
Sok geura komen yang banyak, sok baca cerita bab ini. Apa sesuai dengan tebakan kalian? Atau meleset jauh?
Yang mau jadi Tuhan dalam cerita ini sok mangga. Yang mau ngehujat juga sok geura. Aku mah mau diem wae di pojokan sambil ngupi. β
......................
"Cepat ke Jogja, sekarang."
Sambungan telepon pun berakhir. Ziva mematung di tempatnya. Sebuah perintah yang harus Ziva laksanakan. Dia memiliki hutang budi kepada orang yang baru saja menghubunginya.
Apa tugasnya di sana sudah selesai?
Cukup lama dia terdiam. Hingga dia teringat akan sikapnya tadi terhadap Echa. Sudah pasti semua orang akan mencarinya. Apalagi, jika Echa terluka. Mati, itulah yang harus dia terima.
"Aku harus segera pergi."
Sedangkan di rumah sakit, Aska dan Ayanda sedang menunggu Echa dengan harap-harap cemas. Sepuluh menit berselang, Radit tiba di ruang IGD dengan wajah yang cemas.
"Kenapa ini bisa terjadi?"
"Kakak menampar Ziva karena bicara tidak sopan terhadap Mommy. Ziva tidak menerima perlakuan Kakak, lalu dia mendorong Kakak hingga terjatuh. Darah mengalir di kaki Kakak." Penjelasan dari Aska membuat urat-urat kemarahan muncul di wajah Radit.
Pria yang biasanya bersikap cool dan tidak pernah marah. Kini, menunjukkan taringnya.
"Jika, istriku kenapa-kenapa. Aku yang akan menghabisinya dengan tanganku sendiri." Ucapan Radit terdengar begitu menakutkan di telinga Aska.
"Sabar, Dit. Kita berdoa yang terbaik untuk istri kamu." Ayanda menenangkan Radit dengan sentuhan lembutnya. Dia mengajak Radit untuk duduk agar emosinya reda.
"Setelah istri kamu sadar, kita pidanakan dia. Sudah pasti Papa dan Ayah tidak akan tinggal diam." Tidak ada jawaban dari Radit. Dia hanya mengusap kasar wajahnya.
****
Jogja.
Tibanya di Jogja, Aksa memilih untuk ke kost-an Riana terlebih dahulu. Sungguh beruntung sekali nasib Aksa kali ini. Dia melihat Riana yang baru saja keluar dari kost-an dengan penampilan sangat sopan. Namun, terlihat sangat cantik.
Riana terdiam sejenak. Tiba-tiba hatinya berdegup sangat cepat.
"Ada apa dengan hatiku?" gumamnya.
Pikirannya tertuju pada satu nama, Aksa.
"Kenapa kamu masih saja menghantuiku," keluh Riana.
Riana melanjutkan langkahnya meninggalkan kost-an. Hari ini ada mata kuliah.
Bibir Aksa tersenyum melihat wanita yang dia cintai baik-baik saja. Dia juga lega, tidak ada laki-laki yang selalu menempel kepada Riana. Siapa lagi jika bukan Arka. Kesempatan terbuka lebar untuk Aksa.
"Lanjut ke perusahaan, Pak."
Hanya sebatas melihat dan memastikan. Itulah yang Aksa lakukan. Riana bagai mood booster bagi Aksa untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Remon sudah menjelaskan bagaimana kacaunya anak perusahaan yang ada di Jogja. Remon mengutus Aksa karena Gio sedang berada di Medan.
__ADS_1
Sesuai dengan ucapannya, Aksa bekerja lebih keras. Makan siang dia lewatkan demi untuk menyelesaikan segala urusannya di sini. Melihat laporan demi laporan membuat emosi Aksa membuncah.
Gebrakan meja, suaranya yang menggema terdengar sangat menakutkan bagi para karyawan yang sedang berada di ruang meeting.
"Kacau!"
"Kalian tidak becus!"
Begitulah kemarahan Aksa. Dia tidak banyak bicara. Namun, sekalinya dia marah semua orang akan menunduk takut. Aura ruangan meeting pun terasa sangat mencekam. Bagai uji nyali seperti di televisi.
"Tidak ada yang boleh pulang sebelum semuanya selesai."
Kalimat perintah yang harus dilaksanakan oleh para karyawan. Tidak ada yang bisa membantah. Apalagi wajah Aksa sudah menunjukkan kemarahan luar biasa. Walaupun tidak marah, wajah Aksa bagai papan bangunan. Datar dan tidak bisa ditebak. Sekarang, wajahnya bagai monster yang akan memakan musuhnya hidup-hidup.
Di Kota yang sama, di tempat yang berbeda. Seorang pria berbadan tegap sudah menunggu Ziva di depan hotel yang telah mereka janjikan. Ada degupan kencang di hatinya. Apalagi, wanita yang sedang dia tunggu adalah wanita yang sangat dia cintai. Dia rela memendam perasaannya bertahun-tahun. Sekarang, dia bisa berbahagia karena sudah bisa menaklukan wanita pujaannya.
Kedatangan Ziva membuatnya terpana. Kecantikannya tidak bisa diragukan. Hanya pria bodoh yang tidak akan tergoda oleh wanita ini.
"Lama menunggu?" Pria itu tidak menjawab. Dia masih terpesona memandang wajah Ziva.
"Sudah tidak sabar, ya," bisik manja Ziva.
Pria itu segera membawa Ziva menuju kamar yang telah pria itu pesan. Kamar 204 itulah kamar yang akan mereka tempati.
"Hanya 24 jam." Pria itu pun mengangguk paham.
"Kita mulai malam nanti. Aku ingin bersantai sejenak. Tubuhku lelah." Ziva membaringkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size. Kulit putihnya membuat si pria hanya dapat menelan ludah. Ziva hanya memakai mini dress yang mempertontonkan lekuk tubuhnya.
"Tolong tinggalkan aku. Aku ingin istirahat sebelum memberikan servis yang memuaskan untukmu."
Senja sudah datang, tetapi Aksa masih bergelut dengan semua pekerjaannya. Semua orang salut akan kegigihan Aksa dalam menyelesaikan permasalah di perusahan. Semua orang yang terlibat kecurangan demi kecurangan langsung dia datangkan. Dia sidang dan cecar dengan berbagai pertanyaan.
Dalam waktu dua jam biang kerok dari masalah yang sedang perusahaannya hadapi bisa Aksa ringkus. Segera Aksa jebloskan ke dalam jeruji besi sebagai pertanggung jawaban mereka. Aksa memang tegas dan dia terbilang kejam.
Jam delapan tiga puluh malam semua pekerjaannya sudah selesai. Kepalanya sungguh pusing menyelesaikan tumpukan masalah untuk hari ini. Namun, semuanya sudah teratasi. Beban yang dipikulnya sudah selesai.
Aksa menyuruh sopir untuk berhenti di sebuah kafe kekinian. Hatinya menggerakkan otaknya untuk beristirahat di sini. Kafe yang banyak dikunjungi oleh para mahasiswa dan juga para remaja. Untung saja, Aksa hanya menggunakan kemeja hitam. Jasnya dia tinggalkan di dalam mobil. Membuat penampilannya tidak terlalu formal.
Aksa memilih duduk di samping jendela. Pandangan para perempuan yang berada di sana tertuju padanya. Parasnya yang tampan membuat para wanita dimabuk kepayang.
Alunan melodi syahdu membuat Aksa menikmati suasana kafe ini.
πΆπΆ
Denting yang berbunyi
Dari dalam kamarku
Sadarkan diriku dari lamunan panjang
Tak terasa malam kini semakin larut
__ADS_1
Ku masih terjaga
Aksa terdiam ketika mendengar suara merdu dari penyanyi ini. Dia menatap lurus ke arah mini panggung dengan tatapan memicing. Refleks dia bangkit dari duduknya. Langkah kakinya membawa Aksa mendekat ke arah panggung.
πΆ
Sayang kau di mana
Aku ingin bersama
Aku butuh semua
Untuk tepiskan rindu
Mungkinkah kau di sana
Merasa yang sama
Seperti dinginku
Di malam ini
Riana bernyanyi dengan penghayatan luar biasa dengan mata yang terpejam. Seperti perasaannya yang sedang merindukan seseorang yang masih belum pindah dari hatinya.
Jika, Arka tidak ada. Riana lah yang akan menggantikan Arka bernyanyi di kafe ini.
πΆ
Rintik gerimis mengundang
Kekasih di malam ini
Kita menari
Dalam rindu yang indah
Sepi ku rasa hatiku
Saat ini oh sayangku
Jika kau di sini
Aku tenang
Mata Riana membola ketika melihat orang yang dia rindukan berada di hadapannya. Matanya nanar.
"Aku ada di sini."
Suara Aksa mampu terdengar oleh para pengunjung yang sedang terhipnotis akan suara Riana. Mereka juga sedang menatap aneh Aksa yang sudah berjalan menuju arah mini panggung.
"Aku juga merindukan kamu, Riana."
__ADS_1
...****************...