
"A-ayah." Suara Riana terdengar berat dan ada rasa takut di hatinya. Apalagi, ayahnya melihat jelas Aksa sedang berbaring di pangkuannya.
Rion masih menatap Riana dan Aksa dengan raut datar dan dingin. Sorot matanya terlihat sangat tajam seperti ingin menguliti mereka hidup-hidup.
"Kamu lihat anak yang kamu banggakan. Bohong jika mereka tidak melakukan apa-apa 'kan. Apalagi sampai masuk ke suite room ketika menghadiri pesta denganku." Fikri mulai memperkeruh suasana.
"Ayah ...."
"Tegakkan kepala kamu Riana. Jangan pernah mau difitnah terus-terusan," tegas Aksa.
Riana menunduk dalam, dia tidak bisa berkata. Apalagi melihat pria kesayangannya sudah berdiri di depannya.
"Fitnah katamu! Jangan mentang-mentang kamu anak orang terpandang bisa mengelak begitu saja. Saya punya buktinya," ujar Fikri sambil menyerahkan rekaman video itu kepada Rion.
Pria itu bagai patung bernapas, tidak bereaksi sama sekali. Pandangannya hanya tertuju pada sang putri.yang masih menunduk dengan punggung yang terlihat bergetar.
"Lihat Rion! Pria itu telah merusak Riana," serunya.
Aksa tersenyum tipis mendengar penuturan Fikri. Wajah lelahnya kini berubah. Matanya yang mengantuk kini mulai kembali segar.
"Bukankah merusak berarti membeli. Jika, saya merusak Riana berarti saya wajib membeli Riana 'kan," sahutnya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Aksa. Riana yang tengah menunduk pun terkejut. Dia ingin mendekat, tetapi Aksa menggeleng. Melarang Riana untuk mendekat.
"PUTRIKU BUKAN BARANG!'
"Lebih baik kamu jauhi putriku!" bentak Rion.
Fikri tersenyum penuh kemenangan. Dia mampu mempengaruhi Rion.
"Laki-laki tak tahu malu! Sudah punya istri, sedang hamil juga malah selingkuh," sindir Fikri.
__ADS_1
"Cukup Om!" bentak Riana.
Rion dan Aksa sedikit terkejut mendengar ucapan yang sangat lantang dari Riana. Apalagi wajah Riana yang sudah merah padam.
"Sekarang mau Om apa?" Aura kemarahan nampak jelas di wajah Riana.
"Apa belum cukup Om mengadu domba aku dengan ayah? Memancing emosi ayah ketika semuanya sudah mereda."
Suara Riana kembali melemah, tetapi dengan tatapan yang ingin membunuh.
"Selama ini aku diam bukan karena aku tidak tahu. Aku tidak ingin mencari musuh. Aku tidak ingin membuat ayah dan kakak kecewa. Namun ... diamku malah Om manfaatkan. KALIAN SEMAKIN MENJADI!" pekik Riana.
Fikri tidak bisa menyanggah ucapan Riana. Dia mulai mencoba mendekat ke arah Riana. Mencoba menggapai tangan Riana.
"Om hanya ingin kamu bersanding dengan putra Om."
Tawa Riana menggelegar mendengar penuturan dari Fikri.
"Apa Om sudi memiliki calon menantu seorang wanita bookingan? Apa Om gak malu memiliki menantu yang sudah dirusak oleh orang lain? Dan apa Om rela menikahkan anak Om dengan wanita yang sudah masuk suite room dengan pria lain? APA OM SUDI?"
"Jika, Om ingin menyandingkan aku dengan anak Om. Harusnya Om jaga nama baik aku, bukan malah menjelek-jelekkan aku dan membuat aku dibenci oleh ayah aku sendiri. Apa Om sengaja agar aku dibenci Ayah? Terus Om datang membela aku seperti pahlawan? Begitu?"
Fikri hanya diam seribu bahasa, tidak ada yang bisa dia katakan. Apalagi melihat wajah Riana yang penuh dengan amarah. Ini kali pertama baginya.
"Maaf, Om. Aku bukan orang yang mudah luluh dengan cara seperti itu. Apalagi Om dan anak Om sudah menginjak-injak harga diri aku di hadapan umum dan juga ayah. Mulai dari sekarang, buang jauh-jauh keinginan Om itu! AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU BERSANDING DENGAN PUTRA OM."
Bagai petir di siang bolong mendengar ucapan Riana. Fikri menatap ke arah Rion dan mencoba meminta bantuan kepadanya. Namun, Rion masih bergeming.
"Ayah ... maafkan Ri jika selalu membuat Ayah kecewa. Maafkan Ri jika selama ini tidak pernah membuat bangga Ayah. Ri, memang bukan anak yang berbakti. Ri, juga bukan anak yang baik. Akan tetapi, untuk masalah hati tidak bisa dipaksa, Yah. Ri, hanya mencintai Abang. Sekeras apapun Ayah menentang, tidak akan membuat cinta Ri kepada Abang hilang," ungkapannya yang kini menatapnya arah Rion.
"Jika, Ayah menganggap Ri ini perempuan tidak tahu diri. Ri, akan terima. Pada nyatanya memang seperti itu. Ri, adalah perempuan egois yang merebut suami orang dan rela menjadi selingkuhan pria itu. Pria yang Ayah juga kenal dari kecil. Pria yang sudah ayah anggap seperti anak ayah sendiri." Riana menjeda ucapannya.
"Pria yang masih sangat Ri cintai sedari masa putih abu-abu," terangnya.
__ADS_1
Mulut Rion tercekat mendengarnya. Selama ditinggal sang bunda, Riana menjelma menjadi anak manis dan penurut. Baru kali ini, sifatnya yang dulu muncul lagi.
"Asal Ayah tahu, harga diri Ri sudah diinjak-injak oleh teman ayah itu dan juga anaknya. Ri, lelah Ayah. Ri, juga ingin bahagia." Sejurus kemudian, kepala Riana menunduk.
Aksa segera memeluk tubuh Riana. Titik kelemahannya terletak pada sang ayah. Ayahnya menjadi sosok keras membuat Riana merasa tertekan. Apalagi, semenjak rasa kecewa Rion kepada Aksa ketika membuat Riana menangis.
"Kamu mau jadi jagoan!" Bukan Rion yang berucap. Melainkan Fikri yang emosi melihat Aksa memeluk tubuh Riana.
Dari arah belakang seseorang sudah menarik kerah kemeja Fikri hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Ini kosan saya, jangan seperti di hutan," ucap Ari yang baru saja masuk ke dalam kosan.
"Bawa dia pergi!" titah Aksa dan Ari hanya mengangguk patuh.
Riana melepaskan diri dari pelukan Aksa. Dia melangkah mendekat ke arah Rion. Menatap manik mata sang ayah dengan penuh cinta.
"Apa yang harus Ri lakukan agar Ayah bisa merestui hubungan Ri dengan Abang? Apa harus Ri bersujud di kaki Ayah?"
Rion tersentak mendengar ucapan dari putrinya. Dia melihat betapa besar cinta yang putrinya miliki untuk Aksa. Begitu juga Aksa yang tak pernah sekali pun melawan kepada Rion, meskipun Rion sudah berbuat kasar kepadanya.
Hening.
Hanya suara denting jarum jam yang terdengar. Perlahan, tubuh Riana mulai membungkuk dan terus membungkuk. Aksa pun menahannya.
"Jangan pernah lakukan itu. Tugas Abang untuk meyakinkan hati Ayah."
Hati Rion mencelos mendengar ucapan Aksa. Dia menatap ke arah dua insan manusia yang sama-sama sedang berjuang mendapatkan restu darinya. Aksa meraih pundak Riana. Membawanya bangkit dan tidak perlu bersujud di hadapan ayah kandungnya.
"Apa Ayah masih akan terus mengeraskan hati Ayah? Apa Ayah tidak kasihan kepada Riana? Selama ini dia banyak mengalah. Menyimpan sedihnya sendirian. Menuruti apa yang Ayah katakan meskipun hatinya terpaksa. Bolehkah kali ini Abang minta kepada Ayah? Tolong jangan buat Riana menangis lagi."
Aksa menghela napas kasar, mengusap air mata yang sudah jatuh di wajah Riana.
"Ayah boleh benci Abang, tetapi jangan pernah buat air mata Riana menetes kembali. Abang tidak ingin melihat Riana terus bersedih dan membohongi hatinya terus-terusan. Abang ingin membuat Riana bahagia karena Abang sangat mencintainya. Tolong restui hubungan Abang dan Riana, Ayah."
__ADS_1
...****************...
Komen dong biar akunya semangat lagi ...