Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kami Iri


__ADS_3

Pukul setengah tujuh waktu Jakarta, Aksa tiba di kediaman orang tuanya. Mata kedua orang tua Aksa melebar ketika melihat putranya tiba di rumah dengan keadaan wajah yang sangat lelah.


"Riana mana, Mom?" Istrinyalah yang Aksa cari pertama kali.


"Apa kami sudah tidak begitu penting lagi untuk kamu?" sergah Gio.


Kalimat itu hanya gurauan saja, Aksa sama dengan dirinya. Jika, tengah dilanda kekhawatiran yang dia tuju orang yang sedang dia khawatirkan. Aksa mencium tangan sang ayah dan juga ibunya. Setelah itu dia berlari ke arah anak tangga. Di mana kamarnya berada di lantai dua. Jangan tanya Askara ada di mana. Dia masih bergelut di bawah selimut.


Pintu kamar Aksa bukan pelan. Dia melihat ke arah tempat tidur di mana sang istri tidak ada. Rasa cemas melanda kembali. Ketika dia melihat pintu kamar mandi terbuka, dia bisa bernapas lega. Dia masuk ke dalam kamar mandi tanpa suara. Istrinya pun tengah memunggunginya dan berada di depan wastafel. Tangannya melingkar di pinggang Riana. Senyum Aksa merekah ketika Riana sedikit terlonjak kaget.


Riana membalikkan tubuhnya dengan derai air mata. Sontak Aksa terkejut dan segera memeluk tubuh istrinya. Bingung dan khawatir jadi satu, hingga dia melihat ada benda yang asing baginya di atas watafel. Jumlahnya cukup banyak. Satu di antara benda itu Aksa raih dan mata Aksa hampir keluar dari tempatnya ketika melihat dua garis yang sangat jelas di sana.


"Sa-sayang ...." Suara itu bergetar. Aksa pun mengurai pelukannya.


"Ri, positif."


Bukan hanya Riana yang menangis, Aksa pun tak kuasa menahan tangisnya. Dia kembali memeluk erat tubuh sang istri. Mereka menangis haru bersama. Tidak ada yang bisa mereka ucapkan. Mereka terlalu terkejut dengan hadiah dari Tuhan.


Lama anak dan menantunya tak turun ke lantai bawah, hati Ayanda gusar. Dia takut terjadi sesuatu dengan menantunya. Apalagi, dia tengah menantikan hasil dari test pack tersebut.


Ayanda melihat kamar putranya sedikit terbuka, tidak biasanya seperti itu. Dia segera masuk dan tidak ada siapa-siapa. Namun, dia mendengar suara isakan lirih. Hati Ayanda bergetar tak karuhan. Ketika dia melihat ke arah kamar mandi, anak dan menantunya tengah berpelukan sambil menangis.


"Abang ... Riana ... kalian kenapa?" tanya Ayanda.


Aksa yang tengah menangis layaknya anak kecil segera memeluk tubuh ibunya. Dia menangis kembali di dalam dekapan hangat wanita yang sangat amat dia cintai.


"Abang, kamu kenapa? Jangan buat Mommy khawatir." Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Aksa. Dia hanya menangis dan menangis.


Begitu juga dengan menantunya. Namun, dia melihat Riana tengah memegang benda yang semalam dia berikan.


"Ri ...."


"Garis dua, Mom."


Ibu mana yang tidak akan terharu mendengar berita bahagia ini. Air matanya sudah menganak.


"Sini, Nak!" pinta Ayanda.


Riana memeluk tubuh mertuanya dan juga suaminya. Sepasang suami-istri ini menumpahkan rasa harunya di dalam dekapan sang mommy.


"Tolong jaga titipan Tuhan itu ya, Nak." Suara Ayanda terdengar sangat berat.

__ADS_1


Riana dan juga Aksa serta Ayanda turun ke lantai bawah. Di meja makan sudah ada Aska bersama sang ayah. Dia tidak terlalu terkejut dengan kedatangan abangnya, yang membuat dia terkejut adalah mata Abangnya yang sembab dan memerah.


"Lu nangis?" tanya Aska kepada Aksa.


"Menangis bahagia," jawab sang mommy.


Dahi Aska mengkerut mendengar ucapan dari Aska. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu.


"Ada apa, Mom?" tanya Gio yang sangat penasaran.


Riana menyerahkan semua test pack yang semalam Gio beli. Gio melihat satu per satu testpack tersebut dan semua hasilnya garis dua. Mata Gio sudah berkaca-kaca, dia benar-benar tak menduga akan hal ini.


Sekarang, dia memandang wajah Riana dengan senyum yang merekah.


"Terima kasih, Nak."


Hati Riana benar-benar terenyuh mendengar ucapan sang ayah mertua. Gio merentangkan tangannya agar Riana masuk ke dalam pelukannya. Sangat beruntung sekali seorang Riana Amara Juanda bisa menjadi bagian dari kelurahan Giondra Aresta Wiguna yang penuh dengan kasih sayang.


"Pantes, lu nyusahin gua melulu," ujar Askara kepada Riana.


Ayanda hanya tersenyum tipis dan mengusap lembut pundak sang putra kedua.


"Sabar ya, Dek. Harus manjain calon keponakan kamu," tutur Ayanda.


Hanya berselang sepuluh menit, seluruh keluarga Rion berbondong-bondong mendatangi kediaman Gio. Mereka sangat bahagia mendengar Riana hamil.


Orang yang pertama Riana peluk adalah ayahnya. Dia menangis di dalam pelukan sang ayah. Hanya ayahnya yang dia miliki. Hanya ayahnya tempatnya bersandar.


"Jaga cucu Ayah," ucap Rion dengan suara yang sangat bergetar.


Radit mengusap lembut pundak sang istri. Sudah pasti ada kebahagiaan juga kesedihan yang Echa rasakan. Bahagia karena Riana hamil dan sedih karena dia tidak bisa mengandung lagi.


"Kita sudah memiliki tiga anak. Itu sudah lebih dari cukup," ucap Radit.


Echa tersenyum dan menatap ke arah tiga buah hatinya yang sudah memeluk Aksa.


"Bubu, jangan sedih. Aku sudah bahagia."


Kalimat yang masih dia ingat sampai sekarang. Di mana ketika Echa harus melakukan pengangkatan rahim, selang satu Minggu ada anak laki-laki yang masuk ke dalam mimpinya. Wajahnya sangat mirip Radit. Dia juga didampingi oleh orang yang sama persis ketika dia meminta Aleesa dihidupkan kembali.


"Sekarang sudah waktunya aku menagih janjiku. Tiga tahun lalu, aku menghidupkan putrimu kembali dan kamu berjanji akan memberikan semuanya termasuk nyawa kamu sendiri. Namun, aku tidak akan merusak kebahagiaan kamu serta keluarga kamu. Aku hanya akan mengambil janin yang tidak berkembang di perut kamu serta rahimmu. Percuma kamu memiliki rahim, jika nantinya anakmu akan gugur lagi dan lagi, seperti yang terdahulu."

__ADS_1


Ada pesan yang tersirat dari ucapan orang berbaju putih dan bercahaya itu. Setalah kejadian itu, Echa mulai belajar mengikhlaskan semuanya. Tuhan memiliki rencana yang lain untuk keluarganya.


Iyan dan Aleesa pun nampak antusias ketika mereka melihat biji jagung itu ada. Terkadang, biji itu menghilang entah ke mana. Itulah yang membuat mereka gusar. Mereka hanya ingin melihat Riana bahagia, tidak menangis lagi.


"Bang, nanti beli susu ibu hamil. Semua rasa kamu beli," ujar Ayanda sangat antusias.


"Gak sekalian sama tokonya, Mom?" timpal Aska.


Pundak Aska dipukul oleh Gio hingga dia mengaduh. "Kamu gak senang banget sih lihat kakak ipar kamu bahagia?" sergahnya.


"Siapa bilang? Aku bahagia kok. Berarti ketiga cucu Mimo dan Aki gak akan disayang lagi, kasih sayang Mimo dan Aki akan beralih pada baby kecil."


Ketiga anak Echa menatap tajam ke arah Aska. Mereka segera berlari ke arah Mimo dan aki mereka.


"Bohong 'kan ucapan Om As-as itu, Mimo," ucap Aleeya.


"Mimo dan aki akan selalu menyayangi kalian. Meskipun, ada baby kecil kalian tetap cucu Mimo yang paling cantik."


Si triplets merasa menang dan kini mereka menjulurkan lidah mereka ke arah Aska. Aska hanya menatap mereka jengah.


"Daddy panggilkan dokter obgyn, ya," tawar Gio. Riana dengan cepat menggeleng. "Ri, ingin memeriksakan sendiri kehamilan Ri, Dad. Seperti orang hamil pada umumnya," tolak halus Riana.


"Boleh 'kan, Bang?" tanya Riana yang sedari tadi merangkul manja lengan sang suami.


"Tentu, Sayang." Kecupan hangat mendarat di kening Riana.


Aska benar-benar muak dengan pasangan di depannya ini. Dia pun mendengkus kesal.


"Wahai para suami-istri yang budiman, bisa tidak kalian menghargai perasaan jomblowan dan juga duda dua kali ini? Kami iri," ujar Aska dibuat semengenaskan mungkin.


"Kami? Lu aja kali, gua mah enggak," tukas Rion.


...****************...


Yuk yuk komen yang banyak ....


Kapan lagi aku berbaik hati UP 2x sehari. Satu bulan full loh, insha Allah.


Kalau masalah jam terbitnya jangan ditanya. Sesampainya aku aja.


Bagi yang tidak mengerti 'Aleesa dihidupkan kembali' sok baca Yang Terluka, biar bulan besok aku bisa gajian. Meskipun, bulan ini gajiannya sangat amat ngaret.🤧

__ADS_1


#curhat.


__ADS_2