Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Trauma


__ADS_3

"Jingga."


Ucapan pelan Riana mampu didengar oleh Aksa. Dia menatap ke arah pandangan sang istri. Dahinya mengerut melihat wanita yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


"Bang, Ri ...."


"Tidak!"


Riana menatap sendu ke arah sang suami. Matanya sudah nanar, juga bola matanya sudah memerah.


"Kita pernah berada di posisi mereka, Bang. Apa Abang tidak kasihan?" tanya Riana dengan nada yang sangat lemah.


Aksa pun terdiam, dia masih memandang wajah istrinya yang terlihat pilu.


"Lihatlah dia, Bang! Dia sangat berubah. Tandanya dia juga tertekan," lirih Riana.


Aksa sudah berjanji kepada Aska untuk tidak mencari tahu perihal Jingga. Aska ingin melupakan Jingga sepenuhnya.


"Ri, mohon Bang," pintanya.


Akhirnya Aksa mengangguk kecil. Dia mengijinkan Riana untuk mengahampiri Jingga, tapi dia juga ikut serta.


"Jangan nangis."


Aksa mengusap lembut air mata yang sudah menganak di pelupuk mata istrinya. Dia juga tak segan mengecup kening Riana di muka umum.


Riana dengan sedikit menarik tangan Aksara menghampiri Jingga.


"Jingga."


Wanita yang tengah termenung dengan tatapan kosong itu menoleh. Senyum indah terukir dari wajah orang yang dia kenali. Namun, seketika Jingga menundukkan kepala karena melihat tatapan membunuh dari Aksara.


"Maafkan saya."


Kalimat yang terdengar penuh Dengan penyesalan. Terlihat, air matanya menetes ke atas paha Jingga.


"Kami ke sini tidak untuk menghakimi kamu," ucap Riana dengan sangat lembut. Dia juga mengusap pundak Jingga, membuatnya memberanikan diri menegakkan kepala.


"Bang."


Riana memanggil suaminya dan meminta ruang untuk berbicara berdua dengan Jingga. Dia merasakan bahwa Jingga sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Aksa.


"Bicaranya di apartment saja."


Aksa sudah bangkit dari duduknya dan juga sudah menggenggam tangan Riana. Jingga tidak bisa berkutik. Dia hanya menunduk dalam dan mengikuti apa yang diperintahkan Riana.


Riana terus bersungut-sungut di perjalanan ke arah apartment karena Jingga tidak ikut bersamanya. Malah, dipesankan ojek online oleh sang suami.


"Kenapa sih Abang gak ada manis-manisnya sama teman, Ri?"


Riana benar-benar kesal karena Aksa akan memasang wajah garang jika bertemu dengan orang lain.


"Abang bukan iklan air mineral." Dalam kondisi seperti ini masih saja Aksara bercanda. Istrinya sedang marah kepadanya. Bukannya menenangkan malah semakin membuat emosi Riana meletup-letup.


Ocehan Riana bagai kecepatan angin. Namun, tidak Aksa dengarkan juga. Sudah biasa jika sang istri seperti ini.

__ADS_1


"Kenapa juga Jingga gak diijinkan berangkat bersama kita. Malah mengikuti kita dengan ojek online di belakang?" Riana masih bersungut-sungut.


"Biar dia gak tahu kalau istri Abang itu aslinya cerewet. Kecepatan omelannya seperti kekuatan Boboiboy angin."


Tangan Riana mencubit pinggang Aksara sehingga Aksa mengaduh kesakitan. "Sayang, Abang lagi nyetir ini," ucap Aksa.


Riana melepaskan cubitannya di perut Aksara. Namun, wajahnya masih ditekuk dengan tangan dilipat di atas dada.


"Nak, jangan tiru sifat Mommy kamu, ya," gurau Aksa.


"Abang!" pekik Riana.


Aksa pun tertawa, dia meraih tangan istrinya. Kemudian, mengecupnya dengan penuh cinta.


"Jangan ngambek terus. Nanti kecantikan Nyonya Aksara hilang."


Tibanya di apartment, Aksa berjalan dengan menggenggam erat tangan Riana, sedangkan Jingga mengikuti mereka dari belakang. Tak ada obrolan di antara mereka karena Riana dan Jingga sama-sama takut melihat sikap dingin Aksara.


Ketika Jingga masuk ke dalam unit apartment Riana, dia sangat terkesima dengan interior apartment itu. Jingga hanya menggelengkan kepala karena takjub.


"Abang ke ruang kerja dulu, ya."


Tak malu Aksa mencium kening Riana di depan Jingga.


"Mau dibuatkan kopi?" tawar Riana.


"Abang ingin kopi kemasan saja." Riana mengangguk. Dia dan suami pergi ke dapur dan mengambil kopi kemasan yang diinginkan sang suami. Dia juga mengantarkan Aksa ke ruang kerjanya.


"Ri, bicara dulu sama Jingga, ya." Sebelum pergi meninggalkan ruangan sang suami, dia mengecup bibir Aksa terlebih dahulu.


Aksa tersenyum dan membalasnya, "love you, too."


Riana menghampiri Jingga yang masih duduk termenung. "Kenapa melamun?" tanya Riana. Jingga hanya tersenyum pahit.


"Selamat ya, atas pernikahan kamu," ucap Riana dengan sangat tulus.


"Aku benci dengan ucapan itu, Mbak."


Riana terkejut mendengar ucapan Jingga. Dia memandang wajah Jingga yang terlihat lebih tirus.


"Aku tidak ingin menikah dengan pria itu," ujarnya. Tatapannya sangat kosong. "Aku tidak mencintainya," lanjutnya lagi.


Riana segera memeluk tubuh Jingga. Dia merasakan banyak hal yang Jingga pendam sendirian. Banyak juga perubahan pada dirinya.


"Kenapa bisa terjadi?"


Pertanyaan Riana membuat Jingga mengurai pelukannya. Menatap Riana dengan sorot mata penuh luka. Dia hanya menggelengkan kepala. "Itu sangat cepat," ucapnya pelan. "Aku sendiri pun tidak mengerti," lirihnya.


Jingga menunduk dalam. Bulir bening yang dia tahan sudah tak mampu dibendung lagi. Pundaknya bergetar hebat.


"Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini, Mbak? Apa aku gak pantas bahagia?"


Hati Riana teriris mendengar ucapan dari Jingga. Tangannya mencoba mengusap lembut pundak Jingga. Menenangkan Jingga dari segala rasa yang ada di dada.


"Aku ingin mati saja, Mbak. Dunia terlalu jahat kepadaku. Lebih baik aku pergi menyusul Bunda."

__ADS_1


Riana segera memeluk tubuh Jingga. Dia merasakan kesakitan yang Jingga rasakan. Dia juga merasakan betapa terlukanya batin Jingga.


"Ketika aku yakin dengan perasaanku. Semesta seakan tidak berpihak dan memberiku takdir buruk seperti ini," terangnya lagi.


"Sebagai manusia biasa aku kecewa, aku sedih," ucapnya sangat mengiris hati.


"Ya Tuhan, kesakitanku dulu seakan hanya seujung kuku dibandingkan dengan kesakitan Jingga sekarang ini."


"Hidupku seperti mengambang, tak menginjak bumi. Andaikan Tuhan mau mengabulkan doaku, aku ingin mati saja. Biar aku tenang dan tak dibayangi rasa bersalah terus menerus," ungkapnya.


"Jingga, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tuhan memberikan cobaan ini pasti memiliki maksud dan tujuan. Kamu jangan pernah mendahului takdir Tuhan." Nasihat Riana kepada Jingga.


Jingga menatap intens wajah Riana. Dia tersenyum ke arah wanita cantik di sampingnya itu.


"Nasihat Mbak emang benar, tetapi kalau Mbak ada diposisiku belum tentu Mbak bisa menghadapi semuanya." Senyum perih terukir di bibir Jingga.


"Sesulit-sulitnya Mbak, sejatuh-jatuhnya Mbak, Mbak masih punya keluarga yang bisa dijadikan sandaran. Ada keluarga yang menjadi tempat untuk Mbak pulang, sedangkan aku? Hanya sebatang kara. Mau mengeluh kepada siapa? Mau bersandar di pundak siapa? Tubuhku terlalu lemah ketika harus diuji dengan cobaan seperti ini, Mbak."


Riana tidak bisa berkata. Wajah tirus Jingga menandakan dia memang sangat tersiksa dengan pernikahannya. Raut wajahnya pun menandakan bahwa dia sangat tidak bahagia.


Jingga menatap lurus ke depan. Otaknya terus mengulang memori yang menyakitkan. Darah berceceran dengan tubuh ibunya yang tergeletak di aspal, seprei berdarah, akad nikah dan darah yang keluar dari kewanitaannya. Tangan Jingga sudah menjambak rambutnya.


"Aku sudah kotor, Bunda. Kotor!" teriaknya. Riana sedikit terlonjak melihat Jingga seperti ini.


Jingga terus berteriak, Aksa segera keluar dari ruang kerjanya dan melihat Jingga seperti wanita tak waras. Riana yang hendak memeluk tubuh Jingga pun dilarang oleh Aksa.


"Jangan, Sayang!" cegahnya.


Aksa segera menarik tangan Riana agar menjauhi Jingga. Sungguh Riana bingung dengan sikap sang suami.


"Dia akan mengamuk. Abang gak mau anak kita di dalam sini terkena imbasnya," ucap Aksa, seraya mengusap lembut perut Riana.


"Lalu bagaimana?" Riana bingung sekaligus kasihan melihat Jingga terus berteriak dan menangis. Tangannya menarik rambutnya sendiri.


Aksa sudah menghubungi pihak medis juga psikiater untuk datang ke apartmentnya. Memeriksa tubuh Jingga yang memang sangat memprihatinkan.


"Trauma terdahulu yang dialami pasien ini saja belum sembuh. Sekarang, sudah ditimpa dengan trauma baru. Untung saja psikisnya kuat, kalau tidak dia bisa gila."


Penjelasan dari seorang psikiater membuat Aksa dan Riana terlonjak. Mereka berdua saling pandang.


"Dia sudah diberi obat penenang. Dia akan tidur tenang malam ini," terangnya lagi.


"Pasien memiliki mag kronis. Lambungnya sudah luka," ucap seorang dokter.


Aksa menghela napas kasar. Ketika dia ingin menikmati waktu bersama sang istri disela tugasnya di Jogja, ada saja masalah yang harus dia hadapi.


Setelah dokter dan psikiater pulang, Aksa menghubungi seseorang melalui teleponnya.


"Ke Jogja sekarang! Tiket udah gua beliin."


"Ngapain?"


"Ke sini atau lu akan nyesel karena gak mau nurutin ucapan gua."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2