
"... jauhi Riana mulai dari sekarang."
Ucapan Echa bagai petir di siang bolong. Bukan hanya Chintya yang terkejut, Arka pun menegakkan kepalanya dan menatap penuh permohonan kepada Echa.
"Tapi, Kak ...."
"Saya anggap kamu sudah kalah karena kamu telah melakukan kecurangan. Sedangkan rivalmu yang memiliki kesempatan yang lebih besar dari kamu saja masih bisa sabar menunggu," potong Echa.
"Om ...." Arka mulai meminta bantuan kepada Rion.
"Beri Arka kesempatan lagi, Om." Arka berbicara dengan wajah yang memelas. Sedangkan Rion masih bergeming di tempatnya.
"Hati Arka sakit dan perih, Om. Wanita yang Arka cintai malah bermesraan dengan pria lain di depan mata Arka. Wajar jika Arka cemburu. tapi ... Arka juga salah. Gak seharusnya Arka melakukan itu. Arka minta maaf, Om. Arka sangat menyesal," sesalnya.
"Gak usah drama lagi. Saya bukan penikmat sinetron. Terima kekalahan kamu," tukas Echa.
"Kamu jangan begitu, dong. Kamu yang bilang kalau keputusan itu akan Riana jawab nanti. Kamu tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan," timpal Fikri.
Senyum tipis terukir di wajah Echa. Berbeda dengan pria yang mendampinginya. Wajah murka sudah mereka tunjukkan.
"Walaupun nanti adik saya menerima putra Anda ... tetapi akan saya pastikan bahwa saya tidak akan merestuinya. Menikah tanpa restu hanya akan membawa petaka," jelas Echa
Mereka pulang dengan tangan hampa. Maaf mereka tidak diterima, drama mereka ditolak mentah-mentah. Sedangkan Arka sudah tidak bisa berkata. Wajah frustasi dan hancur yang nampak sekali.
Singapura.
Aksa baru saja tiba di rumah sang kakek setelah lelah bekerja. Rumah di mana dulu Echa tinggali ketika menimba ilmu di negeri kanguru. Foto Echa memakai baju toga pun terpajang indah di sana.
"Duduk, Bang." Suara Genta membuyarkan pandangannya.
Aksa mengikuti perintah sang kakek. Tidak biasanya sang kakek memanggilnya. Jika, sudah seperti ini pasti ada hal penting yang Genta ingin bicarakan.
"Ada apa, Kek?"
"Bagaimana hubungan kamu dengan Riana?" Aksa sedikit terkejut, tidak biasanya sang kakek menanyakan perihal masalah pribadi.
"Apa Kakek akan melarang Abang untuk menjalin hubungan dengan Riana?" tanya balik Aksa dengan rasa takut yang mulai hadir.
__ADS_1
"Hahaha." Tawa Genta menggelegar.
"Kakek bukan orang tua yang kuno yang akan melarang-larang kamu," ucapnya.
Sedetik kemudian, Genta menatap serius ke arah Aksa. Tatapan yang membutuhkan jawaban jujur. Aksa tahu itu.
"Kenapa kamu melakukan ini? Bukankah kesempatan kamu sangat besar?" Hanya helaan napas kasar yang terdengar. Aksa menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa tidak kamu gunakan kesempatan itu?" lanjut Genta.
"Sebenarnya ... bisa saja Abang menghalalkan Riana saat ini juga. Apalagi Riana juga masih mencintai Abang, tetapi ... Abang tidak ingin egois. Abang tidak ingin tergesa-gesa hanya karena ***** belaka. Meskipun di agama kita pun diperbolehkan memiliki istri lebih satu, tetapi Abang tidak mau," terangnya.
"Kenapa? Sekarang Riana memang jadi yang kedua. Setelah kamu bercerai, dia akan menjadi yang pertama," tutur Genta.
"Jadi yang kedua itu terlalu menyakitkan, Kek. Abang ingin menjadikan Riana satu-satunya dalam hidup Abang. Memberikan kenangan manis yang tidak bisa dilupakan seumur hidup dengan pernikahan yang direstui oleh semua orang. Menjadikan Riana ratu sehari yang menempati pelaminan yang indah dan cantik dengan senyum bahagia. Ketika Abang menjabat tangan Ayah, mengikrarkan janji suci di depan Allah, di situlah Abang sudah berjanji pada diri Abang sendiri untuk membahagiakan Riana dari detik itu sampai Abang menutup mata."
Genta tersenyum bangga kepada Aksa. Sungguh pemikiran yang luar biasa dan di luar dugaannya.
"Untuk sekarang, Abang harus bersabar dulu. Abang ingin terbebas dari status si Alan ini. Abang tidak ingin Riana dicap sebagai wanita perebut suami orang. Setelah itu, Abang harus bisa meyakinkan ayah," ungkapnya.
"Kamu ragu kalau Rion akan merestui kamu?" Aksa menggeleng.
"Apa kamu sanggup menunggu?"
"Kenapa tidak? Abang ingin kisah
cinta Abang seperti Kak Echa dan juga Bang Radit. Mereka membuktikan bahwa tidak selamanya menunggu itu membosankan. Malah sebaliknya, bisa semakin menyatukan karena jarang adanya pertemuan."
Semakin bangga Genta pada cucunya yang satu ini. Otak cerdasnya mampu mengalahkan egonya. Apapun selalu Aksa perhitungkan dengan matang.
Yogyakarta.
Sesuai dengan perintah Aksa, Riana tidak keluar rumah jika tidak ada hal yang mendesak. Masih ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Apalagi, Echa baru saja mengabarkan bahwa semalam keluarga Arka datang ke rumahnya.
Pintu kosan pun Riana kunci, gorden pun dia tutup rapat. Dia takut Arka akan datang menemuinya di sini. Semalam, Riana sudah meminta kepada Echa untuk pindah kosan. Namun, Echa melarangnya. Echa mengatakan bahwa di sana adalah tempat yang aman untuk Riana.
Pagi tadi pun Rani berpesan, jangan keluar rumah dan membuka pintu jika ada yang mengetuk. Rani meminta kepada Riana untuk terus berada di dalam kamar saja.
__ADS_1
"Kenapa mencekam begini," gumamnya.
Ketika Riana hendak memejamkan mata, ponselnya berdering. Matanya melebar ketika melihat siapa yang menelepon.
"Iya, Pak."
...
"Harus sekarang?"
...
"Baik."
Riana menghela napas berat, dia mencoba menghubungi Aksa. Namun, ponsel Aksa selalu di luar jangkauan. Bingung sedang melandanya. Riana diharuskan datang ke kampus sekarang juga. Dosen pembimbing sudah menunggunya. Serta Riana sudah ditunggu oleh panitia penyelenggara wisuda.
"Bagaimana ini?" gumamnya. Riana masih betah duduk di samping tempat tidur. Ada ketakutan yang dia rasakan. Ponselnya berdering kembali. Kini Raisa yang menghubunginya.
"Udah jalan belum?"
"Belum."
"Cepetan, Pak Winto sudah menunggu kamu."
"Iya."
Riana segera berganti pakaian dan menyiapkan semuanya. Ketika dia sedang memakai sepatu, dia teringat akan ucapan Aksa. Riana mulai menghubunginya kembali, tetapi tidak aktif.
"Maafkan Ri, Bang. Ini penting untuk, Ri," gumamnya.
"Bismillah," ucap Riana sebelum membuka pintu.
Baru saja Riana ingin memesan ojek online. Klakson mobil mengagetkan dirinya. Mobil itu sudah berada di luar pagar kosan, tanpa Riana tahu siapa pemiliknya. Hatinya mulai was-was, dia takut jika itu Arka. Setahu Riana Arka bukanlah anak orang biasa. Namun, masih jauh jika dibandingkan dengan keluarga Aksa.
Kaca mobil pun terbuka, mata Riana memicing ketika melihat seseorang yang berada di dalam mobil melambaikan tangan. Apalagi senyum khasnya terlihat.
"Ikut Abang dangdutan, yuk."
__ADS_1
...****************...
Jangan pelit komen ya ...😁