
Pikiran Iyan sangat terganggu dengan apa yang sudah dilihatnya. Bukan hanya Iyan yang melihatnya, Aleesa pun melihat hal yang sama.
"Iyan gak ingin melihat Kak Ri sedih lagi," batinnya.
Pulang sekolah, Iyan memilih untuk ke makan bundanya. Itu pun atas seizin sang kakak. Dia tidak ingin melihat sang kakak khawaqtir akan dirinya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan ketika dia memasuki pintu gerbang pemakaman di mana bundanya dikebumikan. Seolah dia pun disambut dengan kesedihan. Langkahnya membawa dia menuju pusara sang bunda. Iyan tersenyum dengan membawa bunga mawar putih.
"Assalamualikum, Bun."
Iyan mengusap lembut nisan sang bunda. Dia mulai menjongkokkan tubuhnya di samping makam sang ibu. Lama dia terdiam sambil terus mengusap nisan yang bernama Amanda Maharani.
"Kak Ri sudah menikah, kesedihannya sudah berakhir, Bun. Iyan sangat bahagia, apalagi wajah Kak Ri yang selalu berseri setiap hari," tuturnya.
Air mata Iyan menganak mengatakan itu semua. Dia bingung dengan apa yang dia lihat. Dia benar-benar takut.
"Iyan sedikit takut, Bunda. Iyan merasa akan ada sesuatu yang terjadi terhadap Kak Ri atau keluarga kecilnya. Iyan takut ... jika Kak Ri bersedih lagi. Sudah cukup air mata yang dulu Kak Ri keluarkan. Iyan selalu berdoa ... Supaya tidak ada air mata lainnya lagi. Kasihan Kak Ri ...."
Air mata Iyan menetes begitu saja. Apa yang dilihatnya itu memang samar. Walaupun begitu, ada ketakutan di hati Iyan. Iyan menangis tanpa suara. Seakan dia tengah bercerita kepada ibunya dengan bahasa kalbu.
"Bunda ... ketika Iyan menikah nanti, apa Ayah masih akan bisa mendampingi Iyan?"
Di kepalanya selalu berputar akan bayang-bayang kematian. Dia kadang berpikir, masih bisakah ayahnya menyaksikan dia menikah? Atau setidaknya menyaksikan Iyan wisuda. Dia ingin seperti kedua kakaknya yang didampingi oleh ayahnya.
Rasa takut itu perlahan muncul ketika dia sering melihat ayahnya meringis kesakitan atau mengeluh lelah setelah pulang bekerja. Terlihat keriput halus di ujung pipinya.
Wajar saja Iyan berpikiran seperti itu karena umur manusia tidak ada yang tahu. Iyan sendiri masih menyimpan trauma yang belum sembuh sampai sekarang. Melihat ibundanya meninggal dengan cara yang mengenaskan. Namun, Iyan selalu dan terus berdoa agar ibundanya diampuni segala dosanya.
Puas mengungkapkan semua isi hatinya di pusara sang ibu, Iyan kembali ke rumah. Rumah nampak sepi karena si triplets ada di rumah Oma mereka.
"Kak Ri, emang udah pulang?" tanya Iyan kepada Mbak Ina.
"Udah, Den."
Iyan hanya mengangguk pelan dan masuk ke dalam kamarnya. Sifat tertutup Iyan semakin hari semakin jelas. Dia lebih senang menghabiskan waktu di kamar atau di bawah pohon mangga. Tidak ada keinginan untuknya pergi keluar atau bermain bersama teman sebayanya.
Di negara yang berbeda, seorang pria yang sudah renta sedang menatap ke arah foto yang menampilkan dirinya beserta teman-temannya ketika Addhitma ulang tahun yang ke enam puluh. Mereka mengenakan baju serba putih dan tertawa bersama. Kebahagiaan yang lengkap di mana anak, cucu serta cicitnya berkumpul dengan wajah ceria. Ingin rasanya dia mengulang momen seperti ini. Namun, tubuhnya yang sudah tak mampu berjalan jauh mengharuskannya menggunakan kursi roda.
Sama sekali Genta tidak mempermasalahkan kehidupannya yang hanya sendiri di negara orang. Inilah jalan yang dia pilih. Dia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan kenangan dan ketenangan. Dia sadar, yang akan menemaninya sampai tua bukanlah anaknya, melainkan istrinya. Akan tetapi, istrinya sudah sangat lama meninggal. Putrinya pun sama, hanya ada Gio yang dia miliki. Putra kebanggaannya pun tengah sibuk dengan perusahaan yang dia wariskan, dia juga memiliki istri dan anak yang pastinya membutuhkannya. Genta bukan orang pemaksa. Toh, Gio sekali meluangkan waktunya untuk berkunjung ke Melbourne.
Matanya tertuju pada satu foto. Dia mengusap lembut foto adiknya, Winarya.
"Apa aku akan segera menyusulmu?" Suara yang terdengar sangat lirih.
Genta tersenyum ke arah foto Echa yang tengah bersanding dengan Radit di pelaminan. Pada saat itu hatinya benar-benar sangat bahagia. Bagaimana tidak, dia menikahkan cucu pertamanya dengan pria yang sangat luar biasa yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Dia juga yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta penuh haru yang Echa dan Radit jalani. Dari cinta monyet akhirnya ke jenjang yang serius. Dari long distance relationship hingga menuju halal. Apalagi, sekarang mereka berdua menjalani biduk rumah tangga yang sangat bahagia. Dikaruniai tiga orang anak kembar yang sangat lucu-lucu.
"Kakek kangen kalian," lirihnya.
Satu buah foto yang masih sangat baru yaitu foto cucu kesayangannya yaitu Aksara. Cucunya yang dia didik sangat keras selepas SMA hingga sekarang.
"Maafkan Kakek, karena surat wasiat bodong itu kamu harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak kamu cintai." Ada raut penyesalan yang terlihat di wajah renta Genta Wiguna.
Selepas kritis, Christo menceritakan semua perihal pengorbanan Aksara yang menikahi Ziva. Setiap kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Christo membuat Genta tak mampu membendung air matanya. Dia sangat tahu bagaimana perasaan cucunya. Dia sangat tahu betapa besarnya cinta Aksara untuk Riana. Hingga pada akhirnya, Genta menyusun rencana dan membuka semua kebusukan keluarga Ziva. Genta melihat jelas Aksara maupun Riana sama-sama terluka.
Bibirnya mulai terangkat ketika dia melihat foto pernikahan Aksara dan Riana. Wajah yang menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira. Rona bahagia mereka tunjukkan pada dunia.
"Semoga kalian cepat punya momongan." Harapan dan doa yang Genta panjatkan untuk kebahagiaan cucu keduanya itu. Dia yakin, ketika Aksa dan Riana memiliki anak kebahagiaan mereka akan semakin lengkap.
Kini, mata Genta tertuju pada sosok yang sangat mirip dengan Aksara. Siapa lagi jika bukan Askara.
"Cucuku yang paling nakal," gumamnya seraya tersenyum bahagia.
Bagaimana tidak, Askalah yang mampu melawan keinginan Genta. Dia juga yang tidak nurut akan perintah Genta. Dia seperti memiliki jalan hidup sendiri. Masa mudanya dihabiskan bersenang-senang. Namun, Genta juga tahu bahwa senang-senang ala Askara adalah senang-senang dalam bentuk positif. Dia memilih membuka usaha sendiri dengan tabungannya. Dia juga mendapat suntikan dana dari Raditya, kakak iparnya. Genta juga selalu memantau perkembangan kafe Askara.
"Nakal yang membanggakan," lanjutnya.
Kafe Aska sudah memiliki beberapa cabang. Itulah yang membuat Genta bangga. Pernah sekali Genta menanyakan perihal modal untuk membangun kafe milik Askara kepada Gio. Ayahnya pun menegaskan bahwa Aska tidak pernah meminta modal seperak pun kepadanya. Genta benar-benar sangat mengapresiasi kerja keras Askara.
"Cepat menikah. Kakek ingin melihat kamu bahagia," ujarnya.
Senyum terus mengembang di wajah Genta. Itulah yang akan dia lakukan jika tengah rindu dengan semua teman serta keluarganya. Perjalanan Melbourne-Jakarta cukup lama. Untuk saat ini dia memilih untuk bertahan di sana, menghabiskan kesendiriannya dengan keheningan.
Suara pintu terdengar, ternyata cucunya datang ke rumahnya ketika malam tiba.
"Ada apa? Tumben sekali," ujar Genta.
"Kek, ijinkan Abang untuk pulang ke Jakarta."
Aksa bagai anak kecil yang terus merengek meminta pulang. Genta malah tertawa dan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kenapa kamu jadi pria manja seperti ini?" tanya Genta. Dia sudah duduk di atas sofa.
__ADS_1
"Hati Abang gak tenang, Kek. Abang dengar dari si Adek kalau Riana sedikit terpukul dengan kepergian Arka," jelasnya. Ya, semua orang mengiranya seperti itu.
"Dia sudah sehat 'kan. Sudah pulang ke rumah juga," balas Genta santai.
"Kek ... Abang gak akan pernah bisa tenang kalau Abang gak lihat sendiri bagaimana kondisi Riana sebenarnya," terang Aksa.
Tidak dipungkiri, wajah cemas Aksa belum hilang sedari kemarin. Wajah letihnya pun sudah terlihat jelas. Aksara benar-benar sudah bekerja keras demi untuk pulang ke Jakarta.
"Bang, anggap saja kamu ini sedang berada di Medan perang. Riana juga harus bisa menganggap dirinya memiliki suami seorang prajurit tentara yang tengah bertugas membela negara."
"Ketika ada sesuatu hal yang terjadi kepadanya, tidak bisa prajurit itu meninggalkan tugasnya. Sekalipun, istrinya melahirkan ... dia harus tetap ada di Medan perang. Kembali ketika waktunya sudah tiba. Begitulah peraturannya," tukas Genta.
Aksa hanya menunduk dalam sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kakek bukannya kejam, tetapi inilah ilmu dasar yang harus kamu kuasai. Begitu juga dengan istri kamu," lanjutnya.
"Jika, perusahaan kamu sudah maju kamu boleh membawa istri kamu. Istri berkewajiban mengikuti ke mana suaminya pergi. Namun, sekarang bukan saatnya. Terlalu riskan dan berisiko besar. Kamu dan Riana harus bisa bersabar." Genta menepuk pelan pundak Aksa dan berlaku meninggalakan cucunya.
Ada rasa kasihan di hati Genta, tetapi dia juga memiliki rencana yang indah untuk Aksara.
"Kamu akan pulang ketiga semua orang menyambut kamu di usia yang bertambah," gumamnya.
Aksara sama sekali tidak bisa membantah. Apa yang dikatakan oleh kakeknya benar adanya. Ini pondasi awal yang harus bisa dia bangun. Aksara juga bukanlah orang pemaksa. Dia tahu ucapan orang tua adalah yang terbaik untuk anaknya.
Dia kembali ke kantor dan memeriksa laporan yang ada di atas meja. Lelah, kantuk tak dia hiraukan. Dia hanya ingin bertemu langsung dengan sang istri tercinta. Dia hanya ingin menghilangkan rasa cemasnya.
Tak terduga Aksa tidur dalam posisi duduk dan wajah tergeletak di atas meja. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Dia merasakan usapan hangat tangan mungil. Aksa mulai mengerjapkan matanya. Dia lihat anak itu mirip sekali dengan sang istri. Apalagi senyumnya yang sangat menyejukkan hatinya.
Anak perempuan itu menatap dalam manik mata Aksa. Dia mulai mendekat dan mencium pipi kanan Aksa.
"Love you ... Aku pergi."
Anak kecil itu melambaikan tangan dengan terus menjauh dari Aksa. Ingin Aksa mengejar, tetapi seperti ada benteng yang menjulang tinggi yang menghalanginya. Matanya pun mengerjap kaget.
"Ya ampun."
Aksa melihat ke arah jam dinding. Dia merapihkan semua pekerjaannya dan masuk ke dalam kamar kecil yang ada di ruangannya. Lelah dan kantuk sudah menyerangnya hingga dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Pagi harinya, Riana merasakan tubuhnya yang sangat tak berdaya. Lemah seperti tak bertulang. Ibu mertuanya memanggilnya untuk sarapan pun Riana tolak.
"Baiklah. Nanti akan Mommy bawakan sarapan ke kamar, ya." Riana mengangguk pelan.
Hari-hari sebelumnya, Rian senang sekali makan. Semenjak pulang dari rumah sakit dia seakan tidak berselera makan. Melihat semua makanan rasanya enek. Riana memilih untuk membaringkan tubuhnya kembali. Sekarang, kepalanya terasa berdenyut.
Dia mengoleskan minyak kayu putih ke pelipisnya berharap pusingnya hilang. Pintu kamar Riana terbuka, Echa datang membawa bubur ayam kampung kesukaan Riana. Akan tetapi, adiknya tengah terlelap dengan damainya.
Aleesa yang memaksa ikut terus terfokus pada perut sang Tante. Samar dia melihat ada, tetapi kadang juga tidak ada. Dia bingung apa yang dilihatnya sekarang. Tangan Aleesa menyentuh tangan Riana. Tidak ada yang dapat dia lihat, semuanya normal.
"Apa kemampuanku sedikit menghilang?" batinnya.
Echa mengajak Aleesa keluar kamar supaya tidak mengganggu tantenya. Aleesa mengikuti ajakan sang ibu.
Riana kembali terbangun ketika mendengar suara pintu ditutup. Dia melihat ke sekelilingnya, tetapi tidak ada siapa-siapa. Dia memejamkan mata kembali.
Ponsel Ayanda tak berhenti berdering. Dahi Ayanda berkerut ketika melihat siapa yang menghubunginya.
"Kenapa, Bang?"
Aksa melakukan sambungan video. Wajah cemas Aksa terlihat sangat jelas.
"Riana mana, Mom? Kenapa panggilan Abang tidak pernah dia jawab?" tanyanya.
"Mungkin istri kamu sedang tidur. Dia bilang badannya lemas, mau istirahat di kamar dan gak mau sarapan," terang Ayanda pelan. Dia tidak ingin membuat rasa cemas Aksa bertambah.
"Bisa Mommy ke kamar Abang?" Aksa benar-benar tidak percaya, dia masih cemas.
Ayanda mengikuti kemauan sang putra pertama. Dia masuk ke kamar Aksara dengan pelan. Dia tunjukkan Riana tengah terlelap dengan memeluk baju miliknya. Tiga menit Ayanda memanjakan Aksara menatap sang istri. Setelah itu, dia memilih keluar kamar.
"Sudah ya, Bang. Jangan khawatir. Riana baik-baik saja. Mommy dan keluarga di sini pasti akan menjaga Riana. Abang di sana jaga kesehatan, ya. Kembali lagi dengan sehat."
Aksa mengangguk dan mengakhiri sambungan videonya.
Aksara bisa bernapas lega melihat istrinya terlelap dengan begitu damainya. Dia ingin segera cepat pulang. Dia ingin memeluk tubuh Riana.
Peter membangunkan Aksa dari lamunannya. Mereka harus rapat kembali. Aksa mengikuti apa yang diperintahkan Peter. Dia tidak akan membuang waktu. Dia harus menyelesaikan semuanya agar semua pekerjaannya cepat selesai. Namun, di tengah perjalanan ponselnya berdering. Dosen kampusnya memanggil. Aksa jawab dengan sopan dan dia mencoba mendengarkan dengan seksama. Setelah itu dia menghembuskan napas kasar.
"Peter, ke kampus saya dulu."
Sebagai asisten, Peter akan mengikuti ucapan sang bos. Peter ikut serta masuk ke area kampus. Dia akan memastikan bosnya aman. Di ruangan dosen yang dimaksud, ada seorang wanita yang tersenyum hangat ke arah Aksa. Namun, tak Aska gubris.
__ADS_1
"Maaf, Aksara. Saya mengganggu waktu kamu."
"Ada apa, Pak?" tanyanya.
"Kamu tidak bisa selamanya belajar online. Bagaimana jika kita mengadakan pertemuan dua kali dalam seminggu, beserta Pia juga," ujar sang dosen.
Aksara menoleh ke arah Peter. Dia melihat jadwal Aksara. Seketika Peter menggeleng.
"Maaf, Pak. Waktu saya padat. Saya hanya bisa belajar secara online saja," jawabnya.
"Kenapa tidak di akhir pekan?" timpal Pia.
"Ide yang bagus itu," tambah sang dosen.
"Maaf, akhir pekan saya akan saya habiskan dengan ISTRI SAYA."
Kalimat yang penuh dengan penekanan. Bukannya Aksara tidak tahu, keponakan dari dosennya ini menyukainya. Akan tetapi, Aksa tidak memperdulikannya. Dia juga tidak memberitahukan status aslinya kepada sang dosen. Menurutnya akan ada waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Sekaranglah waktu yang tepat. Waktu yang akan membuat wanita itu gila karena patah hati.
Hanya Riana yang mampu mencairkan es batu ini. Hanya Riana yang mampu membuat Aksara bergairah dan hanya Rianalah yang mampu membuat Aksara yang galak menjadi jinak.
Aksara pergi meninggalakan kampus itu. Peter hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata Aksa lebih kejam dari seekor harimau. Dia juga tak pandang bulu.
"Jika, Anda sudah tahu akan terjadi hal seperti ini. Kenapa Anda menyetujui ajakan dosen itu?" tanya Peter seraya fokus pada jalanan.
"Inilah kesempatan saya," jawabnya.
Peter mengangguk mengerti. Kesempatan berbicara jujur di hadapan wanita serta dosennya.
"Bagaimana jika Anda dikeluarkan dari kampus itu?" tanya Peter.
"Saya tidak akan melanjutkan study lagi," jawabnya.
Mudah sekali Aska menjawab pertanyaan Peter. Seperti tanpa berpikir. Peter hanya menggelengkan kepalanya. Bos itu selalu benar, dan asisten selalu salah.
Mobil berhenti di sebuah restoran mewah. Meeting diadakan di sana atas permintaan rekan bisnisnya. Aksa hanya mengikutinya saja.
Ketika dia masuk, dia disuguhkan dengan pemandangan yang membuat dia kesal setengah mati. Rekannya malah bercumbu dengan wanita yang sedang berada di ruangan tersebut.
Sambutan dia berikan, dan wanita lain sudah menghampiri Aksa dan ingin menyentuhnya.
"JANGAN SENTUH SAYA!" pekik Aksa sangat keras.
Rekan bisnis Aksa pun tercengang mendengar pekikan suara Aksara. Begitu juga dengan para wanita itu. Mereka perlahan mundur menjauhi Aksara.
"Santai, Bro," ucap rekan bisnisnya.
"Usir para wanita atau kerja sama kita akan saya batalkan sekarang juga."
Wajah yang sudah murka, ucapan yang penuh dengan kemarahan Aksa tunjukkan.
Di lain Negara, dua orang anak tengah berada di dalam satu kamar. Iyan dan juga Aleesa. Mereka ditemani oleh Dev, Jojo dan Merriam.
"Apa penglihatan Kakak Sa saja?" tanya Aleesa.
"Om kecil pun melihat hal yang sama," jawab Iyan.
Mereka berdua menghela napas kasar secara bersamaan. Dev, Jojo dan Merriam hanya menyaksikan.
"Jangan mendahului Tuhan. Kemampuan kalian hanya seujung kuku atas kekuasaan Tuhan."
Raditlah yang berbicara, Aleesa segera memeluk tubuh Raditya karena sang ayah baru tiba dari Jogja.
"Nakal gak?" Aleesa menggeleng. Dia tidak mau melepaskan pelukannya.
"Terkadang apa yang kamu lihat itu tidak selamanya benar 'kan?" Iyan mengangguk.
"Lebih baik positif thinking aja. Semakin kamu berpikir negatif, otak kamu semakin dicuci dengan hal-hal buruk. Jangan sampai seperti itu, ya." Iyan mengangguk. Raditlah yang selalu mengarahkan Iyan dan juga Aleesa akan kemampuan yang mereka miliki.
Ketika tengah malam, perut Riana merasa keroncongan. Cacingnya sudah meronta-ronta. Riana melihat ke arah jam dinding. Sudah jam satu malam.
"Kok tiba-tiba pengen nasi Padang."
Riana mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi ojek online mencari kedai nasi Padang yang masih buka. Akan tetapi, semuanya sudah tutup.
"Minta tolong ke siapa, ya? Mommy dan Daddy pasti udah tidur," ucapnya pelan. Hingga dia tersenyum dan segera berjalan keluar kamar. Dia mengetuk pintu kamar Aska. Dengkusan keluar dari mulut Aska. Ketika pintu dibuka, dia melihat Riana dengan senyum anehnya.
"Kenapa belum tidur?" sergah Aska.
"Mau Nasi Padang."
"Hah?"
__ADS_1