Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Surat Pernyataan


__ADS_3

Maaf sebelumnya, kalau up aku sekarang gak tentu. Mood nulisku lagi kendor di bulan ini. Jangan minta crazy up ya, karena levelnya masih rendah. 🙏


Aku mau minta tolong, kalau up baru terbit jangan ditimbun-timbun ya. Langsung baca dan jangan berhenti di tengah jalan. Jangan lupa juga komen, biar mood aku kembali lagi.


Hatur nuhun.


...****************...


Aksa sudah duduk di sebuah ruangan. Menunggu sang ayah yang sedang rapat katanya.


"Tumben," ucap Gio, yang kemudian mendudukkan diri di samping sang putra pertama.


Raut wajah Aksa sudah sangat kusut, Gio tahu anaknya ini sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa?" Sentuhan lembut di pundaknya membuat Aksa menatap ke arah Gio.


"Abang merasa dikhianati."


Gio tersenyum mendengar ucapan sang putra. Sedangkan Remon sudah mengulum bibirnya.


"Cinta terkadang membuat orang genius menjadi bodoh," kata Remon tanpa berdosa.


"Riana tidak mengkhianati kamu, Bang. Dia hanya ingin memberi perpisahan termanis untuk temannya," jelas Gio.


Sebagai seorang ayah dia masih mengawasi kedua putranya. Termasuk hubungan Aksa dan juga Riana.


"Kamu boleh cemburu, tetapi sewajarnya aja. Jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya," terang Gio.


Hanya helaan napas berat yang keluar dari mulut Aksa. Gio menepuk pundak sang putra dengan penuh cinta.


"Kamu tahu 'kan ayahnya Riana itu siapa?" Aksa mengangguk.


"Apa Daddy tidak cemburu jika melihat Mommy sering bersama Ayah untuk menemani Kakak?"


Pertanyaannya yang sering berkeliaran di kepala Aksa. Padahal, Daddy-nya dan juga ayahnya Riana adalah masa depan dan masa lalu sang mommy. Akan tetapi, mereka bertiga akrab seperti tidak pernah terjadi apapun di antara mereka.


"Cemburu pasti ada, tetapi Daddy berusaha berdamai dengan rasa itu. Lagi pula mommy dan juga ayah bertemu karena kakakmu. Mereka berkomitmen untuk kompak menjaga Echa. Mereka tidak ingin kakakmu seperti anak-anak broken home pada umumnya."


"Sekali-kali coba turunkan ego kamu. Berilah kepercayaan sepenuhnya kepada Riana. Dia juga berhak untuk berteman dengan siapa saja, yang terpenting hatinya hanya untuk kamu," jelas Gio.


"Meskipun ada pria yang selalu ada untuk Riana, jika hatinya tetap setia sama kamu. Pria itu bisa apa?"


"Sama halnya dengan Daddy kamu, Bang." Remon kini membuka suaranya.


"Daddy kamu terus setiap pada cintanya, walaupun cintanya itu sudah menjadi istri orang. Sepuluh tahun, bukan waktu yang singkat. Namun, Daddy kamu membuktikan bahwa kesetiaannya membuahkan kebahagiaan."


Gio tersenyum mendengar penjelasan dari Remon. Kisah cintanya bersama Ayanda tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi, status Ayanda pada waktu itu seorang janda beranak satu.


"Daddy saja bisa melakukannya, kenapa kamu tidak? Pria sejati mencintai setulus hati."


Aksa tersenyum mendengar nasihat dari sang Daddy. Aksa merupakan jiplakan Giondra ketika sudah dewasa. Sedangkan Aska adalah jiplakan Gio ketika masih muda. Playboy cap buaya rawa.


Di kosan Riana, Iyan sudah menatap sang kakak dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Kak Ri sudah tahu?"


Riana mengerti apa yang dimaksud oleh Iyan. Kepalanya mengangguk pelan.


"Apa sekarang kakak ragu?"


Riana mengerutkan dahinya tak mengerti dengan ucapan Iyan. Tukikan kedua alisnya seolah mengatakan maksudnya apa?


"Apa hati Kak Ri ragu karena rasa iba yang sedang menyelimuti hati Kakak sebenarnya?"


Ucapan Iyan membuat Riana tertawa. Dia mengusap lembut kepala adiknya.


"Dia cuma teman kakak, tidak lebih dari itu. Sebagai seorang teman, bukankan kita harus saling support?" Iyan mengangguk.


"Sedangkan hati Kak Ri hanya untuk Abang. Tidak ada pria yang lain yang mampu menggeser Abang."


Iyan tersenyum dan merasa lega mendengar ucapan dari Riana. Bukan tanpa alasan, Iyan sangat khawatir karena sang kakak memiliki hati yang sangat lembut. Siapapun bisa memanfaatkan kesempatan yang ada.


Di balik pintu kamar Riana, Rion menyandarkan kepalanya di dinding. Ucapan Riana benar-benar membuat pikirannya berkelana. Usapan lembut di pundaknya membuat Rion menoleh. Senyum hangat dari sang putri sulung.


"Apa yang Ayah ragukan? Bahkan pria yang mencintai Riana sudah Ayah kenal sedari kecil. Malah, sudah Ayah anggap seperti anak ayah sendiri sebelum Iyan lahir."


Perkataan Echa membuat hati Rion mencelos. Dia juga bingung, kenapa hatinya masih ragu melepas Riana kepada Aksa? Padahal dua insan itu saling mencintai. Pernikahan Aksa pun bukanlah pernikahan yang keluarga besar Aksa inginkan. Itu hanya sebuah jebakan dari keluarga yang tidak ingin tercoreng nama baiknya.


"Apa karena status Aksa nantinya? Apa ada yang salah dengan status duda? Apa Ayah malu memiliki menantu seorang duda?"


Pertanyaan Echa membuat mulut Rion terkunci. Dia tidak bisa menjawab, salah satu dari ketidak ikhlasan Rion untuk merestui hubungan Riana dan Aksa adalah itu. Dia takut, jika Riana akan terkena mental. Apalagi, Aksa bukanlah orang sembarangan. Banyak paparazi yang mengintainya. Dia tidak ingin Riana menjadi bahan nyinyiran orang lain.


"Ayah, kalau mau nyari menantu kayak Radit tuh susah. Stoknya hanya satu di dunia."


"Percaya diri sekali kamu," sungut Rion.


"Jika, anak Ayah gak cinta-cinta banget sama kamu. Ogah Ayah punya menantu kayak kamu."


Radit malah terbahak mendengar sungutan ayah mertuanya yang kini menjauhi dirinya dan juga sang istri. Sedangkan Echa hanya menggelengkan kepala jika melihat keisengan suaminya terhadap ayahnya, yang seperti anak ABG yang sedang PMS. Sedang sensi-sensinya.


"Kebiasaan!" Radit terkekeh mendengar Omelan sang istri.


"Dit, makan di luar yuk. Ayah lapar." Baru saja Radit hendak memeluk tubuh sang istri harus gagal karena ayahnya malah kembali lagi.


"Tadi ngoceh-ngoceh, sekarang ngajak makan. Gak jelas nih," gerutu Radit.


Echa tertawa mendengar gerutuan Radit. Dia mengusap lembut dada sang suami. "Sabar!"


Radit menangkap tangan Echa yang masih ada di dadanya. Senyum penuh arti dia tunjukkan.


"Nanti malam tidur di hotel, ya." Kedua alis Radit naik-turun membuat Echa bergidik ngeri.


"Enggak!"


Echa buru-buru kabur meninggalkan suaminya yang tengah tertawa. Begitulah rumah tangga Radit dan Echa. Meskipun, Echa sudah divonis tidak bisa memiliki anak lagi. Mereka tidak bosan melakukan hal yang menyenangkan. Toh, Radit sudah memiliki ketiga anak yang lucu dan juga cantik. Hidupnya sudah sangat sempurna. Hal yang akan sangat menyempurnakan hidupnya adalah menemani istrinya hingga maut yang memisahkan.


Di lain tempat, Chintya tengah memandang sendu ke arah Arka.

__ADS_1


"Kami serius?" Arka mengangguk mantap.


"Kamu bisa laporkan pihak mereka kepada polisi atas pasal pemaksaan," omel Chintya.


"Tidak ada yang memaksa, Mah. Aku sendiri yang meminta."


Hati Chintya mencelos mendengarnya. Dia terus menatap iba kepada arah Arka.


# flashback on


Tadi siang, Arka menghubungi pihak Aksa agar datang ke rumah sakit tempatnya dirawat. Christian yang mendapat pesan itu segera memberitahu Aksa. Aksa yang tengah berbincang santai dengan sang ayah dan juga asisten kepercayaan ayahnya harus pergi. Dia harus bertolak ke Jogja saat itu juga. Tibanya di sana, Arka tersenyum ramah kepada Aksa. Seperti senyum sambutan.


"Maafkan aku, aku telah mencoba merusak hubungan kalian."


Perkataan Arka sangat tulus, tetapi Aksa masih menatapnya dengan datar.


"Kamu tahu 'kan tentang penyakitku." Aksa masih diam membisu. Menatap Arka dengan tatapan penuh murka. Dia tahu, Riana sudah menemuinya dan juga menuruti permintaan terakhir yang konyol menurut Aksa.


"Ini."


Arka menyerahkan sebuah map merah kepada Aksa. Tangan Aksa meraihnya dan mencoba melihat isi map tersebut. Matanya melebar, ketika melihat isi tulisan dari selembar kertas itu.


Saya, Arkana dengan ini membuat surat pernyataan bahwa saya akan menjauhi Riana dan pergi dari jauh dari hidup Riana. Saya menyerah karena saya sadar bahwa saya tidak bisa memaksakan kehendak saya, yaitu menyuruh Riana untuk mencintai saya.


Jika, saya mengingkari surat pernyataan ini. Saya siap diproses pidana ataupun perdata.


Surat ini saya buat dengan sesadar-sadarnya.


Yang bertanda tangan.


Arkana.


"Apa maksudnya?" tanya Aksa


"Aku menyerah, aku tahu kalian saling mencintai. Aku tidak ingin menjadi duri dalam hubungan kalian. Cinta kian terlalu kuat, sulit untuk aku runtuhan."


"Jaga Riana, jangan sakiti dia. Dia sangat mencintai kamu."


Senyum penuh ketulusan terukir di wajah pucat Arka. Dia mengulurkan tangannya terhadap Aksa.


"Berjanjilah, jaga dia untukku."


Aksa menyambut uluran tangan Arka dan mengangguk.


# flashback off.


"Mah, jangan ganggu mereka lagi. Mereka harus bahagia. Biarlah aku menjalani hidupku yang tak akan lama lagi."


"Sebelum aku menutup mata, aku ingin melihat Riana bahagia."


Hati ibu mana yang tidak teriris mendengar ucapan dari putranya yang terkena vonis penyakit mematikan. Sakit, rasanya.


...****************...

__ADS_1


#MenujuHalal


__ADS_2