
Ketika semua orang telah kembali ke Indonesia, hanya ada Aksa, Riana, Ayanda juga Empin di rumah itu. Satu lagi, Askara yang masih harus berada di Singapura untuk dua hari ke depan. Pagi-pagi Ayanda sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk anak dan menantunya. Hal yang membuatnya senang.
Di kamar utama, Riana tengah menyusui Empin sambil menahan kantuk. Mulutnya sering menguap karena sang putra malam tadi sering terbangun karena haus. Waktu untuk menyusuinya pun cukup lama setengah sampai satu jam barulah Empin tertidur dengan nyenyak.
Aksa yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum melihat sang istri yang tengah mainkan pipi Empin. Dia mengecup kening sang istri dengan sangat lembut. Riana pun menoleh ke arah suaminya yang sudah wangi dan segar.
"Ri, masih bau."
Aksa pun terkekeh mendengar ucapan dari istrinya ini. Bukannya memakai baju, Aksa malah duduk di samping sang istri. Meletakkan kepala Riana di bahunya.
"Kalau capek, bilang capek, ya. Biar Abang tahu apa yang kamu rasakan."
Kalimat sederhana yang mampu membuat hati Riana menghangat. Riana hanya menganggukkan kepala dan tak hentinya dia mengucapkan syukur karena memiliki suami yang sangat luar biasa.
"Abang pakai baju gih, nanti telat rapatnya." Lagi-lagi Aksa tertawa, rapat yang dia jalankannya via online. Jadi, semua orang pasti akan menunggunya.
Aksa mengambil baju di dalam lemari dan mengenakannya. Ketika Empin terlelap, Riana segera meletakkannya di atas tempat tidur besar dan segera menghampiri sang suami.
"Abang bisa sendiri, Sayang." Namun, Riana tidak menggubrisnya. Dia memasangkan dasi di leher kemeja sang suami. Itu sudah menjadi kewajibannya. Dia tidak ingin kehadiran putranya membuat dia mengabaikan suaminya. Senyum melengkung di wajah Aksara. Dia sangat melihat wajah Riana yang kelelahan. Mata panda sudah samar terlihat. Setelah selesai memakaikan dasi, dahi Riana mengkerut ketika melihat bawahan yang Aksa gunakan.
"Kenapa hanya celana pendek?" Riana menatap Aksa dengan kedua alis yang menukik tajam.
Aksa merengkuh tubuh istrinya. Dia pun mengecup singkat bibir Riana. "Rapat online hanya terlihat bagian atas saja. Jadi, tidak masalah hanya memakai bokser doang pun." Riana menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang suami. Ada saja akalnya.
"Titip Empin dulu, ya. Ri, mau mandi." Aksa mengangguk dan dengan senang hati dia menemani sang putra yang tengah terlelap.
"Si tampannya Daddy." Aksa memandangi wajah sang putra yang tidak mirip dengannya. Tidak jiah mirip Riana.
Ketukan pintu terdengar membuat Aksa menjauhi tubuh putranya. Dia membukakan pintu dan ternyata sang ibu yang ada di sana. "Sarapan, Bang. Sekalian ajak Riana."
Aksa mengangguk. "Setelah Riana selesai mandi, Abang ke meja makan."
Mengikuti perintah sang ibu, Riana dan Aksa ke meja makan. Di sana sudah ada Ayanda juga Aska. Dahi Aska mengkerut melihat Riana menggendong keponakannya.
"Kenapa gak ditinggalin aja dulu," ucap Aska. "Gimana makannya coba?" hardiknya.
"Gak boleh, Kak. Pamali," sahut Riana sambil duduk di kursi yang sudah digeser sang suami.
"Stroller hari ini akan datang. Jadi, nanti kamu bisa taruh Empin di sana kalau kamu mau makan." Riana pun mengangguk. Dia tahu pasti mertuanya sudah menyiapkan semuanya.
Ayanda menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan dia segera meraih sang cucu di tangan Riana. Dia kan menjemur Empin di halaman depan. Wajahnya sangat terlihat bahagia. Apalagi sambil berjalan, Ayanda terus mengajak bicara bayi yang masih merah itu.
"Mommy senang banget, ya." Aska berucap disela makannya.
"Pastilah, udah enam tahun gak ada bayi sekarang ada lagi," sahut Aksa.
"Nanti, Empin gede anak Kakak lahir," tambah Riana.
"Anak apaan? Cebong?" sanggahnya. Aksa dan Riana pun tertawa.
"Oh iya, gua lupa mau ngomong ini," kata Aksa. Aska menatap ke arah sang Abang yang masih mengunyah makanan.
"Pas Riana lahiran, gua liat Jingga di rumah sakit."
Deg.
Dada Aska seperti berhenti berdetak mendengar ucapan Aksa. Dia tengah menyusun puzzle yang berserakan di kepalanya.
"Apa Bian dan Jingga tinggal di sini?" Begitulah batinnya berbicara.
"Berarti penglihatan Ri gak salah 'kan ketika di lampu merah itu. Jingga ada di Kota yang sama dengan kita."
Aska menghela napas kasar. Dia meletakkan sendok dan garpu dengan cukup keras.
"Udah ya, jangan ngomongin dia terus. Gimana gua bisa lupain dia?" Perkataan yang membuat Aksa dan Riana menutup mulut mereka. Wajah Aska pun terlihat sendu dan pilu.
"Maaf," sesal Riana.
Aska pun tersenyum dan berkata, "gua aja yang terlalu cinta dan belum bisa lupain dia. Makanya, suka terbawa emosi."
Aska bangun dari duduknya dan dia mendekat ke arah Riana seraya mengusap rambutnya. "Gua gak apa-apa. Jangan merasa bersalah." Seulas senyum Aska berikan kepada Riana, padahal hatinya tengah meringis menahan tangis.
Aska memilih untuk pergi ke kantor dan sebelumnya dia menghampiri ibunya yang tengah menjemur keponakan tampannya.
"Ceileh, si Empin banyak gaya," ejek Aska dengan wajah yang sangat bahagia. Melihat keponakannya ini rasa sedih di hatinya seakan melebur begitu saja.
"Iya dong, Uncle. Empin makin ganteng kalau pakai kacamata ini." Malah Ayanda yang menyahuti ucapan sang putra.
"Kecil-kecil udah hebat banget, ya. Milih tempat lahir," imbuh Aska seraya mencubit gemas pipi merah Empin. Kemudian, si keponakan pun menggeliat seperti tidak mau disentuh oleh pamannya.
"Sombong!" Tak Aska duga, bayi merah itu menangis keras dan membuat Ayanda tertawa lepas.
"Cucu Mimo musuh banget kayaknya sama Uncle," ujar Ayanda.
__ADS_1
"Gak seru nih! Gak bisa Uncle ajak hang out kayak si triplets," keluh Aska.
Pukulan di punggungnya membuat Aska mengaduh. Siapa lagi jika bukan ulah sang Abang. "Anak gua masih kecil, jangan diajarin gak bener," omel ayah muda itu.
Decakan kesal pun keluar dari mulut Aska. Dia baru menyadari penampilan abangnya dan Aska pun tertawa terpingkal-pingkal.
"Kenapa musti Doraemon?" ledek Aska. Dahi Aksa mengkerut, dia tidak menyadari apa yang dia gunakan. Aska yang peka kini menatap ke arah bawah tubuh Aska. Mata Aksa pun melebar, bukan hanya Aska yang tertawa ibundanya pun ikut tertawa.
"Abang ... Abang ...."
Bayi yang masih merah itupun ikut tersenyum ketika mereka semua tergelak.
"Dih, ngetawain Daddy," ucap Aksa ketika melihat anaknya tersenyum lebar.
"Lucu ya, bapak kamu." Empin pun tersenyum lagi mendengar ucapan Aska.
"Ya Allah, lucu banget sih kamu." Ayanda mencium pipi cucu keempatnya dengan sangat gemas. Ketampanan cucunya berbeda dengan suami juga kedua putranya.
.
Patricia yang selalu menemani Aska ketika di Singapura terus mengikuti ke mana kaki Aska melangkah karena dia sudah ditugaskan untuk menemani Aska ke manapun dia pergi.
"Ya ampun, Pak. Ngapain sih Pak, ke mall cuma muter-muter doang. Beli mah enggak," sungut Patricia. Wanita berwajah oriental dengan rambut yang tergerai cantik.
"Ngilangin kegabutan." Patricia mendengkus kesal ketika mendengar ucapan dari atasannya ini. Jika, ini bukan perintah dari sang maha pengusaha besar dia tidak mau mengenal Askara. Pria absurb yang memiliki dunia sendiri.
"Pak, kaki saya pegal ini," keluh Patricia. Bagaimana tidak, sudah dua jam lebih mereka berdua hanya berputar-putar mall tanpa membeli apapun. Ingin rasanya Patricia kabur.
"Mau saya gendong?" Aska menawarkan diri, tetapi disambut oleh tatapan kesal oleh Patricia.
"Emang Bapak normal?" Aska pun mengehentikan langkahnya. Dia berbalik menatap Patricia dengan tatapan datar. Dia mencubit pipi Patricia sangat gemas hingga dia mengaduh.
"Sakit ih!" Senyum Aska pun mengembang. Kemudian, dia mengusap lembut rambut Patricia.
Dari kejauhan ada seorang wanita yang menatap ke arah mereka dengan tatapan nanar. Baru saja dia tersenyum ketika melihat Askara di sana, tetapi hatinya harus sakit saat itu juga. Patah dan menimbulkan sakit tak berdarah.
"Kamu nampak bahagia sekali, Bang." Ucapan wanita itu sangat lirih. Dia baru merasakan rasa sakit yang sesungguhnya.
"Apa kamu sudah melupakan aku?"
Air mata sudah membasahi wajahnya. Apalagi, dia melihat Aska yang merangkul mesra pundak Patricia dan menjauhi tempat itu.
"Kenapa sesakit ini?" Jingga memegang dadanya. Dia masih memperhatikan Aska juga Patricia yang semakin menjauhi dirinya.
.
"Kalau masih cinta kenapa menghindar?" Patricia hanya bisa menebak, tetapi itulah yang dapat dia lihat.
"Dia istri orang."
Patricia menutup mulutnya tak percaya mendengar ucapan dari Aska.
Aska sudah menyandarkan tubuhnya di kursi dengan mata yang tertutup. Patricia hanya bisa memandang pilu ke arah atasannya ini. Dia baru tahu, dari senyum Aska yang mengembang setiap hari, ternyata ada luka yang tidak dia ketahui.
"Kenapa gak dibicarakan baik-baik?" tanya Patricia. "Supaya tidak terjadi salah paham," lanjutnya lagi.
"Ada suaminya di belakangnya."
"Gak berani?" tanya Patricia. Aska mengembuskan napas kasar. Kemudian, dia menatap Patricia.
"Suaminya sahabat saya."
Lagi-lagi Patricia menutup mulutnya. Kisah cinta atasannya ternyata sangat tragis. Aska masih menghargai suami wanita itu, bukan karena dia tidak berani. Berada di posisi Aska ini sangatlah sulit.
Ketika Aska menoleh dia melihat tak jauh dari tempat Jingga berada ada Bian di sana. Hatinya sangat sakit, padahal dia sedang belajar mengikhlaskan wanita yang tengah menatapnya. Maka dari itu, dia memilih untuk bersikap manis kepada Patricia. Padahal, aslinya dia sangatlah dingin. Patricia adalah partner yang sangat mengerti Aska karena Genta sudah menjelaskan sifat asli Aska kepada Patricia.
"Makasih, atas bantuannya." Patricia mengangguk pelan. Jika, sudah begini tugas dia berarti sudah selesai.
Patricia pun pergi dari tempat itu membiarkan Aska sendirian menikmati kesedihannya. Dia harus tahu diri karena begitulah pesan kakek dari Askara.
Ketika Patricia keluar dari restoran dia melihat ada Jingga di sana. Dia melihat Jingga pun berwajah muram. Patricia ingin menghampiri Jingga, tetapi dia juga sedikit ragu.
"Suaminya mana?" batin Patricia. Dia masih memperhatikan Jingga dari kejauhan. Menunggu suami dari wanita itu.
Setengah jam berlalu, tak ada yang mendekat ke arah wanita yang atasannya cintai. Dia tetap saja sendiri dan Patricia pun memberanikan diri untuk mendekat.
"Permisi," ucap Patricia.
Jingga segera mengusap air mata yang tengah mengalir deras. Dia menoleh dan matanya melebar melihat siapa yang ada di sampingnya.
"Boleh saya duduk?"
Jingga menghela napas kasar, dia pun akhirnya mengangguk pelan. Patricia tersenyum, dan mengulurkan tangannya ke hadapan Jingga.
__ADS_1
"Patricia." Jingga tercengang mendengar ucapan dari wanita di depannya, sangat ramah. Namun, Jingga tidak segera menjabat tangan Patricia. Dia masih ragu.
Akhirnya, Patricia menarik tangannya kembali. Dia tidak merasa malu karena tujuannya adalah untuk berkenalan dengan Jingga.
"Maaf, kalau saya ganggu," ucap Patricia dengan sopan.
"Kamu ... pacarnya-"
"Saya hanya asistennya." Patricia masih menyunggingkan senyum. "Pak Aska ada di dalam, ada di ruang private. Bilang saja Patricia, pasti kamu boleh masuk."
Patricia pun berdiri dan meninggalkan Jingga. Dia hanya ingin menyatukan dua hati yang masih mencintai, tetapi ego masih menguasai.
Jingga menimbang-nimbang ucapan Patricia. Apa dia harus mengikuti ucapan Patricia. Sedang apa Aska di dalam? Banyak tanya dalam benaknya.
Lima belas menit berlalu, Jingga akhirnya mengikuti ucapan Patricia. Dia menuju ruang private dan mengatasnamakan Patricia.
"Mau apa lagi kamu ke-"
Ucapan Aska terhenti ketika melihat siapa yang sudah berada di depannya. Tubuhnya menegang, matanya menatap nanar ke arah wanita yang sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Mulut Aska Kelu dan ada rindu yang dipancarkan dari sorot matanya.
"Aku merindukan, Abang."
Kalimat yang keluar begitu saja dari mulut Jingga. Hati Aska bukannya menghangat, malah merasakan sakit tiada Tara. Dia merasa ini sudah salah dan dia tidak ingin terluka semakin parah.
"Aku lebih merindukan kamu," balas Aska dengan suara berat. "Namun, hanya sebatas merindukan ... tanpa bisa memiliki."
Jleb.
Sadis sekali ucapan Aska ini. Jingga merasa Aska sudah benar-benar berubah.
"Apa Abang sudah tidak mencintaiku?"
Pertanyaan Jingga membuat Aska tersenyum, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Jingga yang masih berdiri di jarak sepuluh meter darinya. Kini, mata mereka saling beradu. Tangan Aska pun sudah menggenggam erat tangan Jingga.
"Apa kamu masih ragu akan cintaku?" Air mata Jingga sudah menetes mendengar ucapan dari Aska.
"Aku sangat mencintai kamu ... sangat sayang sama kamu, Jingga."
Jingga segera memeluk tubuh Aska dengan sangat erat. Dia menumpahkan air matanya dalam dekapan hangat Askara. Sama halnya dengan Aska yang kini membalas pelukan Jingga.
"Aku juga mencintai kamu, Bang."
Jawaban itu membuat hati Aska sangat sakit. Kenapa baru sekarang Jingga mengatakannya? Kenapa dulu dia terus mengukur waktu?
Cukup lama mereka berpelukan, akhirnya Aksa mengurai pelukan tersebut. Dia mengusap lembut pipi Jingga yang bermandikan air mata.
"Kita sama-sama saling mencintai, tetapi Tuhan tidak menghendaki."
Ucapan Aska mampu membuat Jingga terdiam. Dia hanya bisa menatap wajah Aska yang sangat terluka dengan jelas.
"Aku tidak ingin berada dalam hubungan yang salah, jadi lebih baik aku mengalah."
Tetesan air mata semakin mengalir deras di wajah Jingga. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Dia sendiri tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Bian. Jadi, dia belum bisa berbicara apapun kepada Aska.
Aska menggenggam tangan Jingga kembali. Dia mengusap lembut punggung tangan itu dan menariknya ke atas. Dikecupnya punggung tangan itu dan Jingga semakin menangis keras.
"Kali ini kita dipertemukan untuk saling mengungkapkan, walaupun belum bisa dipersatukan, tapi aku berharap ... ketika kita dipertemukan kembali di sanalah Tuhan menghendaki dan menyatukan kita dalam ikatan suci."
Aska mengecup kening Jingga dengan sangat dalam dan penuh cinta. Hingga mereka berdua memejamkan mata.
🎶
Genggam tanganku, Sayang
Dekat denganku peluk diriku
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku tuk yang terakhir
Ku kan menghilanh jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku ... Ku ada untukmu
...****************...
Ini part terakhir Aska-Jingga di sini.
__ADS_1