
Kemurkaan Aksa membuat para karyawan ketakutan. Apalagi mereka yang sudah menghujat Riana di belakang. Bohong, jika direktur utama tidak mengetahuinya.
Aksa berlalu begitu saja, dari semalam amarahnya belum bisa diredam. Hanya di depan istrinya dia nampak sudah melupakan semuanya. Aslinya, tidak seperti itu.
Tanpa sepengetahuan Aksa, Gio dan Genta datang ke WAG grup. Aksa yang tengah fokus dengan pekerjaannya terkejut sekali karena kedatangan ayah dan juga kakeknya.
Aksa bangkit dari duduknya dan mencium tangan kedua pria yang sangat dia sayangi dengan sangat sopan.
"Kenapa gak bilang mau ke sini?" imbuh Aksa.
"Sengaja. Daddy dan juga Kakek ingin meluruskan kabar yang sudah beredar di WAG Grup," kata Gio.
Raut wajah sendu Aksa terlihat jelas. Gio menepuk pundak sang putra.
"Ini baru awal ujian rumah tangga kamu," ujarnya.
"Abang sudah terbiasa dengan berita aneh-aneh di luaran sana. Namun, Abang tidak tega melihat Riana yang tertekan atas pemberitaan yang tersebar," terangnya.
Gio, Aksa dan Genta sudah duduk di sofa, sedangkan Fahri sedang ke pantry. Meminta petugas sana menyiapkan minuman untuk tiga pria tersebut.
"Biarkan Mommy kamu yang akan memberi pengertian kepada Riana," sahut sang ayah.
"Lusa, kamu harus segera kembali ke Melbourne. Semuanya sudah menunggu kamu. Pendidikan kamu pun haru dilanjutkan di sana. Tinggal satu tahun lagi," tutur Genta.
Belum selesai masalah. Kini dia harus kembali ke Melbourne. Sungguh pusing kepala Aksa.
"Untuk tiga bulan ini kamu harus fokus pada pekerjaan dan pendidikan kamu agar semuanya cepat selesai. Jadi, kamu tidak boleh membawa istri kamu ke sana."
Sontak mata Aksa melebar. Sorot matanya memprotes keputusan sang kakek.
"Ini demi kebaikan Riana juga. Kamu sendiri tahu 'kan, bagaimana kejamnya para pesaing di sana," tukas Genta.
Sungguh dilema hatinya saat ini. Dia tidak bisa meninggalkan Riana apalagi jauh dengan istrinya. Namun, di satu sisi dia juga memiliki tanggung jawab besar akan perusahaan dan juga pendidikannya. Itu semua dia lakukan untuk seorang wanita yang sangat dia sayangi, yaitu Riana.
"Sekarang, kamu jemput istri kamu dan kita akan mengadakan rapat semua karyawan. Tak terkecuali petugas keamanan dan juga kebersihan," ujar Gio.
"Rapat apa?" tanya Aksa bingung.
"Tentang masa lalu kamu dan juga istri kamu sekarang," jawab Gio.
Aksa mengangguk mengerti. Kabar ini pasti sudah sampai ke telinga ayah dan juga kakeknya. Sebenarnya, Aksa juga akan melakukan rapat yang sama. Namun, istrinya yang tengah terkulai lemas membuat Aksa tidak tega. Jadi, dia undur.
Aksa menjemput Riana di apartment. Sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Istrinya baru selesai membersihkan tubuhnya dan masih memakai bathrobe.
Pelukan dari arah belakang membuat Riana terkejut. Namun, ketika melihat cincin di jari manis orang itu melingkar, Riana tersenyum bahagia.
"Siap-siap ya, kita sudah ditunggu Daddy dan juga Kakek."
Riana terkejut mendengar ucapan dari Aksa. Tubuhnya dia balikkan dan meminta penjelasan lebih lagi kepada Aksa.
"Rapat penting semua karyawan WAG grup tentang rumor kamu dan Abang."
__ADS_1
Riana menghembuskan napas berat. Dia menundukkan kepalanya dan Aksa segera memeluk tubuhnya.
"Kita semua gak mau kamu tertekan dengan pemberitaan yang ada. Di sana juga ada pengacara Christo serta Christina yang akan mendampingi kita. Harus kamu tahu, Sayang. Banyak orang yang menyayangi dan melindungi kamu, termasuk Daddy dan juga Kakek," paparnya.
Riana tidak bisa berkata apa-apa jika sudah ada dua orang pria yang sangat menyayanginya. Dia pun bersiap untuk menuju rapat penting WAG grup.
Sebelum makan siang, semua karyawan WAG Grup dikumpulkan tanpa terkecuali. Bisik-bisik antara karyawan terjadi karena tidak biasanya semua karyawan perusahaan ini berkumpul.
"Tadi gua melihat ada Pak Genta Wiguna beserta anaknya," bisik karyawan pria.
Semua keadaan hening ketika suara derap sepatu mendekat. Pandangan mereka tertuju pada suara tersebut.
Fahri berjalan di depan dan diikuti oleh Genta Wiguna serta Giondra Aresta Wiguna. Di belakangnya lagi ada direktur utama beserta istri yang tengah bergandengan tangan. Dipaling akhir ada dua pengacara, Christo dan juga Christina.
Semua yang berkumpul memandangi keluarga yang sangat kaya raya di depan mereka.
"Berkumpulnya kita semua di sini ada hal yang akan disampaikan oleh pemilik WAG Grup," ucap Fahri.
"Selamat siang, maaf mengganggu jam kerja kalian. Saya tidak akan berlama-lama, ini mengenai cucu saya yang tak lain adalah direktur utama WAG Grup."
Hati para karyawan yang pernah membicarakan Riana berdegup sangat cepat.
"Ghassan Aksara Wiguna memang pernah menikah dengan seorang wanita bernama Zivanna Meysha Mahendra."
Sudut mata Aksa sudah melihat Riana yang akan menundukkan kepalanya. Akan tetapi, Aksa menggenggam erat tangan Riana dan mampu membuat Riana menoleh ke arahnya. Gelengan kecil pun menjadi kode untuk Riana.
"Namun, pernikahannya karena sebuah jebakan yang dilakukan oleh keluarga wanita tersebut demi untuk menutupi aib yang dimiliki oleh Zivanna, yang tak lain adalah anak dari Sarah," lanjut Genta.
Foto pernikahan pun ditunjukkan melalui layar putih yang ada di belakang keluarga Wiguna.
"Bapak tidak ada di sana," jawab office girl.
Semua mata memicing ke arah Jingga. Mereka tengah ketakutan, Jingga malah menimpali ucapan Genta. Seketika Jingga menundukkan kepalanya dan memukul-mukul pelan mulutnya yang tak bisa diajak kompromi.
Genta dan Gio malah tertawa tipis melihat kepolosan karyawan kebersihan itu. Cantik dan memiliki aura berbeda.
"Benar sekali. Pada pernikahan cucu saya itu saya tengah terbaring koma di rumah sakit. Sakitnya saya pun disebabkan oleh mereka (keluarga Ziva)."
Gambar Genta tengah berbaring di ranjang kesakitan dengan beragam selang dan juga kabel di tubuhnya diperlihatkan.
"Mereka memanipulasi semuanya ketika saya hampir dinyatakan meninggal. Mengubah surat wasiat yang saya buat yang salah satu isi poin tersebut menikahkan anaknya dengan cucu saya," ungkap Genta.
"Saya tahu, Aksa sangat terpaksa melakukan itu karena sesungguhnya dia sudah menjalin hubungan dengan Riana. Cinta sedari zaman putih abu-abu. Dari pernikahan dadakan itu ada dua orang yang tersakiti, Aksa dan juga Riana." Suasana masih hening.
"Saya tahu, hati mereka saling mencintai meskipun status mereka berbeda. Hingga satu kebusukan Ziva terbongkar dan membuat Aksa melayangkan gugatan cerai tanpa menunggu saya sadar."
Sebuah video tak layak ditonton diputar. Semua mata para karyawan melebar. Wanita yang ada di video tersebut adalah istri dari direktur utama yang tengah bermain dengan pria lain.
"Selang dua bulan akta cerai sudah di tangan dan barulah selang enam bulan Aksa meminang Riana dan menikahi Riana. Harus kalian garis bawahi, ketika Aksa membina rumah tangga bohongan dengan Zivanna dia sama sekali belum pernah menyentuh Zivanna. Dia juga sama sekali tidak berhubungan dengan Riana. Intinya, mereka bersatu karena kekuatan cinta di antara mereka. Bukan karena Riana yang disebut-sebut sebagai orang ketiga," jelasnya.
"Sebenarnya, saya tidak ingin menjelaskan siapa saya dan bagaimana rumah tangga saya kepada kalian. Akan tetapi, saya juga tidak ingin melihat istri saya tertekan karena gosip kalian yang semakin menjadi. Bagaimanapun, itu akan mempengaruhi psikis istri saya," terang Aksa.
__ADS_1
Hati Riana menghangat ketika mendengar penjelasan dari Aksa. Dia merasa sangat dicintai.
"Jika, saya mendengar berita yang aneh-aneh tentang istri saya. Saya tidak segan-segan akan memecat kalian," tegasnya.
Gio dan Genta hanya tersenyum mendengarnya. Sungguh duplikat Giondra Aresta Wiguna.
Setelah rapat berakhir, mereka menikmati makan siang bersama. Riana benar-benar menikmati makan siang hari ini karena sedari pagi perutnya belum diisi.
"Riana."
Suara Genta membuat Riana menoleh dan menatap ke arah sang kakek. Senyuman khas Genta tunjukkan.
"Lusa, suami kamu harus kembali ke Melbourne untuk mengurus perusahaannya serta pendidikannya." Riana masih bisa tersenyum mendengar ucapan dari sang kakek.
"Namun, kamu tidak boleh ikut ke sana."
Senyuman itu seketika menghilang. Dia menatap suaminya dan Aksa menarik Riana ke dalam pelukannya.
"Bukannya Kakek tega dan kejam. Ini untuk kebaikan kamu. Jika, kamu ikut dengan Aksa nyawa kamu akan menjadi incaran banyak pihak," terangnya.
Keadaan mendadak hening. Tidak ada yang berbicara seorang pun.
"Hanya tiga bulan, Sayang. Abang usahakan setiap dua Minggu sekali akan ke Indonesia. Menjenguk kamu dan menghabiskan waktu bersama kamu."
Riana melingkarkan tangannya di pinggang Aksa. Air matanya sudah menganak.
"Kamu bisa tinggal di rumah Mommy ataupun Kak Echa selama suami kamu pergi. Daddy tidak ingin kamu kenapa-kenapa di negeri orang," ujar Gio.
Seusai makan siang, Aksa dan Riana masih berada di sana. Aksa tak hentinya mengecup punggung tangan sang istri.
"Maafkan Abang, Sayang."
Riana menoleh ke arah Aksa. Riana kira setelah menikah dia akan terus bersama sang suami. Akan tetapi, tidak seperti itu kenyatannya.
"Persaingan bisnis di sana lebih kejam, Sayang. Apalagi, Abang baru saja merintis dan penanam saham di perusahaan Abang bukan orang sembarangan. Banyak yang ingin menjatuhkan, makanya Kakek tidak ingin kamu menjadi korban kehitaman dunia bisnis di sana. Kami semua tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu," tuturnya.
Sedari tadi Riana terdiam karena dia tengah membolak-balikkan hatinya. Mencoba berdamai dengan egonya. Selalu berpikir positif dengan apa yang telah terjadi.
Ini konsekuensi menjadi istri pengusaha muda kaya, Ri.
Kalimat itu yang selalu dia tanamkan di kepalanya. Kini, Riana menatap ke arah sang suami. Dia menggenggam tangan Aksa dengan eratnya.
"Jangan nakal di sana. Selalu kabari, Ri."
Senyum merekah di bibir Aksara. Dia mengecup punggung tangan Riana sangat lama.
"Tentu, Sayang."
"Jangan buat Ri khawatir," pintanya. Sebuah anggukan menjadi jawaban dari Aksa.
"Besok sore kita akan terbang ke Jakarta. Abang akan lebih tenang, jika kamu berada bersama keluarga Abang dan juga keluarga kamu."
__ADS_1
...****************...
Di sini kan baca gratis, komen juga gratis. Jangan lupa sisipkan komennya, jangan menjadi ghost readers terus ....