Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tamunya Pergi


__ADS_3

Puasa lagi dan lagi, itulah yang harus Aksa alami. Kepalanya mulai pusing karena ada yang tak bisa dapat tersalurkan.


"Bang," panggil Riana.


Aksa yang bersandar di kepala ranjang membuka matanya. Dia tersenyum pedih.


"Apa mau ...." Riana menggantung ucapannya, tetapi dia menunjuk bibirnya.


"Abang gak mau membuat kamu lelah, Sayang." Aksa melingkarkan tangannya di perut sang istri. Wajahnya dia benamkan di dada Riana.


"Maaf ya, Bang." Tidak ada jawaban dari Aksa. Dia semakin erat memeluk tubuh Riana.


Pagi hari, Aksa tersenyum ketika dia membuka mata. Wajah Rianalah yang pertama kali dia lihat. Wajah tenang dan damai yang Riana tunjukkan. Kecantikan sang istri berkali-kali lipat ketika pagi hari.


Riana mulai mengerjapkan matanya. Dia membalas senyuman sang suami yang tengah memandanginya.


"Kok gak bangunin," ucap Riana dengan suara parau.


"Kamunya nyenyak banget."


Riana tidak menjawab, dia malah menelusupkan wajahnya ke dada bidang sang suami. Aksa memeluk tubuh Riana dan mengecup ujung kepalanya.


"Biasanya datang bulan kamu berapa hari?" tanya Aksa.


"Paling lama satu minggu," jawab Riana.


Hari ini baru hari pertama, dan Aksa harus melewati enam hari lagi untuk bisa berbuka puasa kembali. Aksa semakin mengeratkan pelukannya begitu juga dengan Riana. Namun, suara gedoran pintu membuat sepasang suami istri ini terganggu.


Riana bangkit dari tidurnya dan membuka pintu kamar. Ada tiga orang anak yang sudah berkacak pinggang di hadapan Riana.


"Suruh sarapan. Jangan di kamar aja," ujar Aleeya dengan wajah sangar dan Riana pun tertawa.


"Aunty dan Uncle mandi dulu, ya. Nanti kami akan ke bawah."


Si triplets pun mengangguk pelan. Riana menghampiri suaminya yang kini sudah memegang gadget di tangan.


"Sayang, bisa siapkan pakaian kerja Abang?" Pertanyaan yang membuat Riana melebarkan mata.


Riana menghampiri suaminya dan duduk di tepian tempat tidur. Dia memandang wajah sang suami.


"Ada meeting dadakan, Sayang. Di kantornya Daddy," jelas Aksa.


Riana mengangguk pelan, dia sudah berniat untuk selalu mengerti keadaan sang suami. Meskipun, dia juga sedikit kecewa. Aksa menarik tangan Riana, memeluk Riana dengan erat.


"Maafkan Abang. Abang tahu pasti kamu kesal dan kecewa," ucapnya.


Seharusnya mereka masih menikmati hari-hari sebagai pengantin baru. Akan tetapi, Aksa harus disibukkan dengan pekerjaannya kembali.


"Jangan pulang malam."


Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Riana. Aksa mengangguk , dia mengurai pelukannya dan mengecup kening istrinya sangat dalam.


"Jika, sudah selesai Abang pasti pulang."


Sepasang pengantin baru ini baru saja keluar dari kamar. Suaminya sudah tampan, sedangkan istrinya masih mengenakan piyama.


"Udah mulai kerja, Bang?" tanya Echa.


"Iya, ada meeting dadakan di kantor Daddy."


Echa mengangguk mengerti, sedangkan Riana malah bergelayut manja di lengan sang suami. Rion hanya menggelengkan kepalanya. Tidak Echa tidak Riana, jika di samping suami mereka menjelma menjadi wanita manja.


Riana mengantarkan sang suami hingga ke depan. Dia memeluk tubuh Aksa dengan begitu erat.


"Jangan ke mana-mana, ya. Tunggu Abang pulang jika ingin pergi." Riana pun mengangguk.


Selepas suaminya pergi dan tidak ada orang yang tersisa, Riana masuk ke dalam kamarnya. Dia membersihkan tubuhnya. Baru selesai mandi, Mbak Ina mengetuk pintu kamar. Masih hanya dengan menggunakan rambut di kepala Riana membuka pintu.


"Ada Bu Ayanda, Neng." Riana tersenyum dan dia segera menghampiri ibu mertuanya.


"Hai Mom," sapa Riana.


Ayanda tersenyum dan memeluk tubuh menantu cantiknya.


"Gimana malam pertamanya?" tanya Ayanda. Wajah Riana malah memerah dan mampu membuat Ayanda terkekeh.


"Mommy hanya bergurau saja, Ri," imbuh Ayanda.


Ayanda menyuruh sang menantu untuk duduk di sampingnya. Dia menggenggam tangan Riana.


"Makasih sudah mau menerima Aksa," ucap Ayanda tulus.


"Mom, dari dulu Mommy tahu perasaan Ri terhadap Abang seperti apa. Ri, tidak peduli dengan statusnya. Toh pernikahannya terdahulu adalah sebuah kecurangan, bukan keinginan dari Abang maupun keluarganya. Jadi, gak perlu berterima kasih. Ri, yang harusnya berterima kasih karena Mommy sudah mau menerima Ri menjadi menantu Mommy."


Ayanda memeluk tubuh Riana dengan erat. Lengkungan senyum hadir di bibirnya. Begitu juga dengan Riana.


"Setelah si triplets pulang sekolah, kita ke mall yuk. Mommy sudah lama tidak jalan-jalan." Riana tersenyum sang mengangguk pelan.


"Ri, izin Abang dulu, ya."


Setelah ketiga keponakannya pulang sekolah dan izin pun sudah di tangan. Riana, Ayanda dan si kembar tiga pergi ke sebuah mall besar. Kebahagiaan terpancar di wajah lima perempuan ini. Masuk ke toko sana sini. Beli ini dan itu dan makan di restoran yang lezat. Semuanya Ayanda yang menanggung.


"Mom, apa ini tidak berlebihan?" tanya Riana.

__ADS_1


Pasalnya, Riana benar-benar disuruh memilih barang-barang yang sangat mahal oleh ibu mertuanya dan Ayandalah yang membayar semuanya.


"Spesial untuk menantu cantik, Mommy." Riana pun tersenyum


Jangan ditanya si triplets seperti apa. Paper bag di tangan mereka sangatlah banyak. Ayanda benar-benar memanjakan cucu-cucunya.


Sore hari mereka baru tiba di rumah. Ketiga keponakan Riana riang gembira karena banyak sekali pakaian, alat-alat sekolah serta mainan yang mimo mereka belikan.


"Abang udah pulang?" Riana terkejut ketika masuk ke dalam kamar. Sang suami sudah duduk di sofa dan memangku laptopnya.


Riana menghampiri Aksa dan duduk di sampingnya. Dia mengecup pipi sang suami yang masih fokus pada layar segiempat.


"Tadi hanya setengah hari," jawab Aksa.


"Kenapa gak bilang? Kan Ri bisa pulang duluan." Aksa kini menatap Riana. Dia tersenyum ke arah sang istri.


"Abang tidak akan mengganggu kamu, Sayang. Pasti kamu bahagia 'kan bisa pergi shoping sama Mommy dan juga si triplets." Riana mengangguk dan kini memeluk pinggang sang suami.


"Bikinin Abang kopi, ya."


Riana mengangguk dan beranjak dari duduknya. Secangkir kopi sudah disuguhkan, tak lupa Aksa mengucapkan terima kasih dan mengecup kening sang istri. Riana memilih untuk membersihkan tubuhnya. Kemudian, menemani sang suami yang tengah fokus pada pekerjaannya.


Riana memilih untuk menyandarkan kepalanya di pundak Aksa dan merangkul manja tangan sang suami. Sesekali Aksa mengusap lembut rambut Riana.


"Sayang, besok Abang harus terbang ke Jogja untuk tiga hari sampai satu Minggu ke depan." Riana cukup tersentak mendengar ucapan Aksa.


Aksa meletakkan laptopnya di atas meja. Dia menatap sang istri dengan tatapan intens.


"Ada sedikit masalah di sana. Jadi, Abang yang harus turun tangan sendiri," terangnya.


"LDR lagi?" tanya Riana pelan.


Aksa pun tertawa dan mencubit gemas pipi Riana. "Kalau kamu mau ikut, Abang akan senang. Kalau kamu masih mau di sini, melepas rindu dengan keluarga kamu Abang juga gak masalah. Abang gak mau memaksa, Abang hanya ingin melihat kamu bahagia."


Tangan Riana semakin erat memeluk tubuh Aksa. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Ri, tidak ingin berpisah dengan Abang. Bukankah pernikahan ini terjadi supaya kita selalu bersama?"


Aksa tersenyum dan mengerti apa yang dikatakan oleh Riana. Dia menangkup wajah Riana. "Kamu mau ikut Abang?" Riana mengangguk cepat.


Aksa mencium kening Riana sangat dalam dan turun ke bibir mungil sang istri tercinta.


"Makasih, Sayang."


Di lubuk hati kecil Aksa, sebenarnya dia menyesalkan kehadiran tamu tak undang Riana. Andai saja jika istrinya bisa dia cumbu, Aksa bisa bekerja sekalian bulan madu. Namun, sayang seribu sayang. Kenyataannya tidak seperti itu.


Di sela makan malam, Aksa memecah keheningan.


"Ayah, besok Abang harus ke Jogja. Ada sedikit masalah di WAG grup," ujarnya.


"Kenapa harus pergi lagi?" protes Aleeya.


"Uncle ada pekerjaan, Aleeya," terang Aksa seraya tersenyum.


"Kamu ikut?" tanya Rion kepada Riana.


"Bukankah seorang istri harus mengikuti ke mana suaminya pergi?" Rion bangga akan jawaban Riana.


"Ayah gak keberatan 'kan?" lanjut Riana lagi.


Rion menggeleng, dia tersenyum ke arah putri keduanya.


"Tidak, Ayah malah bangga sama kamu. Ikuti ke mana suami kamu pergi. Namun, kamu juga harus ingat bahwa rumah ini dan keluarga ini tempat kamu untuk pulang."


Hati Riana mencelos mendengar ucapan sang ayah. Begitu juga dengan Echa, dia sudah menatap sang ayah dengan mata yang nanar.


"Ingatlah, bahwa masih ada Ayah tempat kalian pulang ke sini." Echa, Iyan dan juga Riana berhambur memeluk tubuh Rion. Radit dan Aksa hanya tersenyum melihat pemandangan di depan mereka.


Sebelum tidur, Riana menyiapkan keperluan Aksa untuk besok pergi ke Jogja. Akan tetapi, Aksa melarangnya.


"Jangan bawa apa-apa, Sayang. Di apartment semua baju Abang dan kamu sudah lengkap. Cukup bawa skincare kamu aja," tutur Aksa.


Keesokan paginya mereka bertolak ke Jogja. Siang hari baru akan dimulai meeting. Setidaknya mereka bisa beristirahat sejenak di apartment.


Tangan Aksa terus menggenggam tangan Riana begitu juga Riana yang terus menempel pada tubuh Aksa.


"Boleh ikut ke kantor, ya."


"Boleh dong."


Tanpa malu dia mengecup pipi sang suami dan mampu membuat Aksa bahagia. Mereka sudah dijemput di Bandara dan akan beristirahat sejenak di apartment.


Riana membuka gorden dan disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Awan cerah dengan gedung-gedung tinggi. Lingkaran tangan di perut Riana membuatnya tersenyum bahagia.


"Kalau malam akan lebih indah," imbuh Aksa.


Setelah makan siang barulah mereka pergi ke kantor WAG Grup. Para karyawan yang dulu selalu nyinyir terhadap Riana, kini mereka menunduk sopan jika melihat Riana. Kabar bahwa Aksa menikahi Riana bukan sekedar kabar burung. Sebelum meeting Aksa mengumpulkan para karyawan. Mata Randi memandang Riana dengan tatapan sendu. Jujur, dia belum bisa menghilangkan bayang wajah Riana di kepalanya. Apalagi, tangan Aksa yang terus menggenggam tangan Riana.


"Kalian pasti sudah tahu siapa wanita yang berada di samping saya. Wanita yang sering kalian nyinyir, wanita yang selalu kalian gosipkan. Kini, wanita ini resmi menjadi Nyonya Askara," pungkasnya.


Hampir semua karyawan menunduk dalam, berbeda dengan Randi yang masih memandang Riana. Aksa dapat melihat tatapan berbeda yang Randi berikan terhadap istrinya.


Setelah briefing selesai, Aksa membawa Riana ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini, ya." Riana menggeleng, kedua alis Aksa menukik tajam.


"Ri, ingin bertemu Jingga, boleh?" Aksa pun mengangguk dan tersenyum.


"Makasih." Riana berhambur memeluk tubuh Aksa.


Mendengar pintu ruangan terbuka, Randi menoleh ternyata Riana lah yang keluar. Riana terus melangkah tanpa menghiraukan Randi. Aksa selalu mengatakan bahwa menjadi Nyonya Aksara itu harus menegakkan kepala.


Jingga sangat bahagia bertemu dengan Riana. Mereka berpelukan layaknya Teletubbies.


"Senang banget deh bisa bertemu Mbak Riana lagi," imbuhnya.


Mereka berbincang sangat bahagia hingga Randi datang dan membuat suasana mendadak hening.


"Riana, aku ingin bicara dengan kamu."


Sungguh nyali Randi sangat banyak. Berani mendekati Riana yang sudah memiliki suami yang terbilang sadis.


"Bicara saja, Ran," jawab Riana.


"Aku ingin bicara berdua," pintanya.


Jingga sudah ingin bangkit dari duduknya. Namun, Riana larang.


"Tidak pantas istri orang berbicara hanya empat mata dengan laki-laki bukan muhrimnya," jawab Riana.


Dari ruangan berbeda, tangan Aksa mengepal keras ketika melihat rekaman cctv yang berada di pantry. Apalagi Randi yang terus mencoba mendekati istrinya. Namun, seulas senyum dia sunggingkan ketika istrinya selalu menghindari Randi. Apalagi, sekarang Riana memilih pergi dari pantry dan masuk ke dalam ruangannya.


Randi hanya gigit jari. Dia merenungi nasibnya yang sangat miris ini. Semakin ke sini Riana semakin sulit didekati. Selang satu jam, Aksa selesai meeting. Dia kembali ke ruangannya lagi. Di sana sudah ada Riana yang tengah fokus pada layar ponselnya.


"Loh, katanya mau temuin Jingga?" Aksa pura-pura tidak tahu dengan apa yang telah terjadi.


"Sudah, tapi hanya sebentar," jawab Riana yang kini sudah memeluk tubuh Aksara.


"Bete?" Riana mengangguk.


"Mau nunggu satu jam-an lagi atau pulang sekarang?" Aksa akan menuruti semua kemauan istrinya ini.


"Nunggu aja, tapi Abang gak akan keluar ruangan ini 'kan?" Riana sudah mendongakkan kepalanya karena Aksa memang lebih tinggi darinya.


"Enggak, itu berkas 'kan numpuk," tunjuknya ke arah meja.


Riana dengan setia menunggu sang suami. Sesekali Aksa melirik ke arah istrinya yang terkadang menguap. Dia tahu, Riana sudah bosan. Namun, dia tetap bertahan.


"Selesai."


Mendengar ucapan Aksa, Riana menoleh dan terlihat Aksa sudah menyunggingkan senyum. Riana bangkit dari duduknya dan merangkulkan lengannya dari belakang di leher Aksa yang masih duduk di kursi kebesaran.


"Beneran udah selesai?" Aksa mengangguk dan menoleh ke belakang. Dia kecup hangat bibir mungil istrinya.


"Mau ke apartment atau jalan-jalan?" tanya Aksa.


"Rebahan."


Aksa pun tertawa mendengar ucapan Riana. Dia bangkit dari duduknya dan mencubit gemas pipi Riana.


Ketika mereka keluar dari ruangan, Randi hanya menunduk dalam. Seakan dia merasakan ketakutan. Riana mengabaikan saja, dia malah merangkul manja lengan Aksa.


"Nyawa kamu ada berapa? Masih berani ganggu istri saya. Saya bukan orang yang baik, apalagi terhadap manusia yang suka mengusik."


Kalimat yang terdengar sangat menyeramkan di telinga Randi. Seperti ada kemarahan disetiap kata yang direktur utama itu katakan.


Tibanya di apartment, Aksa terlebih dahulu membersihkan tubuhnya. Riana harus menghapus make up tipis di wajahnya karena jika dibiarkan menempel terus kulitnya akan jerawatan.


Baju Aksa sudah Riana siapkan. Setelah suaminya keluar dari kamar mandi Riana segera masuk dan membuka semua pakaiannya. Namun, dia melihat ke arah pembaloet yang dia gunakan hari ini. Tidak ada sedikit pun darah di sana.


"Kok tumben cepat," gumamnya.


Riana tidak buru-buru mandi besar, dia takut besok akan keluar lagi. Dia juga masih memakai pembaloet agar ketika darah kotornya keluar tidak tembus ke mana-mana.


Pagi hari, sebelum Aksa bangun. Riana tercengang ketika melihat roti Jepang yang dia gunakan bersih. Lengkungan senyum terukir di bibirnya. Dia segera mandi hadas. Ketika Riana keluar dari kamar mandi sang suami sudah terjaga. Dia sudah duduk di samping tempat tidur.


Riana memeluk suaminya, dan Aksa membenamkan wajahnya di dada sang istri karena posisi Riana yang tengah berdiri dan Aksa yang duduk.


"Mandi ya, terus kita sarapan," ujar Riana.


Aksa mengangguk patuh. Pagi ini sang suami hanya ingin menikmati roti bakar dan segelas susu hangat. Ketika semuanya sudah siap, Riana kembali ke kamar dan Aksa tengah memakai dasi. Riana mengambil alih dan tangannya dengan cekatan memakaikan dasi itu di leher sang suami.


"Makasih," ucap Aksa.


Riana tersenyum dan merangkulkan lengannya di leher sang suami. Dia kecup bibir Aksa dengan lembut membuat Aksa sedikit terkejut.


"Tamunya sudah pergi," bisik Riana.


Mata Aksa melebar dan wajah penuh kegembiraan terpancar sangat jelas.


"Serius?" Riana mengangguk.


"Tunggu Abang pulang kerja, Sayang."


...****************...


Hayo ... hayo ....

__ADS_1


Komen ya ..


__ADS_2