga tidak bisa berucap ketika mendengar Aska berbicara. Tidak ada yang salah dari ucapan pria di depannya. Dia yang sudah jahat kepada Aska. Dia yang sudah menyakiti dirinya sendiri juga Aska yang sudah berbaik hati kepadanya.

__ADS_1


"Aku yang sudah berjuang, kamu buang. Kamu bilang ... kita tak satu tujuan. Kasta kita pun berbeda. Apa itu tidak menyakitkan?" sergah Aska lagi dalam posisi bersimpuhnya.


"Aku hanya mengikuti kemauan kamu. Aku hanya tidak ingin menjadi pria pemaksa. Bukankah kamu tahu, bagaimana rasanya berhubungan dengan pria pemaksa?" tuturnya lagi. Lagi-lagi Jingga diam. "Aku tidak ingin melukai kamu seperti dia," pungkasnya.


Jingga dan Aska pun terdiam. Mereka berdua hanya bisa saing menatap dengan sorot mata penuh luka.


"Aku menyayangi kamu tanpa syarat apapun. Tanpa melihat siapa kamu dan siapa aku? Kita hanya manusia yang tak luput dari dosa dan kesalahan."


Jingga semakin terisak, setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Aska membuat Jingga tak dapat berkata.


"Jika, kamu mencintaiku juga,


tolong katakan yang sejujurnya. Jangan pernah membohongi diri kamu sendiri. Bukan kepura-puraan yang membuat kamu bahagia, tetapi kejujuranlah yang akan membuat kamu tahu arti bahagia sesungguhnya."


Jingga hanya dapat menitikan air mata. Mulutnya kelu dan seakan sulit untuk digerakkan. Aska memandangnya dengan tatapan sendu. Sorot matanya menyiratkan kesakitan yang luar biasa.


"Jika, kamu menyayangi aku ... biarkan aku berjuang untuk membahagiakan kamu. Namun, jika memang kamu tidak mencintaiku ... biarkan aku yang pergi. Mengubur semua kenangan kita seorang diri."


...****************...

__ADS_1


Kok aku yang sesak sih. 🤧


Komen atuhlah ... udah 2bab nih?


__ADS_2