Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Diusir


__ADS_3

Aku tidak memaksa kalian untuk menyukai karya ini. Aku menulis cerita ini sesuai pandanganku. Ternyata tanpa aku duga, dari pembaca setia cerita ini ada yang merasakan hal serupa dengan Riana.


Kalian bilang Aksa bodoh, ya aku diam. Tapi, kalian lihat seperti apa Aksa sekarang. Jangankan Riana yang klepek-kleepek. Emak-emak yang baca aja dibuat luluh lantah sama Aksa.😁


Akan tetapi, kali ini kritik datang untuk Riana yang katanya jadi cewek kok begitu. Terlalu berlebihan,🤧


Oke, aku jawab ya meskipun bikin dada naik-turun.


Menurut aku yang pernah muda dan pernah merasakan jatuh cinta pada usia remaja, sikap Riana tidak berlebihan. Wanita mana yang tidak akan bahagia ketika mendapatkan perlakuan manis yang tidak kita sangka dari pria yang kita sayang. Aku yang membayangkan saja berbunga-bunga, apalagi Riana.


Intinya gini, kalau gak suka sama alur, karakter dan lainnya dari cerita ini sok skip aja atau tinggalkan. Aku menulis ingin mencari kesenangan bukan mencari hujatan.🙏


Yang suka sama karya ini makasih banyak dan yang gak suka makasih juga. Sesederhana itu loh.🙏


...****************...


"Ab ...."


"Maaf Neng, saya mau nagih iuran sampah."


Hati yang berbunga-bunga kini patah seketika. Berharap pangeran berkuda putih datang malah pangeran bergerobak kuning yang datang. Sungguh terlalu terbuai membuatnya lupa daratan.


"Dia 'kan sibuk," gumam Riana.


Riana memberikan uang lima puluh ribu rupiah kepada si abang sampah. "Kembaliannya ambil aja, Mas," kata Riana.


"Hah? Kembalian dari mana Neng? Iuran sampahnya juga lima puluh ribu."


"Eh?" Riana tersenyum malu.


Baru saja Riana hendak menutup pintu, seorang kurir dari restoran cepat saji datang.


"Maaf, Mbak. Ada kiriman makanan untuk Riana Amara Juanda," kata si kurir.


"Saya gak merasa memesan makanan, Mas," tolak halus Riana.


"Yang pesan makanan ini bukan Mbak, tapi perusahaan WAG grup. Kata salah satu pegawainya, disuruh kirim ke alamat ini," terangnya.


WAG grup?


Riana mencoba mengingat perusahaan yang si kurir katakan. Tak lama dia mengingat sesuatu.


"Tempat Mbak Rani bekerja," gumamnya.


"Silahkan diterima, Mbak," ucap si kurir.


"Makasih, Mas."


Riana membawa makanan itu ke dalam rumah. Ketika dia buka, makanan yang dikirimkan mengingatkannya akan makanan yang kemarin dia dan Aksa santap di restoran cepat saji di Bandara.


"Kenapa harus ini?" keluhnya.


Makanan itu Riana singkirkan. Hanya dia tatap tanpa dia sentuh. Hembusan napas kasar yang terdengar.


Riana kembali fokus pada layar laptopnya. Mempelajari semua materi hingga dia benar-benar paham. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Ya ampun." Riana bergegas ke luar kamar. Dia menghidupkan lampu di setiap sudut ruangan.

__ADS_1


Pintu pun terbuka membuat Riana sedikit tersentak. Ternyata Rani yang baru pulang kerja.


"Baru bangun tidur?" tanya Rani sambil mengambil air di dispenser.


"Nggak, Mbak. Habis belajar sampai lupa waktu," jawabnya.


Rani hanya diam tidak menjawab ataupun menimpali ucapan Riana.


"Oh iya, Mbak. Makasih atas makanan yang tadi sore Mbak kirimkan," ucap Riana.


"Makanan?" ulang Rani.


"Iya, tadi ada kurir yang ngirim burger katanya dari WAG grup. Itu perusahaan tempat Mbak bekerja 'kan?"


Rani hanya menjawab dengan kata oh dan juga iya. Dia pun memilih masuk ke dalam kamarnya. Riana pun melakukan hal yang sama.


Membersihkan tubuhnya membuat otaknya terasa segar. Rani mengetuk pintu kamar Riana dan mengajak Riana makan malam.


"Mbak duluan aja, Ri belum lapar," ujarnya.


"Baiklah, kalau kamu lapar makanannya ada di dapur, ya."


"Iya, Mbak," jawab Riana.


Riana memutar lagu yang berjudul denting dari Melly Goeslaw.


"Sayang kau di mana, aku ingin bersama. Aku butuh semua untuk tepiskan rindu. Mungkinkah kau di sana merasakan hal yang sama. Seperti dinginku, di malam ini."


Riana bernyanyi mengikuti alunan lagu tersebut. Penggalan lirik lagu yang sesuai dengan isi hatinya sekarang ini. Tangannya memeluk erat tubuh Teddy bear pemberian dari Aksa. Seakan tubuh Aksa lah yang sedang dia peluk.


Ketika Riana tengah masuk ke dalam lagu tersebut, ketukan pintu kamarnya terdengar lagi.


"Tamu?" gumam Riana.


Dia mematikan lagu yang sedang diputar, kemudian menghampiri Rani yang sedang menyaksikan acara televisi hanya untuk menghilangkan penat.


"Tamu siapa, Mbak?" tanya Riana heran. Rani menggedikkan bahunya.


"Kamu lihat aja di luar. Ingat, gak boleh bawa masuk pria ke kosan ini," tegas Rani.


"Nggih Mbak."


Riana menuju ke arah luar, terlihat seorang pria yang tengah mematung membelakanginya. Postur tubuhnya tinggi sama seperti Aksa. Namun, Riana sedikit ragu dari aroma parfum yang sedikit tercium oleh hidungnya. Riana pun menggelengkan kepala. Menepis bahwa itu bukan Aksa.


"Maaf, Mas ca ...."


"Riana." Pria itu pun berhambur memeluk tubuh Riana sehingga membuat Riana tersentak.


"Arka ... bisa lepaskan pelukannya. Gak enak dilihat Mbak Rani dan tetangga yang lain."


Sorot mata Rani bagai elang yang akan memangsa musuhnya. Tajam dan membunuh.


"Maaf, aku terlalu bahagia," ujar Arka.


"Silahkan duduk," ucap Riana ke arah kursi kayu di depan kosan.


"Mau minum apa?" tanya Riana.

__ADS_1


"Aku tidak haus, aku hanya merindukan kamu." Tidak ada respon dari Riana.


Krik ... Krik ... Krik ... Krik ...


Hanya suara jangkrik yang merespon ucapan Arka. Semanis apapun ucapan Arka tidak mampu membuat hati Riana melambung tinggi dan berbunga-bunga. Berbeda jika Aksa yang mengatakannya.


"Kenapa kamu pindah kosan gak bilang ke aku?" hardik Arka.


"Memang harus, ya?" tanya Riana.


"Harus lah, di sini 'kan aku ditugaskan untuk menjaga kamu oleh ayah kamu," ungkap Arka.


Riana menghela napas berat. Pandangannya lurus ke depan.


"Tolong jangan bawa-bawa Ayah aku atau pun orang tua kamu," pinta Riana.


Riana ingin teguh pada pilihan hatinya. Jika, mendengar nama ayahnya serta kedua orang tua Arka membuat kebimbangan melanda hatinya kembali. Dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka, tetapi dia juga berhak untuk bahagia.


"Maaf," sesal Arka.


"Kamu tahu kosan aku dari siapa?" tanya Riana.


"Dari Kakak kamu. Awalnya Kakak kamu tidak ingin memberi tahu, tetapi karena dibujuk oleh ayah kamu barulah Kak Echa ngasih tahu," terangnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kehadiranku mengganggu?" sergah Arka.


"Aku ingin fokus pada sidang skripsi ku dulu," kilahnya.


"Aku tahu itu. Kedatanganku ke sini hanya ingin memastikan keadaan kamu saja. Aku frustasi ketika tidak mendapati kamu di kosan lama. Bertanya kepada pemilik kosan pun tidak tahu ke mana kamu pindah. Aslinya, aku tuh khawatir sekali sama kamu. Apalagi ketika pemberitaan itu mencuat ke permukaan. Aku yang baru tiba di Jogja memutuskan untuk terbang kembali ke Jakarta. Aku takut, jika kamu tertekan akan pemberitaan itu. Pastinya akan mencoreng nama keluarga kamu, akan menyakiti hati ayah dan kakak kamu."


"Tetapi itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Arka," balas Riana.


"Keluargaku tahu siapa aku. Mereka juga mengenal baik pria yang diberitakan bersamaku. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Semua keluargaku percaya padaku dan juga pria itu. Jika, orang memandang lain padaku biarkan saja," tukasnya.


"Bagiamana dengan univeristasmu? Bagaimana dengan teman-temanmu?"


"Selagi kakak dan ayahku tidak mendapat surat panggilan dari pihak kampus itu tandanya tidak masalah. Jika, memang aku terbukti melakukan hal tersebut sudah dipastikan aku akan dikeluarkan. Akan tetapi, semuanya baik-baik saja. Malah baru saja dosen pembimbingku memberikan arahan kepadaku," jelasnya.


"Untuk teman-temanku kamu juga tidak perlu khawatir. Temanku hanya ada dua orang," lanjut Riana.


Arka merasa ucapan Riana tidak selembut ketika mereka pertama kali bertemu. Semenjak tangan Riana yang terus bertaut dengan tangan pria itu, membuat jarak antara Arka dan Riana semakin menjauh.


Apa aku harus menyerah sebelum bertanding? Itulah isi hati Arka.


Hanya keheningan yang sekarang tecipta, hingga sinar lampu mobil yang menyilaukan menyorot ke arah mereka berdua. Sebuah mobil masuk ke halaman kosan yang cukup luas. Keluarlah seorang pria berkemeja rapih serta jas yang masih menempel di tubuhnya. Tatapan sinis mengarah pada Riana dan Arka.


"Apa kalian tidak membaca peraturan di depan? Tamu yang datang tidak boleh lewat dari jam delapan malam. Jam berapa sekarang?" sinis pria muda itu.


"Cepat pulang!" usirnya pada Arka.


Riana hanya terdiam, menatap lamat-lamat pria yang mengusir Arka tersebut.


Wajahnya seperti pernah lihat.


...----------------...


Giliran up satu bab disuruh up lagi. Giliran up dua bab sepi komen. 🤧

__ADS_1


nasib ... nasib ....


__ADS_2