
Pekikan suara Aska membuat adik Aksa melemah kembali. Riana pun terjerambab ke dalam pelukan Aksa.
"Malu," ucap Riana.
"Adik laknat emang," sungut Aksa.
Pada akhirnya mereka pun tidak melakukan apa yang sudah mereka rencanakan. Sudah tidak ada lagi hasrat yang menggebu. Tidak ada lagi gairah yang luar biasa. Kini mereka terkulai lemah tak berdaya.
Pagi harinya, Riana enggan keluar kamar karena dia malu kepada Aska.
"Sayang, ayo dong. Temani Abang sarapan," bujuk Aksa.
"Malu, Bang," jawab Riana.
Aksa duduk di samping sang istri . Dia mengusap lembut rambut Riana. "Dia sudah dewasa, dia juga pasti mengerti. Masa suami mau berangkat kerja gak diantar sampai depan pintu?"
Riana pun mengalah, tetapi dia seakan tidak mau melepaskan tangannya di lengan Aksa. Dia benar-benar malu karena teguran dari Aska semalam, sedangkan Aska malah acuh. Dia sama sekali tidak membahas masalah semalam. Riana hanya menunduk tak berani menatap Aska.
"Bang, Adek ikut ke kantor, ya."
Aksa yang tengah mengunyah makanan menatap tajam ke arah Aska.
"Mau ketemu Fahrani?"
"Enggak lah! Pengen tahu aja WAG grup itu aslinya seperti apa," jawab Aska.
Aksa hanya mengangguk. Setelah selesai sarapan, Aksa pamitan terlebih dahulu kepada sang istri. Kecupan hangat dia berikan di kening Riana.
"Abang berangkat, ya. Jangan keluar apartment. Jam makan siang kita makan di luar." Riana mengangguk, seraya tersenyum.
"Jangan nonjok-nonjok orang lagi," ucap Riana sambil memegang tangan sang suami.
"Iya, Sayang."
"Woiy! Cepetan Napa? Mata Adek udah sakit banget nih, udah kayak nonton drama romantis di tv," sungut Aska.
Aksa dan Riana pun terkekeh, Aksa mengecup kening Riana sekali lagi dan barulah dia pergi bersama sang adik.
Selama perjalanan, Aksa menaruh curiga kepada adiknya. Tidak biasanya Aska mau ke kantor keluarganya. Tempat itu adalah tempat yang sangat dia hindari.
"Punya tujuan apa kamu?" sergah Aksa kepada Aska.
"Gak usah suudzon," sahutnya santai.
Aksa mendengkus kesal karena ada yang aneh dari adiknya ini. Sedapat apapun rahasia yang Aska simpan, tetapi Aksa akan bisa membongkarnya juga.
Tibanya di sana, para karyawan menatap silih berganti ke arah Aksa dan juga Aska. Sangat serupa, tetapi beda penampilan. Aska yang sangat santai dan Aksa sangat rapi.
"Gak pernah lihat anak kembar kali," gerutu Aska.
Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Sedari tadi Aska sewot bagai anak ABG yang datang bulan. Ketika Aksa hendak menekan tombol lift, mata Aska melebar ketika dia melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian cleaning servis. Dia mengangguk sopan ke arah Aksa dan berlalu begitu saja dengan membawa sapu dan pengki.
"Mau masuk gak?" tanya Aksa, yang sudah berada di dalam lift. Mata Aska masih menatap ke arah perempuan tadi.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Jingga?" Aksa sudah bisa menebak isi kepala adiknya.
Aska tidak menjawab, dia masih bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Itu calon suamiku."
Kalimat itu yang masih terngiang-ngiang di kepala Aska sampai saat ini. Aska merasa Jingga tidak pantas bersanding dengan pria yang datang bersamanya ke pernikahan sang kakak. Pria arogan itu sangat tidak cocok untuk perempuan lembut seperti Jingga.
Pintu lift pun terbuka, di lantai di mana ruangan Aksa berada pun para karyawan memandang aneh ke arah mereka berdua. Ketika masuk ke dalam ruangan, Aska melihat ada Fahrani di sana.
"Selamat pagi, Pak," sapa Fahrani sopan kepada Aksa.
__ADS_1
Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Aksa.
"Lu gak nyapa gua?" goda Aska.
"Selamat datang ya ahli kubur," ucap Fahrani.
"Kampret!"
Aksa tertawa sedangkan Fahrani melenggang begitu saja meninggalakan Aska yang tengah emosi.
"Pecat deh Bang tuh perempuan," omel Aska.
"Atas dasar apa?"
Aksa masih meladeni ucapan Aska, dengan mata yang masih fokus pada lembaran kertas di atas meja.
"Kagak punya etika tuh orang," oceh Aska lagi.
"Gak punya etika hanya ke kamu doang."
Skakmat!
Ucapan Aksa mampu membuat Aska terdiam. Sangat menyebalkan abangnya ini. Aska duduk di atas sofa sambil memperhatikan sudut demi sudut ruangan direktur utama. Ruangan yang sungguh sangat nyaman. Apalagi, di belakang meja ada seorang pria gagah yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Kamu mau nyoba duduk di sini?" Suara Aksa memecah lamunan Askara.
"Makasih, kursi panas itu," jawabnya.
Pintu ruangan terbuka, Fahrani sudah membawa secangkir kopi untuk Aksa.
"Kopinya, Pak."
Aska berdecak kesal, dia menatap nyalang ke arah Fahrani.
"Anda mau saya bikinin kopi?" tanya Fahrani.
"Iyalah."
"Baik, nanti saya buatkan kopi campur sianida. Agar Anda cepat-cepat masuk neraka."
"Bang sat!" seru Aska.
Lagi-lagi Fahrani melenggang pergi. Dia membiarkan Askara si playboy tengik geram sendiri.
Aksa terkekeh kecil ketika melihat wajah adiknya memerah. Tangan Aska sudah mengepal keras menandakan dia sangat marah.
"Mau ngopi mah bikin aja ke pantry. Kalau gak pesan aja, biar nanti Abang yang bayar." Mulut Aksa berbicara, tetapi matanya masih fokus pada layar segiempat di hadapannya.
Ketika Aska sudah beranjak dari duduknya, pintu ruangan terbuka kembali. Christinalah yang masuk untuk membahas masalah kemarin karena Christian tidak bisa datang. Mata mereka sempat bertemu, tetapi Aska segera berlalu.
Langkah kaki Aska berhenti pada sebuah ruangan di atasnya terdapat bacaan pantry. Dia masuk begitu saja dan ada salah seorang cleaning service di sana.
"Mbak, bisa tolong buatkan kopi ...."
Perempuan itu menoleh, ucapan Aska pun menggantung. Apalagi dia tersenyum ke arah Aska.
"Mau kopi apa, Pak?"
Aska hanya terdiam, dia menatap intens wajah perempuan di depannya. Meskipun hanya memakai make up tipis, tetapi terlihat sangat cantik.
"Pak," tegur Jingga.
"Buatkan kopi tanpa gula," pintanya.
"Loh? Nanti pahit, Pak."
__ADS_1
Aska yang sudah menarik kursi untuk dia duduki hanya tersenyum.
"Minumnya sambil lihatin kamu, jadi rasanya akan manis."
Gombalan receh yang mampu membuat Jingga tertawa lepas. Kecantikannya sangat berkali lipat.
"Ya udah saya buatkan ya, Pak." Aska pun mengangguk.
Aska terus menatap punggung Jingga. Hatinya menghangat ketika mendengar suara Jingga. Apalagi di kantor ucapan Jingga sangat formal.
"Silakan diminum, Pak."
"Panggil Aska, karena aku bukan bapak kamu." Jingga pun tersenyum.
"Tidak sopan, bagaimana pun Anda adalah adik dari direktur utama," tutur Jingga.
"Kenapa kita gak bisa kayak dulu, Jigong?"
Jingga tersentak ketika mendengar nama panggilan khusus yang Aska berikan kepadanya ketika semasa SMA. Hanya Aska yang mau berteman dengan anak yang tidak menarik sepertinya. Namun, itu pun harus sembunyi-sembunyi.
"Aku masih Bang As kamu," terang Askara.
Jingga hanya terdiam, dia menatap intens manik mata Aska.
"Dari dulu ... kita sudah beda kasta Bang As. Kamu anak populer dan aku ...."
Aska meraih tangan Jingga dan mampu membuat Jingga tersentak.
"Dari dulu aku menganggap kamu spesial. Hanya saja kamu tidak menyadari itu."
Hingga tertegun mendengar ucapan dari Aska. Mata mereka terus saling pandang.
"Kamu mau 'kan kita dekat seperti dulu lagi. Aku sungguh merindukanmu, Jigong."
"Jangan percaya sama cowok modelan kadal Empang begitu," ujar seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam pantry.
Jingga dan Aska menoleh secara bersamaan. Ternyata Fahrani yang baru saja masuk. Di belakanganya ada perempuan cantik berwajah sendu.
"Ini salah satu korbannya," tunjuk Fahrani ke arah Christina.
Jingga segera menghempaskan tangannya yang digenggam Aska.
"Maaf, saya tidak ingin ikut campur masalah kalian." Jingga memilih pergi, dan Aska pun ikut bangkit dari duduknya.
Amarahnya sudah memuncak. Dia menatap nyalang ke arah Fahrani.
"Mau lu apa?" sergah Aska.
"Gua gak mau apa-apa," tantang Fahrani.
"Kalau lu suka sama gua bilang. Cara lu untuk dapat perhatian dari gua sungguh menjijikan," geram Aska ke arah Fahrani.
"Dan lu," tunjuk Aska ke arah Christina.
"Lu salah milih orang untuk diminta bantuan. Perempuan gila di samping lu itu adalah perempuan yang menyimpan hati sama gua. Hanya saja dia bisa menutupi semuanya dengan sifat absurb-nya."
Aksa berlalu begitu saja dan dia lebih memilih untuk mencari Jingga.
...****************...
Maaf ya, Up-nya sekarang jamnya gak tentu. 🙏
Semoga ke depannya bisa up seperti dulu lagi.
Jangan lupa komen biar aku semangat
__ADS_1