
"Tatap wajah dia dari dekat! Dari situ lu akan tahu semuanya."
Aksa menepuk pundak Aska dan meninggalkannya. Dia memilih masuk ke dalam kamar di mana sang istri sudah terlelap. Aksa membiarkan Aska merasakan kepedihan wanita yang dia sayangi.
Lima menit sudah Aska masih mematung di tempatnya. Menatap tubuh Jingga yang terbaring di atas tempat tidur.
"Kenapa lu ngejebak gua, Bang? Kapan gua bisa lupain dia?"
Batin Aska mengerang dengan sangat kencang. Ketika dia ingin melupakan, malah dia didekatkan. Bagaimana Aska bisa melupakan Jingga? Bagaimana Aska bisa melepaskan Jingga dengan mudah?
Setelah hatinya bergelut dengan egonya. Akhirnya, dia memutuskan untuk mendekat ke arah Jingga. Duduk di bibir tempat tidur di mana Jingga berada. Aska tersenyum. tetapi senyum yang penuh dengan luka.
"Apa kamu bahagia?" ucapnya pelan.
Tangannya sudah mengusap lembut rambut Jingga. Dahi Jingga yang berkerut membuat Aska mengiba. Dia melihat ke atas nakas. Ada obat yang sepertinya Jingga konsumsi. Mata Aska pun melebar.
"Ini 'kan--"
Aska hendak ke kamar sang Abang menanyakan semuanya. Namun, suara Jingga membuatnya mengurungkan niat.
"Jangan pergi, Bang As!"
Suara itu terdengar sangat lemah. Aska menoleh ke arah Jingga yang masih terpejam, tetapi mulut merancau.
Sakit dan perih hati Aska mendengarnya. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Begitulah batin Aska.
"Apa kamu bahagia?" tanya Aska dengan sangat pelan. Dia menggenggam tangan Jingga dan mengecupnya dengan penuh penghayatan.
"Apa aku harus menjadi perusak rumah tangga kamu dengan sahabatku sendiri?"
Pertanyaan yang sangat lirih yang keluar dari mulut Aska. Matanya tak berhenti memandangi wajah Jingga yang terlihat sangat tirus.
Waktu terus bergulir, tetapi Aska masih betah memandang wajah Jingga.
"Hati aku sangat sakit menghadapi kenyataan pahit ini," ucap Aska, seraya meletakan punggung Jingga di pipinya.
"Sampai sekarang, kamu masih ada di dalam hatiku. Kamu masih memiliki tempat yang istimewa dalam hati aku."
Tes.
Bulir bening membasahi wajah Aska. Inilah sisi terapuhnya. Tetesan air mata itu menandakan Aska sudah terluka sangat dalam. Dipecundangi oleh semesta itu sangat menyakitkan.
"Andai kamu menerima cintaku, semua ini tidak akan terjadi, Jingga. Mungkin, aku bisa lebih menjaga kamu," lirihnya.
Kalimat demi kalimat yang terdengar sangat menyayat hati. Aska berubah menjadi pria melow sekarang ini.
Tangan Aska masih menggenggam pembungkus obat yang Jingga konsumsi. Dia hapal obat apa itu.
"Apa separah ini?" gumamnya.
Ketika jam lima pagi, Aska memutuskan untuk keluar dari kamar tamu. Dia memilih untuk pergi dari apartment milik Aska. Dia tidak ingin terlihat oleh Jingga. Dia juga tidak ingin melihat Jingga menangis.
Sebelum pergi Aska mengecup kening Jingga dengan sangat dalam dan lama. Bulir bening dari pelupuk matanya menetes di dahi Jingga.
"Maafkan aku," lirihnya.
Riana bangun terlebih dahulu, dia segera memeriksa Jingga. Ternyata sahabatnya itu masih terlelap. Dia menghela napas lega. Ketika dia menutup pintu kamar Jingga, dia dikejutkan oleh sang suami.
"Aska ada di dalam?" Dahi Jingga mengerut mendengar pertanyaan sang suami.
"Emang Kakak ke sini?" Aksa mengangguk.
"Enggak ada."
Tubuh Aksa sekarang menegang, dia kembali ke kamar dan segera menyambar ponsel miliknya. Menghubungi adiknya terus menerus, tetapi tidak ada jawaban. Aksa mengerang frustasi.
"Ada apa, Bang?" tanya Riana.
"Aska gak bisa dihubungi."
Raut khawatir terlihat jelas di wajah Aksara. Dia takut terjadi apa-apa dengan adiknya itu.
Ting!
"Saya dapat tamu tak diundang yang kurang ajar."
__ADS_1
Sebuah pesan gambar yang dikirimkan oleh Fahri. Di sana terlihat Aska sudah terlelap dengan posisi tengkurap. Aksa bisa bernapas lega.
"Biaya sewa kosan kami bulan ini saya yang bayar." Pesan balasan yang dikirimkan oleh Aksa kepada Fahri. Fahri pun bersorak gembira.
"Sering-sering aja lu nginep di sini, Nyuk," gumamnya pelan ke arah Aska.
Jingga sudah terbangun dari tidurnya. Dia mencari sosok pria yang semalam hadir di dalam mimpinya. Pria yang sangat dia rindukan.
"Bang As," gumamnya.
Air matanya menetes begitu saja. Semalaman dia merasa ditemani oleh Aska. Tangannya dikecup dengan penuh cinta, rambutnya diusap dengan penuh sayang juga keningnya dikecup dengan sangat lama.
"Apa aku hanya berhalusinasi?"
Di meja makan, Aksa mewanti-wanti kepada sang istri untuk tidak menceritakan kedatangan Aska kepada Jingga. Dia takut, Jingga akan membenci Aska.
"Iya, Bang."
Riana tidak akan pernah membantah ucapan suaminya. Dia ingat pesan sang kakak bahwa seorang istri harus patuh kepada suami. Apalagi di jalan kebaikan.
Mereka berdua menuju meja makan. Di mana hanya ada roti juga berbagai jenis selai. Aksa bukanlah suami yang banyak mau. Apapun yang istrinya sajikan pasti dia santap.
"Ri, lihat Jingga dulu, ya. Kalau udah bangun, Ri ajak sarapan bareng." Aksa mengangguk.
Riana segera masuk ke kamar Jingga. Bibirnya tersenyum ketika Jingga sudah terbangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Sarapan yuk," ajak Riana. Jingga menggeleng.
Riana duduk di tepian tempat tidur. Dia mengusap lembut lengan Jingga.
"Lambung kamu udah luka. Jadi. kamu harus sarapan dan jangan telat makan." Riana menasihati Jingga. Jingga sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
"Hatiku lebih terluka, Mbak."
Sanggahan dari Jingga membuat Riana tidak bisa berkata.
"Lambungku sudah terbiasa sakit. Aku sudah terbiasa hanya makan satu kali dalam sehari. Malah, sudah sebulan ini aku tidak tahu bagiamana rasanya nasi."
Mulut Riana seketika kelu mendengar penuturan dari Jingga. Hatinya meringis perih.
Jingga hanya tersenyum mendengar ucapan dari Riana. "Aku yang tidak ingin diurus oleh dia. Aku lebih baik mati, Mbak. Dari pada menahan derita yang berkepanjangan ini," tutur Jingga.
"Ya Allah, Jingga." Riana memeluk tubuh Jingga dengan sangat erat.
"Aku kira keluar dari kandang buayĆ bisa bahagia. Pada nyatanya ... aku malah masuk kandang harimau," lirih Jingga.
"Kenapa aku harus dilahirkan, jika akhirnya aku selalu mendapat kesakitan? Aku lelah, Mbak. Lelah."
Isi hati Jingga yang sesungguhnya. Suara hati seorang anak sebatang kara yang membutuhkan sandaran untuk setiap masalah yang dia hadapi.
"Kamu gak boleh berbicara seperti itu, Jingga," larang Riana.
"Aku sudah berada dititik di mana aku menyerah. Mengangkat kedua tanganku ke atas kepala. Aku sudah tidak sanggup lagi menjalani semua ini. Aku sudah tidak sanggup menerima kesakitan lagi dan lagi. Aku tidak sanggup, Mbak."
Lelehan air mata membasahi punggung Riana. Jingga benar-benar menangis dan mengutarakan isi hatinya yang sesungguhnya kepada Riana. Riana mulai mengurai pelukannya, dia mengusap lembut air mata Jingga.
"Anggap aku keluarga kamu, Jingga. Aku sangat bahagia bisa mengenal kamu."
Ucapan itu terdengar sangat tulus di telinga Jingga. Dia menatap manik mata indah Riana yang tidak berdusta.
"Aku tidak memiliki adik perempuan. Maukah kamu menjadi adik Perempuanku?"
Air mata Jingga meleleh lagi dan lagi. Baru kali ini ada orang yang sangat baik yang mau menerimanya dengan tulus. Apalagi dengan ketidak warasan yang terkadang hadir pada dirinya.
Aksa yang hendak memanggil istrinya malah mematung di tempatnya, mendengar percakapan dua orang wanita di dalam. Aksa memilih untuk masuk ke ruang kerja. Dia bersandar di kursi kebesarannya dengan mata yang terpejam.
"Ketika trauma hadir, harusnya keluarga yang selalu mendampingi dan juga bisa menyembuhkan," gumamnya.
Aksa pernah berada di fase seperti Jingga. Hampir gila, begitulah Aksa. Namun, Aksa bisa pulih karena orang terdekatnya selalu mendukung dan juga selalu ada untuk Aksa. Tak pernah meninggalkan Aksa barang sedetik pun.
Aksa termenung untuk sesaat. Kemudian, dia beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang kerja. Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar tamu. Kedua wanita itu pun menoleh. Namun, Jingga tidak berani untuk menatap ke arah Aksa. Tatapan Aksa selalu memuatnya merasa semakin bersalah.
"Sarapan dulu yuk, Sayang."
Riana tersenyum dan mengangguk. Dia juga mengajak serta Jingga. Lagi-lagi Jingga menolak.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mengganggu, Mbak dan juga Pak direktur utama." Begitulah katanya.
Riana tidak bisa memaksa. Dia mengikuti kemauan Jingga. Riana pun memilih untuk keluar dan sarapan bersama sang suami tercinta.
"Sayang, setelah sarapan ajak Jingga keluar, ya."
Dahi Riana mengkerut tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aksa.
"Bukannya Ri gak boleh keluar sendirian?"
Kalimat itulah yang menjadi alarm mematikan untuk Riana. Aksa melarang Riana pergi sendirian di manapun.
"Sama Abang juga, Sayang." Riana pun mengangguk.
"Mau ke mana?" tanyanya lagi.
"Nanti juga kamu tahu." Jawaban misterius yang selalu keluar dari mulut Aksa.
Riana menatap jengah ke arah sang suami, tetapi Aksa malah tertawa dan mencubit gemas pipi istrinya.
"Kalau kamu dan Jingga sudah siap, panggil Abang, ya."
Aksa beranjak dari ruang makan, tak lupa mencium kening sang istri sebelum dia masuk ke ruang kerja. Dia juga mengambil kopi kemasan yang berada di lemari pendingin.
Riana terus memaksa Jingga, dia juga tidak mengatakan bahwa akan pergi bersama Aksara. Sudah pasti Jingga akan menolak.
"Ayolah, Jingga. Anak di perut aku ingin jalan-jalan sama kamu," rayu Riana.
Jingga seketika menatap ke arah perut Riana yang sudah membukit. Riana menarik tangan Jingga dan meletakkannya di atas perutnya.
"Kamu merasakan pergerakannya 'kan? Calon keponakan kamu ingin jalan-jalan bersama kamu."
"Calon keponakan."
Seketika hati Jingga menghangat, dia pun mengangguk. Menyetujui permintaan Riana. Riana tidak memanggil sang suami. Dia menyuruh suaminya untuk menunggu di mobil.
Ketika tiba di parkiran bawah apartment, Riana sudah membukakan pintu penumpang belakang untuk Jingga. Di dalam mobil itu ternyata ada Aksa. Jingga enggan masuk, tetapi Riana tetap memaksa.
"Dia udah jinak," bisik Riana kepada Jingga.
Akhirnya, Jingga menuruti permintaan Riana. Sama halnya dengan Riana yang sudah duduk manis di samping sang suami.
"Telinga aku masih bisa dengar apa yang kamu bisikkan tadi."
Riana melirik ke arah Aksa. Wajah suaminya datar bak triplek bangunan. Riana hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi sang suami.
"Canda, Abang Sayang," ucap Riana. Namun, Aksa masih terdiam.
"Jangan ngambek dong," katanya lagi.
Melihat suaminya seperti patung bernapas membuat Riana malah terkekeh. Dia segera mengecup pipi Aksa. Tak dia pedulikan ada Jingga di bangku belakang.
"Kurang," sahut Aksa. Riana pun tertawa.
Melihat kemesraan dua orang di depannya membuat Jingga memalingkan wajah ke arah jendela.
"Aku ingin seperti itu juga, Tuhan."
Dahi Riana mengkerut ketika mobil yang dibawa Aksa berhenti di sebuah tempat yang sangat Riana kenali. Dia menatap ke arah Aksa. Tidak ada reaksi apapun dari suaminya.
Mereka bertiga turun dari mobil. Seperti biasa, Aksa menggenggam tangan istrinya. Mata Jingga melebar ketika melihat Fahri sudah menyambut mereka.
"Silakan masuk, Pak Bos, Ibu Bos."
Aksa dan Riana masuk terlebih dahulu. Jingga yang masih mematung pun diajak masuk oleh Fahri. Jingga terus mengikuti ke mana langkah Aksa juga Riana membawanya. Dahi Jingga mengerut ketika dia melihat Aksa menekan gagang pintu sebuah kamar.
Aksa dan Riana mundur pelan dan membiarkan Jingga melihat siapa yang ada di dalam.
"Coba pandangi wajahnya yang tengah terlelap," titah Aksa. Jingga pun menegang.
"Hargai dia yang sudah berjuang, tetapi dia yang harus terlebih dahulu pulang karena sebuah kemalangan."
Jleb.
...****************...
__ADS_1
Komen atuh ...