Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Keinginan


__ADS_3

"Mau Mommy jodohkan sama kamu."


Mendengar ucapan sang ibu membuat Aska berdesis kesal, sedangkan Echa sudah tertawa melihat ekspresi adiknya.


"Sebegitu tidak lakunyakah diriku?" Ucapan yang penuh drama yang keluar dari mulut Aska.


Ucapan dari Ayanda hanyalah candaan belaka. Dia tidak akan menjodohkan anaknya. Biarlah putra bungsunya mencari wanita yang dia impikan, sebagai orang tua dia hanya bisa mendukung dan merestui.


"Abang udah pulang belum?" Ayanda mengalihkan pembicaraannya.


"Belum, itu di atas Riana lagi mual-mual terus," terang Echa.


Ayanda segera bangkit dan menemui Riana, menantu cantiknya yang berada di lantai atas.


"Apa wanita hamil semerepotkan itu?" tanya Aska.


"Tergantung bawaan bayinya," jawab Echa santai.


Di lantai atas, Ayanda tidak menemukan Riana di kamarnya. Terlihat pintu kamar mandi sedikit terbuka dan matanya melebar ketika sang menantu sudah duduk di kloset dengan wajah pucat.


"Ri," panggil Ayanda.


Riana yang tengah memejamkan matanya mencoba untuk membuka mata. Dilihatnya wajah panik sang ibu mertua. Ayanda segera menghampiri Riana dan memeluk tubuh lemah sang menantu. Ada kehangatan yang Riana rasakan ketika mendapat pelukan Ayanda.


"Mommy akan hubungi dokter Gwen dan meminta obat pereda mual yang paling bagus." Riana menjawab dengan gelengan.


"Mungkin baby-nya rindu Daddy-nya. Biasanya jam segini Abang udah pulang," tutur Riana dengan nada yang lemah.


"Kamu udah telepon Abang?" tanya Ayanda.


"Sudah, tapi gak dijawab. Mungkin lagi sibuk." Ayanda tersenyum dan tangannya membelai lembut rambut sang menantu yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


"Mau makan apa? Biar Mommy masakin." Tak Ayanda pedulikan tubuhnya yang lelah. Dia akan tetap menuruti semua kemauan Riana.


"Tidak, Mom," tolak Riana.


Jika malam hari, Riana hanya ingin dekat dengan sang suami. Memeluk erat tubuhnya. Ayanda membantu Riana untuk kembali ke tempat tidur.


"Mommy beli pecel lele dan pecel ayam kesukaan si triplets. Apa kamu mau?" tawar sang mamah mertua. Lagi-lagi Riana menggeleng.


Kehamilannya sekarang ini cukup merepotkan dirinya di malam hari. Terkadang, Riana juga merasa sudah sangat merepotkan sang suami. Waktu yang seharusnya dipakai istirahat, malah dipakai untuk mengurusnya.


Dua jam kemudian, Aksa barulah tiba di rumah. Raut lelah terlihat jelas. Bukan istrinya yang menyambutnya, tetapi sang ibulah yang sudah tersenyum hangat ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu gak hubungi istri kamu kalau pulang malam?" Pertanyaan sang Mommy membuat Aksa terlonjak. Dia segera naik ke lantai atas di mana sang istri berada.


Gagang pintu sudah dia tekan. Suara dari kamar mandi terdengar. Aksa bergegas masuk ke kamar mandi dan istrinya sudah sangat pucat dengan tubuh yang seakan mengambang.


"Sayang." Riana menoleh dan seketika tubuhnya ambruk.


"Riana!"


Teriakan Aksa mampu didengar oleh Aska yang baru saja menutup pintu kamar. Dia segera berlari ke kamar sang Abang. Tangannya menggedor-gedor pintu kamar Aksa.


"Bang, ada apa?" tanya Aska dari luar pintu kamar.


Tidak ada jawaban dari dalam, Aska memberanikan diri untuk membuka pintu kamar sang Abang. Kamar yang luasnya tiga kali lipat dari kamar miliknya. Mata Aska melebar ketika melihat Aksa sudah membopong tubuh Riana.


"Riana kenapa?" Panik, wajah Aska sekarang.


"Bawa mobil, antar gua ke rumah sakit." Aska bergegas turun ke lantai bawah dan menyambar kunci mobil sang Abang.


Mereka tidak berpamitan kepada sang ibu yang sedang berada di dalam kamar. Aska membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Dia tidak tega melihat wajah kembarannya yang sangat panik dan hampir menitikan air mata. Dalam hati Aska, dia ingin bertanya. Namun, bibirnya terasa kelu. Dia seperti merasakan kekhawatiran yang Aksa rasakan.


Tibanya di rumah sakit, Aksa serta membawa Riana ke ruang IGD. Hatinya berdegup sangat cepat karena dia merasakan ketakutan yang luar bias. Pikiran jelek sudah menari-nari di kepala calon ayah muda itu. Sedari tadi, Aksa memperhatikan kaki Riana. Dia takut darah mengalir di sana.


Aksa tidak boleh menemani Riana, dia dan juga adiknya menunggu di depan IGD dengan hati yang berdentum hebat. Tepukan di pundaknya membuat Aksa menoleh ke arah sang adik.


Lima belas menit berselang, seorang dokter wanita keluar dan memanggil Aksa. Dia segera masuk ke ruang IGD. Senyumnya merekah ketika melihat sang istri baik-baik saja. Wajah pucatnya masih kentara.


"Istri Bapak sudah sadar," ucap dokter IGD.


"Kandungan istri saya baik-baik saja 'kan?" Itulah yang Aksa cemaskan. Dia tidak ingin melihat istrinya semakin terpuruk.


"Janin di dalam kandungan Ibu Riana sangatlah kuat, Pak. Bapak tidak perlu khawatir."


Ada kelegaan di hati Aksa mendengarnya. Dia menggenggam tangan Riana dengan sangat erat. Senyuman hangat pun dia berikan kepada sang istri.


"Hanya saja, Ibu Riana banyak kekurangan cairan. Rekomendasi kami lebih baik Ibu Riana dirawat untuk beberapa hari ke depan."


"Lakukan yang terbaik untuk istirahat dan calon anak saya." Dokter pun tersenyum ke arah Aksa yang terlihat sangat menyayangi istrinya.


Di luar IGD, seorang wanita yang memakai daster tidur sudah menjewer telinga pria tampan hingga dia mengaduh kesakitan.


"Sakit, Mom," ringisnya.


Ayanda baru diberi tahu oleh Aska ketika mereka tiba di rumah sakit. Sang ibu pun terlihat sangat murka.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak panggil Mommy?" Tangan Ayanda semakin menarik telinga Aska.


"Mommy ... ini kuping Adek nanti kayak kelinci panjang ditarik begini," keluh Aska.


Orang-orang yang berlalu lalang mengulum senyum melihat Aska yang tengah meringis kesakitan karena sebuah jeweran yang mematikan. Bukan hanya jeweran, kini pukulan di pundak pun Aska dapatkan. Sang kakak perempuan baru saja datang dan langsung memukul pundak Aska dan menjambak rambut adiknya.


"Ya Allah ... salah Adek apa sih? Kayaknya kalian dendam banget sama Adek," ucap Aska.


"Riana di mana?" sergah Echa.


"Masih di dalam. Abang juga di dalam." Kedua wanita itupun melepaskan tangan mereka dari telinga dan juga rambut Aska.


Sang kakak ipar dengan penuh kebahagiaan menertawakan Aska sedari tadi.


"Menghibur sekali," ejek Radit.


Untung saja Aksa sudah keluar dari IGD dengan mendorong tubuh Riana yang tengah duduk di kursi roda. Jadi, percekcokan antara Aska dan Radit tidak terjadi.


"Ri," panggil kedua wanita tersebut. Seulas senyum terukir di wajah Riana yang masih pucat.


"Riana harus dirawat dulu karena dia banyak kehilangan cairan," terang Aksa.


"Cucu Mommy tidak apa-apa 'kan?" Riana menggenggam tangan ibu mertuanya. "Dia kuat, Mom."


Bukan hanya Ayanda yang merasa lega, Echa dan Radit pun merasakan kelegaan yang sama. Aksa tidak akan membiarkan istrinya di ruangan kecil dan pengap.


Aska berdecak kesal melihat kamar yang akan Riana tempati. "Boleh gak sih gua ngepet ATM lu," ujar Aska. Terkadang dia bingung, berapa kekayaan yang abangnya miliki.


"Makanya kamu bantu Daddy di perusahaan," balas sang ibu.


"Bukan passion Adek, Mom." Selalu kalimat itu yang Aska ucapkan.


Riana sudah terbaring di ranjang pesakitan yang nyaman. Selang infus sudah menancap di punggung tangannya. Aksa terus menggenggam tangan sang istri tercinta dengan setia. Aska berdecak kesal melihat kemesraan sang Abang dengan istrinya. Terlintas di kepalanya tentang sebuah pernikahan dengan wanita yang ingin dia perjuangkan.


"Apakah nanti gua akan sebucin itu sama istri gua?"


Melihat Aksa yang bucin akut membuat Aska terkadang muak. Namun, dia juga melihat bahwa bucin sang Abang itu benar-benar tulus karena cinta yang begitu besar. Apalagi sekarang ini, abangnya yang terbilang pemarah akan menjelma menjadi suami siaga dan penyabar. Ternyata menikah banyak membawa perubahan pada diri abangnya. Terbesit sebuah keinginan di kepalanya.


"Mommy ... Adek pengen kawin!"


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2