Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Rawat


__ADS_3

Jingga menyusuri jalanan tanpa


arah. Di sepanjang perjalanan dia menyeka ujung matanya. Air matanya terus berjatuhan. Bukan karena Fajar, melainkan karena Aska.


Hatinya sangat sakit ketika melihat Aska babak belur. Aska yang hanya menatapnya tanpa sepatah katapun. Dada Jingga terasa sesak karena merasa diabaikan oleh orang yang sebenarnya dia sayangi.


Jingga pulang menuju kosannya. Dia segera menghubungi Ken untuk mengetahui keadaan Aska. Namun, nomor Ken tidak dapat dihubungi membuat Jingga menghembuskan napas kasar.


"Bang, aku khawatir," gumamnya.


Aska dibawa ke rumah sakit !yang berada jauh dari kafe miliknya. Itu perintah dari Baginda Aksa. Di dalam mobil pun Aska hanya terdiam, padahal darah segar mengucur di punggung jari-jarinya. Bagai mati rasa tubuhnya sekarang ini.


"Sa, bagian mana aja yang sakit?" tanya Juno. Ketampanan Aska sudah mulai memudar.


"Gua baik-baik aja," jawabnya tanpa ekspresi.


Aska bagai manusia yang tengah depresi. Sedari tadi dia hanya diam saja dengan kepala yang bersandar di jok mobil belakang. Padahal Ken dan Juno merasa ngilu dengan luka yang diderita oleh Aska.


Tibanya di rumah sakit, Ken dan Juno yang panik, sedangkan Aska terlihat biasa saja. Ken membawakan Aska kursi roda pun Aska tolak.


"Gua masih sanggup jalan," elaknya.


Ken dan Juno hanya bisa menunggu Aska dari luar IGD. Aska berada seorang diri di dalam. Kebetulan dokter yang menangani Aska adalah dokter perempuan. Ketika dokter itu menyentuh wajah Aska tidak ada reaksi apapun dari Aska. Dokter itupun terheran-heran.


"Tidak sakit?" tanya dokter Melati.


"Saya sudah mati rasa, dok," sahutnya.


Dokter itupun terkekeh. Aska menatap wajah dokter itu yang terlihat sangat cantik dan manis dengan gigi gingsulnya. Namun, hati Aska biasanya saja. Tidak ada getaran hebat apapun.

__ADS_1


Dokter Melati dengan hati-hati mengobati luka yang diderita oleh Aska. Pasiennya sama sekali tidak bergerak ataupun mengaduh. Dokter Melati hanya menggelengkan kepalanya.


"Sudah selesai," ucapnya.


Aska menganggukkan kepalanya dan tersenyum sopan ke arah dokter cantik itu. Ketika Aska hendak keluar, dokter Melati menahan lengan Aska.


"Jangan berkelahi lagi," ucapnya.


Aska tersenyum mendengarnya. "Saya tidak berkelahi, hanya diajak duel," jawab Aska.


Dokter Melati pun tertawa mendengar jawaban Aska. Pria yang sangat humoris dan tentunya tampan, walaupun wajah Aska sudah penuh luka lebam.


"Makasih, dok." Aska berucap dan berlalu meninggalakan dokter Melati. Namun, langkahnya dihadang oleh salah satu perawat.


"Anda harus duduk di kursi roda, Pak. Anda harus dirawat," ucap perawat itu.


"Tapi, saya ...." Perawat itu dengan sedikit kasar mendudukkan tubuhnya Aksa ke atas kursi roda dan membawanya keluar dari IGD. Ternyata di depan ruang IGD sudah ada kembarannya juga kedua sahabatnya yang masih setia menemaninya.


Aksa sudah mengurus semuanya dan sengaja Aksa meminta kamar yang benar-benar private untuk adiknya ini. Dia tidak ingin ada seorang pun yang tahu akan kondisi Aksa, apalagi kedua orang tuanya.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Aksa maupun Aska ketika menuju ruang rawat. Kedua sahabat Aska pun membungkam mulut mereka hingga mereka tiba di lantai paling atas yang hanya ada beberapa kamar khusus untuk orang-orang tertentu. Kamarnya pun bak hotel mewah. Ken dan Juno merasa takjub. Ternyata ini adalah rumah sakit tempat Aksa ikut menanam saham di sini.


"Pulang ketika wajah dan tangan lu udah normal," kata Aksa. "Tidak ada bantahan," tekannya karena Aksa sudah melihat Aska sudah membuka mulutnya.


"Gua usahakan gua akan jenguk lu tiap hari," tukasnya.


"Bagaimana dengan Mommy dan Daddy?" Ada kekhawatiran di wajah Aska.


"Jangan khawatir, Mommy dan Daddy tidak akan tahu karena orang suruhan Daddy sudah gua bungkam mulutnya." Aska pun bisa bernapas lega dan mengangguk mengerti, sedangkan kedua sahabat Aska menggelengkan kepala mereka tak percaya. Beginilah cara kerja orang kaya.

__ADS_1


"Makasih, Bang," ucap Aska.


Aksa mengangguk dan kini mendekat ke arah Aska. "Gua akan jaga lu sebagaimana lu jaga istri gua," imbuhnya.


Ken dan Juno merasa sangat terharu dengan anak kembar di depan mereka ini. Mereka berdua saling mengisi satu sama lain. Saling melengkapi dan membantu satu sama lain dengan sepenuh hati mereka.


"Dan lu jangan khawatir, pria gila itu akan masuk ke dalam penjara dengan hukuman yang sangat berat." Aska tidak peduli akan hal itu. Mau mati sekalipun pria itu sungguh bukan urusannya. Namun, jika abangnya itu ingin memasukkan Fajar ke dalam penjara, dia sangat berterima kasih karena telah mengurangi populasi pria yang sudah ringan tangan kepada wanita. Aksa sedikit heran, adiknya ini tidak menanyakan perihal Jingga sama sekali.


Aksa melihat ke arah jam tangannya. "Gua harus pulang karena Riana membutuhkan gua," pamitnya.


"Hati-hati." Aksa pun mengangguk. Kini tatapan Aksa beralih pada Upin Ipin versi dewasa.


"Jaga adik saya, jangan pernah keluar dari kamar ini. Semua kebutuhan kalian berdua nanti akan ada yang mengantarkan. Begitu juga dengan makanan kalian. Saya pastikan kalian tidak akan kelaparan," terang Aksa kepada Ken dan Juno.


"Dan jangan pernah beri tahukan kondisi Aska kepada siapapun. Atau kalian berdua tahu akibatnya," ancam Aksa.


Di mata kedua sahabat Aska, Aksa adalah tipe pria dingin yang sangat mematikan. Ucapannya sangat tegas dan bisa menghipnotis orang yang mendengar ucapannya. Buktinya saja mereka yang hanya bisa manggut-manggut bagai boneka guguk di dashboard mobil.


Selepas kepergian Aksa, Ken dan Juno kini duduk di bibir ranjang pesakitan Aska.


"Lu kenal pria tadi?" Mereka berdua mencoba menginterogasi Aska. Namun, Aska menjawab hanya dengan gelengan ataupun anggukan saja. Jadi, mereka berdua menyerah karena tidak ada yang bisa mereka korek dari Aska. Mereka berdua curiga ada sesuatu yang Aska sembunyikan dari mereka.


Aska menatap kosong ke arah langit-langit kamar rumah sakit. Wajah Jingga masih memutari otaknya. Apalagi wajah Jingga yang terlihat sangat khawatir ketika menatap ke arahnya.


"Aku hanya ingin tahu, apa kamu akan merasa kehilanganku dan mencariku setelah kejadian ini?" batinnya.


Ada sebuah pertanyaan besar yang bersarang di hati Aska. Kenapa Jingga berada di Jakarta? Dan kenapa dia mengenakan seragam pegawai kafe miliknya? Apa Jingga bekerja di kafenya? Dia juga tengah menerka-nerka siapa yang mengirim Jingga ke Jakarta? Sedangkan menurut orang kepercayaannya Jingga masih berada di Jogja.


Berbeda dengan Aska, Aksa malah tengah memikirkan siapa yang menjadi dalang dari kedatangan Fajar ke Jakarta. Apa ada campur tangan dari Fahrani atau Christina?

__ADS_1


...****************...


Kalau up-nya banyak untuk seminggu ini, jangan bosan ya ...


__ADS_2