
Di sebuah kamar yang besar, kini diisi oleh lima orang manusia dan suara riuh terdengar. Siapa lagi jika bukan si triplets yang tengah bermain dengan Sultan dan istrinya. Riana terus tertawa karena tingkah lucu nan jahil ketiga keponakannya kepada sang suami tercinta.
"Sayang, Abang ingin main kuda-kudaan sama kamu. Bukan malah Abang yang ditunggangi layaknya kuda sama ketiga kurcaci Bangor ini," keluh Aksa. Riana hanya tertawa.
Aleeya sudah berada di punggung Aksa, sedangkan Aleesa menyuapi Aksa layaknya kuda sungguhan. Aleena sibuk mengambil video sang paman yang tengah mereka siksa. Riana sangat tergelak melihat ketiga keponakannya tersebut. Rasa sepinya hilang begitu saja. Aksa yang melihat tawa bahagia istrinya ikut melengkungkan senyum.
"Abang rindu tawa kamu," batinnya.
Tidak dipungkiri, setelah kehilangan salah satu janin yang ada di kandungannya, sikap Riana sangatlah berbeda. Dalam diam Aksa selalu memperhatikan Riana yang selalu menitikan air mata seraya mengusap lembut perutnya yang masih rata.
Aksa membiarkannya dulu, dia tidak ingin memaksa istrinya untuk tidak bersedih. Kehilangan adalah hal yang menyakitkan. Bukan hanya untuk Riana, untuknya juga. Namun, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk berusaha memberikan kebahagiaan untuk istrnya dan juga calon anaknya.
"Uncle, Dedek bayinya kapan keluar dari dalam perut Aunty?" tanya Aleeya yang masih betah berada di punggung Aksa.
"Tujuh bulan lagi," jawab Aksa sambil terus merangkak dengan membawa anak ketiga dari Radit.
"Masih lama?" tanya Aleeya penasaran.
"Dua ratus sepuluh hari lagi," jawab Aleena. Aksa dan Riana menoleh ke arah Aleena, keponakannya itu benar-benar pandai.
"Kakak Na ngitungnya pakai kalkulator," imbuhnya seraya menunjukan angka di kalkulator ponsel. Aksa dan Riana pun tergelak. Ketiga anak itu memang menyebalkan, tetapi mereka menjadi kesayangan semua orang.
Setelah puas bermain bersama Aksa, mereka pun terlelap di tempat tidur king size yang harusnya ditempati Aksa dan Riana. Sang Tante menyelimuti tubuh tiga malaikat yang memberi warna pada keluarganya. Ketiga bocah yang menjadi semangat untuk sang ayah. Merekalah alasan kenapa sang ayah memilij menghabiskan masa tuanya seorang diri. Walaupun banyak wanita yang mengahampiri.
"Kalau punya anak banyak gini pasti rame," ucap Riana dengan nada yang sedih.
Aksa memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dia mengecup belakang kepala Riana. Tangannya melingkar erat di pinggang Riana. Dagunya dia letakkan di bahu sang istri.
"Mau satu anak atau lebih dari satu anak, keluarga kita akan tetap ramai. Kamu jangan khawatir." Riana menutup matanya dengan helaan napas berat. Suaminya selalu memberikan semangat, sedangkan dia belum mampu untuk menerima kenyataan.
Aksa membalikkan tubuh Riana. Dia menangkup wajah Riana dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Yang pergi biarkanlah pergi. Tuhan sudah memiliki rencana indah di balik kejadian ini. Meskipun ada yang hilang, masih ada yang bertahan dan memerlukan perhatian." Aksa akan bersikap sabar jika Riana seperti ini.
"Anak kita akan sedih, jika melihat Mommy-nya terus-terusan bersedih seperti ini," imbuh Aksa.
Aksa memeluk tubuh Riana dengan sangat erat. Riana pun membalasnya. Seperti de javu baginya. Dulu Riana kehilangan perempuan yang sangat dia sayangi. Kini, dia harus kehilangan calon anaknya. Walaupun belum terlihat bentuknya, tetap saja ada kesedihan yang tak mampu diutarakan.
Ketukan pintu terdengar, Aksa dan Riana segera mengurai pelukan mereka. Ketika Aksa hendak membukakan pintu dan menjauhi Riana. Tiba-tiba perut Riana mual. Dia segera ke kamar mandi membuat Aksa mengikutinya dari belakang dan tak jadi membukakan pintu.
Huek!
Huek!
Huek!
Semua yang dimakan Riana dikeluarkan lagi. Tanpa merasa jijik Aksa menemani istrinya sambil memijat tengkuk leher Riana. Setelah dirasa selesai, Aksa membersihkan mulut Riana. Aksa segera memeluk tubuh Riana dengan begitu eratnya. Berada di dalam pelukan Aksa menghilangkan rasa mual di perut Riana. Aroma tubuh Aksa seperti obat mujarab untuk rasa mualnya.
"Istirahat di kamar tamu, ya." Riana pun mengangguk tanpa melepaskan pelukannya kepada Aksa.
__ADS_1
"Jangan tinggalin Ri," pinta Riana dengan wajah yang sudah pucat.
"Gak akan, Sayang." Aksa mengecup kening Riana dengan sangat lembut.
Mereka berdua keluar dari kamar mandi. Mereka tersentak ketika sang ibu sudah ada di dalam kamar.
"Mual lagi?" tanya Ayanda yang sudah mengahampiri menantu cantiknya.
"Kayaknya anaknya gak mau jauh dari bapaknya," terang Riana.
"Bukan anaknya, tapi ibunya. Ngaku aja sih, Yang," balas Aksa dengan menggoda. Riana merengut kesal, sedangkan sang ibu mertua tersenyum melihat tingkah menantunya.
Riana melepaskan lingkaran tangannya di perut Aksa dan sedikit menjauh. Tiba-tiba perutnya terasa diaduk-aduk. Dia sudah menutup mulutnya dan Aksa segera memeluk tubuh Riana.
"Jangan marah-marah mulu makanya," ucap Aksa dengan lembut.
Ayanda menggelengkan kepala, cucunya memang tidak ingin jauh dari ayahnya. Dia pun membungkukkan badannya dengan tangan yang menguap lembut perut sang menantu.
"Cucu Mimo gak mau ditinggal Daddy lagi, ya." Usapan lembut itu membuat air mata Riana menetes segitu saja. Dia teringat kepada sang ibu. Dipenglihatannya itu bukan mamah mertuanya, tetapi sang bunda.
"Bunda."
Kata yang keluar begitu saja dari mulut Riana. Aksa menatap aneh ke arah sang istri. Begitu juga dengan Ayanda yang menatap bingung ke arah Riana.
"Ri," panggil Ayanda.
"Ri ...merasakan sentuhan tangan Bunda pada tangan Mommy," terangnya dengan deraian air mata.
Hati Ayanda sangat sakit mendengar penuturan menantunya ini. Dia membelai lembut rambut Riana.
"Bunda pasti sangat bahagia karena ada calon cucunya di dalam perut kamu," imbuh Ayanda.
Riana mengurai pelukannya dan menatap ke arah sang mamah mertua dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Tapi, Bunda tidak akan pernah bisa melihat anak Ri. Begitu juga dengan anak-anak Ri yang tidak akan mengenal neneknya." Kini, Ayanda memeluk tubuh menantunya, memberikan kehangatan layaknya pelukan ibu kandung Riana.
"Besok kita ke makam Bunda, mau?" ajak Aksa. Riana menggeleng. Dia masih betah memeluk tubuh sang ibu mertua.
Cukup lama Riana memeluk tubuh Ayanda, Dia sangat nyaman berada di pelukan ibunda dari suaminya.
"Mom."
Riana mengurai pelukannya perlahan. Ayanda tersenyum ke arah menantu cantiknya itu.
"Bolehkah malam ini Ri tidur dengan Mommy?" Bukan hanya Ayanda terkejut, Aksa pun kaget mendengar ucapan istrinya.
"Tentu saja boleh, tapi kamu tanyakan dulu kepada suamimu," ujar Ayanda.
Riana menatap ke arah Aksa meminta persetujuan dari suaminya. "Tapi, Abang tidur di sofa, ya," tawar Aksa. Bagaimanapun dia khawatir dengan istrinya yang setiap tengah malam akan bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
"Iya," jawab Rian dengan terseyum manis ke arah suaminya.
Mereka pun tidur di kamar tamu karena kamar Aksa digunakan oleh tiga kurcaci yang sudah pergi ke alam mimpi. Hati Aksa teriris ketika istrinya dengan sangat erat memeluk tubuh ibunya, Usapan lembut yang Ayanda berikan di kepala Riana membuatnya terlelap. Ayanda terus menatap wajah sang menantu. Dia pun menyeka ujung matanya.
"Anak yang malang," gumam Ayanda. Kemudian, dia mencium kening Riana sangat dalam dan penuh cinta.
"Meskipun Bunda kamu sudah di surga, masih ada Mommy yang akan menjadi ibu kedua untuk kamu, Nak."
Aksa yang berada di sofa menahan sesak di dadanya mendengar ucapan yang dikeluarkan oleh sang ibunda. Sangat tulus tanpa dusta.
Perlahan, Ayanda turun dari ranjang yang tidak sebesar di kamar utama. Dia menghampiri Putranya yang masih menatap sang istri dari sofa, tak jauh dari tempat tidur. Ayanda duduk di samping Aksa.
"Jangan pernah membentak istri kamu, selelah apapun kamu. Ibu hamil akan lebih sensitif. Kamu harus bisa mengerti kondisi istri kamu sekarang." Nasihat dari sang ibu dengan sorot mata memohon.
"Iya, Mom," sahut Aksa.
"Riana adalah wanita yang susah payah kamu dapatkan. Jangan pernah kamu sia-siakan," ucap Ayanda lagi.
"Hati wanita itu seperti barang pecah belah. Ketika kamu memecahkannya, tidak akan bisa kembali utuh seperti semula lagi. Mampu memaafkan, tetapi sulit melupakan."
Sebuah petuah yang Ayanda berikan untuk putra pertamanya, sedangkan di taman putra keduanya sudah mendapatkan kuliah tujuh menit dari sang kakak.
"Apa Kakak boleh bertemu dengan wanita itu?" Itulah pertanyaan yang mengakhiri kegiatan kultum Echa kepada Aska.
"Boleh, tapi nanti kalau dia sudah resmi Adek miliki."
Echa mengacak-acak rambut sang adik karena gemas dengan teka-teki yang Aska berikan.
"Makanya kalau mau lamar cewek jangan ngutang. Ditolak 'kan."
Suara yang sangat menyebalkan di telinga Aska. Dia sudah menyangka bahwa sang kakak tidak mungkin sendirian, pasti dengan suami edannya. Radit menghampiri dirinya dan juga Echa sambil menikmati kacang rebus yang dia beli di depan taman.
"Playboy jadi sad boy. Sungguh menggelikan," ejek Radit. Istrinya hanya tertawa. Jika, kedua adik Echa bertemu dengan suaminya. Sudah dipastikan akan terjadi perang sengit. Adu mulut yang sama-sama berbisa.
Aska mencoba untuk tidak menggubrisnya. Dia malah menatap ke arah langit malam nan indah yang dihuni bulan dan bintang yang sangat terang.
"Langit ... bisakah aku tukar tambah pria yang ada di sampingku ini?"
"Si Alan!" seru Radit. "Lu kira gua hape," sungutnya.
"Aku tidak ingin memiliki kakak ipar modelan kera ... aku ingin memiliki kakak ipar manusia."
"Bhang Ke!"
...****************...
Komen atuh ...
Begadang nih aku 🤧
__ADS_1