Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Ditinggalkan


__ADS_3

Aska kembali ke kafe seorang diri. Semua mata tertuju kepada Aska ketika dia baru saja memasuki kafe.


"Jingga mana?" tanya Riana.


Hanya seulas senyum terukir di wajah Aska. Tanpa menjawab pertanyaan Kakak iparnya. Berbeda dengan Aksa yang sedari tadi menatap Aska dengan sorot mata yang berbeda. Dia seakan tahu apa yang sudah terjadi dengan adiknya.


"Jingga mana, Sa?" tanya Ken.


Aska menoleh ke arah Ken dengan sorot mata yang tajam. "Pulang," jawabnya.


"Kakak yang anter Jingga?" tanya Riana.


"Naik ojek," jawabnya. Semua orang pun melongo mendengar ucapan Aska. "Tenang, gua yang bayarin kok."


Semuanya menggeleng mendengar apa yang dikatakan oleh Aska. Aksa tidak merespon apapun. Dia hanya terus menelisik wajah Aska.


"Maafkan Bee, Kak. Bee gak tahu," sesal Beeya. Aska tersenyum dan mengusap lembut rambut Beeya. "Kamu gak salah. Kamu hanya datang di waktu yang tepat," lanjutnya lagi dengan seulas senyum,


"Lu bisa membohongi semua orang dengan senyuman palsu itu. Tidak dengan gua."


Aksa sangat melihat senyuman yang berbeda yang adiknya tunjukkan. Namun, Aksa tidak membuka suara sama sekali. Dia memilih mengajak istrinya untuk mengunjungi dokter kandungan karena sang Mommy sudah menyuruh mereka untuk segera berangkat ke rumah sakit di mana dokter Gwen praktek.


"Sekarang?" tanya Rian yang sudah menatap sang suami.


"Iya, Sayang." Aksa segera meminta bill untuk membayar pesanan mereka.


"Gak usah, Bang." Juno mencoba menolak. Aksa tetap memberikan kartu miliknya kepada Juno. "Gak usah nyari pahala sama saya. Kalau nyari pahala sama anak yatim dan kaum dhuafa."


Perkataan Aksa membuat semua orang tergelak. Juno menatap sebal dua sahabatnya yang menertawakannya.


"Kalau Sultan datang lagi ke sini, mending getok aja harganya. Biar kafe kita dapat untung yang banyak," kelakar Aska. Tak ada reaksi dari abangnya. Biasanya Aksa akan membalas ucapan Aska.


Setelah pembayaran selesai, Aksa dan Riana pergi meninggalkan kafe. Tersisa Aska juga Beeya di meja tersebut karena Ken dan Juno harus menyelesaikan tugasnya di atas.


"Kenapa Kakak gak bilang?" Beeya meras sangat bersalah akan hal ini.


"Untuk apa?" sergah Aska yang meminum es teh manis milik Beeya. ASka tersenyum ke arah Beeya dan berkata, "Hanya yang sudah pasti menjadi pacar Kakak yang akan Kakak tunjukkan pada dunia."


Beginilah Aska, dia sama dengan Aksa yang tidak ingin hal pribadinya menjadi konsumsi publik karena itu akan merusak reputasi sang ayah juga Kakek mereka.


"Bee ingin bertemu dengan Mbak yang tadi. Bee akan jelasin semuanya." Namun, Aska menggeleng. "Tidak perlu. Kakak percaya bahwa orang baik akan berjodoh dengan orang baik pula," tutur Aska.


Dahi Beeya mengkerut, dia menatap ke arah Aska dengan tatapan menelisik. "Kakak emang orang baik?" tanyanya.

__ADS_1


Aska pun tertawa dan mengacak-acak rambut Beeya. Gadis ini bisa menjadi penghibur untuk Aska selain ketiga keponakannya.


"Boleh aku ospek dulu gak si Mbak-nya? Sebelum jadi pacar Kakak." Lagi-lagi Aska tertawa. Kini, dia mencubit pipi putih Beeya.


"Sakit, Kak."


****


Di dalam mobil yang berisikan dua insan manusia hanya keheningan yang tercipta. Namun, tangan mereka terus bertaut seperti pasangan yang baru dimabuk cinta.


"Bang, apa Jingga beneran pulang ke kosannya?" Raut khawatir terlihat jelas di wajah Riana.


"Coba kamu lihat ponsel Abang. Ada laporan gak dari anak buah Abang," balasnya sambil mengecup punggung tangan sang istri.


Ponsel Aksa ada di dalam tas Riana. Dia menyerahkan ponselnya untuk Riana pegang. Riana hanya menatap benda pipih tersebut. Tidak berani membukanya.


"Kenapa cuma dilihatin?" Kini, dahi Aska mengkerut dan menatap istrinya. Untung saja mereka sedang berada di lampu merah.


Riana mencoba memandangi suaminya yang tengah menatapnya. "Ri boleh buka aplikasi pesan Abang?" Pertanyaan Riana membuat Aksa tertawa. Dia pun mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Buka aja, Sayang. Supaya kamu tahu semuanya." Senyum pun mengembang di wajah Riana. Tangannya dengan lincah bergerak di atas layar benda pipih itu.


"My sweet wife."


"Miss J sudah sampai rumah."


Itulah pesan dari nomor yang bernamakan preman belum pensiun. Riana pun tergelak membaca namanya.


"Kenapa ketawa?" tanya Aksa dengan tangan yang sudah mengusap lembut perut sang istri.


"Nama di kontak Abang lucu-lucu," sahut Riana. Aksa malah tengah mengusap lembut rambut sang istri.


"Kak Aska aja dinamakan anaknya Giondra." Aksa pun tertawa, padahal dia juga anak dari Giondra.


Mobil itu pun berhenti di rumah sakit. Aska dengan eratnya menggenggam tangan sang istri. Mereka berjalan beriringan dan semua mata tertuju pada mereka berdua. Pasangan yang sangat serasi dan sangat sempurna.


Tak perlu menunggu lama, mereka berdua langsung masuk ke ruangan dokter Gwen. Senyuman hangat dokter itu berikan kepada sepasang suami istri yang sudah terlihat bahagia.


"Ada keluhan apa?" tanya dokter Gwen.


"Istri saya kalau malam pasti muntah-muntah terus, Dok. Sampai dia gak bisa tidur." Dokter Gwen hanya tersenyum. Dia menyuruh Rianberbaring di ranjang pesakitan. Memeriksa kandungan Riana. Setelah selesai, mereka berdua duduk di hadapan dokter Gwen.


"Mual di malam hari hal biasa. Jangan khawatir, nanti saya akan berikan obat pereda mual," terang dokter tersebut.

__ADS_1


"Calon anak saya tidak apa-apa 'kan, Dok?" tanya Aksa dengan raut khawatir.


"Tidak, dia baik-baik saja." Seulas senyum dokter Gwen berikan.


"Janin yang biasanya ditinggalkan kembarannya akan menjadi janin yang kuat," terang dokter Gwen lagi.


"Semoga saja," balas Riana.


Kata kehilangan dan ditinggalkan akan menjadi kesedihan tersendiri untuk Riana. Terbukti sekarang ini, mimik wajah Riana berubah drastis. Aksa segera menggenggam tangan istrinya dan menggeleng pelan.


Dokter Gwen segera menuliskan resep obat yang harus mereka tebus. Dia tidak ingin Riana sedih kembali. Ketika menunggu obat, Riana terus meletakkan kepalanya di pundak sang suami dengan tangan yang tak mau lepas dari Aksa. Sesekali Aksa mengecup ujung kepala Riana.


"Pak Aksa," sapa seorang pria yang memakai jas putih. Usianya sama dengan Giondra. Aksa menoleh, begitu juga Riana.


Pria itu pun mengulurkan tangan kepada Aksa dan disambut oleh Aksa. Dia menatap ke arah Riana dan Riana hanya memberikan seulas senyum.


"Ini istri saya." Pria itu sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aksa.


"Saya kira Pak Aksa masih single," ucapnya.


"Kalau saya single memangnya mau apa?" tanya balik Aksa.


"Mau saya jodohkan dengan putri saya."


Riana menatap sebal ke arah pria itu. Aksa pun tersenyum tipis mendengarnya.


"Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya," tukas Aksa. Nama Riana pun dipanggil. Aksa segera bangkit dan diikuti oleh Riana.


"Duduk aja di sini," pintanya pada Riana. Istrinya pun menggeleng. Mereka berdua pun meninggalakan pria tersebut tanpa pamit.


"Siapa sih pria tadi?" sergah Riana ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Dokter Eki."


...****************...


Komen atuh ...


Pembaca : Thor, Jingga bilang apa ke Bang As? Penasaran


(Mungkin itu yang kalian tanyakan)


Author : Simpan dulu ya penasaran kalian. 😄

__ADS_1


__ADS_2