Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Sakit Lagi


__ADS_3

Rasa sakit di perut Riana mulai terasa. Namun, dia bersikap biasa saja karena dia tidak ingin suami beserta ibu mertuanya panik.


"Nak, kalau mau lahiran normal sakitnya kurangin, ya. Jangan Sampai ketahuan Mimo dan Pipo karena mereka akan membatalkan keinginan Mommy melahirkan kamu secara normal."


Rasa sakit di perut Riana pun sedikit demi sedikit mulai menghilang. Anak itu seperti mengerti apa yang diucapkan oleh ibunya. Untung saja wajah meringis Riana tidak dilihat oleh suami juga mertuanya. Jika, itu terjadi sudah pasti persalinannya akan dipercepat.


"Vitamin serta obat khusus untuk kamu sudah dibawa, Ri?" Mertua Riana yang satu ini adalah mertua idaman. Dia sungguh memperhatikan keperluan Riana juga sang calon cucu


"Sudah, Mom. Susu ibu hamil juga sudah dibawa." Riana memaksakan untuk tersenyum, padahal perutnya masih sedikit sakit.


Ketika malam tiba, kebiasaan Aksa selama Riana hamil besar yaitu tidur menghadap ke perut buncit sang istri. Tangannya melingkar erat di atas sana. Malam ini, Riana tidak bisa tidur karena perutnya mulai terasa sakit kembali. Dia masih memegang gawai di tangannya. Mencari tahu perihal kontraksi serta persalinan.


"Semoga hanya kontraksi palsu."


Ketika berada di pesawat, Riana merasakan perutnya sakit kembali. Padahal setelah rasa sakit yang semalam dia derita , rasa sakit itu sudah mulai menghilang. Pagi ini malah muncul lagi.


"Kenapa, Sayang? Gak nyaman?" tanya Aksa. Dia sangat melihat Riana yang duduk bagai orang gelisah dan seperti orang yang menahan sakit. Riana hanya mengangguk pelan.


"Abang bilang apa 'kan, harusnya kita naik pesawat pribadi aja. Itu 'kan buat kenyamanan kamu juga calon anak kita," omelnya.


Mata Riana berkaca-kaca mendengar Omelan sang suami membuat Aksa meraih tangan Riana dan menariknya ke dalam pelukannya. "Maafkan Abang, Sayang."


"Andai Abang tahu ... mata Ro berkaca-kaca bukan karena Abang, tetapi karena rasa sakit yang sedang Ri rasakan."


Anehnya, dekapan hangat Aksa mampu membuat rasa sakit itu perlahan mereda. Riana pun bisa tertidur pulas selama mengudara.


Tibanya di Singapura, mereka berdua dijemput oleh Askara. Pelukan hangat dan penuh rindu Aska berikan kepada sang Abang. Dua pria ini tidaklah seperti wanita yang mampu meluapkan rasa rindu mereka secara gamblang.


"Jiir, makin seksi banget lu, Ri," goda Aska. Pukulan di punggung pun Aska rasakan, siapa lagi jika bukan Aksa yang berulah. Abangnya itu dapat mengerti ucapan dari adiknya itu. Ada dua gunung gede yang semakin menggede. Itulah yang terkadang membuat Aksa tergoda dan semakin bernafsu teehadap istrinya.


"Canda, Bang," kekeh Aska.


Riana hanya tertawa sambil menahan rasa sakit yang kadang ada dan kadang pergi. Mereka menuju sebuah apartment mewah. Tempat di mana mereka bertiga bisa beristirahat.


"Ini kamar kedap suara 'kan ya," ujar Aska seraya menggoda Aksa.


"Ba Jing!"


Aska pun tergelak, inilah yang dia rindu dari seorang Aksara yang selalu sensitif jika menyinggung hal-hal yang berbau sensitif.


"Bang, Ri istirahat dulu, ya." Aksa pun mengangguk dan mengecup kening istrinya terlebih dahulu sebelum Riana masuk ke dalam kamar.


Rasa iri itu kembali hadir di hati Aska. Sudah dua bulan ini dia hanya melihat kertas putih berisi tulisan yang memusingkan juga laptop yang berisi laporan yang membagongkan. Kini, dia disuguhkan dengan adegan dua puluh satu plus plus lagi. Rindu. sudah pasti.


"Barangnya biar Abang aja yang masukin nanti." Riana pun mengangguk patuh.

__ADS_1


Dua anak kembar ini memilih untuk berbincang di sofa. Aksa sudah menatap Aska dengan tajam.


"Are you okay?" tanya Aksa tiba-tiba. Aska pun menoleh. "Atau hanya pura-pura oke," lanjutnya lagi.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska. "Baru juga dua bulan, Bang," balasnya.


"Gua udah bilang 'kan kalau gua itu gak akan bisa melupakan dia, tapi gua sedang mencoba mengikhlaskan dia," jelas Aska.


"Lu masih inget dia 'kan?" Aska pun mengangguk.


"Gua terlalu menyimpan cinta yang besar untuk dia," lirih Aska.


"Apa Kakek gak ngenalin cewek ke lu?" Aska menatap sang abang jengah.


"Mana ada Kakek begitu-begituan. Malah Kakek nyamain gua sama kelakuan Daddy," oceh Aska. Aksa pun tertawa mendengar cerita sang adik.


"Kagak usah ketawa lu! Nasib istri lu juga sama kayak nasib Daddy. Nunggu dudanya orang lain," tambah Aska.


"Bang Ke!"


Canda tawa yang sudah dua bulan ini hilang akhirnya hadir kembali. Mereka berdua banyak bercerita perihal masalah pekerjaan. Aska yang meminta ilmu serta bimbingan kepada sang Abang dan Aksa yang selalu mengayomi dan tak pernah lelah mengajari Askara perihal bisnis yang sesungguhnya.


"Lu istirahat dulu mending, jam tiga ini ke acaranya." Aksa pun mengangguk. Di Singapura ini memang sedang ada event besas khusus para pengusaha muda. Esok siangnya ada rapat penting dengan petinggi-petinggi WAG Grup dari berbagai belahan negara.


"Sayang, kamu sakit?" Suara panik Aksa mampu membuat Riana membuka mata. Dia menggeleng dengan ringisan pelan.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Aksa.


"Sakit," ringis Riana.


Aksa pun panik dan hendak meminta bantuan kepada Aska, tetapi Riana mencekalnya. "Mungkin hanya kontraksi palsu, Bang," ujar Riana.


Tangan Aksa Riana raih dan diletakkan di atas perutnya. "Bilang ke anak kita jangan buat Mommy sakit," pintanya.


Aksa pun menuruti apa yang dikatakan oleh Riana dan rasa sakit itu sudah tidak sesakit yang tadi Riana rasakan. Senyum pun mengembang di wajah Riana.


"Udah gak sakit?"


"Masih, tapi sedikit." Aksa bisa bernapas lega dan dia memeluk tubuh istrinya. "Nak, jangan nakal dong. Jangan buat Daddy sport jantung."


Riana pun terkekeh mendengar ucapan Aksa. Tidak dipungkiri dia melihat langsung betapa khawatirnya wajah Aksa.


"Kita tidur, ya." Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana.


Riana merasa saat ini mereka sudah tidur bertiga dengan sang buah hati. Dia merasa sudah sangat dekat dengan anak yang ada di dalam kandungannya.

__ADS_1


"Apa aku akan segera melahirkan?"


Batinnya terus menerka-nerka. Dia tidak ingin semakin stress dan akhirnya memilih memejamkan mata.


.


Selama menghadiri acara Aksa merasa sangat tidak tenang karena meninggalakan istrinya di apartment sendirian. Bukan sendirian, tetapi dengan para pengawal yang berada di luar apartment. Dia juga terus memantau sang istri yang sedari tadi mondar-mandir berjalan kecil. Ada sedikit ketakutan karena dia pernah dengar cara itu untuk mengurangi kontraksi.


Waktu seakan lambat sekali berputar. Aksa ingin segera pulang apalagi melihat Riana yang tengah meringis di ranjang tempat tidur. Aska yang melihat kepanikan di wajah sang Abang hanya menyenggol lengan Aksa dan tatapan tajam yang menjadi jawaban.


"Riana."


Aksa mengerti maksud dari ucapan Aksa. Setelah acara selesai mereka bergegas pulang ke apartment. Aksa segera masuk ke dalam kamar dan terlihat istrinya sebagai memejamkan mata di sofa. Peluh terlihat menghiasi dahinya.


"Sayang," panggil Aksa sangat pelan. Riana mencoba membuka matanya dan tersenyum ke arah sang suami.


"Udah pulang?" Aksa hanya mengangguk. Tanpa aba-aba Aksa segera menggendong tubuh Riana hingga dia menjerit.


"Abang, kenapa?"


"Kita ke rumah sakit sekarang," jawab Aksa dengan wajah paniknya. Melihat Riana hendak menimpali ucapan sang suami Aksa pun menatap Riana dan berkata dengan sangat tegas, "tidak ada bantahan."


Riana hanya mengembuskan napas kasar dan mengikuti kemauan suamimu meskipun dalam hatinya sangat dongkol. Ternyata di parkiran sudah ada Aska yang menunggu mereka membuat Riana semakin kesal.


"Lu udah hubungi dokter kandungan terbaik 'kan." Aska pun mengangguk.


"Gak usah lebay deh. Udah gak sakit lagi," ujar Riana.


"Pokonya kamu harus periksa!"


Suara Aksa sedikit meninggi membuat hati Riana sedikit sakit. Riana pun hanya terdiam dan menatap jalanan melalui kaca jendela mobil.


"Sayang," panggil Aksa di tengah perjalanan. Namun, Riana bergeming. Dia tidak menoleh sedikit pun.


"Ribet urusan sama cewek ngambek mah," gumam Aska seraya fokus ke jalanan.


Aksa terus membujuk Riana, tetapi Riana masih membungkam mulutnya dengan sangat rapat. Hingga mobil berhenti di lampu merah dan Aksa semakin membujuk Riana.


Pandangan Riana tertuju pada satu sosok wanita dan dia tidak mengindahkan suaminya yang terus berusaha membujuknya. Wanita dengan rambut sebahu dan badan sedikit berisi.


"Jingga!"


...****************...


Komen atuh!

__ADS_1


__ADS_2