Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Amarah


__ADS_3

Aksa tiba di rumah ketika kedua orang tuanya ada di ruang keluarga. Alis Ayanda juga Gio menukik tajam ketika melihat putra pertama mereka baru saja masuk ke dalam rumah.


"Dari mana kamu?" sergah Gio dengan tatapan tajamnya. "Istri kamu butuh perhatian kamu, bukan malah keluyuran," sentak Gio. Wajah Gio sudah sangat tidak bersahabat.


Kata 'kamu' yang terlontar dari mulut Gio menandakan bahwa ayah dari Aksa sudah marah. Jika, sudah begini Aksa tidak akan berani menegakkan kepalanya. Marah ibunya masih bisa dianggap angin lalu, tetapi jika ayahnya sudah berbicara sedikit keras Aksa maupun Aska tidak akan berani membuka mulut mereka. Mereka juga tidak akan berani menatap ke arah ayah mereka. Marahnya Gio hampir sama dengan marahnya Genta Wiguna.


Riana yang hendak mengambil buah-buahan ke ruang makan mendengar suara keributan, sehingga dia memilih untuk membelokkan langkahnya dan menghampiri suara tersebut. Dilihatnya sang suami sudah menunduk di depan sang ayah mertua dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya.


"Abang sudah pulang?"


Suara Riana memecah keheningan dan mampu membuat Gio serta Aksa menoleh. Riana segera menghampiri Aksa dan bergelayut manja ke lengan suaminya.


"Daddy, tadi Abang keluar untuk beli sesuatu yang Ri inginkan," ucap Riana membela suaminya. Riana menatap ke arah suaminya dengan senyum yang sangat manis.


Aksa menghembuskan napas lega dan menatap penuh terima kasih kepada istrinya. Dia pun membalas senyuman sang istri.


"Tapi, tidak ada penjualnya, Dad Makanya, Abang pulang dengan tangan kosong," lanjutnya lagi dengan raut yang dibuat kecewa.


Dia tidak ingin melihat suaminya dimarahi oleh ayah mertuanya. Riana baru tahu bahwa suaminya adalah anak yang takut sekaligus hormat kepada orang tua.


Riana benar-benar penyelamat untuk Aksa malam ini. Dia tak segan mencium puncak kepala Riana di depan kedua orang tuanya. "Makasih," bisik Aksa.


"Ya udah, mending kita makan malam," imbuh Ayanda.


Mereka mengikuti ucapan Ayanda dan hanya ada mereka berempat di meja makan.


"Aska ke mana? Daddy tadi lihat dia ada di rumah sakit."


Aksa dan Riana saling pandang, tetapi mereka bersikap biasa saja. Tidak ingin membuat kedua orang tua mereka curiga.

__ADS_1


"Tadi dia bilang ke Abang kalau dia mau ke kafe. Ada sedikit masalah katanya," jawab Aksa.


Kedua orang tua Aksa percaya saja karena Aska memang tipe anak yang jarang ada di rumah, kecuali jika abangnya tidak ada baru Aska akan berdiam diri di rumah untuk menjaga Riana.


Setelah makan malam selesai, Aksa dan Riana masuk ke dalam kamar mereka. Riana bersandar di bahu sang suami yang tengah asyik mengetikkan sesuatu di layar ponsel miliknya.


"Keadaan Kakak gimana?" tanya Riana.


"Cukup parah sih, tapi Abang sudah meminta dokter terbaik untuk merawat Aska," jawabnya.


"Siapa yang memukuli Kakak?" Riana bertanya lagi.


Aksa meletakkan ponselnya, dan dia merebahkan tubuhnya di pangkuan sang istri. Refleks tangan Riana mengusap lembut rambut Aksa.


"Nanti juga kamu tahu, Sayang." Aksa sudah menyingkap kaos yang digunakan Riana. Mengecup perut rata istrinya.


"Boleh Ri jenguk Kakak?" Aksa mengangguk.


Keesokan paginya, Jingga sudah berada di kafe yang sudah sangat berantakan. Para karyawan di sana ditugaskan oleh Juno untuk membersihkan kafe yang sudah seperti kapal pecah. Banyak sekali kerugian yang diderita oleh pemilik kafe ini.


Suasana nampak hening, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Peraturan di kafe ini tidak boleh saling bergosip. Jika, itu terjadi maka karyawan akan dipecat secara tidak hormat. Jingga sesekali melihat ke arah pintu masuk. Dia berharap Ken atau Juno datang hari ini. Dia ingin menanyakan keadaan Aska. Dia sangat merasa bersalah kepada Aska dan dia ingin melihat keadaan Aska.


Dua jam berselang, tidak ada siapapun yang datang. Ada rasa kecewa di hati Jingga. Dia sudah pasrah jika nantinya dia akan dipecat dan akan hidup bagai gelandangan karena tidak memiliki siapa-siapa lagi di Jakarta. Tempat tinggal pun sudah tak ada. Uang pun sudah sangat menipis.


Sebenarnya Jingga memiliki keluarga di sini. Ayahnya seorang dokter ternama, tetapi Jingga hidup bersama ibunya sedari umur satu tahun. Mereka tidak diakui oleh keluarga ayahnya hingga mereka memilih keluar dari rumah itu dan memilih hidup berdua.


Jingga mengenal ayahnya hanya lewat foto yang ibunya berikan. Namun, ibunya berpesan kepada Jingga untuk tidak mencari ayahnya karena ayahnya sudah memiliki keluarga yang baru. Jingga pun sudah tidak ingin mencari ayahnya lagi karena hanya ada air mata dan rasa sakit jika mengingat perlakuan dari keluarga ayahnya kepadanya.


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Jingga. Dia pun tersenyum tipis. "Aku pasti bisa menghadapi semuanya," batinnya.

__ADS_1


Jam sebelas siang pintu kafe terbuka, seluruh karyawan menoleh. Mereka mengerutkan dahi ketika seorang pria yang wajahnya mirip dengan bos mereka datang. Namun, cara berpakaiannya sangat berbeda dengan Aska. Jingga menatap ke arah pria tersebut.


"Kalian semua boleh pulang. Besok, kalian bisa mulai bekerja lagi," titahnya.


"Tapi ... ini masih berantakan, Pak," ujar salah seorang karyawan yang ada di sana. Mereka diberi pesan oleh Juno jika semua pekerjaan belum selesai mereka tidak diperbolehkan untuk pulang.


"Saya pastikan besok sudah kembali seperti semula. Sekarang kalian pulang dan tidak ada bantahan," tekannya.


Aura dingin dari Aksa membuat nyali para karyawan di kafe tersebut menciut. Mereka pun bergegas mengambil tas mereka dan segera meninggalakan kafe tempat mereka bekerja. Tatapan Aksa sangat tajam ke arah mereka semua, seperti ingin membunuh mereka sekarang juga. Berbeda dengan Jingga yang malah memberanikan diri untuk menghampiri Aksa. Meskipun hatinya berdegup sangat cepat. Dia tahu seperti apa Aksa yang tak lain adalah mantan bosnya di WAG Grup.


"Pak direktur utama," panggilnya. Jingga tidak tahu nama dari direktur utama WAG grup tersebut.


Aksa yang hendak menaiki anak tangga pun berhenti. Dia menolehkan sedikit kepalanya.


"Bagaimana keadaan Bang Aska, Pak?" tanya Jingga dengan suara yang sangat khawatir. Aksa sama sekali tidak membalikkan badannya.


"Sampai detik ini dia masih hidup," sinisnya. Aksa melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan atas.


Jingga terhenyak mendengar jawaban dari Aksa. Ucapan yang sangat menusuk ulu hati. Perkataan Aksa sangat pedas dan mematikan. Mampu membungkam mulut Jingga.


Di ruangan atas, Aksa duduk di sofa yang ada di ruang kerja adiknya. Dia menghubungi seseorang dengar raut yang sudah dikatakan murka. Ponsel yang dia genggam sudah dia arahkan ke telinga.


"Bawa adikmu ke Jakarta sekarang!" Ucapan yang penuh dengan tekanan.


...****************...


Maaf, baru UP. Banyak gangguan.


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2