Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Mencoba Bangkit


__ADS_3

Aksa menghela napas berat ketika dia masuk ke dalam kamar. Sorot wajah sendunya membuat Riana bingung sekaligus cemas.


"Bang!"


Aksa menoleh kepada sang istri yang semakin hari semakin cantik. Senyum terukir di wajah Aksa, tetapi senyum yang berbeda yang dapat Riana lihat.


"Kena--"


Aksa segera memeluk tubuh Riana. Dia menangis dalam pelukan sang istri tercinta.


"Ada apa, Bang?" Kini, Riana benar-benar khawatir.


Aksa memejamkan matanya, dia teringat akan kejadian di apartment siang tadi.


Plak!


Tangan Aksa menampar keras pipi adiknya yang seperti orang tak waras. Aska menjerit ketika Radit sudah pergi. Pisau buah yang ada di meja makan sudah hampir menusuk perut Aska. Maka dari itu Aksa bersikap kasar kepada adiknya.


"Jangan gila, Dek!" Aksa berteriak kencang. Dia menyingkirkan pisau itu dengan sekuat tenaga.


Aska menangis keras bagai orang gila. Ida tersungkur ke lantai dengan pundak uang bergetar. Kehilangan seseorang yang sangat dia cintai ternyata sangat menyakitkan.


"Kalau lu bunuh diri, sama aja lu bunuh gua, Mommy juga Daddy," ucap Aksa.


"Jingga menikah bukan akhir dari segalanya. Lu masih bisa bahagia tanpa dia!"


#off.


"Sudah, Bang. Itu semua Abang lakukan untuk Kakak 'kan," ucap Riana.


Riana merasa kasihan kepada Jingga. Nasibnya selalu pilu. Tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Abang kasihan kepada Aska."


Ikatan batin anak kembar ini sangatlah kuat. Aksa ikut merasa terpuruk ketika melihat adiknya bagai pria tak waras.


"Kenapa Aska harus mengalami nasib yang sama seperti Abang?" lirihnya.


Riana mengambil tangan Aksa dan meletakkannya di atas perutnya. Rasa sedih yang Aksa rasakan sirna seketika. Dia menatap ke arah sang istri yang sudah tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Dia adalah pembawa kebahagiaan untuk kita. Dia adalah penyemangat untuk kita."


Aksa tersenyum ke arah sang istri dengan mata yang sembab. Dia juga mencium perut Riana yang sedikit membukit.


"Makasih, Nak."


Dia mengusap lembut rambut sang suami. Menyuruhnya untuk membersihkan tubuh. Kemudian makan malam bersama kedua orang tuanya.


Di lain tempat, Aska masih menatap indahnya lampu bangunan pencakar langit Kota besar ini. Bibirnya tersenyum, tetapi hatinya menjerit kesakitan.


"Apa gua bisa lupain dia?" gumamnya.


Aska berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Ketika dia bangun semuanya baik-baik saja. Pintu apartment terbuka, langkah lebih dari satu orang terdengar. Namun, Aska tak mau menoleh.


"Kak!"


Suara seorang perempuan terdengar, dia tahu itu suara siapa. Aska pun menoleh dan terlihat Riana datang bersama Aksa dengan membawa bungkusan makanan pinggir jalan kesukaan Aska.


"Makan yuk, Kak," ajak Riana.


Aska hanya terdiam, dia tidak berbicara apapun dan kembali menatap indahnya langit malam.


"Ri, tau bagaimana sakitnya hati Kakak," imbuh Riana.


Aska menoleh, dia menatap intens ke arah Riana. Kakak iparnya itu memang bernasib sama seperti dirinya. Namun, kini sudah mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Bersanding dengan pria yang dia cinta.


"Terkejut dan sangat sakit, itu pasti. Mencoba untuk ikhlas pun sulit," tutur Riana.


Aska mengangguk setuju, dia pun tersenyum kecut.


"Butuh waktu lama untuk melupakan semuanya. Butuh waktu lama untuk menerima kenyataan yang ada. Jujur, itu sangat sulit, Kak," terang Riana lagi.


"Terlalu cepat." Dua kata yang terucap dari mulut Aska.


Riana meriah tangan Aska. Seketika Aska terkejut. Namun, Riana tak melepaskannya. Dia membawa tangan itu ke atas perutnya.


Aska terdiam, dia merasakan ada pergerakan kecil di sana. Perlahan tapi pasti hatinya sedikit tenang. Anak yang ada di dalam kandungan Riana seakan membawa kedamaian pada orang di sekitar.


Aska menatap ke arah Riana, sebuah senyum Riana berikan kepada adik iparnya tersebut. Tubuh Aska kini mulai berjongkok di hadapan Riana. Dia mengusap lembut perut istri dari abangnya.

__ADS_1


"Makasih sudah membuat hati Uncle tenang dan melupakan kesedihan. Meskipun untuk sementara."


Aska berucap dengan lengkungan senyum yang merekah. Kini, dia menatap ke arah sang Abang.


"Boleh gua cium perut Riana?" Aksa mengangguk dengan senyum yang terukir di wajahnya.


Kecupan hangat Aska berikan di atas perut Riana. "Uncle sayang kamu. Cepatlah lahir dan Uncle akan menjadi ayah kedua yang baik untuk kamu."


Hati Aksa sangat lega mendengar ucapan dari adiknya. Benar kata sang istri, bahwa tendangan kecil anaknya membawa kedamaian dan pelipur lara bagi orang yang menyentuhnya.


Harusnya mereka berdua makan di rumah besar milik Giondra. Namun, kedua orang tua mereka ada acara dadakan yang mengharuskan mereka makan di luar. Dari pada makan hanya berdua di meja makan yang sangat besar, Riana mengajak suaminya untuk menemui Aska dan makan malam bersamanya. Kini, ide Riana tidak sia-sia. Aska mau makan bersama mereka dan candaan khas Aska hadir lagi.


Rasa sakit itu tidak akan hilang dengan mudah, tetapi mencoba untuk bangkit dari rasa sakit itu lebih baik.


"Bang, gua akan menyetujui rencana Daddy," ucap Aska disela makan sate-satean yang Aksa beli dari angkringan tempat biasa Aska makan.


"Rencana apa?" Aksa menjawab pertanyaan Aksa sembari menyuapi sang istri.


"Mengelola perusahaan."


Aksa tersenyum lebar, akhirnya adiknya mau terjun juga ke perusahaan sang ayah.


"Pasti nanti lu akan jadi orang hebat." Aska hanya tertawa.


"Mungkin ... emang gua belum pantas meminang wanita manapun. Maka dari itu, gua mencoba memantaskan diri dengan bekerja seperti lu dan Daddy."


Aska berniat becanda, tetapi Aksa menangkap bahwa itu adalah ucapan serius.


"Kafe lu juga beromset gede 'kan?" Aska mengangguk.


"Tapi, dompet gua gak setebal dompet lu, Bang," ujarnya. "Dari masalah ini, mungkin Tuhan menyuruh gua untuk jadi anak yang nurut sama kedua orangtua. Terutama kepada Daddy," lanjutnya lagi.


"Gua udah sering membantah Daddy, selalu jadi anak pembangkang. Sekarang, saatnya gua jadi anak yang berbakti."


Aksa sangat bangga kepada adiknya ini. Dia mampu melihat pelajaran dari setiap masalah yang Tuhan berikan. Bagi Aska, inilah adalah cara untuknya belajar melupakan Jingga. Menyibukkan diri agar dia bisa melupakan wanita yang masih terpatri di hatinya.


Ijinkan aku melupakan kamu. Kamu adalah masa lalu terindah untuk aku. Tuhan hanya menginginkan kita bertemu, tidak untuk bersatu.


...~Askara~...

__ADS_1


__ADS_2