Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Testpack


__ADS_3

"Uncle, Eesa ingin ke kamar mandi." Si anak kedua dari Echa dan Radit bersuara.


Dengan senang hati Aksa bangkit dari duduknya dan meninggalkan makanan di atas meja makan. Dia mengantar Aleesa untuk pergi ke kamar mandi. Langkahnya terhenti ketika dia mendengar percakapan antara dua orang yang samar terdengar.


"Aku masih sangat mencintai kamu, Ziva. Aku akan bertanggung jawab dengan anak yang berada di dalam kandungan kamu. Walaupun, itu bukan anak aku."


Aksa semakin menajamkan pendengarannya. Sedangkan Aleesa menarik tangan Aksa agar segera menuju kamar mandi. Mata Aksa memicing ketika melihat Rakha menggenggam tangan Ziva.


Ada hubungan apa mereka berdua?


"Uncle, Eesa kebelet," ucapnya.


Kedatangan Aksa membuat Rakha dan Ziva gelagapan. Seperti orang yang baru saja terciduk razia.


"Kalian sedang apa?" Sebuah pertanyaan yang membuat dada Ziva bergemuruh dengan sangat kencang.


"Ti-ti-dak, Sayang. Aku muntah-muntah lagi, terus sopir kamu membantu memijat tengkuk aku." Ziva mencoba untuk menjelaskan.


"Lalu, apa kamu pikir aku akan cemburu?"


Jleb.


Jawaban yang sangat menjatuhkan harga diri Ziva di depan Rakha. Terlihat sekali bahwa Aksa tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Ziva.


"Uncle, sudah." Aksa menoleh pada anak perempuan di sampingnya. Dia membungkukkan badannya dan merapihkan pakaian Aleeya.


"Kamu cantik sekali," puji Ziva.


"Kamu siapa? Jangan sok kenal." Jawaban yang membuat Ziva melebarkan mata. Sedangkan Aksa sudah mengulum bibirnya.


"Om, kenapa dekat-dekat sama nenek sihir itu? Nanti Om disihir jadi katak loh," oceh Aleesa kepada Rakha.


Aleesa akan berada di garda terdepan untuk melindungi Aksa dari Ziva. Dari awal bertemu dengan Ziva, Aleesa tidak menyukainya. Jika, ditanya alasan kenapa Aleesa tidak menyukainya Ziva, dia akan menjawab 'tidak tahu'.


Aleesa dan Aksa sudah kembali bergabung di meja makan. Kakak dan adik Aleesa sedang menikmati sarapan kesukaan mereka yang baru saja sang nenek buatkan.


"Baba," panggil Aleesa.


"Ada apa, Sayang."


"Baba jangan pergi ke rumah sakit dulu, ya. Jaga Bubu aja di rumah."


Semua mata tertuju pada Aleesa. Sedangkan Radit hanya tersenyum dan mengangguk.


"Makasih, ya. Sudah mengingatkan Baba." Aleesa tersenyum bahagia ke arah Radit.


"Maksud Aleesa apa, Dit?" Gio penasaran dengan apa yang dikatakan oleh cucu kesayangannya.


"Dia anak istimewa."


Rakha dan Aksa mengantar tiga kurcaci cantik ke sekolah mereka. Aksa tersenyum lebar ketika melihat tingkah para keponakannya yang selalu riang gembira.


"Sepertinya Bapak senang dengan anak kecil," ucap Rakha dengan mata yang masih menatap ke arah jalanan.

__ADS_1


"Mereka pelipur lara saya. Kehadiran mereka mampu menghilangkan beban yang sedang saya pikul."


"Sebentar lagi Bapak akan semakin bahagia karena istri Bapak sepertinya sedang mengandung." Mendengar ucapan Rakha senyum Aksa menghilang seketika.


Mengandung?


"Kamu tau dari mana jika dia sedang hamil?" tanya Aksa.


"Biasanya orang hamil itu selalu muntah-muntah, Pak. Sama halnya seperti istri Bapak. Kalo kata orang mah morning sickness."


Apa benar Ziva hamil? Jika benar ....


Hati Aksa menjerit kesal. Pikirannya kini berkecamuk.


"Apa bisa sekali berhubungan langsung jadi?" Pertanyaan yang membuat mata Rakha membola.


"Sekali?" Aksa mengangguk sambil menyandarkan kepalanya.


"Itu pun saya tidak ingat. Selama saya menikah saya tidak merasa sudah menyentuhnya. Apalagi tidur dengannya."


Sungguh penjelasan yang sangat mengejutkan untuk Rakha. Otak Rakha segera berpikir.


Apa jangan-jangan Ziva menjebak Aksa?


Setelah mengantarkan si kembar. Aksa duduk termenung di kursi kebesarannya. Pikirannya masih terganggu dengan ucapan dua manusia di depan kamar mandi tadi.


"Masih mencintai? Bertanggung jawab?" Aksa memutar-mutar bolpoin di tangannya dengan kening yang berkerut.


"Fahri, ke ruangan saya sekarang."


Seorang pria berpakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan Aksa. Dia menunduk sopan kepada Aksa. Jika, dilihat umur mereka tidaklah jauh berbeda. Bisa jadi seumuran.


"Cari tahu tentang Rakha sopir baru saya."


Satu buah kalimat yang mampu membuat kepala Fahri mengangguk cepat.


"Panggil juga Fahrani ke sini," titah Aksa lagi.


Setelah Fahri keluar, Fahrani masuk ke dalam ruangan Aksa. Tidak jauh berbeda sikap Fahrani kepada Aksa. Menunduk sopan jika berhadapan dengan Aksa.


"Awasi Ziva."


"Baik bos," jawabnya.


Fahri dan Fahrani adalah saudara kembar. Mereka berdua adalah anak asuh dari Genta Wiguna ketika berada di Singapura. Baru dua hari yang lalu mereka ditugaskan untuk bekerja di perusahaan tempat Aksa. Namun, mereka berdua ditugaskan untuk bekerja bersama Gio terlebih dahulu. Sebelum menjadi tangan kanan Aksa.


Di lain tempat, Aska tertawa mendengar laporan dari si kembar tidak identik.


"Akhirnya, Abang gua pintar juga," kekehnya.


"Kalian urus dua makhluk astral itu dan gua tinggal cari dalang dari surat wasiat bodong itu." Fahri dan Fahrani mengangguk patuh.


Rencana Aska memang sudah tersusun sangat matang. Dia mampu membaca cara apa lagi yang akan dilakukan oleh dua dajjal wanita itu untuk mengelabuhi keluarganya.

__ADS_1


Ponsel Aska berdering, di ponselnya tertera nomor luar negeri. Keningnya mengkerut dan hatinya sudah berdegup sangat kencang.


"Ke Singapura sekarang."


Dada Aska bergemuruh, ada ketakutan yang menjalar di hatinya.


"Ada apa ini? Semoga Kakek baik-baik saja."


Doa yang selalu Aska panjatkan untuk sang kakek. Aska ingin mengungkap semuanya. Membantu sang ayah untuk menyelesaikan masalah yang cukup berlarut.


Tanpa berpikir panjang, Aska segera memesan tiket pesawat menuju Singapura. Tidak ada pesawat pribadi. Aska menggunakan pesawat komersil agar gerak-geriknya tidak terlihat mencolok.


Hanya Aska yang dihubungi, sedangkan Gio tidak dihubungi oleh siapapun. Apalagi pihak rumah sakit tempat di mana sang ayah dirawat. Hati Aska semakin tidak karuhan. Akan tetapi, dia harus selalu berprasangka baik.


Kepergian Aska tidak diketahui oleh keluarganya. Dia hanya mengirim pesan bahwa harus terbang ke Surabaya untuk mengecek kafe barunya. Hanya Remon yang tahu ke mana dia pergi.


Setelah pulang kerja, Aksa tidak langsung pulang. Dia masih mencerna ucapan dari Rakha.


Hamil. Sebuah kata yang masih terngiang-ngiang di telinganya. Ada satu ide yang melekat di kepalanya. Dia segera keluar dari kantor. Rakha sudah menunggunya di depan lobi. Dia membukakan pintu mobil untuk sang bos.


Mobil melaju menuju rumah baru Ziva serta Aksa. Hari ini dia sudah harus menempati rumah itu.


"Berhenti di apotek," ujar Aksa.


Sebagai seorang sopir, Rakha harus mengikuti kemauan sang majikan. Ketika dia melihat apotek besar, Rakha memarkirkan mobilnya di depan apotek.


Tanpa banyak bicara Aksa turun dari mobil dan masuk ke dalam apotek. Penampilannya yang sangat formal dan juga sangat tampan, membuat para apoteker tidak mampu berkedip.


"Saya ingin sepuluh testpack. Dari kualitas biasa hingga kualitas paling bagus."


"Untuk siapa testpack sebanyak itu, Mas?" tanya sopan apoteker.


"Buat kucing saya."


Sontak apoteker yang lainnya mengulum bibirnya. Sifat asli Aksa keluar.


Setelah mendapat apa yang dia inginkan, Aksa menyuruh Rakha untuk melajukan mobilnya kembali. Tibanya di rumah, Aksa disambut ocehan Ziva karena rumah yang masih kosong tanpa perabot apapun. Apalagi mereka harus tidur di kasur lantai yang sangat keras. Namun, tidak Aksa hiraukan. Dia memilih melangkahkan kaki menuju dapur.


Diambilnya mangkuk kecil dan diserahkannya kepada Ziva.


"Aku gak bisa masak," imbuh Ziva.


"Bodoh! Siapa yang menyuruhmu untuk masak. Tampung air senimu ke dalam mangkuk ini." Mata Ziva melebar.


"U-untuk apa?"


"Jangan banyak tanya, cepat lakukan!"


...****************...


Komen yang banyak ....


Maaf baru sempet up🙏

__ADS_1


__ADS_2