
Ada temu pasti ada pisah. Terkadang terbesit tanya dalam kepala Aska, kenapa harus ada pertemuan jika pada akhirnya harus ada perpisahan yang menyakitkan? Namun, dia juga tidak boleh egois. Dia percaya skenario Tuhan itu lebih indah dari rencananya.
Seperti pagi ini, orang-orang yang bermalam di apartment Aksara datang ke rumah sakit. Terlihat Aska sudah rapi dengan pakaiannya. Senyumannya pun menyambut mereka semua. Bagi orang yang merasa dekat dengan Aska, itu bukanlah senyum bahagia melainkan senyum yang penuh luka.
Dua sahabat Aska yang biasanya meramaikan suasana kini hanya bisa menutup mulut mereka dengan sangat rapat. Ada ketidak relaan yang mereka rasakan. Ada keberatan yang ingin mereka sampaikan, tetapi mereka juga tidak ingin melihat sahabat mereka menderita dengan luka yang tak kasat mata.
Suasana kamar pun hening. Aska merasa ada hawa kesedihan yang mereka semua rasakan. Bukan mereka berlebihan, mereka hanya bersedih karena orang yang selalu meramaikan suasana kini harus pergi ke lain dunia. Kepergiannya yang mendadak membuat mereka belum siap kehilangan seorang Askara.
"Kenapa pada melow begini?" tanya Aska memecah keheningan. "Adek hanya ke Aussie," lanjutnya lagi.
Pandangan Aska tertuju pada sang ibu yang terlihat sembab. Dia teringat akan ucapan ibunya yang merasa sangat bahagia ketika ketiga anak mereka berkumpul semua. Namun, mulai saat ini semuanya akan berakhir. Aska akan mengikuti jejak kakak dan abangnya untuk pergi ke luar negeri meninggalkan keluarganya yang ada di sini.
Aska berjalan menuju sang ibu. Dia menggenggam tangan ibunya dan mencium punggung tangannya dengan sangat lembut.
"Adek pergi untuk belajar mengikhlaskan serta belajar mengelola usaha. Adek ingin seperti kakak juga Abang," jelasnya. Tidak ada reaksi dari sang ibu. Hanya tatapan datar yang di berikan.
"Menghindar bukan cara yang baik," balas Ayanda dengan suara sangat pelan.
"Adek tidak menghindar," ucapnya. "Adek pergi untuk kebahagiaan orang yang Adek sayangi. Jika, Adek di sini terus ... kapan dia akan belajar menerima suaminya?"
Sampai sejauh itu pikiran Aska. Ketika semua orang berang kepada Bian. Dia masih sempat memperdulikan hubungan sahabatnya itu dengan wanita yang dia cintai.
"Mom, butuh waktu yang lama untuk Adek melupakannya, mungkin juga Adek tidak bisa melupakannya. Namun, dengan belajar apa itu ilmu ikhlas, Adek yakin perlahan Adek bisa mengikhlaskannya dan dengan pelan juga bayang wajah dia akan hilang dari ingatan Adek," tuturnya.
__ADS_1
Ayanda hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa memaksa putranya untuk tetap di sini. Dia juga tidak tega melihat Aska terus-terusan menderita karena cintanya.
"Adek janji, ketika Adek ada waktu Adek akan pulang ke Indonesia. Menemui Mommy dan juga yang lainnya." Seulas senyum pun terukir di wajahnya. Ayanda hanya bisa mengangguk pelan.
Kini, Aska menghampiri Echa. Dia memeluk tubuh kakaknya dengan sangat erat. "Maafin Adek, Kak. Adek udah ingkar janji."
Echa hanya mengeratkan pelukannya. Dia menahan laju air mata yang ingin sekali menetes. Aska sudah mengurai pelukannya. Dia menatap ke arah sang kakak yang sudah berkaca-kaca.
"Dulu, Abang yang meninggalakan Kakak juga Adek. Sekarang, giliran Adek." Tawa perih Aska pun terukir di wajahnya.
Echa merasa sangat sakit bukan karena Aska akan pergi, tetapi karena rasa sakit yang diderita adiknya. Dia sangat merasakan kesakitan yang Aska rasakan. Meskipun Aska tidak mengutarakannya.
"Sekarang, Kakak dijaga sama Abang dulu, ya." Echa hanya mengangguk pelan.
"Adek sayang Kakak." Echa memeluk tubuh adiknya kembali. Kini, air matanya menetes membasahi wajahnya.
Riana menggenggam tangan Aksa membuat Aska menoleh kepada sang istri. Dia menarik tangan Aksa ke atas perutnya. Seulas senyum pun terukir di wajah Aksa.
"Bang."
Suara Aska membuat Aksa sedikit terkejut. Aska sudah berdiri di belakangnya dengan senyum yang teramat perih.
"Gua pergi, ya."
__ADS_1
Ucapan yang teramat menyakitkan yang Aksa dengar. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban.
"Titip Mommy dan Kakak."
Sakit sekali Aksa mendengarnya. Lagi-lagi Aksa hanya bisa menganggukkan kepala. Aska segera memeluk tubuh Aksa dan membuat hati Aska mencelos.
"Doain gua semoga gua bisa bahagia kayak lu."
Tidak ada jawaban dari Aksa. Dia hanya mengeratkan pelukannya kepada adiknya. Semua orang yang melihat saudara kembar tersebut menahan rasa haru mereka. Ada yang sudah menyeka ujung mata mereka.
Aska sudah mengurai pelukannya dan kini mengusap lembut perut Riana. "Keponakan Uncle, jangan nakal ya. Kalau mau keluar jangan lama-lama buat Mommy kamu sakitnya. Uncle janji, Uncle akan pulang ketika kamu brojol nanti."
Janin di dalam perut Riana pun bergerak membuat Aska tersenyum lebar. "Uncle pasti akan merindukan gerakan kamu ini," ucapnya lagi.
Sudah waktunya Aska berangkat. Sedari tadi si triplets seakan tidak. Mau berkata. Mereka terus menutup mulut mereka. Aska menghampiri mereka bertiga dan memeluk mereka dengan sangat erat.
"Jangan nakal, ya. Jangan buat Bubu marah." Aska mengecup ujung kepala ketiga keponakannya secara bergantian. Anak-anak yang luar biasa yang pastinya akan sangat dia rindukan.
"I will miss you all." Tangis si triplets pun pecah. Keberangkatan pun harus sedikit tertunda karena Aska harus meredakan tangisan ketiga keponakannya. Dia membuat janji kepada ketiga kurcaci itu dan akhirnya disetujui oleh mereka.
"Ayo kita berangkat!" Aska pun mengangguk pelan. Baru saja Remon membuka pintu untuk bosnya juga putranya, seorang wanita menerobos masuk dan memeluk Aska.
"Jahat!"
__ADS_1
...****************...
Komen dong....