
Riana bergegas keluar dari apartment Aksa dengan perasaan yang ketakutan. Dia benar-benar takut sekarang ini. Riana memesan ojek online untuk menuju rumah sakit tempat di mana korban kecelakaan itu dibawa. Sepanjang perjalanan Riana terus merapalkan doa. Air matanya terus menetes, membuat tukang ojek online sesekali melihat ke arah spion karena berkali-kali Riana menyeka ujung matanya.
Ingin rasanya Abang ojek online itu bertanya kepada Riana, tetapi dia segan. Motor berhenti di depan rumah sakit yang Riana tuju.
"Mas, bisa tunggu sebentar. Saya hanya akan memeriksa ke dalam."
Tukang ojek itu mengangguk, dia juga tidak tega melihat wajah Riana yang sudah merah. Langkahnya membawanya menuju kamar jenazah. Di sana sudah banyak orang yang berpakaian rapi seperti petinggi-petinggi perusahaan. Namun, dia tidak melihat keluarga dari calon suaminya berada di sana. Riana mencoba menghubungi keluarganya yang berada di Jakarta, tetapi ponsel Riana mati karena lupa di charge semalam.
Rasa takut sudah menyeruak di hatinya. Dia berjalan bagai tak menapak. Hatinya terus berdegup sangat kencang. Mau bertanya pun dia tidak mengenal siapapun di sana. Langkah kaki Riana membawa Riana menuju salah satu petugas di sana. Namun, seolah semuanya bungkam.
"Abang," lirihnya.
"Riana!" panggil salah seorang perempuan.
Riana menoleh ternyata Risa yang memanggilnya. "Kamu sedang apa?" tanyanya.
"Ris, apa kamu tahu korban kecelakaan mobil tadi pagi itu siapa?" tanya Riana.
"Aku tidak tahu pasti karena pihak keluarga menyuruh pihak rumah sakit untuk merahasiakannya. Tetapi, jenazahnya masih ada di kamar jenazah."
Ternyata Risa bekerja di rumah sakit ini di bagian kantornya. Melihat wajah Riana yang sangat kacau, Risa tidak tega dan membawa Riana menuju kamar jenazah. Dia berbicara kepada petugas, dan akhirnya Riana diperbolehkan masuk.
"Kamu boleh masuk."
Kakinya enggan sekali melangkah, terasa sangat berat. Namun, rasa penasaran mengalahkan semuanya.
"Ini jenazah kecelakaan tadi pagi," kata petugas kamar jenazah.
Perlahan tapi pasti Riana pun mendekat. Tubuhnya terlihat gemetar. Ketika tangannya menyentuh kain penutup, tiba-tiba tangan korban kecelakaan itu jatuh ke arah samping. Mata Riana melebar ketika melihat jam tangan yang ada di tangan jenazah tersebut.
"Enggak, enggak mungkin."
Riana menggeleng dan tubuhnya tersungkur ke lantai. Riana menangis keras membuat petugas memanggil Risa.
"Riana." Risa mencoba membangunkan tubuh Riana yang sudah bersimpuh di lantai. Sorot kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
"Memang siapa jenazah ini, Ri?" Rasa penasaran menyeruak di hati Risa.
Melihat Riana hanya terdiam, Risa mencoba membuka penutup jenazah tersebut.
"Jangan! Aku gak sanggup," tolak Riana, yang masih menangis.
"Ri, di dunia ini banyak orang yang hanya mirip. Jika, kamu tidak membukanya kamu tidak akan pernah tahu siapa yang berada di balik penutup ini. Siapa tahu, kamu menangisi orang yang salah," tutur Risa.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Risa benar adanya. Namun, jika itu benar-benar Aksa hatinya akan benar-benar hancur. Di mana pernikahannya tinggal menghitung hari lagi.
"Kita buka, ya."
Sorot mata Riana menunjukkan ketakutan, tetapi Risa terus meyakinkan.
"Berdoa saja, semoga bukan orang yang kamu kira," imbuhnya lagi.
Riana mulai mendekat ke arah brankar yang berisi jenazah. Tangannya mulai terulur pelan dan sudah menyentuh selimut putih yang menutup jenazah tersebut. Tarikan napas panjang Riana lakukan. Tangannya perlahan membuka jenazah tersebut, tetapi matanya tertutup. Dia sungguh tidak sanggup.
"Ri, buka mata kamu," titah Risa. "Kalau ditutup terus kamu tidak akan tahu siapa jenazah ini," terangnya.
Perlahan mata Riana terbuka. Matanya membola ketika melihat jenazah di depannya, dengan cepat Riana menutupnya kembali dan berlari meninggalakan kamar jenazah tersebut. Risa dan petugas hanya menggelengkan kepala mereka. Risa pun melihat jenazah itu dengan seksama.
"Aku tidak mengenalnya," gumamnya.
Tukang ojek yang Riana pesan tadi pun ternyata masih menunggu Riana. Riana naik ke atas motor dan menyuruh tukang ojek online itu menuju WAG Grup. Di sepanjang perjalanan pun dia terus berdoa. Tibanya di sana Riana menyerahkan dua lembar uang seratus ribu kepada ojek online tersebut.
"Rezeki Mas," ucap Riana, sebelum tukang ojek itu menolaknya. Riana tidak bisa berlama-lama.
Dia berlari menuju lift dan menekan tombol di mana ruangan meeting berada. Hatinya masih bergemuruh, takutnya belum hilang.
Tibanya di lantai atas, Riana bergegas menuju ruang meeting. Tangannya sudah memegang gagang pintu dengan jantung yang terus berdetak sangat kencang.
"Kamu kenapa, Sayang?"
Tidak ada jawaban, hanya sebuah pelukan yang Riana berikan kepada Aksa. Semua mata membola melihat pemandangan di depan mereka.
"Maaf, rapat kita tunda sejenak," ujar Fahri.
Fahrani menghampiri Aksa dan berbisik kepadanya. Aksa mengangguk cepat. Dia pun membawa Riana keluar dari ruangan rapat tersebut.
Tangan Riana masih melingkar di pinggang Aksa dengan air mata yang masih mengalir. Aksa bingung dan heran.
"Ri takut, jangan tinggalin Ri lagi," lirihnya.
Dahi Aksa mengernyit mendengar ucapan Riana. Dia mengurai pelukan Riana dan menatap mata Riana yang sudah sangat sembab.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya seraya menghapus air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Kecelakaan tadi pagi ...."
Riana tidak meneruskan ucapannya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika korban dalam kecelakaan itu adalah Aksa.
__ADS_1
"Kamu mengira kalau itu Abang?" Riana pun mengangguk.
Aksa masih merasakan degupan jantung Riana yang masih sangat kencang. Dia memeluk tubuh calon istrinya dengan erat.
"Itu teman Abang. Rencananya setelah meeting ini selesai Abang akan datang ke sana untuk melayat," terangnya.
"Mobil itu?" tanya Riana.
"Itu memang mobil WAG Grup, semalam dia mengambilnya ke apartment."
Hati Riana bagai tanah kering yang menerima siraman air hujan. Lega dan sangat lega.
"Abang meeting dulu, ya. Kamu tunggu di sini saja. Sebentar lagi meeting akan selesai." Riana pun mengangguk. Sebelum pergi Aksa mengecup kening Riana sangat dalam.
Riana masih setia menunggu Aksa di depan ruangan meeting. Dia tengah menetralkan hatinya sembari mengisi daya baterai. Pintu ruangan meeting terbuka dan mata Riana mulai mencari sosok pria yang pagi ini membuat dirinya ketakutan. Setelah semua koleganya keluar, Aksa menghampiri sang calon istri yang menatapnya.
"Maaf ya, sudah membuat kamu khawatir." Tangan Aksa sudah mengusap lembut pipi Riana.
"Ponsel Abang kenapa tidak aktif, begitu juga dengan ponsel Mas Ari dan juga Mbak Rani?"
"Ketika ada meeting penting, peraturannya seperti itu, Sayang. Semua ponsel kami matikan."
Riana meletakkan kepalanya di bahu Aksa dengan tangan yang merangkul manja lengan calon suaminya. Aksa mengecup ujung kepala Riana dengan sangat lembut.
"Kita kembali ke Jakarta."
Tangan Aksa terus bertaut dengan tangan Riana. Begitu juga Riana yang menggenggam erat tangan Aksa.
"Udah kayak truk gandeng," dengus Fahri yang sedang menjadi sopir mereka.
Sesuai dengan ucapan Aksa, mereka menuju rumah duka dari sahabatnya dan baru terbang ke Jakarta.
"Jangan pernah tinggalin, Ri." Kalimat itu lagi yang Riana ucapkan.
"Tidak akan, Sayang. Tujuan Abang ingin menikahi kamu karena Abang ingin kita terus bersama. Kamu mau 'kan mengikuti ke mana Abang pergi setelah kita menikah?"
Riana pun mengangguk cepat dan tangannya mulai melingkar di perut Aksa.
...****************...
Biar deg-degan dan sukses bikin emak-emak sewot. 😁
Maapkeun aku ...
__ADS_1
Tong hilap komenna🙏