
"Jika, kalian menyangka saya dan Riana melakukan perzinahan. Saya siap menikahi Riana malam ini juga. Sebagai pertanggung jawaban saya."
"Bang," gumam pelan Riana dari arah belakang punggungnya. Aksa hanya menoleh sebentar. Kemudian, menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa maksud kamu?" sentak Ziva.
Niat hati ingin mempermalukan Riana. Malah dia yang bunuh diri karena rencananya sendiri.
"Lebih baik kamu pergi dari sini Riana! Saya tidak Sudi kost-an ini dipakai sebagai tempat perzinahan," tutur si pemilik kost.
"Dasar lacoer!" ucap wanita tetangga kost-an Riana.
"Jaga mulut kamu!" Rahang Aksa mengeras dengan tatapan penuh kemurkaan.
"Kenapa lu? Gak suka gua bilang selingkuhan lu lacoer." Tidak ada ketakutan yang ditunjukkan oleh wanita itu.
"Dibayar berapa kamu sana wanita tak tahu malu itu?" tunjuk Aksa ke arah Ziva.
Wajah wanita itu terlihat terkejut. Sudut matanya melirik ke arah Ziva.
"Saya Ghassan Aksara Wiguna. Cucu dari Genta Wiguna, dan anak pertama dari Giondra Aresta Wiguna. Apa kalian mengenal keluarga Wiguna? Apa kalian ingin mencoba kekejaman keluarga saya? Jangankan kost-an ini. Nyawa kalian saja bisa saya beli."
Semua orang terkejut mendengar ucapan dari Aksa. Ucapan yang penuh dengan kejujuran. Apalagi dia menunjukkan identitas dirinya kepada semua orang.
Perlahan dua pria berbadan kekar itu beringsut mundur. Diikuti oleh yang lain.
"Ma-maafkan saya, Pak A...."
"Ayo Ri, kita pergi dari sini." Tangan Aksa sudah terulur ke arah Riana dan disambut ragu oleh Riana.
Riana tercengang ketika mobil berhenti di Bandara. Dia menatap lekat ke arah Aksa.
"Ma-mau ke mana?"
"Kita pulang ke Jakarta." Mata Riana melebar mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa.
"Ta-tapi ...."
"Ikut saja." Wajah Aksa sangat datar. Seperti ada yang tengah dia sembunyikan.
Selama di dalam pesawat, Riana hanya menatap ke arah jendela. Tanpa sepatah kata yang terucap dari bibirnya.
"Apa Ziva hamil anak Abang?" Sebuah pertanyaan yang meluncur begitu saja dari mulut Riana.
Aksa menatap ke arah Riana yang tengah memejamkan matanya seraya bersandar.
__ADS_1
Cup.
Bibir Aksa mengecup singkat bibir mungil Riana. Seketika mata Riana membola. Menatap tak percaya ke arah Aksa.
"Itulah jawabannya."
Dahi Riana mengkerut ketika mendengar jawaban dari Aksa. Sebuah kecupan yang menjadi jawaban. Apa maksudnya?
"Bersabarlah sebentar. Semuanya belum selesai."
"Sama halnya dengan hubungan kita," balas Riana dengan gumaman. Riana kini menatap ke arah jendela.
"Padahal jelas-jelas Abang suami orang, tetapi dengan mudahnya Ri mau diajak pergi sama Abang. Ri, tak ubah dari seorang pelac ...."
Aksa menarik pelan tubuh Riana dan mendekapnya dengan hangat. Air mata Riana menetes begitu saja.
"Jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. Hubungan kita berkahir karena memang ada orang ketiga, tetapi bukan kamu. Melainkan wanita itu." Enggan rasanya Aksa menyebut nama Ziva.
"Namun, Abang tidak pernah menganggap kamu sebagai mantan. Abang selalu menganggap kamu sebagai kekasih impian. Istri untuk masa depan."
"Beri waktu Abang untuk menyelesaikan ini semua. Tunggu Abang di rumah untuk melamar kamu. Menjadikan kamu istri sesungguhnya untuk Abang."
"Jika, anak itu ...."
Aksa meletakkan jari telunjuknya di bibir Riana. Dia menatap lembut manik mata Riana.
"Satu hal yang Abang pinta. Percayalah sama Abang."
Riana benar-benar terhipnotis dengan apa yang diucapkan Aksa. Apalagi di depan Riana sudah ada wajah tampan dari seorang Aksara. Membuatnya terpesona. Aksa tak tinggal diam, dia mendekatkan wajahnya. Namun, Riana menghindar.
"Tunggu sampai kita sah jadi suami-istri."
Aksa pun tergelak mendengar ucapan Riana. Tangannya mengusap lembut rambut Riana. Hatinya benar-benar bahagia saat ini. Ketakutannya sirna sudah. Ternyata Riana masih menyimpan rasa yang sama.
Satu langkah lagi.
Riana terlelap dalam dekapan Aksa. Namun, Aksa tak dapat tertidur. Bayang-bayang kesedihan masih memutari pikirannya. Apalagi, dia menerima kiriman gambar yang membuat hatinya pedih.
Tibanya di Jakarta, Aksa membangunkan Riana ketika sudah tiba di bangunan besar bertuliskan hospital. Riana menatap ke arah Aksa dengan tatapan tidak mengerti.
"Kita masuk."
Hati Riana berdegup sangat cepat ketika memasuki area rumah sakit. Pikiran jelek sudah berkeliaran di kepalanya.
Ayah.
__ADS_1
Satu nama yang kini ada di kepala Riana. Dia mencari ponsel yang berada di dalam tasnya. Namun, ponsel itu dalam keadaan mati. Mereka tiba menjelang pagi.
Langkah Aksa terhenti ketika berada di ruang VVIP. Dengan ragu Aksa membuka pintu. Mata Riana melebar ketika melihat siapa yang berada di atas ranjang pesakitan dengan memeluk erat orang yang berada di sampingnya.
"Ka-kak."
Riana berlari menuju ranjang pesakitan itu. Dia menatap ke arah Echa dan juga Radit.
"Kakakmu keguguran dan rahimnya harus diangkat."
Air mata yang sudah surut di mata Echa kini meluncur kembali. Riana baru melihat kakaknya serapuh ini. Sosok kakak yang tangguh kini menjelma menjadi wanita rapuh.
Ketika pagi menjelang, semua mata orang yang baru saja datang memicing ke arah Riana dan Aksa.
"Kalian ...."
"Abang yang bawa Riana ke sini, Yah," terang Aksa.
Ayanda dan Aska tersenyum bahagia melihat wajah Aksa yang muram kini kembali ceria. Begitu juga dengan Rion. Wajah putri keduanya memperlihatkan aura yang berbeda. Namun, dia menatap ke arah sang putri sulung. Sedih dan sakit melihatnya seperti ini.
"Echa baru tidur," ungkap Radit.
"Apa semalaman dia nangis?" Radit mengangguk pelan.
Radit mendudukkan diri di kursi samping ranjang pesakitan Echa. Menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya.
"Ini kali kedua Echa merasakan kehilangan," imbuhnya.
"Tapi, ini kehilangan yang terdalam. Pastinya tidak akan pernah bisa Echa lupakan." Radit menghela napas kasar dan meletakkan punggung tangannya di pipi.
"Apa Echa sehancur ini ketika keguguran pertama?" Dengan cepat Radit mengangguk.
"Kali ini, Echa lebih hancur. Dia membutuhkan dukungan dari kita semua."
Semua orang berwajah murka ketika mengetahui Echa keguguran dan harus dilakukan pengangkatan rahim. Apalagi itu disebabkan oleh Ziva.
"Jangan harap kamu bisa hidup tenang." Wajah murka Radit terlihat jelas. Membuat Aska ketakutan karena baru kali melihat kakak iparnya seperti ini.
Bukan hanya Radit, Rion pun sangat marah. Apalagi Addhitama, dia akan mengerahkan anak buahnya untuk menangkap Ziva. Jika, perlu dia akan menghancurkan Ziva serta keluarganya.
"Anakku adalah harta paling berharga. Telah merusak berarti telah membeli. Akan aku lakukan hal yang sama terhadap anakmu."
Begitulah kemurkaan Rion. Wajah merah padam terlihat sangat jelas. Urat-urat kemarahan hadir di wajahnya.
Namun, kemarahan mereka bisa Aska tangani. Aska sudah menyusun sebuah rencana untuk menjebloskan Ziva ke dalam penjara dan akan membusuk di sana. Inginnya sih Aksa menjebloskan Ziva ke neraka jahanam.
__ADS_1
Welcome to the my game.