Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tuduhan


__ADS_3

Selama di perjalanan menuju kost-an Riana, tidak ada ucapan yang keluar dari mulut Aksa maupun Riana. Hanya keheningan yang tercipta. Aksa dengan segala kemarahannya. Riana dengan segala gundah di hatinya.


Aku sadar, aku bukan lagi yang istimewa untuk dia.


Senyum miris yang teramat tipis terukir di wajah Riana. Dia tahu, Aksa tengah memikirkan Ziva yang sudah mengkhianatinya. Parahnya lagi, Aksa menyaksikan siaran langsung acara menunggang kuda. Ralat, menunggangi manusia.


Riana sadar, tindakan yang dilakukannya salah. Apalagi melihat Aksa yang seolah tidak peduli dengan keberadaannya.


"Pak, turunkan saya di sini." Ucapan Riana membuat Aksa segera menoleh.


"Kenapa?" Dahi Aksa sudah mengkerut. Sedangkan ujung matanya menyuruh sang sopir untuk terus melanjutkan kemudi.


"Seharusnya Abang 'kan yang ada di sana. Bukan pria itu," kata Riana dengan tatapan lurus ke depan.


Aksa hanya menghela napas kasar. Dia mencoba menenangkan hatinya yang tengah dirundung amarah. Dia tidak boleh gegabah untuk saat ini. Tinggal satu langkah lagi. Apalagi, ada alasan kuat yang akan menjadi bukti. Dengan sangat mudah dia bisa mengakhiri semuanya.


"Kita bicarakan di kost-an."


Riana hanya menatap ke arah luar kaca jendela mobil. Sedangkan Aksa fokus dengan ponsel di tangan. Dua manusia yang bergekut dengan pikiran masing-masing.


Tak terasa, mobil itu sudah berhenti tepat di kost-an Riana. Dengan cepat, Riana bergegas turun diikuti Aksa yang mengejarnya dari belakang. Aksa tahu, Riana telah merajuk.


"Lebih baik Abang pulang." Kalimat itu terlontar setelah Riana membuka pintu kost-annya.


"Tidak. Abang akan tetap di sini." Riana hanya menggeleng dan tidak menghiraukan Aksa. Memilih untuk membuka pintu.


Riana segera masuk ke dalam. Ketika pintunya hendak dia tutup, dengan keras tangan Aksa menahannya dan memaksa masuk hingga tubuh Riana terhuyung ke belakang. Untung saja tangan Aksa sigap merengkuh pinggang Riana. Jika tidak, sudah dipastikan Riana akan terjatuh ke lantai.


"Kita perlu bicara," ucap Aksa pelan.


Riana terus meronta untuk keluar dari rengkuhan Aksa. Namun, tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan rengkuhan tangan berotot ini.


"Sayang."


Mata Riana membola ketika mendengar panggilan dari Aksa dengan kata manis. Kata yang pernah terucap ketika Aksa menjanjikan sebuah penyatuan yang berujung perpisahan.


"Aku hanya mencintai kamu. Satu-satunya wanita yang ada di hatiku."

__ADS_1


Tubuh Riana membeku mendengar ucapan yang sangat tulus dari Aksa. Namun, logikanya masih menolak. Dia sangat melihat betapa marahnya Aksa ketika melihat adegan siaran langsung yang Ziva lakukan.


"Jangan berdusta, jika hatimu untuk Ziva."


Aksa tertawa mendengar ucapan Riana. Dia mulai mengendurkan rengkuhannya. Menatap dalam manik mata Riana. Tangannya menangkup wajah Riana. Hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter saja.


"Apa kamu Roy Kiyoshi? Bisa menebak hatiku?" Kedua alis Riana menukik dengan tajam. Dia tidak bisa mencerna ucapan Aksa.


"Tebakan kamu salah. Aku memang suami orang, tetapi di hatiku hanya ada kamu seorang." Ucapan Aksa membuat Riana menatapnya dengan wajah yang merona. Ada segelumit kebahagiaan yang dia rasakan.


Senyum pun melengkung indah di wajah Aksa melihat meronanya pipi Riana. Meleburkan amarah yang sedang bersarang di hatinya. Namun, itu tidak berselang lama. Ponsel Aksa berdering. Dia menjawab panggilan tersebut. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Aksa. Dia hanya menajamkan pendengarannya dengan raut yang tak terbaca.


"Mau teh atau kopi?" tawar Riana ketika Aksa sudah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Aksa tidak menjawab. Dia mendudukkan dirinya di atas lantai bersih. Menyandarkan tubuhnya di dinding seraya memejamkan mata.


"Mau teh atau kopi?" tawar Riana lagi.


Penawaran Riana kali ini mampu membuat Aksa mendongakkan kepala. Dia menarik tangan Riana hingga terjerembab ke atas dada bidang Aksa.


"Biarkan begini untuk sementara waktu. Hanya kamu yang bisa membuat aku tenang. Hanya kamu yang bisa membuat amarahku sedikit menghilang."


Suara yang begitu lemah terdengar. Menandakan kelelahan yang tiada tara. Lelah untuk berpura-pura dan bersandiwara atas pernikahan yang membuat dunianya menghitam.


Tangan Riana mulai membalas pelukan Aksa. Mengusap punggung Aksa, memberikan ketenangan.


Maafkan Ri, Tuhan. Ri, masih ingin berlama-lama bersama pria yang Ri sayangi.


Ri tahu, ini salah. Akan tetapi, Di tidak bisa membohongi semuanya. Ri, masih mencintainya. Sangat mencintainya. Bolehkan jika kali ini Ri egois?


Dua insan ini tenggelam dalam hangatnya pelukan penuh dengan cinta dan rindu. Kenyamanan yang mereka peroleh membuat mereka tidak ingin menyudahi semua ini.


Brak!


Dua orang berbadan kekar sudah berada di dalam kost-an Riana dengan mendobrak pintu. Ada pula pemilik kost-an yang Riana tempati. Ibu kost-an itu sudah menampakkan wajah yang penuh dengan amarah. Ada beberapa tetangga kost-an Riana yang menatap nyalang ke arahnya. Apalagi, mereka melihat Riana berada di pangkuan Aksa dengan keadaan saling memeluk.


"Sudah berapa pria yang kamu ajak berhubungan badan di sini? Ini kost-an bukan tempat hiburan malam." Sebuah kalimat tuduhan yang membuat hati Riana sakit.

__ADS_1


"Ma-maksud Ibu apa?" Riana menjawab dengan suara gugup.


Setelah pintu terbuka, Riana dan Aksa segera melepaskan pelukan dan berdiri menatap bingung kepada orang-orang yang sudah berada di hadapan mereka.


"Belaga bhego," ucap seseorang wanita tetangga kost-an Riana.


"Jaga bicara Anda!" bentak Aksa. Tidak terima pujaan hatinya direndahkan seperti itu.


"Cih, jangan jadi pria tholol. Lu bukan pria pertama yang dia ajak enak-enak. Gua sering liat si penyanyi kafe datang ke sini. Bohong kalo ini cewek gak digrepe-grepe." Mendengar ucapan wanita tersebut api amarah yang baru saja reda kini muncul kembali.


Aksa beralih menatap Riana yang sudah berkaca-kaca sambil menggelengkan kepala. Tubuhnya terlihat gemetar. Apalagi, ini pertama kali dia diperlakukan seperti ini di Kota orang. Mulutnya tercekat, dia tidak bisa berkata. Dia merasa disudutkan atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan.


"Dia pelakor!" tuduh wanita yang baru saja datang.


"Dia sudah merebut suami saya. Padahal saya tengah berbadan dua," lirihnya.


Mata Riana seketika membola. Kejutan lagi yang dia terima mengetahui Ziva hamil. Air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi.


"Jangan menyembunyikan kebejatan kamu dengan air mata palsu itu," ucap tetangga kost-an Riana yang lain.


"Lebih baik kita telanjangii dia dan kita arak keliling sini." Kedua pria berbadan kekar sudah mendekat ke arah Riana yang terus mundur.


"Jangan sentuh dia!" teriak Aksa yang kini sudah menghalangi tubuh Riana.


"Sayang, kamu kenapa terus membela dia. Aku ini istri sah kamu. Anak yang ada di dalam kandungan kamu ini adalah darah daging kamu." Wajah Ziva dibuat semenyedihkan mungkin.


Sungguh jijik Aksa melihat wajah Ziva itu. Sungguh muak Aksa mendengar ucapan penuh kebohongan yang keluar dari mulut Ziva.


"Dasar pria hidung belang," geram ibu kost.


"Bukankah kalo orang yang melakukan tindakan perzinahan harus segera dinikahkan." Ucapan Aksa terjeda sejenak.


"Jika, kalian menyangka saya dan Riana melakukan perzinahan. Saya siap menikahi Riana malam ini juga. Sebagai bukti pertanggung jawaban saya."


...****************...


Komen lagi dong ....

__ADS_1


__ADS_2