
Sebatang rokok menjadi teman Aska sekarang ini. Hatinya terasa sakit ketika yang dekat dengan wanita yang dia sayangi adalah sahabatnya sendiri. Dia memang pernah mengatakan bahwa dia tidak akan pernah merebut wanita yang disukai oleh sahabatnya. Kali ini, dia dihadapkan pada kenyataan yang sulit. Haruskah dia mengalah?
Kepulan asap keluar dari mulutnya, seperti sedang membawa keresahan hatinya terbang ke udara. Kebiasaan buruk Aska memang seperti ini. Cemburu Aska juga jelek sekali. Dia hanya butuh waktu sendiri untuk saat ini.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Aska belum juga kembali ke kafe. Raut wajah khawatir Jingga sangat kentara. Bian yang ingin mengajak Jingga makan siang di luar pun dia tolak. Dia tidak ingin membuat Aska marah lagi dan lagi.
"Lu tahu si Aska itu cemburu," oceh Ken.
Jingga yang tengah bergelut dengan pikirannya sendiri pun menoleh. Dia menatap bingung ke arah Ken.
"Lu harusnya tahu apa yang diinginkan Aska," tambah Ken.
Jingga masih terdiam, dia merutuki kesalahannya yang memang terus memberikan harapan kepada Aska. Sejujurnya, dia juga menyayangi Aska. Namun, petuah sang bunda selalu terngiang di kepala. Membuat dia ragu dan takut.
"Kalau lu gak suka sama si Aska, lu terus terang," ujar Juno. "Dia itu pria yang sulit untuk mencintai, tapi sekalinya dia cinta akan dia jaga cintanya sampai kapanpun," tutur Juno.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Jingga. Kata-kata dari Ken dan Juno semakin membuatnya bersalah.
"Hubungi Aska!" titah Ken kepada Jingga.
Sedari tadi Jingga memang sudah menghubungi Aska, tetapi tidak ada balasan dari pria itu.
"Cuma ceklis satu."
Ken menggerutu kesal dan dia meminta ponsel milik Jingga. Dia membuka aplikasi pesan di ponsel Jingga. Dahinya mengkerut ketika melihat foto profil yang Jingga gunakan. Poto profil yang menyulut emosi Aska.
"Ini apa?" Ken menunjukkan poto profil Jingga di aplikasi pesan tersebut. Sungguh Jingga sangat terkejut.
Juno yang sedari tadi anteng di depan laptop kini malah ikut mendekat ke arah Ken.
"Ck, ck, ck," decak kesal Juno.
"Itu bukan saya yang buat, Pak," jelas Jingga dengan raut ketakutan.
Mata Ken dan Juno menatap tajam ke arah Jingga. Jika, itu bukan ulah Jingga. Lalu siapa?
Tangan Ken sudah mulai mengutak-atik ponsel Jingga. Dahinya mengkerut ketika melihat pesan Jingga kepada Aska hanya ceklis satu, sedangkan pesan yang dikirimkan olehnya kepada Aska sudah centang dua biru pula.
"Bentar," ucap Ken. Dia semakin mengutak-atik dan matanya hampir melebar ketika dia melihat ternyata nomor Aska diblokir.
"Lu udah blokir nomor Aska?"
Tersentak, itulah yang Jingga rasakan. Dia menggeleng dengan sangat cepat. "Tidak, Pak. Untuk apa saya blokir nomor Pak Aska," sahutnya.
__ADS_1
"Ini!"
Ken menunjukkan ke arah Jingga dan mata Jingga melebar melihatnya. Juno ikut melihat ke arah ponsel Jingga.
"Pantas aja tuh anak uring-uringan," keluh Juno.
Jingga terduduk lemas, dia menghela napas kasar.
"Ini ulah siapa?" Kini, Juno yang bertanya.
"Hp lu dipegang siapa selain lu?" desak Ken sambil membuka blokiran nomor Aska.
Banyak sekali pesan yang masuk dari Aska. Dia menunjukkannya kepada Jingga.
"Lu lihat!" ucap Ken. "Wajar kalau dia marah," tambah Ken lagi.
Jingga meraih ponselnya dan di sana banyak pesan yang masuk dari Aska.
"Kamu di mana?"
"Jingga."
"Hei."
"Jigong."
"Kamu baik-baik aja 'kan."
"Apa itu ulah si Bian?" tebak Juno.
Jingga berpikir sejenak, dua hari yang lalu ketika Aska pergi tamasya dan fitting baju, dia memang bertemu dan jalan bersama Bian. Bian juga meminjam ponsel miliknya untuk mengambil beberapa gambar yang katanya untuk kenangan. Bagaimanapun Bian adalah pria yang sangat berjasa untuk Jingga. Dia yang telah menerima Jingga di restoran miliknya dan membawanya ke kafe ini.
Berhubung Jingga bukanlah orang yang sering mengutak-atik ponsel, jadi dia tidak sadar dengan apa yang dilakukan oleh Bian.
"Mending lu ke tempat ini," ucap Ken. Dia menunjukkan sebuah tempat yang biasanya Aska gunakan untuk menyendiri.
"Jelasin ke dia yang sebenarnya terjadi." Jingga pun mengangguk.
***
Di lain tempat, Aska memeriksa ponselnya dan banyak sekali pesan yang dikirimkan Jingga. Tak satupun Aska balas. Lagi pula, pesan itu pesan dua hari yang lalu juga kemarin. Dia terus menghisap rokok yang ada di tangannya.
"Sekalinya suka sama cewek, begini amat, ya," gumamnya. Dia hanya tersenyum kecut.
Tepukan di bahu membuat Aska menoleh, seorang pria yang mirip dengannya sudah berada di sampingnya
"Gila lagi?" sergahnya
Aska masih membisu, dia masih asyik dengan rokok yang dia hisap. Pria itu pun hanya terdiam, memandngi wajah adiknya yang nampak pilu.
__ADS_1
"Antara sahabat atau wanita," kata Aksa.
"Gua gak tahu, Bang. Gua udah janji sama diri gua sendiri kalau gua gak akan merebut cewek yang sahabat gua suka," paparnya.
"Ini lain masalah 'kan. Dia yang merebut cewek yang lu suka," sanggah Aksa.
Puntung rokok itu dia benamkan ke asbak. Aska menatap sendu ke arah sang Abang.
"Gua bukan kayak lu, Bang. Gua hidup dikelilingi sahabat yang baik. Apa gua harus jadi orang jahat?" Aksa hanya tertawa mendengarnya.
"Sekali-kali jadi orang jahat gak masalah. Terlalu baik sama orang juga kalau cuma dimanfaatin doang mah percuma," jawab Aksa.
"Bang As!"
Suara seseorang yang baru saja datang dengan napas yang terengah terdengar. Bukan hanya Aska yang menoleh, Aksa pun ikut menoleh.
"Gua meeting dulu," pamit Aksa seraya menepuk pundak sang adik.
Kedatangan Aksa ke kafe ini memang untuk rapat bersama beberapa klien. Mereka sudah mem-booking tempat khusus. Tak sengaja, dia melihat motor Aska yang terparkir di sana. Aksa juga tahu bahwa tempat ini adalah tempat favorit adiknya jika tengah galau.
Jingga masih mematung di samping Aska. Menatap Aska dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku," ucapnya.
Tidak ada jawaban dari Aska. Dia malah menatap lurus ke depan. Tanpa memperhatikan Jingga yang ada di sampingnya.
"Kalau kamu lebih nyaman bersama dia, lebih baik kamu tolak aku dari sekarang, biar aku pergi dan melupakan kamu."
Deg.
Jantung Jingga seakan berhenti berdetak. Dia tidak menyangka jika Aska akan berbicara seperti itu.
"Selama ini kamu menggantung perasaan aku. Kamu selalu membuat aku melayang dan berharap lebih kepada kamu. Padahal, kamu sendiri belum memberikan kepastian."
Jingga masih terdiam membisu, apa yang diucapkan oleh Aska memang benar. Dia terlalu nyaman bersama Aska, tetapi dia tidak berani memberikan jawaban tentang pernyataan cinta yang telah Aska katakan.
"Kalau kamu butuh aku berjuang, katakan. Biar aku tahu apa yang harus aku lakukan," ujarnya. "Tapi, kalau kamu inginkan aku untuk berhenti berjuang, aku akan mundur perlahan. Meskipun, itu menyakitkan."
Aska mulai menatap ke arah Jingga yang masih mematung di tempatnya. Jingga tidak bisa berkata, bibirnga terasa kelu. Mereka berdua hanya saling menatap dengan mulut yang terdiam.
"Jingga!"
Suara yang Aska kenali, suara yang ingin Aska benci. Namun, itu adalah sahabatnya sendiri. Jingga sudah menoleh, Bian tersenyum ke arah Jingga dengan sangat manis.
"Benar kata orang, kalau jodoh gak ke mana." Sontak Jingga menoleh ke arah Aska ketkka Bian berbicara seperti itu. Raut wajah Aska sudah berubah. Dia juga sudah berdiri dan hendak pergi.
Jingga terus menatap ke arah Aska, tak dia dengarkan Bian berkata apa saja. Ketika Aska hendak melangkah, tangan Jingga sudah merangkul lengan Aska.
"Aku ikut."
__ADS_1
...****************...
Komen dong, insha Allah crazy up.