Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Cowok


__ADS_3

Di ruang persalinan, Riana seperti orang sadar tak sadar karena efek kelelahan juga obat yang diberikan oleh dokter. Perlahan matanya terpejam, ada dua orang perempuan yang menyambutnya. Satu perempuan dewasa dan satu lagi anak perempuan yang sangat mirip dengannya. Mereka tersenyum hangat ke arah Riana. Mencium pipinya dari arah kiri dan kanan.


"Kamu wanita hebat," puji wanita tersebut.


"Mommy luar biasa."


Mulut Riana seakan Kelu mendengar ucapan dari kedua perempuan itu. Ingin sekali dia menjawab pujian itu, tetapi mulutnya tertutup sangat rapat. Dia hanya bisa menatap dua orang yang paling dia cintai dengan mata yang nanar.


"Nak, jaga cucu Bunda, ya. Banyak yang menginginkan dia. Jangan pernah lengah." Pesan yang diberikan oleh mendiang sang ibu kepada Riana. Namun, Riana sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Kakak akan selalu ada di samping Adek, My. Kakak akan bantu Daddy dan Mommy jaga Adek." Senyum anak perempuan itu sangat mengembang di wajah cantiknya membuat hati Riana menghangat juga haru.


Rasa rindu yang membuncah di hati Riana meluap seketika. Dia dapat melihat mendiang sang ibu dengan jelas. Meskipun dia tidak bisa berkata ataupun melakukan apa-apa. Seluruh tubuhnya tidak bisa digerakan dan seperti patung.


Kecupan hangat di kening Riana yang diberikan oleh sang bunda membuat air matanya menetes begitu saja. Merasakan kecupan yang sudah lama dia rindukan dan tak pernah dia rasakan lagi.


"Bunda pergi ya, Ri. Terima kasih sudah melahirkan cucu Bunda yang sangat tampan."


Air mata itu semakin mengalir deras. Dokter dan perawat sedikit terkejut ketika melihat Riana yang tengah terpejam, tetapi ujung matanya mengeluarkan air mata.


"Nyonya!" Perawat dan dokter memanggil-manggil Riana dan sedikit mengguncang tubuhnya agar tersadar. Lima menit berselang, Riana pun membuka mata dan dia merasakan dadanya sesak.


Dokter segera memeriksa keadaan Riana dan semuanya normal. Dokter itupun meminta kepada pihak rumah sakit untuk membuatkan teh hangat untuk Riana agar keadaannya semakin membaik.


Kedua saudara kembar itu tengah serius memandangi wajah tampan Aksa junior dari balik kaca. Sangat tampan dan menggemaskan.


"Entar kasih tutorial gimana bisa bikin anak kayak begitu." Aksa pun terkekeh mendengar ucapan dari adiknya ini.


"Punya cewek aja enggak. Sok-sokan pengen tutorial." Desisan Aska bagai ular, dan tatapannya bagai mata elang yang ingin memangsa dia secara hidup-hidup.


"Beliin gua makanan gih, gua lapar." Aksa mulai menjadi bos dan Aska tidak akan bisa membantah. Seribu dollar Singapura sudah di tangan, artinya dia akan menjadi asisten Aksa selama di sana.


"Gua juga mau, ya." Aksa mengangguk.


Ayah baru itu kembali ke ruang persalinan dan Aska menuju kantin. Dia masih teringat akan sosok sahabat bang satnya yang ada di rumah sakit ini. Dia penasaran, tetapi lebih baik dia mengacuhkan. Dia sudah tidak ingin tahu menahu perihal Abian Putra. Mau dia mati sekalipun, Aska tidak akan pernah mau datang melayatnya. Itulah janji dia kepada dirinya sendiri. Sakit hatinya sudah terlalu dalam.


Aksa menunggu Riana dengan rasa was-was karena sedari tadi sang istri belum juga keluar dari ruang persalinan. Dia takut terjadi apa-apa dengan Riana.


Ketika dia tengah mondar-mandir tak jelas, dia melihat seorang perempuan berambut sebahu dengan tubuh berisi melewati ruang persalinan. Dahinya mengkerut dan kepalanya sulit untuk mencerna apa yang dia lihat.


"Jingga?" gumamnya. "Beneran dia ada di Singapura?" Terkejut, sudah pasti. Banyak spekulasi di kepalanya.


Suara pintu terbuka membuat Aksa segera menoleh ke arah ruang persalinan. Brankar rumah sakit sudah didorong keluar oleh para perawat dari ruangan tersebut. Ada kelegaan di hati Aksa ketika melihat istrinyalah yang tengah berbaring di sana.


Dia segera menghampiri istrinya dan menggenggam tangan Riana. Tangan itu terus bertaut hingga Riana masuk ke dalam ruang perawatan yang benar-benar mewah.


"Silakan istirahat, Nyonya," ucap perawat.


"Terimakasih, Sus."


"Putra Anda kami pisahkan dahulu karena dia harus dirawat secara intensif. Berat badannya sudah sangat mencukupi karena lahir dengan bobot tiga kilogram. Namun, saya dan dokter harus memeriksa keseluruhan tubuh sang bayi untuk memastikan semuanya normal. Barulah, nanti akan kami satukan dengan Anda, Nyonya," terang dokter yang menangani Riana.


"Lakukan yang terbaik terhadap anak saya. Biaya tidak akan pernah menjadi masalah." Aksa berkata dengan sangat lantang dan tegas.


Dokter itupun tersenyum mendengarnya. Dia juga sudah mendapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa pasien yang bernama Riana Amara Juanda adalah cucu menantu dari orang yang sangat berpengaruh di Singapura. Maka dari itu, pihak rumah sakit mulai sibuk dengan pengamanan yang lima kali lebih ketat dari biasanya.


Setelah dokter dan perawat itu pergi, tak hentinya Aksa mengucapakan terima kasih kepada istrinya karena sudah mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan buah cinta mereka. Juga dia pun terus menggenggam tangan Riana dengan sangat erat.


"Sekarang keluarga kita sudah sempurna," ucap Riana. Aksa pun tersenyum dan mencium punggung tangan Riana dengan sangat lembut.


"Kamu adalah wanita hebat." Pujian dari Aksa mengingatkannya akan pujian dari mendiang sang bunda. Namun, dia tidak boleh larut dalam rasa itu. Dia harus mengesampingkan semuanya. Ada anak yang harus dia jaga sekarang.


"Apa kamu bahagia bisa melahirkan secara normal?"


"Tentu, Bang. Allah menjawab semua doa Ri." Wajah ceria Riana sangat terlihat jelas.


"Apa kamu kecewa?" Dahi Riana mengkerut mendengar ucapan sang suami. "Perihal anak kita yang cowok." Aksa benar-benar sangat khawatir jika Riana kecewa. Namun, Riana menggelengkan kepalanya dan mengusap lembut pipi sang suami.


"Apapun jenis kelaminnya tidak jadi masalah untuk Ri. Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita." Aksa benar-benar bangga terhadap istrinya ini. Dia pun tak segan mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.


Bantingan pintu pun membuat dua insan yang tengah beradu bibir terperanjat.


"Kebiasaan! Kebiasaan!" teriak Aska yang sudah menenteng berbagai paper bag di tangannya.


"Lu beli makanan apa beli baju?" Aksa masih tak beranjak dari samping sang istri membuat Aska mengerang kesal. Harusnya abangnya ini peka bahwa adiknya memerlukan bantuan. Pada nyatanya kembarannya ini dableg.


"Ini dari Daddy dan Mommy. Baju buat anak lu sama istri lu," sungut Aska sambil meletakkan beberapa paper bag besar di atas meja.


"Oh."


Jawaban singkat yang sangat membagongkan dan membuat Aska ingin sekali menghajar wajah tampan abangnya.


"Kak, boleh Ri lihat baju-bajunya?" Wajah bahagia Ejaan terlihat jelas. Aska mengangguk dan membawa paper bag yang berisi baju keponakannya ke arah Riana.


"Suami males lu!" umpat kesal Aska karena sang kakak tak bergerak sama sekali.


Aksa membantu istrinya untuk duduk walaupun dia sendiri merasa sangat ngilu karena bagian bawah sang istri yang baru saja dijahit bagai baju yang sobek.


"Ya ampun, lucu-lucu banget," ujar Riana sambil membuka satu per satu baju yang dibelikan oleh ayah mertuanya. Baju itu pun bukan baju bermerk lokal, baju yang harganya cukup menguras kantong.


"Emang Daddy udah tahu?"


Pertanyaan bodoh yang Aska lontarkan membuat Aska mengerang kesal untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Tanpa kita bilang, mereka pasti tahu. Apalagi Kakek." Aksa pun mengangguk mengerti. "Mertua lu juga lagi otw ke sini." Hembusan napas kasar menjadi jawaban dari perkataan Aska.


"Kenapa lu? Kayaknya gak mau banget ketemu sama mertua," ledek Aska. "Ri, laki lu nih gak mau ketemu sama ayah lu," adu Aska. Riana hanya menjawab dengan senyuman. Sudah biasa suaminya seperti itu karena sang ayah pun terkadang bertindak di luar nalar.


.


Rion bisa bernapas lega ketika tiba di Bandara Changi Singapura. Dia ingin segera ke rumah sakit di mana putrinya berada.


"Makan dululah," pinta Arya. "Gua lapar ini," Arya terus merengek bagai anak kecil.


Mau tidak mau duda beranak tiga itupun menuruti kemauan sang sahabat. Jujur, dia juga sudah sangat lapar.


"Lu udah telepon Riana?" tanya Arya disela menunggu makanan mereka disajikan.


"Anak sama menantu gua pada ngeselin," sungutnya. Arya hanya tertawa, semakin hari tingkat kesensitifan seorang Rion Juanda semakin menjadi.


"Maklumin aja, mungkin mereka juga lagi panik. Boro-boro ngurusin hp 'kan."


Apa yang dikatakan oleh Arya ada benarnya juga. Rion juga tidak bisa menyalahkan. Dalam keadaan genting seperti itu pasti tidak akan ingat apa-apa.


Ketika mereka menikmati makanan, seseorang menyapa Arya dan membuat Arya serta Rion menoleh. Senyuman khas pria itu dia berikan kepada mereka berdua.


"Ngapain lu di sini?" Mulut Arya sangat pedas bagai bubuk cabe berlevel tinggi.


"Santailah, bro." Pria itupun menarik kursi untuk dia duduki.


Rion hanya menyimak saja, toh dia tidak terlalu dekat dengan sahabat Arya juga Giondra tersebut. Dia masih menikmati makanan yang dia pesan.


"Lu sendiri ngapain ke sini?" tanya balik pria tersebut.


"Malah balik nanya, pan," sungut Arya. Pria itupun malah terkekeh.


"Gua lagi nemenin anak gua praktek di sini," tutur Eki, sahabat dari Arya.


"Ayah!"


Panggilan dari seroang perempuan cantik dengan rambut panjang tergerai juga badan berisi membuat ketiga pria itu menoleh. Eki tersenyum ke arah putrinya.


"Kenalin, ini teman-teman Ayah," ucapnya kepada Melati.


"Melati, Om." Arya dan Rion hanya mengangguk sopan. Mereka pun berbincang sejenak sambil menghabiskan makanan pesanan mereka.


"Maaf ya, Sayang." Sebuah kalimat yang membuat Arya serta Rion menoleh. Alis mereka berdua menukik ketika melihat pria yang memanggil Melati dengan sebutan sayang.


"Tuh wajah bocah gak asing, ya," bisik Rion. Arya hanya menganggukkan kepala.


"Kenalin ini teman-teman Ayah, Bi," imbuh Eki.


"Lu udah punya mantu?" Arya sedikit terkejut karena tidak pernah ada undangan pernikahan kepada dirinya.


"Udah, ini mantu gua," jawab Eki sambil menepuk pundak menantunya yang bernama Abi.


"Kok gak ada undangan?" Mulut kepo Arya beraksi.


"Baru akad aja." Jawaban dari Eki membuat dahi Arya mengerut.


"DP dulu, ya," sergahnya.


Rion menepuk paha Arya dengan sangat keras. Juga tatapan Rion yang ingin membunuh Arya secara hidup-hidup. Sudah jelas-jelas badan Melati berisi sekali, bukan karena gendut melainkan faktor yang lainnya. Namun, Arya malah menegaskan secara gamblang.


Wajah Melati sudah merah karena malu, tetapi suaminya terus merangkul pundak sang istri.


"Padahal dokter, ya."


Rion menggelengkan kepalanya, masih saja sahabatnya ini mulutnya berbisa dan tidak ada remnya.


Eki yang melihat putrinya sudah tidak nyaman, mengajak putrinya untuk pergi dari tempat ini. Eki melupakan sesuatu, bahwa mulut Arya ini sangatlah berbisa.


"Gua duluan, ya."


Rion mengangguk dengan senyum tidak enak. Ingin rasanya dia mencekik leher Arya.


"Besok-besok ke bengkel, gih," titah Rion ketiak Eki dan anak serta menantunya pergi. Kedua alis Arya menukik dengan tajam. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rion.


"Pasang rem tuh mulut!"


"Bodoh!" umpat Arya.


Rion pun tertawa, akhirnya dia bisa membalas ucapan dari Arya si mulut tajam.


Setelah selesai makan, mereka berdua segera pergi dari restoran tersebut. Namun, langkah Arya terhenti ketika mereka akan masuk ke dalam mobil yang mereka sewa.


"Lu gak mau bawa apa gitu buat anak dan cucu lu?" Rion menatap ke arah Arya dengan tatapan datar.


"Semua yang dibutuhkan cucu gua pasti sudah dipersiapkan oleh kakeknya." Decakan kesal pun keluar dari mulut Arya. Ingin sekali dia menenggelamkan Rion ke dalam lumpur lapindo.


"Pan lu juga kakeknya, oon!" geram sekali nampaknya Arya.


"Gak perlu!"


Arya menggelengkan kepalanya tak percaya. Sahabatnya yang satu ini benar-benar bukan manusia yang memiliki hati nurani. Rion malah masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil itu dengan sangat keras.


"Kakek gendeng!"

__ADS_1


Tibanya mereka di rumah sakit, mereka segera menuju resepsionis menanyakan pasien yang bernama Riana. Namun, pihak rumah sakit seakan menutup rapat informasi tentang Riana dari siapapun.


"Saya ayahnya!" Rion sudah mulai murka. Resepsionis itu tidak percaya begitu saja. Dia tetap teguh pada pendiriannya.


Rion benar-benar mengerang kesal. Menghubungi Ayanda pun dia tidak bisa. Dia pun segera menghubungi Aksa kembali, tetapi nomor Aksa malah tidak aktif. Hingga dia teringat akan adiknya Aksa.


"Ayah udah di bawah ini! Mereka gak percaya kalau Ayah orangtuanya Riana." Seperti biasa mulut Rion akan mengomel dengan sangat lancar.


"Tunggu di sana. Adek turun."


Rion mengembuskan napas kasar, Arya hanya menonton sahabatnya yang tengah murka ini.


Tak lama berselang, Aska tiba di lantai paling bawah dan Rion segera memukul pundak Aska.


"Kenapa ketat banget?" Rion merasa ada yang aneh. Ini Singapura bukan Indonesia. Harusnya lebih gampang.


"Mana Adek tahu," jawab Aska.


"Udahlah, jangan debat," lerai Arya. "Udah lahiran belum?" tanya Arya. Hanya seulas senyum yang Aska berikan.


"Cewek apa cowok?" tanya Arya penasaran.


Aska tidak menjawab, tetapi membawa Arya dan juga Rion ke sebuah ruangan. Dahi mereka mengkerut melihat bacaan di ruangan tersebut.


"NICU." Rion teringat akan Riana ketika lahir dulu. Namun, ingatan itu segera hilang ketika Aska berbicara, "itu anak mereka."


Sontak mata dua pria paruh baya itu melihat ke arah di mana tangan Aska menunjuk. Hati Rion bergetar ketika melihat bayi merah yang tengah terlelap.


"Cu-cu Ayah." Rion berucap dengan rasa tak percaya. Aska hanya mengangguk dengan senyum yang merekah.


"Cowok?" tebak Arya. Lagi-lagi Aska mengangguk.


"Betapa tampannya bayi itu. Dia seperti pelipur lara bagi orang yang melihatnya." Ucapan Aska membuat Arya juga Rion mengangguk setuju.


"Bagaimana dengan Riana?" tanya Rion.


"Dia baru aja tidur."


Setelah puas memandang hasil maha karya Aksa dan Riana, Aska mengajak kedua pria yang tak lagi muda ini ke ruang perawatan Riana. Di sana terlihat Aksa yang terus menggenggam tangan Riana dan tak beranjak dari samping Riana.


"Dari tadi Abang gak mau pindah dari tempat itu."


Hati Rion mencelos mendengar ucapan Aska. Bukannya Aska melebih-lebihkan, tetapi memang kenyataannya seperti itu.


"Kalau Ayah lihat wajah Abang pas bawa Riana yang tengah kesakitan, pasti Ayah akan sedih," tutur Aska seraya menatap ke arah Rion.


"Abang ikut menangis ketika Riana mengeluh sakit."


Sakit sekali hati Rion mendengarnya. Dia yang berniat akan memarahi menantunya itu, kini mengurungkan niatnya. Dia juga sangat melihat dengan jelas bahwa Aksa masih berwajah pilu.


Arya menepuk pundak Rion dan berkata, "harusnya lu lihat bagaimana Aksara ketika menghadapi istrinya yang hendak melahirkan secara normal supaya lu tahu bagaimana perjuangan Ayanda ketika melahirkan Echa."


Kalimat yang sangat menusuk ulu hati Rion. Dia pun hanya bisa terdiam karena ketika Echa lahir dia tidak ada di samping sang istri.


"Gua yakin, ada alasan kenapa Riana ingin melahirkan secara normal," ucap Arya.


"Kalau menurut buku yang Adek baca, melahirkan secara normal dengan didampingi suami akan membuat suami itu lebih sayang kepada istrinya. Ketika dia hendak melakukan hal yang tidak-tidak, pasti akan teringat akan perjuangan sang istri yang tengah berjuang di antara hidup dan mati." Arya setuju dengan ucapan Aska dan Rion hanya diam membisu.


.


"Aku gak mau tahu, kamu harus lenyapkan bayi itu!"


Pria yang masih memakai baju tahanan sama dengan wanita itu pun hanya terdiam.


"Aku tidak mau berurusan dengan keluarga Wiguna," tolaknya mentah-mentah.


"Apa kamu tidak dendam karena sudah kehilangan anak kita?"


Pria itu kini menatap tajam ke arah si wanita yang masih muda dan cantik, tetapi berhati iblis. "Anak kita meninggal karena kamu! Bukan karena mereka!"


Wanita itu pun terdiam. Dia tidak berkata apapun. "Jangan pernah mengusik singa yang sedang tidur." Pria itu memperingati si wanita tersebut agar tak melakukan hal bodoh yang nantinya akan memasukkannya ke jurang kematian.


Pria itu pun menjauhi wanita yang masih memiliki hati bagai iblis. Dia sudah tidak ingin ikut masuk ke dalam perangkap wanita itu lagi. Sudah cukup, adiknya meninggal karena keganasan keluarga Wiguna.


.


"Laki-laki, Tuan."


Laporan yang diberikan oleh orang berbadan tegap kepada seseorang yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Perketat pengamanan di sana, tapi jangan sampai ada orang yang tahu." Anak buah dari pria itu pun mengangguk.


"Permisi, Tuan." Anak buahnya yang lain masuk ke dalam ruangan pria tersebut.


"Wanita gila itu berkeinginan untuk melenyapkan bayi tak berdosa itu, Tuan."


Senyum tipis tersungging di bibir pria tua itu. Dia menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran dengan seringai mematikan.


"Tangannya berani menyentuh cicitku, sudah aku pastikan dia segera berada di dalam liang kubur."


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2