Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Perdebatan


__ADS_3

Perdebatan abang dan adik itu menimbulkan gelak tawa. Hiburan sekali untuk dua orang wanita yang ada di sana, Riana juga Ayanda.


"Semoga anak kalian kembar, ya. Malah Mommy berharap bisa kembar empat atau lima."


Mata Riana dan Aksa melebar mendengar ucapan sang mommy, sedangkan Aska sudah tergelak.


"Itu hamil anak orang apa anak kucing?" ejek Aska seraya tertawa.


Decakan kesal keluar dari mulut Ayanda. "Biar rumah ini ramai, Dek. Kakak kalian punya anak tiga, belum lagi anak Abang belum juga anak kamu nanti," terang Ayanda.


"Mommy cuma punya anak tiga, ditinggalin lagi sama anak-anak Mommy. Rumah besar udah kayak kuburan," keluhnya.


Aksa yang mendengarnya hanya terdiam. Inilah suara hati seorang ibu yang ternyata merindukan sosok anak-anaknya.


"Adek gak ninggalin Mommy, ya. Adek selalu ada bersama Mommy," timpal Aska.


"Selalu ada gimana? Kamu aja selalu touring ninggalin Mommy sendiri. Gak peduli Daddy ada atau enggak," tukasnya.


Aska kini mulai terdiam. Dia melihat wajah Mommy-nya yang terlihat sudah tidak muda lagi. Sorot matanya memang mengatakan apa yang sebenarnya hatinya ingin berbicara.


"Maaf," sesal Aska yang kini memeluk tubuh Ayanda.


Riana yang sedari tadi merangkul manja lengan suaminya memberikan ruang kepada Aksa untuk ikut bergabung bersama kembarannya. Anggukan serta senyuman yang Riana berikan membuat Aksa bangkit dari duduknya. Langkahnha membawa dia kepada sang bunda. Dia ikut memeluk tubuh Ayanda.


"Maafkan Abang, Mom. Pasti Mommy merasa kesepian," lirihnya.


Ayanda mengusap kedua pipi putranya. "Kalian tidak salah. Mommy-lah yang terlalu egois. Kalian sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Bukan lagi anak kecil yang akan selalu menurut kepada Mommy ataupun Daddy," tuturnya.


"Jangan pernah lupa kepada rumah ini. Tempat di mana kalian dibesarkan. Rumah ini juga menjadi saksi bisu bagaimana kalian tumbuh," lanjutnya.


"Jangan lupakan Mommy dan Daddy sesibuk apapun kalian."


Kedua anak kembar itu semakin mengeratkan pelukannya kepada sang ibu. Selama ini ibunya seakan tidak banyak bicara, ternyata Ayanda menyimpan semua rasa sepi itu sendirian. Andai waktu bisa diulang kembali, mereka memilih untuk tetap bersama sang ibu. Berada terus di sampingnya dan selalu memberikan kebahagiaan tentunya.


"Tidak ada alasan untuk kami melupakan Mommy dan Daddy. Kalian adalah malaikat tak bersayap yang kami miliki. Kalian adalah segalanya untuk kami," tutur Aksa.


Riana yang melihat adegan mengharukan tersebut ikut tersenyum bahagia. Dari keluarga ini dia banyak belajar arti kasih sayang yang tulus. Dia sangat merasakan bahwa keluarga suaminya ini sangat menyayangi satu sama lain.


"Udah ah, pagi-pagi jangan melow begini. Pamali!" tukas Ayanda seraya mengusap ujung matanya.


Dia mengecup pipi Aksa dan Aska secara bergantian. Meskipun, kedua anaknya sudah dewasa Ayanda dan Gio selalu menganggap mereka seperti anak kecil. Itulah kasih sayang orang tua untuk buah hatinya.

__ADS_1


"Kapan Adek berangkat?" tanya sang mommy.


"Jam sembilan, Mom."


"Sayang, kamu belum makan loh," ujar Aksa kepada Riana.


"Pengen bubur ayam," balas Riana.


Aksa tersenyum dan kembali ke samping istrinya. "Hanya itu?" tanya Aksa.


Aska masih mendengar permintaan kakak iparnya dengan seksama. Sudah sering dia direpotkan dengan keinginan Riana. Apakah sang Abang akan mengalami hal yang sama seperti dirinya?


"Tapi ...."


Bibir Aska sedikit terangkat mendengar lanjutan dari ucapan sang kakak ipar.


"Tapi apa, Sayang?" tanya Aksa.


"Kak Aska yang belinya."


Baru aja ingin meledek abangnya, malah dia yang jadi korban untuk kesekian kalinya.


"Kenapa musti gua? Lah ntu laki lu ngejogrog," balas Aska.


"Dek, turutin kenapa? Kasihan loh Riana," imbuh sang bunda seraya menatap ke arah Aska. Riana sudah menangis di dalam dekapan sang suami.


"Kita cari buburnya sama-sama aja, ya. Sekalian jalan-jalan pagi," bujuk sang suami yang kini mengusap rambut sang istri.


"Enggak mau, inginnya Kak Aska yang beliin," tolak Riana.


Aksa menatap Aska dengan tatapan penuh harap. Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska.


"Ya udah." Akhirnya Aska menyerah.


Mata Riana kembali berbinar. Dia tersenyum manisls ke arah sang adik ipar.


"Bubur ayam tanpa bubur, ya."


Kalimat Riana membuat Ayanda dan juga Aksa sedikit terkejut. Akan tetapi, Aska terlihat bias saja.


"Terus pakai sate apa aja?" tanya Aska.

__ADS_1


"Semua sate masukin," jawab Riana sangat antusias.


Aska mengangguk cepat. Seperti bisa, Aska akan menengadahkan tangan kepada sang kakak ipar. Sebenarnya Aska juga tidak rugi-rugi amat. Setiap kali Riana meminta tolong padanya, semua kembalian itu tidak pernah Riana ambil.


"Abang minta uang," pinta Riana bagai anak kecil. Aksa tergelak dan mengeluarkan dompetnya. Bukannya mengambil uang, dia malah menyerahkan dompet itu kepada Riana. Aska tercengang melihat sikap sang Abang.


"Ambil berapa yang kamu butuhkan," ujar Aksa.


Aska menggelengkan kepalanya tak percaya. Aksa benar-benar memperlakukan Riana seperti ratu. Dari sang Abang sedikit demi sedikit Aska dapat belajar bagaimana memanjakan seorang istri.


Riana mengambil dua lembar uang seratus ribuan. Dia menyerahkannya kepada Aska.


"Belinya yang digerobakan aja," titah Riana.


Aska mengangguk mengerti, sedangkan Aska masih terdiam memperhatikan adik dan istrinya. Aska yang menyadari abangnya terus menatap bingung, akhirnya dia membuka suara. "Beginilah kelakuan istri dan calon anak lu. Demennya nyusahin gua," sungutnya.


"Gua sih gak mempermasalahkan tentang kelakuan istri dan calon anak gua, malah gua senang karena mereka tahu mana manusia yang patut untuk dimanfaatkan," balas Aksa.


"Si Alan!" pekik Aska.


Aksa tertawa puas melihat wajah adiknya yang nampak kesal. "Gua itu bingung sama permintaan Riana," jelas Aksa.


"Kenapa bingung? Sudah biasa hal itu terjadi pada wanita hamil," ujar Ayanda. "Segitu mah belum ada apa-apanya. Ketika Riana dalam kandungan malah permintaan yang luar biasa yang bundanya minta," lanjutnya lagi.


Ketiga anak itu mendengarkan dengan serius. Apalagi Riana yang ingin mendengar langsung cerita tentang ngidam sang bunda ketika mengandungnya.


"Ayah mertua kamu dibuat repot ketika ibu mertua kamu ngidam. Beliau meminta mpek-mpek Palembang serta Sushi."


"Apanya yang repot, Mom? Banyak di sini yang jualan begitu," sahut Aska.


"Justru beliau gak mau. Beliau ingin mpek-mpek yang dibeli langsung dari Palembang serta Sushi yang langsung dari Jepang," papar Ayanda.


"Pantes aja sekarang senang nyusahin orang, sedari orok aja udah nyusahin tuh bini lu," emel Aska.


Aksa mendengkus kesal, sedangkan Rian sudah menunjukkan senyum termanisnya.


"Udahlah, gua berangkat. Entar gua telat lagi ke Bandarnya."


Ghattan Askara Wiguna, si laki-laki yang sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Di balik kegesrekan yang dia tubjukkan di depan keluarganya, ada kecemasan serta ketakutan yang melanda hatinya perihal keadaan Jingga. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak ingin membuat keluarganya curiga.


...****************...

__ADS_1


Maaf ya semalam ingkar janji. Insha Allah hari ini Up 3 bab. Asalkan komen kalian banyak ...


Ini aku nyempetin ngetik disela pekerjaan real aku, ya. Demi kalian ...


__ADS_2