Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tanpa Disadari


__ADS_3

"Mommy ... Adek pengen kawin!" teriaknya di dalam hati.


Mana mungkin Aska berani berteriak di depan dua singa betina, yang ada dia akan dikeroyok dan dicakar tanpa ampun.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ayanda, Echa juga Radit memilih untuk kembali ke rumah, sedangkan Aska memilih untuk tidur di rumah sakit.


"Bukannya pulang lu," usir Aksa. Aska mendengkus kesal mendengar usiran sang Abang. Dia tahu, sedari tadi abangnya ingin bermesraan dengan Riana. Kehadirannya pun cukup mengganggu kegiatan kembarannya tersebut.


Namun, Aska tetap bersikap biasa malah mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Gak mungkin 'kan lu main kuda-kudaan di sini," sindir Aska.


Aksa hanya menatap sang adik dengan tatapan tajam sekaligus kesal. "Lu mending cepet kawin dah, biar gak ganggu gua mulu," sungut Aksa. Adiknya pun terkekeh mendengar ucapan sang Abang.


"Masalah kawin mah gampang. Tinggal masukin pisang gua ke dalam goa kenikmatan. Selesai deh," balas Aska. Aksa mencebikkan bibirnya.


"Masalahnya gua belum bisa naklukin hati wanita yang nantinya akan menjadi ibu dari calon anak-anak gua," jawab Aska serta memejamkan mata.


Aksa tidak menimpali ucapan Aska kembali. Dia lebih memilih mendampingi istrinya yang kini mulai terjaga.


"Mual lagi?" tanya Aksa dengan sangat lembut. Riana pun menggeleng. Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut sang istri. Tangannya masih menggenggam erat tangan Riana.


"Jangan jauh-jauh." Aksa mengangguk mantab. Kemudian dia mengecup kening Riana dengan sangat dalam.


Aksa membungkukkan tubuhnya ke arah perut Riana. "Anak Daddy gak mau jauh dari Daddy, ya."


Aska tersenyum mendengar ucapan dari Aksa. Dia dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya yang Abangnya rasakan. Cinta yang Aksa miliki pun begitu tulus dan besar untuk Riana. Pria galak dan dingin berubah menjadi pria yang sangat lembut dan sangat hangat. Banyak yang berubah dari diri Aksara. Dari harimau beringas berubah menjadi anak kucing yang gemas.


Apalagi Aksa yang terus memanjakan Riana. Tidak ada kata tidak untuk istrinya. Kemesraan yang ditunjukkan oleh Aksa dan Riana tidak membuatnya iri. Malah, dari sikap abangnya dia banyak belajar. Suatu saat nanti pasti dia akan menjadi seorang suami.


"Dek, mau makan gak?" Aska yang tengah memperhatikannya sepasang suami istri itu sedikit terkejut.


"Bini lu emangnya mau makan apa tengah malam begini?" Aska seakan tahu modus sang Abang.


"Mau nasi goreng," jawab Riana.


"Itu doang?" tanya Aska yang akan bangkit dari sofa.

__ADS_1


"Nasinya dua puluh biji. Telornya dua, yang satu dicampur yang satu lagi telur mata sapi. Baksonya sepuluh potong aja. Suwiran ayamnya pake kulitnya aja. Acarnya cukup lima biji aja." Aska tercengang mendengar permintaan Riana. Dia menggelengkan kepala tak percaya. Aksa malah tertawa.


Aska mendekat ke arah Riana yang sudah terduduk di ranjang pesakitannya. Dia membungkukkan tubuhnya dan menunjuk ke arah perut sang kakak ipar.


"Senang banget ya ngerjain uncle," ucapnya pada perut Riana. "Kalau udah brojol gak nurut sama uncle, uncle pites kamu," sungut Aska.


Riana dan Aksa hanya tertawa mendengar ocehan Aska kepada calon anak mereka. Mereka berdua tahu bahwa Aska sama dengan mereka, tengah menantikan kehadiran Aksa junior ke dunia.


Aska sudah diberi uang dua ratus ribu oleh sang Abang. Aksa terlalu royal dalam hal apapun, seolah dia tidak tahu harga makanan pinggiran jalan.


"Kembaliannya buat gua, ya." Aksa mengangguk.


"Asal jangan dipake buat beli rokok aja," ejek Aksa. Adiknya itu mendengkus kesal.


"Ri, hati-hati sama laki lu. Kalau lagi galau suka minum alkohol," balas Aska dengan seringainya.


Mata tajam Riana menatap ke arah Aksa. Aska pun tertawa melihat ekspresi abangnya yang seperti orang keciduk.


Anak-anak Gio dan Ayanda tetaplah anak gaul pada umumnya. Rokok dan alkohol akan menjadi teman mereka ketika galau melanda. Aska buru-buru pergi karena dia tahu pasti akan terjadi perang dunia ketiga di antara Abangnya juga Riana.


****


Pagi hari, Jingga sudah datang ke kafe. Namun, dia belum melihat motor yang biasa Aska bawa. Dia memilih Aska menunggu di depan kafe. Sepuluh menit kemudian, Uoi. dan Ipin versi Indonesia datang dengan menggunakan mobil.


"Ngapain di sini?" sergah Ken. Jingga hanya tersenyum, sedangkan Juno hanya melengos. Dia tahu Jingga sedang menunggu pangeran berbisa ular.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Orang yang Jingga tunggu belum juga muncul.


"Apa dia gak ke kafe?" gumam Jingga. Dia pun masuk dengan menghela napas kasar. Jingga memilih pergi ke dapur dibanding ke lantai atas.


"Bukannya ke lantai atas," titah Wati.


"Di sini aja dulu deh, Mbak," jawab Jingga. dia teringat akan perkataan Aska kemarin.


Kalau aku belum datang, kamu gak usah ke lantai atas. Jangan masuk ke kandang pria buas.

__ADS_1


Sesungguhnya Jingga pun canggung jika hanya bertiga bersama kedua atasannya tanpa Aska. Suara langkah terburu-buru terdngar. Jingga menoleh ke arah anak tangga. sudah ada Ken dan Juno yang menuruni anak tangga.


"Lu di mana sekarang?" tanya Ken dengan ponsel di telinga. "Rumah sakit mana, Ka?" tanya Ken lagi. Wajahnya pun sudah terlihat panik.


Deg.


Hati Jingga berdetak karuhan ketika mendengar rumah sakit.


"Motornya gak apa-apa 'kan?" celetuk Juno.


Hati Jingga semakin tak karuhan, dia segera mencegat langkah Ken dan Juno. Datang dari mana keberanian itu?


"Apa yang di rumah sakit itu Pak Aska?" Raut khawatir Jingga tunjukkan. Ken pun mengangguk.


"Pak Aska kenapa?" tanya Jingga lagi.


Dua pria itu hanya menggeleng, menandakan tidak tahu. Mereka meninggalkan Jingga yang mematung. Pikiran kelak kini menari-nari di kepala Jingga. Dia takut sesuatu hal menimpa Aska.


Satu jam berlalu, Ken dan Juno belum juga kembali. Jingga hanya bisa merapalkan doa untuk keselamatan Aska.


Jingga masih menunggu dengan hati yang berkecamuk. Dia merutuki kebodohannya karena tidak meminta nomor ponsel Aska kemarin. Dia berharap Aska baik-baik saja. Melihat Jingga yang tidak bekerja apa-apa, para karyawan pun menyuruh Jingga untuk mengantar makanan karena pelanggan hari ini cukup ramai.


Kegiatan itu membuat Jingga sedikit melupakan perihal Aska. Dia fokus pada pekerjaannya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas. Jingga hanya memilih membuat teh manis hangat. Jujur, dia tidak lapar. Dia hanya ingin tahu kabar Aska. Jingga merebahkan tubuhnya di sandaran kursi plastik. Dia mencoba menarik napas sejenak.


Tiba-tiba dia terkejut dengan sebuah bungkusan makanan dari restoran ternama sudah ada di hadapannya. Dia melihat ke arah jam tangan yang dipakai oleh orang yang memberinya bungkusan makanan.


"Bang As."


Jingga sangat hafal dengan jam tangan yang Aska gunakan. Jam tangan yang sama persis seperti kemarin.


Jingga segera menoleh. Benar, itu adalah Aska. Tanpa Jingga sadari dia memeluk tubuh Aska dengan. Sontak, Aska pun terkejut dan terdiam untuk beberapa saat.


"Abang gak apa-apa 'kan."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2