Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Duda-Janda


__ADS_3

"Om ingin kamu dan Arina menikah."


"Apa?" balas Rion serta ketiga anaknya juga ketiga cucunya. Pun dengan Arya dan juga Arina yang terkejut.


"Ini apa-apaan, Pih?" sergah Arina.


"Gak lucu Pi bercandanya," lanjut Arya.


Aksa dan Radit hanya saling pandang. Mereka tidak memiliki wewenang apapun perihal mertua mereka. Begitu juga Echa dan Riana yang juga saling pandang setelah keterkejutannya. Iyan hanya menunjukkan wajah datar.


"Papih gak pernah bercanda dengan ucapan Papih," tukasnya.


"Begini loh Rion, kamu 'kan sudah lama sendiri sama halnya dengan Arina juga. Tante tahu masa lalu kamu seperti apa, tapi Tante yakin kamu akan menjadi imam yang baik untuk Arina," terang Nyonya Bhaskara dengan nada yang sangat lembut. Mulut Arina terbuka sangat lebar mendengar ucapan dari sang Mamih tercinta.


"Masih zaman jodoh-jodohan di usia bangkotan?" tanya Arya.


Tuan Anthony beserta istri menatap putra bungsunya dengan sorot mata yang sangat membunuh.


"Papih sama Mamih apa-apaan sih? Kenapa masih main jodoh-jodohan kayak bocah begini? Hidup sendiri itu pilihan Arina," tukasnya.


"Arina ... Mamih dan Papih hanya ini. kamu bahagia bersama pria yang mencintai kamu, menyayangi kamu dan menjadi imam yang baik untuk kamu," tutur Nyonya Bhaskara dengan suara berat.


"Apa Mamih yakin Rion mencintai Arina? Apa Mamih yakin Rion akan menjadi imam yang baik untuk Arina? Bahagia itu bukan hanya dengan menikah. Banyak hal yang bisa buat Arina bahagia, meskipun sendiri," jelas Arina dengan sangat lantang.


Beeya segera memeluk tubuh Arina dengan sangat erat. Dia sangat tahu bagaimana Arina.


"Bu'de gak sendiri. Ada Bee yang selalu ada buat Bu'de," lirih anak tunggal Arya. Arina pun memeluk erat tubuh Beeya. Beeyalah yang menjadi kebahagiaan untuknya.


Mereka semua tahu, Arina sudah kehilangan Panji putranya, dia juga didiagnosa susah memiliki keturunan lagi sehingga sang mantan suami memilih untuk menduakan Arina. Akan tetapi, Arina menolak untuk dipoligami dan dia memilih untuk bercerai.


Poligami jaminannya itu surga, tetapi Arina tidak ingin ke surga melalui jalan tersebut. Masih ada jalan lain yang mampu membawanya ke surga.

__ADS_1


"Mih, sendiri itu bukan berarti gak bahagia. Itu pilihan Mbak Arin, kita gak boleh ikut campur," balas Arya.


"Lagi pula aku sendiri tahu siapa Rion. Bagaimana anak-anak Rion. Tanpa ada ikatan keluarga dengan kita, bagi aku Rion adalah keluarga aku. Dia sahabat terbaik aku, Mih. Sama halnya Mbak Arin yang menganggap Rion seperti adiknya sendiri. Lebih baik seperti ini aja, Mih," lanjut Arya.


"Tante ... makasih banyak sudah memiliki ekspektasi tinggi terhadap aku, tetapi aku belum masuk ke dalam ciri-ciri yang Tante sebutkan tadi," ucap Rion seraya tersenyum.


"Jujur ya, Tan, sekarang aku sudah tak memikirkan pernikahan. Aku sudah bahagia dengan kesendirian yang dipenuhi banyak kebahagiaan yang tak terkira. Memiliki anak, menantu serta cucu yang luar biasa. Aku sudah tua, Tan. Aku hanya ingin menikmati masa tuaku bersama orang yang aku sayang, yaitu keluargaku. Tanpa seorang istri pun aku masih bisa bahagia. Apalagi, aku diberikan anak yang sangat luar biasa," terangnya.


Echa, Riana serta Iyan menatap ke arah Rion dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mereka berhambur memeluk tubuh sang ayah. Radit dan Aksa sudah tahu jawaban yang akan ayah mertuanya berikan.


"Apa kalian tidak ingin memiliki ibu sambung lagi?" tanya Anthony kepada ketiga anak Rion.


"Sudah cukup Opa, sambung-menyambungnya. Kami hanya ingin hidup bahagia, meskipun keluarga kami pincang sebelah," sahut Echa.


"Ayah sudah menjadi ibu serta Ayah untuk kami. Itu sudah lebih dari cukup," lanjut Iyan.


"Ri tidak ingin melihat Ayah sedih lagi. Insha Allah, Ri, Kak Echa serta Iyan bisa membuat Ayah bahagia," tambah Riana.


"Anteu memang baik, tetapi Kakak Na gak ingin punya nenek lagi. Cukup Mimo nenek Kakak Na," ucap Aleena.


"Dedek gak ingin lihat Engkong sedih lagi. Cukup Anteu jadi teman Dedek aja," lanjut Aleeya.


Arina dan juga Rion tersenyum mendengar ucapan dari Aleena dan Aleeya.


"Mamih dan Papih dengar 'kan? Mereka sudah bahagia, jangan rebut kebahagiaan mereka, Pih," pinta Arya.


"Mamih dan Papih sudah tahu bagaimana perjalanan duda dua kali itu. Sudah waktunya dia berbahagia sekarang ini," tambahnya.


"Iya, Pih. Beby lihat Mbak Arin lebih bahagia dengan statusnya sekarang ini. Jangan memaksanya sesuatu apalagi perasaan. Itu akan berujung tak bahagia, Pih." Beby mulai angkat bicara. Bagaimanapun dia sangat menyayangi Arina layaknya kakaknya sendiri. Sama halnya dengan Arina yang juga sangat menyayangi Beby.


Acara perjodohan duda dan janda pun akhirnya gagal. Mereka berdua masih teguh pada pendirian mereka berdua. Sendiri bukan berarti tak bahagia, justru kesendirian lah yang membuat mereka menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

__ADS_1


Keluarga Rion pulang dengan hati yang lega. Begitu juga dengan ibu hamil yang satu ini.


"Jangan terlalu dipikirkan, ya. Abang gak mau terjadi apa-apa sama kandungan kamu," ucap Aksa dengan nada yang sangat khawatir.


Riana menoleh ke arah Aksa seraya tersenyum. Dia meraih tangan Aksa dan dia letakkan di atas perutnya. Hati Aksa menghangat dan dia mengecup kening Riana.


Di tengah perjalanan, Riana merengek untuk makan di tempat tongkrongan Aska. Nasi kucing yang menurut Riana enak dan harganya sangat terjangkau. Padahal sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan dia juga tidak bisa menolak karena itu adalah keinginan sang jabang bayi. Aksa ingin merasa direpotkan oleh istrinya.


Tibanya di sana, mata Riana sangat berbinar dan dia segera menarik tangan Aksa untuk segera menuju gerobak angkringan tersebut. Aksa membiarkan istrinya mengambil apapun yang dia suka. Di samping angkringan itu ada roti bakar dan Riana pun memesannya. Toping Ovaltine, keju, susu yang dia pesan.


Tangan Aksa dan Riana terus bertaut. Pandangan Aksa tertuju pada sosok yang sangat dia kenali. Orang


itu tengah berada di tempat yang gelap seorang diri. Aksa segera membuka ponselnya. Dia mengecek orang yang dia kenal tersebut.


"Masa udah pulang?" gumamnya.


"Siapa yang udah pulang, Bang?" tanya Riana.


Aksa segera memasukkan ponselnya, lalu dia tersenyum ke arah sang istri yang tengah menatapnya.


"Laporan dari Melbourne, Sayang," dustanya.


Mata Riana memicing tajam. "Ingat ya, Bang. Sepandai-pandainya Abang menyembunyikan bangkai, pasti bau busuknya akan tercium juga," ancam Riana.


Aksa tergelak dan menarik tangan sang istri. "Tidak ada yang Abang sembunyikan, Sayang." Kecupan mendarat di dahi Riana.


Mata Aksa masih tertuju pada sosok itu. "Ada apa dengan kamu, Dek?"


...****************...


Masih pengen bab lanjutannya gak

__ADS_1


__ADS_2