Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Pertemuan Terakhir


__ADS_3

"Sah!"


Sebuah kata yang membuat Jingga menitikan air mata. Buang air mata kebahagiaan, melainkan air mata kesakitan.


"Aku mencintai Bang As. Kenapa aku menikah dengan orang lain?" Batin Jingga berteriak dengan sangat kencang.


Disaat Jingga harus mencium tangan Bian, Jingga merasa enggan. Dia menatap Bian dengan rasa marah yang terkira.


"Aku tidak mencintaimu, Pak."


Kalimat yang sangat pelan, tapi mampu didengar oleh Bian.


"Maafkan aku."


Acara akad nikah yang seharusnya berjalan khidmat, malah membuat kesakitan yang terkira bagi Jingga. Dinodai oleh sahabat pria yang dia cintai.


Semalam ...


Setelah sambungan telepon dari Aska terputus, Jingga tertidur tanpa mengunci pintu kamar kosan. Ketika pagi menjelang, Jingga terbangun dan siaga ada Bian di sampingnya. Tubuhnya sudah tak mengenakan sehelai benang pun begitu juga dengan Bian. Dia menjerit hingga salah seorang warga mendengarnya dan melihat Bian tengah menenangkan Jingga tanpa busana. Sontak semua warga berbondong-bondong datang dan langsung menggiring mereka berdua.


#off.


Jingga harus sudah mengemasi barang-barangnya karena dia disuruh dari kosan tersebut. Air matanya tak berhenti menetes karena dia teringat akan wajah Aska yang sangat pilu. Ucapan Aska yang sangat tulus. Namun, sekarang dia malah sudah sah menjadi istri dari Bian secara agama.


"Biar aku yang bantu," ucap Bian.


"Jangan sentuh saya!"


Bian pun terdiam, dia merutuki kebodohannya. Semalam dia mabuk karena masalahnya dengan Aksa yang harus mengganti uang Aksa setengah M. Dalam penglihatannya semalam wanita yang dia nikmati bukanlah Jingga. Namun, ketika pagi hari Jinggalah yang ada bersamanya. Bercak darah pun ada di bawah sprei yang ditiduri Jingga. Tubuh Jingga pun sudah polos.


"Bodoh lu, Bian! Bodoh!" erangnya dalam hati.

__ADS_1


Semua barang Jingga sudah selesai dikemas. Mereka sudah keluar dari kosan. Namun, ada dua orang yang berwajah sama berdiri tak jauh dari kosan Jingga. Tubuh Jingga menegang, air matanya tak tertahan.


Pria itu melangkah menuju Jingga. Tersenyum perih ke arah wanita yang matanya sembab. Tangannya pun terulur ke arahnya.


"Selamat!"


Sebuah ucapan yang keluar dari mulut Aska. Di telinga Jingga ucapan itu sangat menyayat hati. Jingga tidak membalas uluran tangan Aska, tetapi Jingga memeluk tubuh Aska dengan sangat erat. Tak dia pedulikan ada pria yang berstatus suami di sampingnya.


"Aku mencintaimu, Bang As."


Kalimat yang membuat hati Aska perih. Kalimat yang membuat hati Aska menjerit kesakitan.


"Kalau kamu mencintai aku, kenapa kamu tidak menunggu aku? Aku mau bertanggung jawab," balasnya.


Jingga mengurai pelukannya, dia menatap lembut wajah Aska yang datar. Namun, penuh kesedihan.


"Kamu orang baik, Bang. Kamu tidak pantas mendapatkan wanita kotor seperti aku. Wanita yang bekas dipakai oleh orang yang tak punya hati."


"Lupakan aku, Bang. Aku yakin, kamu akan mendapat seorang wanita yang seribu kali lebih baik dari aku."


Aska mengusap air mata Jingga, dia mengecup kening Jingga untuk terakhir kalinya. Kecupan yang sangat dalam dan penuh dengan rasa cinta.


"Selamat tinggal."


Dua kata yang menjadi kalimat pisah yang keluar dari mulut Aska. Bian dan Ken yang menyaksikan dari dalam mobil menyeka ujung mata mereka. Mereka saja yang hanya melihat sangat sakit. Bagaimana dengan Aska?


Setelah Aska masuk ke dalam mobil, Aksa mendekat ke arah Jingga juga Bian. Dia menatap tajam sepasang suami istri batu tersebut.


"Kerja yang sangat bagus!" ucap Aksa.


"Selamat, kalian sudah membuat hati adik saya porak poranda dalam sekejap."

__ADS_1


Kalimat yang sangat menusuk yang keluar dari mulut Aksara.


"Saya harap, kita tidak akan pernah bertemu lagi."


Ucapan penuh kebencian yang keluar dari mulut Aksa. Dia pun pergi begitu saja menyusul adiknya. Mobil yang ditumpangi Aska juga Aksa menjauhi kosan Jingga. Kesakitan yang tak terkira yang Jingga rasakan.


Ting!


Sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel Bian.


"Cukup di sini persahabatan kita. Gua udah kecewa."


Pesan yang baru saja dikirimkan oleh Ken. Satu pesan masuk lagi ke ponsel Bian.


"Harusnya kita menjadi orang yang tahu terima kasih. Bukan orang yang hanya memanfaatkan kebaikan orang lain dan berujung menyakiti. Apa itu yang namanya sahabat?"


Kalimat yang sangat menusuk yang Juno ketikkan. Bian hanya menghela napas kasar. Ketika dia mengirimkan balasan, hanya centang satu saja. Menandakan nomornya sudah diblokir oleh Ken dan Juno.


"Maafkan gua."


Di dalam mobil, Aska hanya menatap ke arah luar jendela di bawah langit sore.


Biarlah cinta ini aku bawa sampai mati. Biarlah rasa ini aku simpan sampai semuanya menghilang. Aku harus menerima kenyataan dan pergi menjauh dari kesedihan yang sekarang aku rasakan.


Selamat tinggal Jinggaku ...


Selamat tinggal cinta pertamaku ...


****


Sampai jumpa di kisah Askara dan Jodoh Rahasianya ....

__ADS_1


__ADS_2