
Ketika senja belum menampakkan dirinya, kesibukan sudah terjadi di sebuah rumah mewah. Sang calon pengantin pria sudah memakai jas dan terlihat sangat menawan. Namun, dadanya terus berdebar tak karuhan. Tangannya sangat dingin dan wajahnya sangat pucat.
Mulutnya terus berkomat-kamit menghafal ijab kabul yang beberapa jam lagi akan dilaksanakan. Suara pintu terdengar, sang adik malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah kakaknya yang sudah pucat pasi.
"Seorang Aksara yang selalu percaya diri dengan segalanya kini seperti anak kecil yang akan menjalani tes hafalan oleh gurunya," kelakar Aska.
"Si alan!" serunya.
"Dek, jangan godain Abang terus dong. Nanti kamu juga akan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Abang sekarang," ujar Ayanda.
Usia yang sudah senja tidak menyurutkan kecantikan seorang Ayanda Rashani. Riasan di wajahnya semakin membuat wajahnya nampak muda. Cantik dan anggun sekali. Dia menghampiri sang putra pertama dan duduk di sebelahnya.
"Jangan gugup ya, Bang. Harus bisa dalam satu tarikan napas. Jangan diulang juga." Aksa mengangguk.
Tangan Aksa melingkar di pinggang sang ibu. Ayanda merasakan detak jantung Aksa yang sangat luar biasa kencang.
"Menghadapi sidang skripsi, kolega penting, rekan bisnis berpotensi dan sangat alot tidak membuat Abang segugup ini. Akan tetapi, kali ini ...."
Usapan lembut di bahu Aksa Ayanda berikan. Dia tersenyum ke arah putranya.
"Ketika mengucapkan ijab kabul dengan Ziva pun tidak ada ketakutan apalagi kegugupan, tapi sekarang ...."
Helaan napas kasar terdengar. Ayanda mengusap lembut kepala Aksa.
"Sekarang ini kamu akan meminang wanita yang memang benar-benar kamu cintai. Wajar, jika perasaan itu kini memenuhi hati kamu karena kamu gak mau gagal."
"Mommy yakin kamu pasti bisa." Aksa semakin mengeratkan pelukannya kepada sang ibu. Di bawah sudah sangat ramai karena kehadiran keluarga Arya dan juga Kano. Decakan kagum keluar dari mulut Arya terus menerus.
"Ndra, ini gak salah?" tunjuknya pada barang seserahan yang tidak ada barang murah yang dia lihat.
"Itu si Abang yang siapin semua. Gua gak tahu menahu," jawabnya.
"Bee, kamu kalau punya suami minta seserahannya kayak gini, ya." Mode matre Arya muncul, sedangkan Beby sudah mendengus kesal. Baru saja Beeya masuk SMA sudah memikirkan pernikahan.
Beeya dan Keysha pun dirias secantik mungkin. Mereka membawa salah satu seserahan yang tersedia. Keysha merasa sangat bahagia dan juga iri, ternyata sahabatnya yang menikah lebih dulu dari dirinya.
Rombongan calon pengantin pria sudah berjalan ke rumah Rion Juanda. Mobil mewah hanya jadi pajangan jalanan. Rumah mereka yang hanya berpaut beberapa puluh meter saja membuat rombongan memilih untuk berjalan kaki. Sambutan hangat diberikan oleh keluarga Rion. Echa tersenyum bahagia ketika melihat sang adik terlihat sangat tampan dalam balutan kemeja yang senada dengan Riana.
"Riana pasti terpesona melihat kamu," ucap Echa. Aksa hanya tersenyum simpul, menutupi rasa tegang yang ada.
__ADS_1
"Ingat, hanya sekali tarikan napas. Tidak bisa diulang," bisik Rion.
Aksa menghembuskan napas berat mendengar bisikan dari ayah mertuanya ini. Sungguh akan menjadi tekanan untuk Aksa.
"Kamu berani mengancam cucuku. Apa kamu tahu, berapa jumlah semua seserahan ini? Lebih dari 10M, apa kamu akan menyia-nyiakannya?" Genta membalas dengan sebuah ancaman kecil. Dia tahu titik kelemahan Rion adalah uang.
"Tentu tidak, Om Genta," jawabnya.
Semua orang pun tertawa, tidak untuk Aksa. Hatinya belum lega. Tibanya di ruangan yang sudah didekorasi dengan sangat apik Aksa dipersilahkan duduk di kursi yang sudah disiapkan di hadapan penghulu. Di sana juga sudah ada Rion yang akan menikahkan putrinya.
"Sudah siap?" tanya penghulu. Aksa pun mengangguk.
Rion menjabat tangan Aksa. Dia merasakan tangan Aksa yang sudah sangat dingin.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ghassan Aksara Wiguna bin Giondra Aresta Wiguna dengan putri saya Riana Amara Juanda binti Rion Juanda dengan mas kawin uang sebesar dua milyar dua ratu lima puluh juta dua ratu lima puluh ribu dua ratus lima puluh rupiah dan berlian sebesar lima koma lima karat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Riana Amara Juanda binti Rion Juanda dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?" tanya penghulu.
"Sah."
Ada bulir bening yang menetes di pelupuk mata Ayanda. Bukan hanya putranya yang mengalami kegugupan. Dia pun merasakan hal yang sama.
Setelah acara doa selesai, sang pengantin wanita dijemput oleh sang kakak. Di dalam kamar Riana pun tersenyum bahagia ketika mendengar kata sah. Riana diapit oleh kakaknya dan juga tantenya. Senyumnya terus merekah menambah kecantikannya.
Semua mata tertuju pada sosok wanita yang tengah tersenyum dengan memakai kebaya modern berwarna putih. Begitu juga Aksa yang tidak berkedip dengan paras Riana yang berbeda dari biasanya.
Riana duduk di samping Aksa. Senyum keduanya sangat mengembang. Rion menyerahkan satu buah kotak perhiasan kepada Aksa. Dua buah cincin yang akan mereka pakai selamanya. Aksa memakaikan cincin di jari manis Riana. Begitu juga Riana.
"Riana Amara Juanda, sekarang kamu sudah sah menjadi istri dari Ghassan Aksara Wiguna. Silahkan cium tangan suamimu," titah penghulu.
Riana mencium tangan Aksa dengan sangat dalam. Di mana momen bahagia itu pun tengah diabadikan oleh seorang tukang potret.
"Dan kamu Ghassan Aksara Wiguna, di hadapanmu adalah istrimu. Berikan kecupan terhangat dan terdalam yang penuh cinta untuk istrimu."
Riana memejamkan matanya ketika bibir Aksa menyentuh keningnya. Ada sesuatu yang berbeda yang Riana rasakan. Setelah penandatanganan buku nikah selesai, mereka berfoto sambil memegang buku nikah. Sebagai bukti bahwa mereka pasangan yang diakui oleh agama dan negara.
Acara sungkeman adalah acara penutup. Riana sudah bersimpuh di hadapan sang ayah. Sedari tadi air matanya sudah menganak.
__ADS_1
"Ayah, terima kasih atas segalanya. Terima kasih atas semua pengorbanan yang Ayah berikan selama ini. Terimakasih." Riana tak kuasa melanjutkan ucapannya.
Rion menangkup wajah putrinya. Matanya sudah berarir. Mulutnya seakan Kelu.
"Tugas Ayu sudah selesai, Ri. Sekarang Ayah sudah melepas kamu kepada seorang pria yang akan menjadi imammu dan membawamu ke mana pun kakinya melangkah. Jadilah istri yang baik. Ayah akan tetap selalu menyayangi kamu dan berdoa yang terbaik untuk kamu." Kecupan hangat Rion berikan untuk Riana. Air mata ayah dan anak itu pun menetes.
Riana beralih kepada Echa, pengganti ibunya.
"Bahagia selalu ya, Ri." Hanya kata itu yang mampu Echa ucapkan. Riana pun hanya dapat menangis di dalam pelukan Echa dengan terus mengucapkan terima kasih.
Aksa sudah diberi nasihat oleh Rion dan juga Echa, sedangkan Ayanda dan Gio memeluk tubuh menantunya itu dengan sangat erat.
"Anggap Mommy seperti ibu kandung kamu sendiri ya, Sayang. Jangan sungkan terhadap Mommy."
Hati Riana benar-benar lega mendengarnya. Sedari dulu ibu dari suaminya itu selalu lembut dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Sungguh sangat beruntung Riana memiliki ibu mertua seperti Ayanda.
Kini, pengantin itu menghampiri sang kakek. Mereka memeluk tubuh renta sang kakek dengan rona bahagia.
"Bahagia selalu cucu-cucuku." Kalimat yang sederhana, tapi sarat akan doa.
Akad nikah ini hanya dihadiri oleh sanak saudara dan kerabat dekat. Keluarga Gio sudah kembali ke rumah mereka karena siang nanti harus ke hotel di mana diadakannya resepsi. Tinggallah sepasang suami istri ini di kamar.
Tatapan Aksa membuat Riana salah tingkah. Dia memilih beranjak, tetapi tangannya dicekal hingga dia duduk di pangkuan Aksa. Mata mereka bertemu dan tangan Aksa sudah mengunci tubuh Riana. Hanya suara denting jam dinding yang terdengar. Namun, bibir mereka sudah bersatu padu merasakan sensasi yang memabukkan setelah sah menjadi sepasang suami istri.
Aksa terus membawa Riana hanyut dalam rasa yang tak pernah bisa tergambarkan itu. Tangan Aksa perlahan membuka resleting belakang kebaya Riana. Riana hanya diam saja, seolah dia sudah memasrahkan diri kepada sang suami. Bibir dan tangan Aksa terus bekerja, dia mulai membuka kebaya yang dikenakan Riana. Terlihat kulit putih nan mulus yang sungguh membuat aliran darah semakin memanas.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar. Mereka berdua seakan menjadi orang yang tuli. Namun, bukan hanya ketukan pintu. Teriakan dari luar pun terdengar sangat nyaring. Aksa menghentikan petualangannya yang hampir meninggalakan jejak di kulit putih istrinya. Dia beranjak dari tempat tidur dan menutup kembali resleting kebaya istrinya.
Ketika pintu dibuka, dua wanita yang sangat dia sayangi sudah berkacak pinggang.
"Jangan macam-macam dulu. Sebentar lagi acara resepsi kalian," tegas Echa.
"Ingat Aksara, gaun yang dikenakan Riana di resepsi terbuka. Jangan sampai ada tanda drakula di tubuh menantu Mommy. Atau ... burung kamu akan Mommy potong sampai tak tersisa."
...****************...
Aleena : Emak-emak dan Kakak-kakak Online, yang mau ikut kondangan udah disiapin mobil pick up, ya. Kumpulnya di perempatan lampu merah jam tiga sore jangan pakai daster jangan malu-maluin emak othor. Dandan yang menor biar kaya Syahrini. Bulu mata jangan lupa dipake, biar badai. Pake hak tinggi biar keliatan gak bogel. Emas pakein semua biar kayak sultan. 😁
__ADS_1
Aleeya : Amplop jangan lupa. Kalau yang isinya uang warna coklat, cuma dapat air mineral dalam kemasan gelas. Kalau warna ungu dapat air mineral gelas sama lontong satu. Kalau yang warna ijo dapat satu kotak Snack plus air minum. Kalau yang warna biru boleh masuk tapi, cuma boleh minum aja gak boleh makan. Kalau yang warna merah boleh sepuasnya. Tapi jangan sentuh Uncle.
Aleesa : Ditunggu kedatangannya ya ... Jangan lupa kasih emak othor kopi biar bisa up lagi.