
Keesokan harinya, Aksa memaksa Riana untuk pergi ke Jogja dengan alasan berbulan madu. Riana tidak menerima begitu saja. Banyak yang harus dia pertimbangkan. Apalagi mereka sudah memiliki seorang putra. Apa bisa berbulan madu meninggalakan putra mereka?
"Bang, bukannya Ri gak mau. Bagaimana dengan Empin?"
Tangan Riana sudah berada di atas dada Aksa yang setengah kancing piyamanya terbuka.
"Mumpung ada Aska, Yang. Aska bisa jadi pawang untuk Empin."
Riana kini mendongak ke arah sang suami. "Apa Empin mau? Dia 'kan gak bisa kita tinggal."
Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut Riana. Mengecup pipi istrinya dengan sangat mesra.
"Biar Abang yang membujuknya."
Riana hanya mengangguk. Namun, dengan satu syarat kalau Empin tidak mau ditinggal tidak boleh memaksanya.
Esok pagi, balita yang sudah tampan dengan pakaian sehari-harinya menuruni anak tangga dengan sangat riang.
"Senang banget kayaknya cucu Mimo." Gavin tersenyum senang ke arah sang nenek dan memeluk tubuh Ayanda.
"Daddy mu bitinin adit yan banak-banak uat atu."
Mata Ayanda melebar dan Gio tersedak kopi yang baru saja masuk ke dalam kerongkongannya.
"Aksa berbicara apa kepada Gavin?" Begitulah kata hati Gio.
Orang yang ditunggu pun turun bersama sang istri tercinta. Kedua orang tua Aksa menatap tajam ke arah Aksa meminta penjelasan lebih lagi.
"Daddy, benal tan Daddy mu nasih adit banak-banak wat atu." Aksa pun mengangguk.
"Sebenarnya mau kamu apa?" Ayanda sudah bertanya tanpa basa-basi kepada sang putra.
"Mau honey moon, Mom."
Ayanda dan Gio saling tatap mendengar ucapan dari sang putra. Melihat wajah Aksa yang terlihat bahagia membuat mereka tidak tega.
"Ke mana?" Kini sang ayah bertanya.
"Hanya ke Jogja, Dad. Sekalian mau ngecek perusahaan WAG." Gio mengangguk mengerti.
Namun, Ayanda berat kepada cucunya. Apa cucunya akan anteng ketika ditinggal oleh kedua orang tuanya? Ayanda sangat tahu bagaimana kedekatan Gavin dengan kedua orang tuanya.
"Empin mau di tinggal?" tanya sang nenek.
"Dak pa-pa. Ada antel 'tan."
Gio pun mengusap lembut rambut Gavin. Dia sangat bangga terhadap cucunya ini.
"Mommy dan Dady lama loh," ujar Ayanda lagi.
"Dak pa-pa Mimo. Atu tan tata Hebat."
Pada akhirnya, Riana dan Aksa pergi berbulan madu ke Jogja meninggalkan Gavin di Jakarta. Ternyata banyak yang mau mengasuhnya.
Selama di perjalanan menuju Bandara, Aksa terus menggenggam tangan istrinya. Tak Aksa lepas walau sedikitpun. Rasa bahagia menyelimuti hati Riana sekarang.
Aksa tak segan mengecup kening istrinya di depan khalayak umum. Riana pun tak malu melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.
"Kalau lelah,tidur aja."
Aksa sudah meletakkan kepala Riana di bahunya dan tangan Riana terus melingkar di pinggang Aksa. Tibanya di Jogja pun, Riana hanya ingin berdiam diri di kamar. Tubuhnya lelah, tetapi sang suami tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tangan nakalnya terus menjelajahi tubuh istrinya hingga Riana pun terangsang.
Hal yang membuat Riana melayang ketika benda kecil miliknya dihisap dan dijilat dengan lembut. Itu yang akan membuat tubuhnya menggelinjang dan bergetar hebat. Aksa akan tersenyum ketika istrinya benar-benar mencapai puncak kenikmatan. Jika, sudah begitu istrinya akan menjadi sangat aktif dan mampu memuaskan dahaganya.
Lelah memadu cinta, Riana pun terlelap dengan damainya. Aksa tersenyum bahagia karena wanita di sampingnya ini tidak pernah berubah. Dia pun merasa bersyukur karena telah bisa memiliki Riana seutuhnya.
Bangun ketika senja datang, perut Riana terasa diaduk-aduk. Dia segera berlari tanpa sehelai benang pun. Memuntahkan isi perutnya yang belum diisi apapun.
Aksa segera menghampiri Riana dan membantunya memijat belakang leher sang istri tercinta. Wajahnya terlihat sangat pucat membuat Aksa tidak tega. Dia memeluk tubuh Riana dengan sangat erat.
"Ke dokter, ya." Riana menggeleng pelan.
"Bisa tolong pijat gak?" Dahi Aksa mengkerut dan akhirnya dia mengangguk.
Dibawanya tubuh Riana ke atas tempat tidur dan Aksa membalurkan minyak zaitun ke punggung Riana. Namun, naluri kelelakiannya sudah meronta karena disuguhkan pemandangan yang indah di depannya. Punggung yang mulus dan kaki yang jenjang.
Kepala ular phyton sudah menyembul dan ingin masuk ke dalam ladang yang biasa dia garap. Tangan Aksa sudah menyentuh bagian sensitif sang istri membuat Riana menoleh.
"Gak kuat, Sayang." Aksa menunjuk ke arah ular piton yang sudah sangat tegak. Riana hanya tersenyum dan membuka jalan untuk ular piton suaminya masuk.
E rangan, the sahan penuh kenikmatan terdengar sangat syahdu. Mereka benar-benar seperti pengantin baru yang gejolak nafsunya tak bisa terbantahkan.
"Beda Yang rasanya." Begitulah kata Aksa.
__ADS_1
Ketika seorang wanita memasang alat pencegah kehamilan atau mengkonsumsi obat pencegah kehamilan rasanya akan sangat berbeda. Itu mampu dirasakan oleh Aksa. Ladang Riana lebih nikmat dan lebih welcome kepadanya.
Malam hari, barulah mereka keluar kamar. Riana hanya menggunakan celana jeans model hot pants dengan kaos yang longgar. Dia sengaja memakai itu karena dia tahu di luaran sana banyak wanita yang lebih menggoda dari dirinya.
"Yang, piton Abang berdiri lagi." Riana tertawa ketika mereka baru masuk ke dalam mobil. Apalagi melihat paha mulus Riana.
"Isi perut dulu, Bang. Capek ih." Aksa pun tergelak dan mengusap lembut sang istri.
Aksa mengajaknya ke sebuah angkringan di mana istrinya sangat menyukai makanan di sana. Tangannya terus menggenggam tangan Riana dengan sangat posesif. Tak membiarkan laki-laki manapun mendekat.
"Mau itu!"
"Makannya di dalam mobil aja, ya." Riana mengangguk setuju.
Semua menu Aksa pesan. Melihat istrinya seperti orang yang tidak berselera, Aksa pun segera menyuapinya.
"Enak gak?" Riana mengangguk.
"Kamu manja ya, Nak." Tangan Aksa sudah mengusap lembut perut Riana membuat Riana mengerutkan dahi tak percaya.
"Abang yakin?" Aksa mengangguk.
"Jangan dipikirin, makan dulu yang banyak dan malam ini Abang akan turutin kemauan kamu." Mata Riana berbinar dan dia segera mengecup pipi sang suami saking bahagianya.
Menikmati malam di alun-alun ternyata tidak membosankan juga. Riana dan Aksa terus tertawa dan tingkah manja Riana membuatnya semakin gemas. Apalagi tak segan-segan Riana melingkarkan lengannya di pinggang sang suami tercinta walaupun di tempat umum.
"Abang, mau gulali."
Aksa tertawa dan mencubit gemas hidung sang istri. Terlihat Riana sangat bahagia.
"Tau gak sih, Bang. Semenjak kuliah di Jogja, Ri ingin merasakan jalan bersama pasangan Ri ke tempat ini."
Aksa menatap tajam ke arah Riana ketika istrinya itu tengah bercerita.
"Namun, itu Ri kesampingkan. Ri, fokus belajar demi membahagiakan Ayah juga Ri tidak ingin terbawa perasaan karena melihat muda-mudi berpacaran sedangkan Ri hanya sendirian. Apalagi, waktu itu Ri berada di fase tengah melupakan Abang." Aksa memeluk tubuh Riana. Mengecup puncak kepala istri tercintanya.
"Sekarang Abang milik kamu, Sayang." Riana tersenyum dan mengangguk.
"Maaf, belum bisa memberikan yang terbaik untuk kamu." Kepala Riana menggeleng dengan cepat. Dia menatap lekat wajah sang suami.
"Abang sudah jadi suami yang sempurna untuk Ri. Sudah menjadi ayah sangat sempurna untuk Empin." Aksa tersenyum dan mengecup hangat kening Riana.
Setelah puas berkeliling alun-alun, Riana merasa tubuhnya sangat lelah dan ingin kembali ke hotel. Aksa menuruti kemauan sang istri tercinta. Di tengah perjalanan, istrinya sudah terlelap dan membuat Aksa tersenyum bahagia.
.
"Maaf, Pak. Anak saya masih sangat kecil. Saya bukan orang yang senang mempekerjakan anak." Penolakan yang Echa berikan.
Echa tidak ingin keponakannya ini kehilangan masa-masa indah bermain di usianya yang masih kecil. Jika, melihat nominal pasti sangat menggiurkan. Namun, Echa tetap menolak. Keluarganya pun masih mampu memberikan nominal sesuai brand itu negokan.
Echa terus membawa Gavin menjauhi orang itu. Dia terus bersungut-sungut. Selesai mengajak Gavin ke mall kini sang kakek mengajaknya pergi ke rumah Arya. Gavin akan senang hati karena di sana ada kolam ikan dan pastinya Gavin akan bermain di dalam kolam ikan.
Namun, kali ini Gavin tertarik pada kucing milik Beeya. Kucing itu tidak berbulu dan membuat Gavin tersenyum dan berjalan ke arahnya.
"Push," panggilnya.
Kucing itu angkuh sekali, membuat Gavin mengerang kesal. Ketika Gavin mendekat dia menjauh. Sungguh sombongnya.
"Awash ya."
Gavin mulai mengejar-ngejar kucing tersebut hingga kucing itu terus berlari. Sengaja Gavin kejar ke arah kolam ikan.
"Byur!"
Kucing itu pun tercebur ke kolam ikan koi milik Arya. Bocah balita itu tertawa cukup keras.
"Tutulin! Matana Danan tombon." (Sukurin! Makanya jangan sombong)
Bukannya menolong si kucing mahal itu, Gavin malah meninggalakannya begitu saja. Dia meminta cemilan kepada Arya dan duduk manis di depan televisi.
"Cucu lu anteng banget. Kagak nyariin emak bapaknya?" Rion ikut menatap ke arah Gavin yang tengah duduk manis sambil memakan cemilan yang diberikan Arya.
"Kalau malam sering nanyain Mommy dan Daddy-nya, tapi kalau udah nyebut adik pasti dia akan tidur tanpa drama."
Arya terkekeh mendengar ucapan Rion tentang Gavin. "Itu anak cikal bakal kakak yang hebat."
"Gua juga merasakan hal seperti itu." Namun, wajah Rion kini berubah sendu.
"Apa gua bisa melihat Empin dan si triplets tumbuh dewasa? Apa gua bisa menyaksikan Iyan menikah?"
Arya memandangi wajah Rion yang terlihat sangat pilu. Dia mengusap lembut pundak sang sahabat.
"Umur adalah rahasia Tuhan." Ucapan Arya membuat Rion tersenyum perih.
__ADS_1
"Gua ingin melihat Iyan menikah sama seperti gua menyaksikan Riana juga Echa menikah."
Usianya sudah tidak muda lagi. Rion pun sudah harus berobat jalan karena sakit yang dideritanya. Darah tinggi, jantung dan semua penyakit ada pada dirinya. Dia hanya takut Tuhan mengambilnya ketika dia belum bisa menyaksikan putranya bahagia. Putra yang diabaikan oleh ibunya dan hanya Rion yang mampu menyayanginya. Dia takut, jika nantinya Iyan mendapatkan jodoh yang tidak mencintainya malah akan menyakitinya.
"Bhas, kalo gua gak ada duluan, tolong jagain anak-anak gua. Jagain cucu-cucu gua. Gua cuma percaya sama lu."
Hati Arya mencelos mendengar ucapan dari sahabatnya ini. Dia benar-benar melihat kesedihan Rion saat ini. Raut wajahnya tak bisa berbohong. Kata-katanya pun sangat tulus terucap.
"Kita harus optimis. Lu masih mending udah bisa nyaksiin kedua anak lu menikah. Lah gua?" Arya menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. Rion pun tersenyum.
"Tanpa lu minta, gua akan menjaga anak-anak dan cucu-cucu lu. Mereka adalah anak-anak juga cucu-cucu gua juga," imbuh Arya.
"Makasih, Bhas." Arya tersenyum dan memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Sekarang lu tinggal menikmati kebahagiaan aja. Hidup lu udah sangat sempurna. Anak-anak lu juga luar biasa. Gua salut sama lu."
Lontaran pujian membuat rasa bahagia muncul di hati Rion Juanda. Walaupun dia ayah yang tidak sempurna, tetapi dia memiliki anak-anak yang luar biasa.
Suara deru mesin motor terdengar. Arya segera berlari ke arah luar dan dia sudah berkacak pinggang ketika melihat putrinya baru turun dari motor gede milik laki-laki yang berbeda dari yang mengantarnya kemarin.
"Malam, Om." Laki-laki yang masih berada di atas motor menyapa hangat Arya.
"Sejak kapan saya menikah dengan Tante kamu?" Arya bersungut-sungut dan matanya menyuruh Beeya untuk masuk ke dalam.
"Bye!" Beeya masih melambaikan tangan untuk laki-laki yang terbilang tampan.
"Itu pacar kamu yang ke berapa?" Jari Arya sudah berada di telinga Beeya.
"Ampun, Pa. Ampun!" Beeya memberontak, dia mencoba melepaskan jeweran sang ayah di telinganya.
"Jawab dulu!"
"Itu pacar baru, Bee."
"Beeya!" Pekikan suara Arya membuat toples yang tengah Gavin peluk terjatuh.
"Belicik!"
Bocah itu ikut berteriak dan membuat Rion tertawa. Dia menemani sang cucu dari pada mendengarkan kuliah puluhan menit yang keluar dari mulut Arya untuk Beeya.
"Empin mau punya adik berapa?"
Sejenak Gavin berpikir. Dia menghitung jari telunjuknya.
"Em ... taya tata tembal tida." (Kayak kakak kembar tiga)
Rion pun terkekeh. Dia mengusap lembut kepala Gavin.
"Kenapa sih Empin pengen punya adik? Apa Empin kesepian di rumah?" Kepala cucunya pun mengangguk pelan.
"Atu ini tan halus dadi pelindung wat Mommy juga adit-adit. Atu halus dada meleka." (Aku ini kan harus jadi pelindung buat Mommu juga adik-adik. Aku harus jaga mereka)
Ada kebanggan yang Rion rasakan. Ada kebahagiaan tak terkira ketika mendengar ucapan sang cucu seperti orang dewasa.
"Iya, Pah. Iya."
Rion dan Gavin menoleh ke arah dua manusia yang baru saja bergabung dengan mereka. Arya dan Beeya, ayah dan anak yang tidak pernah ada akurnya.
"Mamah aja gak masalah. Orang Bee cuma jalan doang dan gak pernah macam-macam. Bibir Bee aja masih tersegel walaupun mantan Bee udah lima puluh." Beeya berucap dengan bangganya
"Kok gua jadi mikir ulang ya buat jodohin Iyan sama anak lu, Bhas," ujar Rion. "Pas acara resepsi itu tamu undangan penuh sama mantan si Beeya doang dong."
Mereka bertiga pun tertawa mendengar ucapan konyol dari Rion. Tawa itu harus terhenti ketika asisten rumah tangga Arya berjalan tergesa dengan napas yang terengah-engah.
"Maaf, Pak." Suara asisten rumah tangga itu terdengar ketakutan.
"Kenapa, Mbak?"
"Anu ... itu ... anu ...."
Dahi Arya mengkerut, dia memperhatikan telunjuk asisten rumah tangganya yang menunjuk ke arah kolam. Arya segera ke area kolam dan matanya melebar ketika melihat kucing peterbald kesayangan Beby yang tengah mengapung di kolam.
"Peter!"
Teriakan Arya membuat Beeya juga Rion berlari. Diikuti Gavin di belakang mereka.
"Ya ampun, Pa," ucap Beeya ketika melihat kucing tanpa buku peliharaan mamahnya sudah tidak bernyawa.
"Hole ... tutin tombon mati." (Hore ... kucing sombong mati) Gavin malah bertepuk tangan.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1