Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Melamar Kerja


__ADS_3

Hubungan LDR ternyata tidak membuat kemesraan antara Aksa dan juga Riana menghilang. Malah sebaliknya, mereka bagai alarm yang saling terus mengingatkan. Melakukan sambungan video ketika mereka sama-sama memiliki waktu luang.


Riana sudah kembali ke kosan yang ditinggali oleh Rani. Setiap hari, Riana mengirimkan CV untuk melamar kerja ke berbagai perusahaan. Namun, sudah dua minggu berselang kabar pun belum dia dapatkan.


Riana sarapan dengan sangat tidak bersemangat, sekilas Rani menatapnya.


"Kenapa?"


Hanya pertanyaan singkat yang Rani lontarkan. Riana menatap ke arah Rani seraya menghembuskan napas kasar.


"Belum ada jawaban dari perusahaan."


Ucapan Riana terdengar sangat memilukan. Rani meletakkan cangkir kopi yang baru saja dia sesap.


"Kirim CV kamu ke alamat e-mail itu."


Ponsel Riana berdenting menandakan ada pesan yang masuk. Ketika Riana buka, pesan itu berisi alamat e-mail perusahaan Rani.


"Sampai sekarang, belum ada sekretaris untuk direktur utama. Dia sangat selektif dalam memilih karyawannya. Semoga saja kamu beruntung."


"Ri, belum punya pengalaman, Kak."


"Otakmu pasti akan mudah mempelajari semuanya. Saya tunggu CV kamu."


Rani bangkit dari duduknya dan segera pergi karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Riana masih menatap alamat e-mail yang dikirim Rani. Ponselnya berdering, sudut bibirnya terangkat sempurna.


Calon Imamku calling ...


"Pagi, Sayang."


Lengkungan senyum terukir di wajah Riana. Hatinya sangat bahagia, meskipun hanya mendapat ucapan selamat pagi dari Aksa.


"Pagi juga, Bang."


"Gimana? Apa sudah ada jawaban atas lamaran kerja yang kamu kirim?"


Hembusan napas kasar mampu Aksa dengar.


"Sabar ya, Sayang. Mencari kerja di zaman seperti ini memang sangat sulit. Ijazah tidak menjamin mempermudah dalam mendapatkan pekerjaan."


"Bang, Kak Rani suruh Ri masukin CV ke perusahaan WAG Grup," ujar Riana.


"Kesempatan bagus itu, coba kamu kirim ke sana. Abang dengar juga, sekretaris untuk direktur utama masih kosong."


"Abang tahu perusahaanya?"


"Tau lah, Sayang. Perusahaan itu perusahaan yang sangat besar. Jika, kamu bekerja di sana gaji kamu pun tiga kali lipat dari sekretaris pada umumnya."


"Benarkah?" Wajah Riana terlihat berbinar.


Sudut bibir Aksa terangkat ketika mendengar Riana yang sangat antusias.

__ADS_1


"Iya, coba kamu tanya Rani aja kalau gak percaya."


"Ya udah, Ri akan coba masukin CV ke sana. Doain ya, semoga Ri bisa keterima jadi sekretaris direktur utama itu."


"Tentu, Sayang. Ingat, jaga hati dan mata kamu. Direktur utama WAG Grup itu sangat tampan loh."


Riana tertawa mendengar ucapan Aksa. "Tidak ada yang lebih tampan dari calon imam, Ri."


Aksa benar-benar bahagia. Jika, jarak Melbourne-Jakarat seperti Singapura- Jakarta, dia rela bolak-balik setiap hari. Tidak peduli badannya lelah, tulangnya remuk, yang penting bisa bertemu dengan calon istrinya yang setiap hari semakin membuatnya gemas.


"Ya udah, Abang lanjut kerja ya, Sayang."


Sambungan telepon pun Aksa akhiri. Kemudian, dia menghubungi seseorang.


"Kapan ketuk palu perceraian saya dilakukan?"


Christian melongo di balik sambungan telepon tersebut. Kliennya ini sedang kerasukan setan apa. Tiba-tiba menanyakan perihal ketuk palu.


"Maaf, Pak. Baru saja berjalan dua Minggu. Paling cepat dua bulan," ucap Christian.


"Lakukan cara apapun untuk mempercepat perceraian saya. Saya tidak mau tahu!"


Sambungan telepon pun diakhiri begitu saja oleh Aksa. Christian Hanya menggelengkan kepalanya. Semenjak menjalin hubungan jarak jauh dengan Riana, sikap tidak waras Aksa semakin bertambah.


"Untung lu sahabat gua. Kalau klien biasa udah gua tinggalin dari dulu. Kelakuan lu bikin gua pusing," gerutu Christan.


Riana sudah mengirimkan CV-nya ke alamat yang Rani berikan. Dia berharap besar kepada WAG grup. Tujuannya hanya satu, mendapatkan penghasilan sendiri dan tidak bergantung kepada sang kakak. Serta, dia ingin mengganti semua biaya kuliah yang sudah kakaknya keluarkan untuknya.


Jika, menyebut nama kakaknya ada rasa malu yang tiada terkira. Mengingat sikapnya yang sangat tidak baik kepada sang kakak, tetapi kakaknya mampu menerimanya dengan tangan terbuka malah menyayanginya dengan sangat tulus.


Dua jam berselang, ada e-mail masuk. Mata Riana melebar tak percaya.


"Serius ini? Aku diterima?" Rasa bahagia bercampur tidak percaya menjadi satu.


"Ini benar 'kan, bukan mimpi?" Riana menampar-nampar pelan pipinya.


Tangannya segera mencari kontak Rani. Dia mencoba menelepon Rani.


"Kamu sudah baca e-mailnya?"


"Su-sudah, Kak. Jadi benar, Ri diterima kerja di sana?" Riana ingin menanyakan kebenarannya.


"Besok kamu sudah mulai kerja."


Riana tidak bisa berkata-kata. Hanya ucapan syukur yang mampu dia ucapkan.


Setelah sambungan teleponnya berakhir, dia mendudukkan diri di atas tempat tidur.


"Ayah ... Kakak ... perlahan Ri sudah bisa meraih cita-cita, Ri. Makasih atas dukungan kalian." Air mata Riana menetes begitu saja. Dua orang itulah yang sangat berjasa untuk Riana.


Riana menyeka ujung matanya ketika Aksa menghubunginya kembali dengan melakukan sambungan video.

__ADS_1


"Kamu nangis?"


Riana menggelengkan kepalanya dengan senyum yang terukir di wajahnya.


"Ri, diterima kerja di WAG grup, Bang." Mata Riana berkaca-kaca kembali.


"Selamat, Sayang."


"Makasih, Bang. Akhirnya, Ri bisa meraih cita-cita Ri."


"Semangat ya, Sayang. Selamat masuk ke dunia yang sesungguhnya."


Setelah puas berbincang dan bercerita. Riana merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menerawang ke langit-langit kamar.


"Sesuatu yang dihargai mahal itu pasti memiliki pekerjaan yang cukup berat. Aku pasti bisa," gumamnya.


Riana tidak berniat untuk membeli pakaian baru. Dia juga masih memiliki beberapa kemeja serta rok yang dulu pernah dia pakai ketika sidang.


Sore menjelang, Rani pulang dengan goody bag yang sudah di tangan. Dia mengetuk pintu kamar Riana dan memberikan goody bag tersebut.


"Apa ini, Kak?"


"Baju untuk kamu besok kerja."


"Tapi ...."


"Saya tidak suka penolakan," tegas Rani.


Riana membawa masuk goody bag tersebut. Matanya memicing ketika melihat warna kemeja yang ada di dalamnya.


"Hanya Abang yang tahu warna kesukaanku. Apa jangan-jangan ...."


"Riana! Makan dulu." Teriakan Rani membuyarkan pikiran Riana.


Keesokan paginya, Riana sudah cantik dengan kemeja yang Rani beri serta polesan make up yang sangat natural. Wajahnya terlihat semakin cantik.


Di belahan benua berbeda seseorang sedang tersenyum bahagia ketika mendapat kiriman foto Riana yang sudah berada di WAG grup.


"Sangat cantik," gumamnya.


Riana sudah berada di dalam gedung WAG grup. Para karyawan di sana menatap Riana dengan tatapan tak biasa. Apalagi, dia berjalan beriringan dengan Rani. Tangan kanan dari direktur utama yang tidak pernah menampakkan dirinya.


"Karyawan barukah?" Begitulah bisikan para karyawan lama.


Riana sungguh risih, tetapi dia mencoba untuk tidak memperdulikannya. Rani membawa Riana masuk ke dalam sebuah ruangan. Di sana sudah ada seorang pria yang sedang serius menatap laptopnya.


"Pak, ini sekretaris barunya."


Mata Riana melebar ketika dia melihat siapa yang berada di ruangan direktur utama tersebut.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ya ....


__ADS_2