Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Buka Puasa


__ADS_3

Kembalinya Riana ke Jakarta membuatnya merasa kehilangan seorang anak. Bagaimana tidak, setiap hari Gavin tidak pernah ada di rumah. Dibawa oleh ibu mertuanya juga kakaknya ke rumah sang ayah.


Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Sedari tadi dia sudah memainkan ponsel, menonton drama Korea, memompa ASI, tetapi tetap saja dia merindukan putranya. Hari ini Gavin tengah dibawa oleh kakaknya ke rumah mertua sang kakak. Ibu mertuanya tengah mengecek butik di wilayah Depok.


Ketika melihat jam, masih jam tiga sore. Riana memilih membuka pintu balkon dan duduk manis di sofa sambil melihat ke arah lapangan basket. Ketika di rumah, dia hanya akan menggunakan celana pendek di atas lutut dengan kaos yang longgar. Itulah yang membuat Aksara semakin cinta karena penampilan istrinya masih sangat cantik bak anak muda.


"Enak banget, santai."


Suara seseorang membuat Riana menoleh. Kemudian, dia tersenyum ke arah yang baru saja datang. Bangun dari duduknya dan segera memeluk tubuh itu. "Tumben, masih siang udah pulang." Aksa tidak menjawab. Dia malah mencium bibir mungil sang istri tercinta dengan sangat dalam.


"Rakus!"


Aksa pun terkekeh dan menarik tangan istrinya untuk duduk di atas pangkuannya. "Rindu seperti ini, Sayang." Riana pun tersenyum dan membiarkan suaminya bermain di dadanya sesuka hatinya. Mumpung yang empunyanya sedang diajak Bubunya.


"Pertanyaan Ri belum dijawab, Bang." Aksa pun menghentikan kegiatannya. Dia menatap sang istri yang juga tengah menatapnya.


"Tadi Kak Echa bilang kalau Gavin dibawa sama dia. Kemungkinan mereka pulang malam. Ditambah mommy pun pergi. Jadi, ini kesempatan bagus untuk kita."


Riana terkekeh dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Semenjak ada Gavin, waktu mereka berdua amatlah berkurang. Tanpa aba-aba, Aksa segera membopong tubuh istrinya untuk dieksekusi. Pagutan maut sudah Aksa berikan dan tidak dia lepaskan. Sungguh membuat istrinya tak berdaya. Buka puasa yang batal dilakukan kini menjadi buka puasa sungguhan.


Ringisan kecil Riana karena bekas jahitan kemarin membuat Aksa sedikit hati-hati untuk memasukkan rudal yang sudah sangat menegang hebat. Lama-lama mereka terhanyut dalam alunan cinta yang sangat menggairahkan. Aksa sangat perkasa sore ini. Dia mampu membuat Riana bergetar hebat untuk ketiga kalinya.


ASI Riana yang meluber pun tak Aksa sia-siakan. Menikmatinya dengan posisi Riana di atas.


Le nguhan, teriakan kecil, the sahan sudah riuh terdengar. Namun, sang rudal masih bekerja keras di dalam sana. Dua jam sudah, barulah rudal itu meledak dengan sangat banyak. Napas Riana sudah terengah-engah. Tubuhnya sangat lemas dan bagian bawahnya terasa perih.


"Makasih, Sayang." Kecupan hangat Aksa berikan di bibir Riana. Istrinya tak bereaksi, Aksa melakukannya lebih parah dari malam pertama.


Aksa terkekeh ketika sang istri terlelap. Dia pun menyelimuti tubuh istrinya dan mengecup kening Riana dengan sangat dalam. Dia tersenyum ketika melihat banyak tanda merah di leher sang istri karena ulahnya. Aksa pun ikut terlelap di bawah selimut yang sama dengan istrinya.


.


Gavin Agha Wiguna menjadi pusat perhatian di sebuah mall. Bagaimana tidak, bayi laki-laki dipakaikan baju serba pink oleh Aleesa.


"Yansen aja sering pakai warna pink gak apa-apa." Begitulah ocehan anak kedua dari Raditya Addhitama tersebut.


Echa hanya menggeleng dan Radit pun tersenyum. Dia terus menggenggam erat tangan istrinya. Ketiga anaknya berjalan di hadapan mereka berdua. Waktu yang jarang sekali mereka miliki. Berkumpul bersama apalagi mengajak Gavin.


"Capek gak?" tanya Radit. "Sini, aku yang gantian gendong." Echa menggelengkan kepala.

__ADS_1


Mereka berdua mengikuti kemauan si triplets. Radit dan Echa hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Gavin pun seakan terlihat bahagia ketika melihat kerlap-kerlip lampu.


"Kamu duduk di sini," titah Radit. Dia mengawasi ketiga putrinya yang sudah bermain sesuka hati mereka.


Radit menoleh ke arah sang istri tengah mengajak bicara Gavin. Hatinya sangat bahagia.


"Baba, makan. Lapar."


Baru saja Aleeya merengek, kini kedua anaknya yang lain pun ikut merengek yang sama. Radit tertawa dan membawa mereka ke sebuah restoran cepat saji kesukaan mereka.


Radit benar-benar menjadi ayah yang sangat siaga. Membawa nampan berisi pesanan mereka semua. Memperhatikan ketiga anaknya makan barulah dia bisa menikmati makanannya. Namun, kali ini dia malah menyuapi istrinya. Echa terkejut dibuatnya.


"Makan dulu, aku suapin." Perlakuan kecil Radit membuat hati Echa menghangat.


"Mau shoping gak?" Echa menggeleng. Namun, ketiga anaknya malah bersorak gembira. Pada akhirnya mereka berbelanja apa uang didinginkan si triplets juga Gavin.


Radit hanya tersenyum ketika melihat Echa dengan semangat memilih baju lucu untuk keponakannya.


"Pakai ini pasti makin tampan."


.


"Mbak, si Abang udah pulang?" Ayanda yang baru saja tiba di rumah bertanya kepada salah satu asisten rumah tangga.


"Gavin?"


"Den Gavin belum pulang." Mendengar jawaban dari asisten rumah tangganya Ayanda segera mengecek ponselnya. Hembusan napas lega keluar dari mulutnya.


"Echa arah pulang, Mah."


Di kamar Aksa dan Riana, Riana terus bersandar di bahu suaminya karena rasa lelah yang masih mendera. Aksa yang tengah mengecek pekerjaan pun tersenyum. Dia mencium aroma shampo yang sangat harum.


"Masih lemas?" Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Riana.


"Masih lama?" tanya Riana.


Aksa menoleh ke arah sang istri. "Kamu lapar?" Riana mengangguk. Tanpa berbicara apapun, Aksa segera menutup laptopnya dan menggenggam tangan Riana untuk turun ke lantai bawah.


"Mommy udah pulang?" Ayanda yang baru saja menyimpan ponsel ke dalam tasnya menoleh. Matanya memicing ketika melihat leher Riana.

__ADS_1


"Sebentar." Ayanda menghampiri menantunya. Menyelidik ke arah leher sang menantu. Kemudian, dia menatap tajam ke arah putranya.


"Kamu udah buka puasa?" Suara Ayanda pun menggelegar. Riana tidak bisa berkutik, dia hanya menunduk dalam karena malu. Apalagi pelayan yang ada di dapur memandang ke arah mereka berdua.


"Buka puasa apaan, Mom? Sekarang bukan bulan Ramadhan," tegur Gio yang baru saja datang.


"Ini loh, Dad. Putra Daddy udah berani-beraninya buka puasa. Mommy nyuruhnya juga tiga bulan." Aksa hanya mendelik kesal mendengar ucapan sang ibu.


"Udah lewat empat puluh hari ini, Mom. Memangnya kenapa?" ujar Gio. "Hormon seperti itu jika tidak dikeluarkan akan memicu sakit kepala yang berlebih. Uring-uringan gak jelas dan stres."


"Tuh, Mom. Apa yang dibilang Daddy itu benar semua," tambah Aksa.


"Bapak sama anak sama aja!" sungut Ayanda.


Aksa menarik tubuh Riana ke dalam pelukannya. Dia tahu istrinya tengah malu. "Udah, jangan didengeirin omongan Mommy mah."


"Bukan begitu, Aksara," tekan Ayanda. "Masalahnya Riana itu belum KB. Sekarang, dia lagi masa subur-suburnya. Kalau benih yang kamu tanam itu tumbuh dan menjadi bakal calon adik dari Gavin bagaimana?"


Deg.


Namun, Aksa tetap acuh. Baginya, anak adalah rejeki dari Tuhan. Jika, dijaga sekalipun kalau Tuhab berkehendak jadi manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Banyak orang yang tidak bisa memiliki keturunan. Jadi, harinya menjadi manusia itu harus selalu bersyukur.


Riana benar-benar ketakutan sekarang ini. Apa yang dikatakan sang mamah mertua benar adanya. Anaknya masih bayi, dan jika dia mengandung lagi itu akan membuat anaknya kekurangan kasih sayang dari ayah dan ibunya.


Aksa mengusap lembut pundak sang istri. Dia sangat peka terhadap kegundahan yang tengah dialami Riana.


"Jika, kamu hamil lagi Abang akan tanggung jawab sepenuhnya." Sungguh bukan ucapan yang menenangkan. Malah terdengar menyebalkan.


"Udah kewajiban Abang 'kan tanggung jawab dengan penuh. Orang Abang suami Ri." Riana pun mengomel. Untung saja mereka berdua sudah di kamar dan Gavin sudah terlelap. Aksa malah tertawa dan memeluk tubuh istrinya.


"Dengarkan Abang ya, Sayang. Kita hanya sebagai pelakon dalam skenario yang sudah Tuhan tuliskan untuk kita. Kita hanya tinggal memerankan peran kita masing-masing saja. Pemilik cerita adalah Tuhan," papar Aksa. Riana menatap wajah suaminya dengan sangat lekat.


"Intinya begini, jika nanti kamu hamil ya kita harus terima. Itu rejeki dari Yang Maha Kuasa. Berarti Tuhan percaya kepada kita untuk mengurus bayi yang lucu yang terlahir dari rahim kamu." Aksa mengusap lembut rambut Riana.


"Jangan merasa terbebani akan anak. Ketika Tuhan memberikan kita anak, pasti Tuhan sudah menyiapkan rejeki anak itu juga."


Riana hanya bisa memeluk tubuh Askara. Apa yang dikatakan Aksa memang benar adanya. Namun, dia hanya takut tidak adil dalam berbagi kasih sayang kepada Gavin dan calon adiknya kelak. Dia takut seperti mendiang ibunya. Apalagi Gavin juga masih bayi.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Riana. Dia benar-benar takut. Aksa menyuruh istrinya beristirahat karena seharian ini dia sudah lelah.

__ADS_1


...****************...


Komen atuh


__ADS_2