
Dilain tempat, seorang wanita yang tengah bekerja di dapur dihampiri oleh seorang pria tampan. "Jangan serius-serius kerjanya." Ucapan pria itu mampu membuat sang wanita tersentak. Senyum manis pria itu berikan. "Mending aku seriusin aja," godanya.
Wanita yang bernama Jingga itu tersenyum lebar mendengar ucapan dari Ken, pria yang memang tampan. Tak lain adalah bosnya.
"Bapak bisa aja," balas Jingga.
"Jangan panggil Bapak dong. Saya bukan bapak kamu," sergahnya. "Tapi ... saya ini calon bapak dari anak-anak kita nanti," lanjutnya lagi
Jingga semakin tertawa lebar mendengar gombalan yang diberikan oleh Ken. Bekerja di tempat ini terasa sangat menyenangkan. Apalagi, kedua bosnya sangatlah biak dan sepertinya seusia dengan dia.
Plak!
Kepala bagian belakang terkena pukul oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Juno.
"Lu mah gak boleh aja gua senang," sungut Ken kepada Juno.
"Jangan jadi playboy, cukup teman kita aja yang playboy," cerca Juno. Ken hanya berdecak kesal.
Jingga menggelengkan kepala melihat tingkah kedua atasannya itu. Namun, mereka selalu membuat Jingga merasa nyaman dan senang.
"Terima kasih Tuhan, telah memberikanku tempat yang nyaman di sini. Aku seperti memiliki teman dan hari-hariku semakin berwarna."
Jingga penasaran dengan teman sang bos yang tak kunjung datang, yang dia tahu bahwa pemilik kafe ini ada tiga. Tiga pria lajang, begitulah kata dari para pegawai yang lain. Ingin rasanya Jingga bertanya kepada Juno dan Ken. Akan tetapi, dia tidak memiliki keberanian. Samar terdengar mereka berdua akan ke rumah sahabat mereka itu.
"Ingin deh punya sahabat seperti itu," gumam Jingga.
Sedikit demi sedikit, trauma yang dimiliki Jingga perlahan menghilang. Ini semua karena lingkungan tempat kerjanya sangat membuatnya bahagia. Bisa melupakan kesedihannya untuk sementara.
Kedua sahabat Aska itu ternyata merealisasikan ucapan mereka. Mereka datang ke rumah megah Askara. Namun, sang pria itu belum pulang menjemput si triplets. Hanya ada ibu dari Askara yang sangat ramah dan baik
"Santai aja dulu di sini. Palingan juga sebentar lagi si Adek akan pulang kok. Tadi ditelepon katanya arah pulang," jelas Ayanda.
"Iya, Tante," balas Ken dengan sopan.
Ken dan Juno merasa salut dan bangga kepada ibu dari Aska. Meskipun kaya raya, dia tetap saja ramah. Baik kepada semua orang. Apalagi kepada keduanya. Ayanda memperlakukan Ken dan Juno layaknya ke anak sendiri.
Semua camilan serta makanan pasti akan Ayanda suguhkan. Mereka juga bebas bermain di rumah megah ini sesuka hati.
"Masih ada ya orang kaya seperti nyokapnya Aska," bisik Ken kepada Juno.
"Satu banding seribu," sahut Juno.
__ADS_1
Mata mereka berdua terbelalak ketika melihat wanita yang turun dari lantai atas. Tanpa polesan make up pun wajahnya sangat terlihat cantik. Kulit putihnya terlihat sangat terawat. Apalagi, wanita itu hanya mengenakan dress selutut.
"Mom, Kakak udah pulang?" tanya Riana.
"Masih di jalan," jawab Ayanda. "Apa ada yang kamu mau? Biar Mommy belikan," lanjut Ayanda.
Riana menggeleng seraya tersenyum. Dia membalikkan kembali tubuhnya dan menaiki anak tangga lagi.
"Cantik banget, wajar aja kalau abangnya si Aska klepek-klepek," ucap Juno
"Jingga juga gak kalah cantik," sahut Ken. Juno berdecak kesal dan ingin sekali menenggelamkan Ken ke laut merah.
Tidak lama deru mesin mobil terdengar. Ayanda tersenyum ketika putranya masuk ke dalam rumah.
"Duo kunyuk datang?" tanya Aska kepada Ayanda.
"Iya, lagi di ruang televisi tuh," jawab sang ibu. "Si triplets mana?" tanya Ayanda.
"Mereka pulang ke rumah. Ada acara yang mereka sukai katanya." Ayanda mengangguk mengerti.
Aska meninggalakan ibunya dan menemui dua sahabatnya yang tengah asyik nyemil cokelat nikmat yang tersedia di toples.
"Mau nengokin playboy burik. Masih napas atau enggak," balas Ken dengan santai.
"Bhang Ke!"
Kedua sahabat Aska itu pun tertawa. Mereka serius membahas perihal kafe yang ada di Jakarta. Kedatangan mereka berdua untuk melaporkan semuanya kepada Aska. Aska mendengarkan dengan serius.
Langkah kaki seseorang membuat Aska serta kedua sahabatnya menoleh. Dahi Aska mengerut ketika melihat Riana menghampirinya.
"Ada yang keponakan gua mau?" sergahnya. Riana menggeleng dengan cepat, sedangkan kedua sahabatnya saling tatap tidak mengerti.
"Teleponin Abang," pinta Riana.
Mulut Aska menganga dengan sempurna. Tak lama kemudian, dia menggelengkan kepala karena tak habis pikir dengan kelakuan kakak iparnya ini.
"Lu 'kan punya ponsel, kenapa kudu pakai ponsel gua?" tanya Aska heran.
"Ri, lagi marah. Gak mungkin Ri telepon Abang duluan," jawab Riana dengan wajah sendu. "Perut Ri kram lagi, Kak. Sepertinya anak-anak ini rindu Daddy-nya dan ingin mendengar suaranya."
Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska. Namun, dia tidak bisa menolak permintaan sang kakak ipar. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang Abang. Sengaja dia loudspeaker agar Riana mendengar.
__ADS_1
"Ngapain? Gua lagi meeting!"
Ucapan garang terdengar dari sambungan telepon itu. Aska mendengkus kesal. "Bini lu kram lagi perutnya, coba deh bilangin anak-anak lu biar gak Badung dulu sampai lu balik," ujar Aska.
Duo jomblo sahabat Aska hanya melongo mendengar ucapan Aska.
"Anak-anak Daddy, jangan nakal ya, Nak. Kasihan Mommy ... Daddy juga kangen kalian, kangen Mommy juga. Daddy sedang berusaha keras untuk menyelesaikan semua pekerjaan ini dengan cepat supaga Daddy bisa bersama kalian lagi."
Jika, berbicara perihal anak, Aksa maupun Riana akan sama-sama bersedih. Riana kini menundukkan kepalanya sangat dalam.
"Jaga Mommy ya, Nak. Jangan buat Mommy susah dan kesakitan. Daddy di sini selalu kepikiran kalian, juga selalu merindukan kalian. Daddy sayang kalian. Love you my children and love you my wife."
Ketiga jomblo itu tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Aksa. Sangat haru dan menusuk kalbu.
"Masih sakit gak?" tanya Aska. Riana pun menggeleng. "Mau ngomong?" tanya Aska lagi kepada Riana.
"I'm waiting you."
Suasana mendadak hening, dari balik sambungan telepon Aksa tersenyum penuh arti. Akhirnya istrinya mau berbicara lagi kepadanya.
"Tunggu Abang, Sayang. Abang akan segera kembali dan kita bisa bersama-sama lagi."
Ken sudah mengelap air matanya dengan lengan kemeja yang dipakai Juno. Hatinya sangat teriris mendengar ucapan yang teramat tulus itu. Dia yang lelaki saja tersentuh, apalagi wanita.
Riana menyeka air matanya dan mengucapkan terima kasih sebelum dia kembali ke kamarnya.
"Kalau mau apa-apa langsung bilang, ya. Jangan pernah kamu tahan," ujar Aska. Riana mengangguk lagi.
Sambungan telepon itu pun belum Aska putus. Jadi, Aksa masih bisa mendengar ucapan mereka.
"Makasih, Dek," ucap Aksa dengan suara yang terdengar berat.
"Sama-sama, Bang. Gua akan selalu menjadi penghubung antara lu dengan Riana. Gua gak mau terjadi apa-apa dengan keponakan-keponakan gua."
"The real of sibling," puji Ken.
...****************...
Up lagi nih ...
Komen dong
__ADS_1