
Semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aksara. Dia masih menyimpan dendam yang begitu dalam pada Sarah.
"Bang." Riana mengusap lembut pundak sang suami.
"Kamu lihat 'kan bagaimana reaksi racun itu? Andai aku tidak tahu rencana busuk wanita itu ... kamu yang akan jadi korbannya," pungkas Aksa.
Riana tertunduk dalam. Niatnya untuk meredakan amarah Aksa dia urungkan. Apa yang diucapkan oleh suaminya benar adanya.
Pengacara keluarga Mahendra pun menunduk dalam. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dua polisi itu pun menyetujui apa yang diperintahkan Aksa.
Selepas kepergian dua polisi serta pengacara Mahendra, Aksa memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Riana memandang punggung Aksa dengan nanar.
Echa mengusap lembut pundak sang adik. "Kamu harus sabar menghadapi sikap keras kepala Aksara," imbuhnya.
Ayanda pun membenarkan bahwa Aksa memang lebih keras kepala dibanding Aska. Apa yang dia putuskan tidak akan pernah bisa diganggu gugat.
"Ikuti saja kemauannya. Semuanya dia lakukan untuk menyelamatkan kamu 'kan," timpal Gio.
Riana mengangguk mengerti. Satu per satu sifat asli Aksara terkuak. Di sinilah dia harus menjadi istri yang kuat menghadapi kekerasan kepalaan suaminya.
"Ri, ke kamar dulu, ya." Semua orang mengangguk.
Setelah Riana menghilang pandangan semua orang tertuju pada Askara.
"Kenapa mandangin Adek begitu?" tanyanya bingung.
Ayanda menggenggam tangan Askara. Sorot matanya menunjukkan penuh harapan besar.
"Ketika kamu punya istri, hilangkan kekeras kepalaan kamu ya, Dek. Jangan seperti Abang kamu," tuturnya.
"Mom ... jika, Adek ada diposisi Abang pun Adek akan melakukan hal yang sama. Keras kepala kami karena alasan yang kuat. Tidak ada seorang suami yang menginginkan istrinya dicelakai oleh orang lain," ungkapnya.
Gio dan Radit mengangguk, mereka setuju dengan apa yang diucapkan oleh Askara.
"Kematian Tante Sarah sudah takdir. Jangan menyalahkan Abang juga. Coba jika Riana yang meminum racun itu. Bukan hanya Abang yang gila. Ayah Rion pun pasti lebih terpukul. Jangan hanya dilihat dari sisi iba, Mom. Orang yang mesti kita kasihani itu adalah diri kita sendiri," lanjutnya lagi.
"Ucapan Aska benar, jangan terlalu mementingkan perasaan dalam membasmi musuh karena itu sama saja menggali kuburan kita sendiri," tambah Gio.
Ayanda terdiam, dia tengah mencerna ucapan putra bungsu dan suaminya.
Di dalam kamar, Riana menghampiri Aksa yang tengah berdiri di depan jendela. Pandangannya lurus ke depan dengan tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana. Hanya ujung mata Aksa yang melirik ke arah sang istri yang sudah berada di sampingnya.
"Maaf," lirih Riana.
Hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Aksara. Tidak ada jawaban apapun dari mulut Aksa.
"Ri, hanya tidak suka Abang berbicara kasar seperti itu. Tante Sarah juga manusia," ucapnya pelan.
Aksa menatap tajam ke arah Riana. Dia tersenyum tipis.
"Manusia berhati iblis," sahutnya.
Riana terdiam, dia menatap manik Aksa yang masih menyorotkan kemarahan luar biasa.
"Jangan terus menggunakan hati dan perasaan. Sesekali mainkan logika agar kamu paham mana orang yang biak sungguhan dan mana musuh dalam selimut," tekannya.
Baru kali ini Riana melihat Aksa semurka ini kepadanya. Sikap manis Aksa seperti menghilang ditelan bumi. Tak terasa bulir bening pun menetes begitu saja membasahi wajah Riana.
"Ri, salah," sesalnya, seraya menundukkan kepalanya.
Ada rasa bersalah di hati Aksa karena telah membentak Riana. Akan tetapi, amarahnya belum tersalurkan semuanya.
"Abang keluar sebentar."
Kalimat yang membuat Riana terkejut. Dia melihat suaminya sudah meraih kunci mobil di atas nakas. Tidak ada kecupan hangat ataupun kata-kata manis yang Aksa ucapkan kepadanya. Aksa pergi begitu saja. Air mata Riana pun semakin deras mengalir.
Pertanyaan semua orang terhadap Aksa dia abaikan. Dia terus melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Mommy akan ke kamar Riana." Tangan Ayanda dicekal oleh Gio. Dia menggelengkan kepala.
"Biarkan mereka menyelesaikan semuanya sendiri. Kita tidak perlu mencampuri urusan mereka," tukasnya.
"Apa yang dikatakan Papah benar, Mah. Si Abang hanya emosi sesaat, sudah biasa 'kan dia seperti itu kalau emosi. Setelah emosinya reda juga dia akan kembali seperti biasa lagi," ujar Echa.
Aksa mengendarai mobil dengan amarah yang menggebu. Kematian Sarah membuat amarahnya semakin memuncak karena racun yang akan Sarah berikan kepada Riana sangat mematikan. Setengah dosis yang Aksa berikan kepada Sarah pun mampu membuat Sarah meninggal. Bagaimana jika semua racunnya dia berikan?
"Keluarga iblis!" pekiknya.
Emosi Aksa benar-benae tidak bisa diredam. Jika, seperti ini dia akan pergi ke apartment miliknya yang berada di Jakarta. Apartment yang hanya dikunjungi ketika dia sedang emosi tingkat dewa. Tempat yang bisa meluapkan segalanya karena ada Sasak tinju di sana. Pernah sekali Aksa marah besar dan tangannya terluka parah.
Menjelang sore, Aksa belum juga kembali. Riana mencoba menghubungi Aksa, tetapi ponselnya dimatikan. Hati Riana semakin khawatir. Dia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Askara. Mencoba bertanya perihal Aksa. Namun, Aska hanya menggelengkan kepala. Bertanda dia tidak tahu.
__ADS_1
Riana kembali ke kamar, ajakan sang ibu mertua untuk makan malam pun Riana tolak.
"Nanti, Aksa pulang kok. Kalau tengah emosi pasti dia akan pergi karena dia tidak ingin orang disekelilingnya kena imbasnya," jelas Ayanda.
Riana hanya mengangguk dengan senyum perih. Berkali-kali Ayanda mengajak Riana untuk makan malam, tetapi Riana selalu menolak. Pada akhirnya, Ayanda menyuruh pelayan untuk membawa makanan ke kamar Riana.
"Bagaimana, Mbak?" tanya Ayanda.
"Hanya diletakan di atas meja, Nyonya. Mata Nona Riana juga sembab," lapornya.
Ayanda hanya menghela napas kasar. Sekarang sudah jam delapan malam, Aksa belum juga kembali.
"Udah sih, Mom. Entar juga si Abang pulang," ucap Aska yang tengah membawa camilan ke ruang keluarga.
"Kamu udah telpon?"
"Kalau lagi emosi yang ada ponsel Abang dimatiin," jawab Aska.
Helaan napas kasar Ayanda keluarkan. Aska menuntun Mommy-nya menuju kamar. Dia tahu ayahnya tengah keluar bercengkrama bersama dua sahabatnya yang absurb, yaitu Arya dan juga Rion.
Jam sepuluh malam, pintu terbuka. Aska yang masih betah di ruang keluarga sambil menonton film Spongebob menoleh.
"Bini lu gak mau makan. Kalau ada apa-apa tanggung jawab lu," sergah Aska.
Aksa segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Aska hanya tersenyum melihat tingkah kakaknya.
"Bucin banget sih lu, Bang," gumamnya.
Pintu kamar terbuka, Aksa melihat Riana tengah meringkuk bagai anak bayi. Makanan di atas nakas pun masih utuh tak dia sentuh. Aksa menghampirinya, dia duduk di bawah ranjang dengan memperhatikan wajah Riana yang terlihat sembab.
"Maafkan Abang, Sayang." Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana. Tangannya mengusap lembut kepala Riana.
Mata Riana perlahan terbuka karena merasakan sentuhan lembut. Matanya memicing ketika melihat wajah sang suami di hadapannya.
"Abang," lirihnya.
Riana bergegas duduk dan memeluk tubuh Aksa. "Maafkan, Ri. Jangan tinggalkan Ri," ucapnya seraya menitikan air mata.
Aksa mengusap lembut belakang rambut Riana. Aksa mengurai pelukannya, dia menghapus air mata yang sudah membanjiri wajah istri cantiknya.
"Maaf ya, Sayang. Inilah sifat jelek, Abang." Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana.
"Jangan pergi dan jangan tinggalkan Ri lagi." Aksa mengangguk seraya tersenyum.
"Mau apa?" tanya Aksa lembut.
"Makan di luar," jawabnya.
Aksa mencubit gemas pipi sang istri. Dia mengiyakan ajakan istri tercintanya. Riana hanya mengenakan piyama tidur dan Aksa pun belum berganti pakaian.
"Naik motor aja, ya." Riana mengangguk.
Ketika sepasang suami-istri itu keluar kamar, mereka berpapasan dengan Askara.
"Mau ke mana?" tanyanya.
"Nyari makan," jawab Aksa.
"Ikut!" Aksa berdecak kesal sedangkan Riana hanya tertawa.
"Ke angkringan tempat gua nongkrong aja yuk, enak-enak loh. Si triplets juga ketagihan sama makanan di sana," terang Aska.
"Benarkah?" Aska mengangguk.
"Bang," ucap manja Riana.
"Iya."
Riana mencium pipi Aksa dengan gemasnya membuat Aska berdecak kesal.
"Kebiasaanlah!" sungutnya.
Mereka menggunakan dua motor. Riana nampak bahagia dan memeluk erat sang suami. Ini kali pertama mereka berboncengan seperti ini.
Tibanya di tempat yang Aska tuju, ternyata sudah ada Ken dan Juno di sana. Aksa masih sibuk membukakan helm yang Riana gunakan.
"Sweet banget," ucap Ken.
"Namanya juga pengantin baru," balas Juno.
Ken dan Juno menyapa sopan kakak dari sahabat mereka ini. Namun, wajah Aksa nampak datar dan dingin. Berbeda dengan istrinya yang sangat ramah.
__ADS_1
"Kalian pesan aja di sana, sekalian pesen susu jahe, ya."
Aksa mengikuti perintah Aska, dia menuju angkringan kecil yang sangat ramai pengunjung. Apalagi sekarang ini malam Minggu. Tangan Aksa terus menggenggam erat tangan istrinya.
"Ganteng dan cantik banget," puji Ken.
"Perfect couple," sambung Juno.
Aska hanya tertawa, dia malah asyik dengan ponselnya. Menatap siluetnya yang tengah mengecup bibir Jingga di pinggir pantai ketika senja menghilang.
"Sedang apa kamu di sana?" batinnya.
Aksa dan Riana kembali ke tempat Aska dan kedua temannya. Mereka bergabung di sana, dengan tangan Aksa yang tak terlepas dengan tangan Riana. Ken dan Juno hanya bisa menjadi penonton atas keromantisan Abang dari Askara ini.
Makanan yang Riana pesan sudah tersaji. Ken dan Juno tercengang dengan apa yang Riana pesan.
"Ini diborong semua, Bang?" tanya Ken.
"Saya tahu kalian kelaparan," sahutnya. Aska tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari abangnya ini. Berani meledek Ken dan Juno.
"Makasih kalau begitu, Bang. Sering-sering aja, ya," ujar Juno.
"Ngelunjak!"
Lagi-lagi Aska tertawa. Riana pun tersenyum mendengar jawaban dari suami dinginnya ini. Riana menyuapi Aksa sate kulit yang katanya menjadi favorit di angkringan ini.
"Enak," ucap Aksa. Riana tersenyum dan ikut memakannya.
Ken dan Juno sudah mulai kebal dengan sikap romantis pengantin baru ini. Sama halnya dengan Aska yang malah asyik memainkan gitar yang dibawa Ken.
🎶🎶
Aku masih ada di sini
Masih dengan perasaanku yang dahulu
Tak berubah dan tak pernah berbeda
Aku masih yakin nanti milikmu
Suasana seketika menghening. Semua pandangan mata tertuju pada Aksa yang tengah bernyanyi dengan suara merdunya.
🎶
Aku masih di tempat ini
Masih dengan setia menunggu kabarmu
Masih ingin mendengar suaramu
Cinta membuatku kuat begini
Kini semua orang bernyanyi bersama. Lagu yang menjadi kisah Mas Al dan Andin favorit ibu-ibu zaman now.
🎶
Aku merindu
Kuyakin kau tahu
Tanpa batas waktu
Kuterpaku
Aku meminta
Walau tanpa kata
Cinta berupaya
Engkau jauh di mata
Tapi dekat di doa
Aku merindukanmu
Semua orang bertepuk tangan mendengar suara Aska. Petikan gitar masih terdengar dan semua pengunjung di sana merasa terhibur.
"Askara," panggil seseorang.
...****************...
__ADS_1
Maaf ya, kalau kalian bosan karena aku Up lagi dan lagi. 🙏