
"Bang As tidak salah. Perasaaan Bang Aslah yang salah. Mencintai calon istri orang lain."
Aska terdiam mendengar ucapan Jingga. Dia menatap nanar ke arah perempuan yang tengah membelakanginya. Suasana seketika hening. Jingga terlihat menghela napas kasar. Tangannya sudah memegang gagang pintu.
"Baru calon 'kan. Belum jadi istri sah," balas Aska dengan suara dingin.
Tubuh Jingga seketika berbalik. Wajah datar dan dingin telah Aska tunjukkan. Langkahnya mendekat ke arah Jingga.
"Sore nanti aku tunggu kamu di parkiran."
Aska pergi begitu saja dengan segala rasa sedih dan kecewa yang menyelimuti hatinya. Dia menuju ruangan direktur utama di mana Fahri dan Fahrani sudah menunggunya.
"Ke mana aja lu?" Hanya tatapan tak bersahabat yang Aska tunjukkan.
Fahrani sedari tadi memperhatikan mimik wajah Aska yang berbeda dari biasanya.
"Dia Aska apa Aksa?" Begitulah batinnya.
Aska sama sekali tak menghiraukan malah tak menganggap ada sesosok Fahrani di sana.
"Apa yang mesti gua lakuin?" tanya Aska yang kini sudah duduk di kursi kebesaran sang kembaran.
Fahri menjelaskan semuanya. Dia tahu hati Aska sedang tidak baik-baik saja. Ketika Fahri menjelaskan apa yang harus Aska lakukan, pintu direktur utama terbuka. Tiga orang yang berada di sana menoleh termasuk Aska. Namun, dengan cepat Aska fokus pada kertas di hadapannya.
Jingga masuk dan langsung meletakkan kopi di meja Fahri.
"Lama amat," sergah Fahri.
"Maaf, Pak." Hanya itu yang bisa Jingga jawab.
Fahri menatap ke arah Aska, sepertinya ada yang aneh ketika Aska melihat Jingga.
"Mau kopi gak?" tanya Fahri.
"Gua bisa pesan kopi di luar."
Jingga merasa hatinya sakit ketika mendengar jawaban dari Aska. Apalagi sikap dingin Aska yang membuat mata Jingga nanar. Air mata sudah menggenang dan ingin sekali terjatuh.
"Kalau begitu saya permisi."
Jingga meninggalakan ruangan direktur utama. Ketika pintunya dia tutup, air matanya lolos begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa kamu datang disaat tidak tepat?" gumamnya.
Aska mengalihkan pikirannya pada berkas-berkas di depannya. Melupakan hal yang menyakitkan yang menyambut kedatangannya. Tak terasa waktu cepat sekali berputar, jam makan siang Aska lewatkan. Dia memilih untuk memesan via aplikasi online saja.
Aska dan Aksa tak jauh berbeda. Jika, tengah fokus mereka berdua akan melupakan semuanya.
Ketukan pintu terdengar, pintu pun terbuka. Seorang wanita membawa satu buah plastik berisi makanan. Namun, tak sedikit pun Aska memalingkan wajahnya dari berkas yang tengah dia baca.
"Ini makanannya."
Suara itu membuat wajahnya berpaling. Wanita dengan mata yang sembab, seperti habis menangis.
"Taruh saja."
Jawaban yang sangat dingin dan datar. Wajah Aska beralih kembali kepada berkas perusahaan. Jingga meletakkan makanan itu di atas meja. Dia mulai membuka makanan yang Aska pesan dan berniat untuk menyiapkan makanannya.
"Tidak usah, saya bisa melakukannya sendiri."
Hati Jingga benar-benar sakit mendengar ucapan dari Aska. Bang As yang lembut kini berubah drastis. Jingga keluar dari ruangan direktur utama dengan menahan sesak di dadanya.
Ketika Jingga sudah tidak ada, Aska memandang sendu ke arah pintu. Dia bangkit dari duduknya dan menuju sofa. Di depannya sudah ada makanan yang Aska pesan.
Aku tahu kamu menangis atas perlakuanku tadi. Aku juga tahu, pasti kamu tengah menangis di toilet sekarang. Aku hanya ingin melihat, apa memang kamu tidak ada rasa kepadaku?
Fahri sedikit tidak percaya pada Aska, yang tenyata tak jauh mengagumkan dari sang kakak, Aksara. Pujian datang dari kolega bisnis. Namun, Aska menyikapinya dengan senyuman saja.
Ketika mereka keluar dari ruang rapat, Jingga sedang membersihkan lantai di sana. Jingga tersenyum dan mengangguk sopan. Akan tetapi, Aska hanya diam seperti tak melihat Jingga di sana.
Sore menjelang, Aska yang baru saja keluar dari kantor melihat Jingga yang sudah menunggunya di parkiran. Sikap dingin Aska masih dia tunjukkan.
"Masuk!"
Jingga masuk mobil yang Aska bawa. Ternyata Aska membawanya jauh dari WAG grup. Jingga memperhatikan petunjuk arah, dan mobil itu menuju ke Parangtritis.
Jingga menatap bingung ke arah Aska, tetapi Aska masih diam seribu bahasa. Sedari tadi hanya terdengar suara mesin mobil. Mobil Aska berhenti di parkiran khusus mobil. Dia turun tanpa mengucapkan apapun. Jingga ikut turun ketika Aska sudah menutup pintu mobil.
Kaki panjang Aska membawa langkahnya menuju tepian pantai. Di mana langit biru sudah berubah menjadi berwarna kemerah-merahan. Air laut mulai pasang, ombak yang menerjang air di tepian pantai mengenai ujung sepatu Aska.
Di belakang Aska, Jingga menatap nanar ke arah langit senja. Harusnya dia bahagia karena melihat senja adalah keinginannya. Namun, ini malah sebaliknya.
"Kata orang menikmati senja di pinggir pantai itu menyenangkan. Kenapa aku merasakan kesakitan yang mendalam?"
__ADS_1
Aska berucap dengan pandangan lurus ke depan. Tangannya sudah dia masukkan ke dalam saku celana bahannya. Tak dia hiraukan sepatunya yang terus terkena air laut yang terbawa ombak.
Bulir bening terjatuh di pelupuk mata Jingga. Ingin rasanya dia memeluk tubuh Aska yang tengah membelakanginya. Namun, cincin yang melingkar di jari manisnya seperti melarangnya.
Aska dan Jingga bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Pandangan mereka tertuju pada hamparan laut luas di depan mereka yang tengah dipayungi senja yang sebentar lagi menghilang.
"Aku sudah tidak punya hutang lagi kepada kamu. Aku sudah menuruti keinginan kamu untuk melihat senja di pantai. Meskipun, kamu tidak mau menuruti perasaanku."
Jleb.
Perkataan yang membuat Jingga semakin merasa bersalah kepada Aska. Perlahan, kakinya melangkah mendekat ke arah Aska. Dia memberanikan diri mensejajarkan diri di samping Askara.
Aska menatapnya begitu juga Jingga yang menatap sendu ke arah Aska. Hanya saling pandang tanpa ada satu pun kata yang terucap dari mereka.
"Senja yang pertama dan terakhir untuk kita," kata Aska.
Air mata Jingga menetes kembali. Rasa bersalah semakin memenuhi hatinya.
"Kita masih bisa melihat senja bersama," balas Jingga dengan suara beratnya. Hanya senyuman tipis yang terukir di wajah Aska.
"Bersama suamimu juga," timpal Aska.
Mulut Jingga semakin Kelu, mulutnya benar-benar terkunci rapat. Hanya air mata yang menjadi jawaban atas hatinya yang merasakan kesakitan.
Hembusan napas berat keluar dari mulut Aska. Dia menghadap ke arah Jingga yang tengah bermandikan air mata. Tangannya menghapus air mata Jingga dengan lembut. Usapan lembut di pipi Jingga pun Aska berikan.
"Aku bahagia bisa bertemu kamu lagi. Aku bahagia karena wanita yang selama ini aku cari semakin cantik jelita. Namun ...."
Ucapan Aska menggantung membuat dada Jingga bergemuruh. Tangan Jingga sudah berada di atas punggung Aska yang masih ada di pipinya.
"Aku juga sedih karena kamu tidak bisa membalas perasaan yang selama ini aku pendam seorang diri. Kamu malah akan menjadi istri orang lain," tuturnya.
Tatapan sendu Jingga membuat Aska tidak tega. Kini, tangan Aska menggenggam tangan Jingga. Menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Bolehkah aku memeluk kamu untuk terakhir kalinya?"
Jingga pun mengangguk dan tangannya yang terlebih dahulu melingkar di pinggang Askara. Senyum mengembang di wajah Aska.
"Sampai berjumpa di tikungan," bisiknya.
...****************...
__ADS_1
Kalau komen lebih dari 100 aku UP lagi.