
"Kemasi barang-barang kamu dan ikut Abang ke Jakarta."
"Jakarta?"
Aksa menurunkan tubuh Riana dari pangkuannya. Dia kini bersimpuh di hadapan sang pujaan hati dengan menggenggam erat tangannya.
"Semua orang sudah menunggu kamu di sana," ujar Aksa.
"Menunggu?" Aksa mengangguk.
Bibir Aksa mendarat di kening Riana sangat lama. Kemudian mengusap pipinya dengan sangat lembut.
"Kemasi barang-barang kamu dan tunggu Abang di parkiran."
Keseriusan yang mata Aksa tunjukkan membuat kepala Riana mengangguk refleks. Hatinya tengah bertanya-tanya sebenarnya ada apa.
Riana pergi dari ruangan Aksa dan segera mengecek ponselnya. Ada pesan dari sang ayah yang menyuruhnya untuk pulang hari ini juga. Ada rasa cemas di hati Riana takut ada yang terjadi dengan keluarganya.
"Ri, kamu gak apa-apa 'kan?" Pertanyaan Randi membuat Riana terkejut. Dia menjawab dengan gelengan kepala saja.
Namun, Randi mengerutkan dahinya ketika Riana sudah memasukkan barang-barangnya. Padahal jam makan siang pun belum tiba.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku dipecat, jadi aku harus pergi."
Riana sudah bangkit dari duduknya, tetapi tangan Randi menghentikan langkah Riana. Bertepatan dengan itu, Aksa keluar dari ruangannya. Riana menoleh ke arah Aksa begitu juga Aksa yang tengah menatap ke arah tangan Randi.
"Di sini kantor, bukan tempat untuk pacaran." Ucapan yang terdengar sangat mengerikan bagi Riana.
Riana mengibaskan tangannya hingga tangan Randi terlepas dan dia memilih langsung pergi dari pada melihat Aksa murka bagai monster.
Baru saja Riana hendak menekan tombol lift, seorang wanita sudah menarik kerah kemeja belakang Riana hingga dia terhuyung ke belakang.
"Sakit, Mbak." Tubuh Riana membentur dinding.
"Lebay!" ejek Denisa.
"Makanya kalau gak punya kemampuan jangan sok-sokan pengen jadi sekretaris direktur utama. Itu akibatnya kalau kerja bukan pakai lamaran, cuma pakai NGAMAR."
Tangan Riana sudah mengepal sangat keras. Ingin rasanya dia menonjok bibir tak tahu adab yang Denisa miliki. Namun, dia harus mampu menjaga emosinya.
"Jaga bicara kamu!" sentak seseorang yang baru saja datang.
Tubuh Denisa bergetar hebat ketika melihat wajah direktur utama yang sudah merah padam.
"Kamu menghina Riana berarti kamu menghina saya juga. Sayalah orang yang menerima Riana jadi sekretaris saya," bentak Aksa.
Suara keras Aksa membuat para karyawan yang tengah fokus bekerja mulai mengintip. Banyak ucapan bahagia karena Denisa dimarahi oleh bos mereka. Bukan tanpa alasan, Denisa adalah si ratu nyinyir dan cibir di WAG Grup. Banyak orang yang tidak suka dengan dirinya. Namun, berhubung Denisa adalah anak dari seorang kerabat dari pemilik WAG grup tidak ada yang berani mengeluarkannya. Meskipun, kinerjanya sangat buruk.
Aksa sudah menunggu Riana di parkiran. Namun, dia tak kunjung datang. Riana masih betah di pantry. Berpelukan dengan Jingga, teman satu-satunya Riana selama bekerja di WAG Grup.
"Aku pasti kangen sama, Mbak," ujar Jingga.
"Aku juga," balas Riana.
__ADS_1
Riana mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Beberapa uang lembaran merah dia berikan kepada Jingga.
"Untuk apa ini, Mbak?" Jingga enggan menerimanya.
"Anggap ini hadiah perpisahan kita. Kamu terima ya. Jangan pernah menunda makan siang kamu." Ucapan Riana mampu membuat Jingga berkaca-kaca.
"Makasih banyak, Mbak."
Dari balik pintu bibir seseorang tersungging dengan sempurna. Tidak salah jika dia mencintai Riana, wanita yang baik hatinya.
Riana bergegas ke parkiran, seseorang membukakan pintu untuknya dan Aksa sudah menatap dingin ke arahnya.
"Maaf, tadi ...."
Aksa menarik tangan Riana ke dalam dekapannya. Mengecup ujung kepala Riana berulang.
"Siapa Randi?" Riana mendongak menatap ke arah Aksa.
"Kenapa dia sampai membela kamu mati-matian? Dia mengancam akan keluar dari WAG Grup karena pemecatan tak masuk akal yang Abang lakukan," terangnya.
"Abang cemburu?" Pertanyaan yang membuat Aksa mendelik kesal, sedangkan Riana tertawa.
"Abang gak suka dia pegang-pegang tangan kamu." Riana terkekeh mendengarnya, dia mengeluarkan tisu basah dari dalam tasnya.
"Lap kalau begitu," titah Riana.
Aksa bagai anak kucing penurut dan dia mengelap bekas cekalan tangan Randi.
"Kaki kamu masih sakit?" Riana menggeleng dan tengah asyik menyandarkan kepalanya di dada bidang Aksa.
"Ada pekerjaan yang lebih penting yang harus kamu lakukan. Gajinya pun sangat besar," sahut Aksa, seraya mengusap lembut rambut Riana.
"Apa?" Riana mendongakkan kepalanya.
"Jadi istri dan ibu dari anak-anak Abang. Semua harta Abang akan Abang berikan untuk kamu." Riana tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Aksa.
Aksa dan Riana menggunakan pesawat komersil menuju Jakarta. Tangan Aksa dengan posesifnya terus menggenggam tangan Riana.
"Kamu tidur aja, ya." Aksa mengecup ujung kepala Riana.
Tibanya di Bandara Soekarno-Hatta, mereka dijemput dengan dua mobil yang berbeda.
"Kita gak bareng?" Aksa menggeleng.
"Abang masih ada kerjaan. Kalau sudah sampai rumah kabari Abang." Aksa mengecup kening Riana sebelum dia masuk ke dalam mobil.
Waktu masih menunjukkan pukul tiga, kedatangan Riana disambut oleh ketiga keponakannya dan juga adiknya. Ayah serta kakak dan juga kakak iparnya belum pulang kerja.
Namun, mata Riana memicing ketika ada beberapa oranb yang tengah mendekor halaman samping.
"Iyan, ada acara apa?" tanya Riana.
"Makan malam, Kak."
Riana tidak mempedulikannya, rasa lelehannya menggiringnya menuju kamar. Dia ingin merebahkan tubuhnya karena hari ini terlalu banyak kejutan yang dia terima.
__ADS_1
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ketika dia membuka mata, kakaknya sudah cantik dengan kebaya modern berwarna Lilac.
"Kapan kamu sampai?" tanya Echa.
"Jam tiga. Kakak mau ke mana?" Hanya seulas senyum yang Echa tunjukkan.
"Kamu mandi dan pakai baju ini." Echa memberikan paper bag kepada Riana.
Setelah selesai mandi, dia mengkerut ketika melihat isi dari paper bag tersebut. Kebaya modern yang sama seperti sang kakak, tetapi berbeda warna.
"Ada acara apa sih?"
Riana tidak ingin banyak bertanya. Dia memakai baju yang sudah kakaknya siapkan. Dia juga memoles tipis wajahnya dengan rambut tergerai dengan ujung yang dibuat keriting.
"Ya ampun, cantik banget." Suara kakaknya membuat Riana tersenyum.
"Ayo kita turun, tamunya sudah datang."
"Tamu?" ulang Riana.
Echa menggandeng tangan Riana dan membawanya turun ke lantai bawah. Di halaman samping sudah ramai orang.
Mata Riana membola ketika melihat seseorang yang sudah tersenyum ke arahnya dengan raut yang sangat bahagia. Kehadiran keluarga Wiguna dengan lengkap membuat hati Riana berdegup sangat kencang.
"Ri, duduk di sebelah Ayah."
Riana baru sadar bahwa ayahnya sudah memakai batik sama dengan yang lainnya. Dia menuruti perintah sang ayah. Baru saja dia meletakkan bokongnya suara Genta sudah terdengar.
"Saya tidak akan berbasa-basi. Kedatangan saya ke sini untuk melamar Riana menjadi calon istri dari cucu laki-laki pertama saya, Aksara."
Kejutan lagi dan lagi yang Riana dapatkan. Aksa hanya mengulum senyum ketika melihat wajah syok Riana.
"Nak Rion juga pasti sudah tahu bagaimana hubungan Aksa dan juga Riana. Dari pada terus berpacaran, alangkah lebih baiknya kita halalkan saja dalam ikatan pernikahan. Apa Nak Rion setuju?"
"Saya kembalikan semua keputusannya kepada Riana, Om. Bagaimanapun yang akan menjalankan rumah tangga adalah Riana," jawab Rion.
"Bagaimana Ri?" tanya Genta.
"Kakek, Mommy dan Daddy ... jika Ayah merestui lamaran ini insha Allah Ri setuju. Restu Ayah adalah jalan menuju kebahagiaan Ri," jawabnya.
Mata Rion nanar mendengar ucapan putrinya ini. Apalagi, Riana tengah menatapnya. Seolah sedang bertanya, setujukah? Anggukan mantap Rion berikan dan membuat semuanya mengucapakan kata syukur.
Ayanda bangkit dari duduknya dan memberikan kotak berwarna merah kepada Aksa. Kini Aksa dan Riana berdiri di hadapan mereka semua. Aksa menyematkan cincin cantik dengan ukiran yang indah di atasnya. Begitu juga sebaliknya yang Riana lakukan. Tak segan Aksa mengecup kening Riana sangat dalam di hadapan keluarganya dan juga keluarga Riana.
"Makasih, Sayang." Riana memeluk tubuh Aksa sangat erat.
"Kapan pernikahannya dilaksanakan?" tanya Genta, disela menikmati makanan.
"Minggu depan."
Riana syok mendengar jawaban dari Aksa. Dia menatap ke arah calon suaminya yang berada di sampingnya.
"Semuanya sudah ada yang atur. Waktu satu minggu cukup untuk mempersiapkan pernikahan kita."
...****************...
__ADS_1
Siapin kado ya ...