Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kesedihan dan Kebahagiaan


__ADS_3

Tuhan itu memang baik. Ketika seorang anak yang sudah enam tahun hidup sebatang kara, tiba-tiba Tuhan kirimkan wanita berhati malaikat untuknya. Menyayannginya meskipun mereka baru dua kali bertemu.


"Jangan menangis lagi ya, Nak. Jangan buang air matamu untuk hal yang tak berguna," ucap Ayanda dengan sangat tulus dan penuh cinta.


"Iya, Bu."


Ayanda mengusap lembut rambut Jingga dan berkata, "panggil saya Mommy atau Mamah. Sama seperti anak-anak saya memanggil saya."


Terenyuh hati Jingga mendengar ucapan Ayanda. Wanita yang ketulusannya luar biasa. Berbeda dengan pria yang sudah membuat hatinya terluka. Dia seakan dilarang memanggil pria itu dengan sebutan ayah, sedangkan wanita di hadapannya sekarang menginginkan dia memanggil wanita tersebut dengan sebutan Mommy ataupun Mamah. Padahal, mereka tidak ada ikatan darah sama sekali.


"Mommy bilang jangan nangis lagi, Nak."


Ayanda mengusap lembut air mata yang tak terasa menetes membasahi wajah Jingga. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang sangat baik dan juga tulus.


"Aku sangat bahagia, Mom. Malam ini aku merasa tidak sendiri lagi dan punya keluarga," tuturnya.


"Memang keluargamu ke mana?" Ayanda mencoba bertanya .


"Bundaku sudah tiada," jawab Jingga.


"Maaf," ujar Ayanda. Jingga hanya menggelengkan kepala.


Sebagai permintaan maafnya, Ayanda memeluk tubuh Jingga untuk kesekian kalinya. Dia sangat merasakan kesedihan yang Jingga rasakan.


"Kalau kamu ada masalah dan butuh teman bicara, kamu bisa hubungi Mommy. Mommy siap untuk mendengar keluh kesah kamu," ujarnya.


"Kamu masih menyimpan kartu nama Mommy 'kan?" Jingga mengangguk di dalam dekapan hangat Ayanda.


"Tuhan ... jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini."


Di lain tempat, Aska masih terus menunggu Jingga tak jauh dari kosannya. Setelah jam makan siang, dia mendapat kabar dari Ken dan Juno bahwa Jingga tidak kembali ke kafe karena tidak enak badan. Aska ingin bersikap acuh, tapi dia tidak bisa. Setelah bergelut dengan pikirannya, Aska memilih pergi ke kosan Jingga.


Berkali-kali dia mengetuk pintu kosan Jingga, tetapi tak ada jawaban dari dalam. Aska mencoba melihat dari arah celah jendela, tidak ada orang di dalam. Dia segera mengeluarkan ponselnya, mengetikkan nomor Jingga di sana. Namun, nomor Jingga tidak bisa dihubungi. Sungguh membuat Aska semakin cemas.


"Kamu di mana Jingga?" gumamnya.


Sudah tiga kali Aska menghubungi Jingga. Tetap saja nomor itu tidak bisa dihubungi. Dia pun beralih menghubungi dua sahabatnya yang ada di kantor.


"Kenapa?"


"Jingga gak ada di kosannya." Nada bicara Aska sangat cemas sekali.


"Mana gua tahu? Coba lu tanya Bian. Tadi dia makan siang sama si Bian."


Urat-urat kemarahan hadir di wajahnya. Tangannya sudah mengepal keras. Dari balik sambungan telepon terdengar Ken dan Juno tengah berdebat dengan seseorang.


"Bang sat! Lu yang bawa Jingga. Kenapa lu malah nyari dia ke sini? Pake acara marah-marah segala."


Mata Aska melebar ketika mendengar ucapan Ken dari balik sambungan telepon.


"Berarti Jingga gak sama si Bian. Lalu, ke mana dia?" batin Aska.


Aska sama sekali tak beranjak dari kosan Jingga. Dia dengan sabar menunggu Jingga di sana. Dia belum mengetahui tentang keluarga Jingga di sini. Anak buahnya seperti sulit mendapatkan informasi tentang Jingga.


Sudah dua jam Aska menunggu di kosan Jingga. Pada akhirnya, dia memilih untuk masuk ke dalam mobilnya. Baru saja saja dia menutup pintu mobil, ada sebuah motor yang berhenti di depan kosan Jingga. Aska menajamkan matanya, ternyata itu Bian. Dia terus memperhatikan gerak-gerik Bian. Nasib Bian pun sama seperti dirinya. Jingga tidak keluar dari kosannya.


"Berarti dia emang belum pulang. Ke mana dia pergi?"


Aska terus menunggu Jingga di sana. Abang dan kakaknya terus menghubunginya karena sang Mommy sudah mau sampai rumah. Mereka disuruh mencoba bajunya lagi dan akan dijadikan status media sosial akunnya.


"Gua akan pulang setelah urusan gua selesai."


Hanya kalimat itu yang Aska katakan. Dia tidak mengatakan perihal Jingga kepada Aksa. Apalagi kepada sang kakak. Meskipun, kecil kemungkinan jika abangnya tak mengetahui kelakuannya.


Aska terus melihat ke arah arloji yang melingkar di tangannya. Waktu sudah hampir Maghrib, tapi Jingga belum juga kembali. Keadaan kosa Jingga pun gelap gulita.


"Kamu ke mana sih? Kenapa senang banget buat aku khawatir," geramnya sendiri.


Adzan Maghrib sudah berkumandang, tetapi Jingga belum juga pulang. Wajah cemas Aska semakin menjadi. Dia mencoba kembali menghubungi Jingga. Namun, tetap sama. Tidak dapat dihubungi.


Ting!


Suara pesan masuk ke dalam ponsel milik Aska. Dia berharap itu adalah pesan dari Jingga.


"Jingga udah pulang?"


Pesan yang dikirimkan oleh Ken.


"Belum." Itulah balasan yang Sama kirimkan kepada Ken.


Aska menghela napas kasar. Semakin banyak yang menanyakan perihal Jingga. Aska akan semakin khawatir.


"Ini sudah malam Jingga. Di mana kamu, Jingga?" erang Aska lagi.


Dia hampir frustasi karena sedari siang menunggu Jingga. Sampai jam tujuh malam Aska masih betah di depan kosan Jingha yang belum juga kembali. Dia takut terjadi apa-apa dengan Jingga.


Aska masih setia menunggu Jingga. Tidak dia hiraukan panggilan dari kedua kakaknya. Baju tidaklah penting, Jingga yang lebih penting. Begitulah pikir Aska.


Waktu semakin malam, Jingga belum juga kembali ke kosan. Akhirnya, Aska memilih untuk menyerah dan mencari Jingga sembari berjalan. Baru saja tangannya hendak menghidupkan mesin mobil. Dia melihat seorang wanita yang sudah berada di depan kosan Jingga. Aska tahu itu siapa. Dia segera keluar dari mobilnya dan berlari ke arah wanita tersebut.


"Jingga!"

__ADS_1


Tangan yang hendak menekan gagang pintu pun terhenti seketika. Jingga menoleh dan ternyata Aska sudah ada di belakanganya. Mata Jingga melebar ketika Aska memeluk tubuhnya tanpa permisi.


"Kamu ke mana? Jangan buat khawatir."


Jingga tersentak mendengar ucapan Aska. Suaranya terdengar bergetar. Hari ini dia mendapatkan kesedihan sekaligus kebahagiaan yang tak terkira. Bertemu dengan ayahnya sangat menyayat dan menyakitkan hati. Berbeda ketika dia bertemu Ayanda juga Aska. Dia seperti berharga di mata dua orang tersebut. Mereka berdua benar-benar tulus menyayangi Jingga yang notabene adalah kotoran yang menjijikan.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," balas Jingga dengan tangan yang membalas erat pelukan Aska.


Sudut bibir Aska terangkat mendengar balasan yang diucapkan oleh Jingga. Hatinya sedikit bahagia mendengarnya. Jarang sekali Jingga seperti ini.


"Jingga."


Suara seseorang membuat Jingga dan Aska dengan terpaksa menyudahi pelukan mereka. Aska menatap jengah ke arah pria yang baru saja datang. Sedangkan Jingga menatapnya dengan datar.


"Kamu ke mana aja? Kenapa kamu ninggalin aku di restoran itu? Aku nyari kamu," tuturnya. Dia sengaja mengatakan hal itu supaya Aska cemburu. Langkahnya pun mulai mendekat ke arah Jingga.


"Maaf, Pak. Tadi saya gak enak badan. Makanya pulang duluan," jawab Jingga.


Jingga tidak berani melihat ke arah wajah Aska. Sudah pasti dia tengah menahan rasa cemburu di hatinya dengan wajah yang tidak enak dipandang.


"Ya udah kita ke dokter kalau kamu gak enak badan mah," ajak Bian.


Tangannya hendak menarik tangan Jingga. Namun, dengan cepat Jingga menggenggam tangan Aska. Sontak Aska melihat ke arah tangannya yang telah digenggam erat oleh perempuan di sampingnya.


"Saya akan diantar oleh Pak Aska."


Kalimat yang membuat dahi Aska mengkerut dan menatap ke arah Jingga. Sorot mata penuh permohonan Jingga tunjukkan kepada Aska.


"Ayo kita berangkat," balas Aska yang juga menggenggam erat tangan Jingga.


Jingga menatap ke arah Aska yang juga tengah menatapnya. Lengkungan senyum terukir di wajah cantik Jingga. Mereka berdua pun melangkah menjauhi Bian membuat Bian mengerang kesal.


"Aska!"


Panggilan Bian terdengar membentak. Aska yang merasa dipanggil namanya pun menghentikan langkahnya.


"Lu sahabat gua bukan?" sergah Bian dari arah belakang.


Aska pun menoleh dan menatap tajam arah Bian. Dia tersenyum tipis dengan tangan yang tetap menggenggam Jingga.


"Pertanyaan lu gak salah?" tanya balik Aska.


"Harusnya gua yang nanya begitu ke lu!" tunjuk Aska ke arah Bian.


Jingga semakin menggenggam erat tangan Aska hingga Aska menoleh. Gelengan kepala Jingga merupakan sebuah peringatan untuk Aska.


"Gua gak ada waktu buat adu bachot sama lu!" tegas Aska.


"Sahabat pengkhianat lu!" teriak Bian.


Mendengar ucapan Bian darah Aska mulai mendidih. Dia melepaskan tangan Jingga dan berbalik arah menghadap ke arah Bian yang sengaja menantangnya.


"Pengkhianat, lu bilang gua pengkhianatan, iya?" bentak Aska.


"Apa lu gak sadar diri? Siapa pengkhianat sesungguhnya?" geram Aska dengan urat kemarahan yang sudah hadir di wajahnya.


Aska semakin merapat ke arah tubuh Bian. Dia menarik kerah baju Bian dengan sorot mata yang penuh dengan kemarahan.


"Jangan pernah pancing emosi gua! Sejahat apapun lu terhadap gua, guama masih menganggap lu sebagai sahabat gua," ucapnya sambil melepaskan tarikan di kerah baju Bian dengan sangat kasar hingga Bian terhubung ke belakang.


Aska kembali meninggalakan Bian yang tengah terkejut. Dia memilih menggenggam tangan Jingga dan membawanya pergi dari sana.


Tidak ada obrolan yang keluar dari mulut Aska dan Jingga selama di perjalanan. Mereka berdua hanya terdiam dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Mobil berbelok masuk ke sebuah apartment mewah. Jingga tercengang dan sedikit ketakutan.


"Jangan khawatir, aku tidak seberengsek itu," ucapnya sambil membuka seat belt.


Jingga menatap Aska yang sudah membuka pintu mobil. Dia membukakan pintu untuk Jingga dan tangannya menggenggam tangan Jingga dengan begitu eratnya menuju unit apartment yang akan Aska kunjungi.


Mereka masuk ke dalam lift dan Aska menekan angka 21, di mana unit sang Abang berada. Jingga masih terdiam, dia tidak banyak berkata juga bertanya. Ini kali pertamanya dia masuk ke dalam sebuah apartment mewah.


Aska terus membawa Jingga ke unit milik sang Abang. Langkah Aska terhenti disalah satu unit apartment. Tangannya dengan lincah memasukkan kode dari unit tersebut. Pintu pun terbuka. Aska menarik tangan Jingga untuk ikut masuk ke dalam. Sungguh luar biasa interior apartment ini. Jingga benar-benar takjub.


"Ini apartment milik Abang aku," jelas Aska. Jingga pun hanya mengangguk. "Aku belum punya apa-apa. Aku dan Abang aku berbeda. Aku hanya pelayan kafe, sedangkan Abang aku pengusaha muda."


Jingga tersenyum mendengar ucapan Aska. Pria yang tengah bersamanya ini memang senang bercanda. Terkadang, candaannya sangat garing.


"Meskipun pelayan kafe, Bang As tidak akan hidup miskin. Keluarga Bang As pasti sudah menyiapkan semuanya," balas Jingga.


Apa yang dikatakan oleh Jingga memang benar. Giondra sudah menyiapkan semuanya termasuk pembagian harta untuk cucu-cucunya nanti.


"Jangan bahas perihal itu. Aku bukanlah orang yang menilai semuanya dari harta," tuturnya.


Jingga tersenyum mendengar ucapan Aska. Mata mereka berdua bertemu dan saling mengunci.


"Kamu tadi dari mana?" tangan Aska sudah membenarkan anak rambut yang berada di wajah Jingga.


"Kenapa kamu bilang tidak enak badan?" tambahnya lagi.


Tiba-tiba wajah Jingga berubah sendu. Dia yang semula memandang wajah Aska, malah mengalihkan pandangannya ke tempat yang lain.


"Jingga," panggil Aska, ketika Jingga tidak juga menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Kamu tidak benar-benar sakit 'kan? Kamu baik-baik juga 'kan?" Aska terlihat bingung dengan sikap Jingga.


"Tubuhku baik-baik saja," jawabnya. "Tapi, tidak dengan hatiku."


Aska tersentak dengan apa yang dikatakan oleh Jingga. Dia menatap Jingga dengan sorot mata penuh selidik.


"Maksud kamu apa?" tanya Aska.


Kini, Jingga menatap kembali ke arah Aska yang sudah memasang wajah penuh tanya. "Aku bertemu kembali dengan orang yang sangat tidak ingin aku temui di dunia ini," paparnya.


"Mantan kamu?" tebak Aska. Jingga menggeleng.


"Lalu?" tanya Aska. Jingga hanya terdiam. Apa harus dia mengatakan yang sebenarnya tentang dirinya kepada Aska?


Cukup lama Jingga terdiam, Aska pun tidak ingin memaksa. Dia paham apa yang namanya privasi. Dia hanya bisa menenangkan Jingga dengan usapan lembut di punggung tangannya.


"Aku tidak akan memaksa kamu untuk bercerita. Aku tidak ingin melihat kamu bersedih," ucap Aska.


Jingga memeluk tubuh Aska, seakan dia tengah mencari kenyamanan yang bisa dia dapatkan dalam pelukan hangat Aska. Tak Aska sia-siakan, dia pun membalas erat pelukan Jingga.


Dering ponsel Aska berdering. Aska mengurai pelukannya sejenak dan meraih ponselnya di dalam aku celana.


"Bapak aku," ucap Aska, seraya memperlihatkan layar ponselnya. Bapak gua, itulah nama di kontak Aska.


"Iya, Dad," ucap Aska. Sengaja Aska me-loudspeaker panggilannya.


"Kamu di mana, Dek?"


"Masih ada kerjaan, Dad. Kenapa emang?" tanya Aska.


"Pulanglah, Dek. Mommy-mu uring-uringan karena kamu gak ada. Mommy ingin kita semua berkumpul dan mencoba baju yang baru Mommy ambil dari butik."


"Sebentar lagi ya, Dad, Adek pasti pulang. Tolong bilangin ke Mommy ya, Dad."


Mendengarkan percakapan antara Aska dan juga ayahnya membuat Jingga merasa bahagia. Begitu hangatnya keluarga dari Aska ini. Berbeda jauh dengan dirinya.


"Om!"


Suara tiga orang anak kecil yang memiliki gendang telinga. Jingga menatap ke arah Aska yang sudah mendengkus kesal.


"Kenapa?" tanyanya.


"Pulang bawin pecel lele sama ayam goreng, ya."


"Seladanya banyakin, Om. Kakak Sa suka daun selada."


"Dedek ingin sate telur puyuh juga, Om. Kalau Om Nemu Abang penjual sate telur puyuh beliin ya, Om."


"Iya. Nanti Om beliin tusukannya," gurau Aska.


"Om! Dedek gak mau bercanda!"


Omelan keponakan Aska itu membuat Jingga tertawa dengan membekap mulutbya. Ketiga keponakan Aska sangatlah lucu.


"Iya, nanti Om beliin kalau ada. Udah dulu, ya. Om masih banyak kerjaan," imbuhnya.


Sambungan telepon hendak Aska akhiri, suara seseorang dari balik sambungab telepon pun membuat Aska mengurungkan niatnya.


"Dek, pulang cepetan. Nanti dicoret kamu dari Kartu keluarga sama Mamah."


"Atuhlah, Kak. Adek lagi ada kerjaan. Adek pasti pulang kok. Tolong bilangin ke Mommy, ya," bujuk Aska.


"Enggak gratis, Dek."


"Yaelah Kak, masih aja perhitungan sama adik sendiri," keluh Aska.


"Kakak gak butuh uang kamu. Kakak ingin kamu bawa calon adik ipar ke hadapan kakak."


Deg.


Jantung Jingga seakan berhenti berdetak mendengar ucapan dari kakaknya Aska. Aska menatap ke arah Jingga yang sudah membeku mendengar ocehan sang kakak.


"Iya, kalau sudah waktunya Adek bawa ke hadapan Kakak," jawab Aska.


Jingga tidak berani menatap ke arah Aska, sedangkan Aska sudah mengulum senyum.


"Adek tutup ya, Kak. Sampai bertemu nanti."


Aska menyudahi panggilannya dan juga sudah memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Dia menatap Jingga yang masih membisu.


"Tadi kamu dengar 'kan?" goda Aska.


"A-apa?" Jingga pura-pura tidak mengerti.


"Kamu sudah ditunggu sama keluargaku."


Deg.


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2