Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
London


__ADS_3

"Tuan Genta," ucap pelan Fahri. Namun, ucapan itu mampu didengar oleh Fahrani yang kini sudah menatap ke arah Fahri yang tengah memegang ponselnya.


Fahri menunjukkan layar ponsel yang dia pegang kepada Fahrani. Bukan sambungan telepon biasa, melainkan sambung video. Fahrani sudah tidak bisa berkutik. Sudah disidang dan sekarang terkena hukuman mati.


Kakak dari Fahrani itu menatap ke arah Aksa yang sudah melipatkan kedua tangannya di atas dada, dengan tatapan datar dan tak terbaca. Sebuah anggukan kecil sebagai tanda persetujuan yang Aksa berikan.


Fahri mendekat ke arah adiknya yang sudah berwajah pias. Inilah akhir dari hidupnya. Ponsel itu sudah Fahri berikan kepada Fahrani. Namun, Fahrani enggan mengambilnya.


"Cepat jawab!" sentak Aksa. "Kakek bukan orang yang suka menunggu," lanjutnya lagi.


Fahrani pun menerima ponsel dari Fahri dengan tangan yang bergetar hebat. Dia merutuki kebodohannya sendiri, dengan takut Fahrani menjawab sambungan telepon tersebut.


"Saya tidak suka menunggu," ucap tegas pria renta di balik sambungan video tersebut.


"Ma-maaf, Tuan." Fahrani tidak berani menatap ke arah layar ponsel.


"Sejak kapan saya mengajarkan kamu tidak bersikap sopan ketika ada orang yang lebih tua berbicara," sergahnya.


Fahrani seperti mati kutu. Menegakkan kepala salah dan menundukkan kepala juga salah. Memang dia sudah melakukan kesalahan yang besar. Perlahan Fahrani pun menegakkan kepalanya dan menatap ke arah Genta yang berada di layar ponsel miliknya. Wajah Genta sama seperti Aksa, datar, dingin dan tidak bisa terbaca olehnya.


"Kamu saya pindahkan ke London!"


Sontak Fahrani terkejut begitu juga dengan Fahri. London adalah negara yang menyeramkan untuk mereka berdua. Di mana mereka berdua pernah disiksa di sana oleh seorang algojo yang ditugaskan untuk menghukum anak buah Genta Wiguna ketika melakukan kesalahan.


Aksa hanya terdiam, dulu Aksa bisa meminta penangguhan kepada sang kakek perihal hukuman Fahri juga Fahrani. Namun, sekarang sudah berbeda cerita. Secara tidak langsung Fahrani sudah mengkhianatinya dengan cara melukai adiknya.


"Ta-tapi, Tuan ...."


"Keputusan saya sudah bulat. Tidak ada yang bisa merubahnya," tukas Genta dengan wajah yang serius.

__ADS_1


Hanya raut wajah penuh penyesalan yang Fahrani tunjukkan, sedangkan Genta sudah berdecih kesal.


"Sebelum kamu bertindak, lihat dulu siapa lawannya," ucap Genta. "Saya sangat kecewa terhadap kamu, Fahrani," lanjut Genta dengan suara yang penuh kekecewaan.


"Maafkan saya, Tuan," sesal Fahrani dengan suara yang bergetar. Dia tidak berani menatap Genta, dia sudah menjadi manusia yang tak tahu diuntung. Sudah diangkat menjadi anak asuh, sekarang malah berubah menjadi musuh.


"Saya tidak pernah mengajarkan kamu untuk berkhianat. Tugas kamu bukan hanya menjaga Aksa, tetapi menjaga adik serta kakaknya. Juga keluarganya," terang Genta.


Fahrani tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menunduk dalam, hanya kepalanya yang terlihat oleh Genta.


"Kalau kamu cinta sama cucu saya, berjuang secara sehat dan normal. Jika, cucu saya menolak lepaskan dan tinggalkan. Percayalah dengan yang namanya jodoh," tutur Genta.


Inilah akhir dari karir dan juga kehidupan Fahrani. Sudah tidak asing bagi anak buah Genta Wiguna dengan Kota London. Tempat yang akan menggoreskan sakit dan luka yang berbekas sampai mereka mati.


"Saya selalu mengajarkan kepada kamu, bahwa yang berhak disakiti itu adalah musuh kita. Tanpa syaa duga, ternyata ... kamu menganggap cucu saya sebagai musuh kamu."


Duar!


Fahri menatap nanar ke arah Fahrani. Tangannya sudah terulur dan dia letakkan di atas kepala Fahrani.


"Inilah yang gua takutkan," ucap pelan Fahri. Fahrani mulai terisak, terlihat dari punggungnya yang bergetar hebat.


Kini, Fahri menatap ke arah Aksa yang masih menonton Fahri juga adiknya.


"Pak ...."


Aksa mengangkat tangannya menandakan Fahri harus berhenti berbicara.


"Kesalahan adik kamu sudah sangat fatal. Kamu dengar 'kan kalimat yang terakhir Kakek ucapkan." Aksa menjeda ucapannya. "Yang berhak disakiti hanyalah musuh. Ketika adik lu menyakiti Aska, berarti dia menganggap bagian dari keluarga gua adalah musuhnya."

__ADS_1


Mulut Fahri terbungkam mendengar penjelasan Aksa. Itulah alasannya Fahri sangat hati-hati bekerja bersama Aksa dan juga Genta Wiguna. Sedikit saja kesalahan, seperti menggali kuburannya sendiri.


Fahrani semakin terisak, Aksa menyuruh Fahri untuk membawa Fahrani keluar ruangan tersebut. Di ruang yang kosong, Fahrani memeluk tubuh kakaknya dengan sangat erat.


"Rani ... takut, Kak. Rani, gak mau kembali ke tempat itu." Fahri hanya terdiam. Bayangan masa lalunya seakan berputar di kepalanya.


Enam tahun lalu ...


Dua anak kembar yang akan lulus sekolah menengah atas dibawa ke sebuah rumah yang berada di London. Selama perjalanan dari Singapura menuju London, mata kedua anak itu ditutup rapat. Mereka tidak boleh banyak bertanya dan tangan mereka berdua bertaut dengan sangat erat.


Tibanya di London, mereka dibawa ke sebuah rumah megah. Namun, penghuni rumah itu berbadan kekar dan terlihat garang. Usut punya usut, ternyata itu adalah penjara untuk para anak buah Genta Wiguna yang bersalah ataupun berkhianat. Mereka benar-benar diberi pelajaran yang sangat berharga di sana. Selama dua tahun berada di sana, mereka berdua banyak sekali mengalami luka fisik. Dari pukulan, tendangan juga tamparan sering mereka dapatkan.


"Kak, sudut bibir Kakak berdarah," ucap Fahrani seraya menyentuh bibir Fahri. Fahri tersenyum dan berkata, "Kakak tidak apa-apa, Ran." Padahal terlihat jelas Fahri menahan kesakitan yang luar biasa.


Tangan pria itu sangat lebar, dan tamparan itu sangat keras sampai menimbulkan suara. Harusnya Fahranilah yang menerima hukuman itu karena Fahrani selalu lamban dalam melaksanakan perintah. Namun, Fahri akan menjadi pelindung untuk adiknya di saat seperti ini. Jadi, setiap kesalahan Fahrani dialah yang akan menanggung hukumannya.


Ya, mereka berdua dibawa ke London karena diam-diam menggunakan obat terlarang untuk menghilangkan tekanan yang mereka rasakan. Diangkat oleh Genta Wiguna membuat hidup mereka tertekan.


#off.


"Maafin Kakak, Ran ... Kakak gak bisa bantu kamu," sesalnya.


"Kakak sudah peringatkan kamu, Tuan Genta dan keluarganya sudah sangat baik kepada kita. Didikan keras Tuan Genta untuk masa depan kita. Kita bisa menjadi orang yang disegani oleh banyak orang itu karena Tuan Genta. Tanpa Tuan Genta, mungkin kita hanya akan menjadi gelandangan," tuturnya.


Fahrani hanya menangis. Dia masih tidak bisa membayangkan bagaimana dia berada di London seorang diri. Orang-orang yang berada di sana sangatlah menyeramkan. Mereka tidak pandang bulu. Mau wanita ataupun pria pasti akan mereka perlakukan sama.


"Dua tahun," kata Aksa yang baru saja menghampiri Fahrani dan juga Fahri. Adik-Kakak itu tersentak.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2