
Jam sepuluh, Aksa juga Riana tiba di apartment. Anak yang berada di dalam kandungan Riana sangat manis. Dia sama sekali tidak rewel selama mengudara.
"Sepertinya anak kita senang terbang dengan pesawat," ujar sang suami ketika memeluk tubuh Riana dari belakang. Riana hanya tersenyum dan meletakkan kepalanya di dada bidang Aksara.
"Kapan Abang berangkat?" tanya Riana, yang sudah membalikkan tubuhnya. Menatap suaminya dengan penuh cinta.
"Jam sebelas."
"Bukannya meeting-nya jam satu?" Riana sedikit bingung, di pesawat Aksa bilang meeting dilakukan jam satu siang. Sekarang, dia mengatakan hal yang berbeda lagi.
"Jam sebelas ada tester makanan untuk makan siang para karyawan. Abang disuruh ikut andil dalam masalah itu," tuturnya. Riana mengangguk mengerti.
Beberapa orang berjaga di luar untuk melindungi Riana. Semuanya sudah Aksa pikirkan dengan sangat matang. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan istri juga calon anaknya.
"Sayang, mau makan siang sama apa?" tanya Aksa yang sudah berganti pakaian. Memakai kemeja hitam dengan dasi berwarna merah.
"Tadi di kulkas Ri lihat banyak stok makanan. Nanti Ri olah bahan yang ada di kulkas aja," jawabnya, sambil beranjak untuk membenarkan dasi sang suami.
"Beneran mau masak?" tanya Aksa. "Nanti mual," lanjutnya lagi.
Riana menatap suaminya dengan penuh cinta. Dia tersenyum ke arah Aksara.
"Hanya masakan sederhana gak akan buat Ri mual, Bang," balasnya.
Aksa menyetujui keinginan istrinya. Rasanya tidak tega Aksa meninggalkan Riana seorang diri.
"Ri, gak apa-apa, Bang. Dari sekarang Ri harus bisa mandiri. Biasanya 'kan selalu ditemani Mommy, apa-apa disiapkan asisten rumah tangga. Ri, harus terbiasa kalau ditinggal Abang kerja sendirian," jelasnya.
Aksa mengangguk dan tak lupa membubuhkan ciuman manis di bibir sang istri.
"Anak Daddy, Daddy kerja dulu, ya. Jangan nakal ya, Sayang. Jaga Mommy."
Riana terus menyunggingkan senyumnya jika Aksa berbicara seperti ini kepada anak di dalam kandungannya.
"Jangan telat makan siang ya, Sayang. Susu ibu hamil kemasan sudah banyak di lemari pendingin. Kalau mau yang hangat pun di dapur ada," terang Aksara. Riana mengangguk dan tidak lupa mencium tangan sang suami.
"Kalau udah selesai, langsung pulang." Mode manja Riana muncul lagi. Aksa tergelak mendengarnya.
"Pasti, Sayang."
Aksa pergi menuju kantor anak cabang Wiguna Grup. Sebelumnya, dia menghentikan langkah tepat di depan unit apartment miliknya.
"Jaga istri saya dengan baik."
Kalimat perintah yang sangat tegas. Empat orang yang sedang berjaga di unit apartment miliknya pun mengangguk patuh.
Tibanya di kantor cabang Wiguna Grup, Aksa disambut hangat oleh para petinggi di sana. Mereka membawa Aksa ke ruangan yang sudah tersedia banyak makanan di sana.
"Ini Pak, menu makanan yang kami pesan dari warung makan pinggir jalan yang banyak orang bilang enak." Aksa hanya mengangguk.
Sebelum Aksa mencoba, anak buahnya terlebih dahulu yang mencobanya. Ketika semuanya aman, barulah Aksa diperbolehkan makan.
Aksa hanya mencicipi satu per satu makanan. Tidak dia pungkiri, rasa makanan itu enak. Dia melihat ke arah petinggi yang lain yang juga menganggukkan kepala mereka menandakan makanannya enak.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik warung makan ini," ujar Aksara.
Manager di perusahaan itu pun mengangguk dan mencari si pemilik warung makan.
__ADS_1
"Maaf, Pak," ucap manager tersebut ketika kembali menghadap Aksa. "Pemilih warung makan itu sudah pulang. Katanya istrinya mengamuk tak karuhan," tuturnya lagi.
"Memangnya kenapa dengan istri dari pemilik warung tersebut?"
"Yang saya dengar, istrinya mengalami trauma cukup berat." Aksa mengangkat tangannya agar sang manager itu menghentikan ucapannya.
"Atur pertemuan saya dengan pemilik warung tersebut, selama saya masih berada di Jogja." Manager itu pun mengangguk paham.
Ada waktu setengah jam lagi untuk beristirahat. Aksa mengambil ponselnya dan mengecek cctv apartment miliknya melalui ponsel. Bibirnya terangkat ketika melihat sang istri tengah asyik di dapur dengan memakai celemek. Terlihat istrinya tengah mengaduk-aduk masakan.
"Siang, Pak!"
Suara Fahri mengganggu keasyikan Aksa. Dia menatap kesal ke arah Fahri.
"Sudah jam berapa ini?" sergah Aska ke arah Fahri.
"Jam satu kurang seperempat," jawab Fahri santai.
Aksa semakin jengah kepada Fahri. Dia malah fokus pada layar ponselnya, memandangi istrinya dari balik cctv. Terlihat peluh membasahi wajah Riana membuat Aksa tidak tega. Dia segera menghubungi istrinya.
"Iya, Bang."
"Sayang, jangan kecapek-an. Abang datangin asisten rumah tangga aja, ya."
Aksa yang berbicara kepada istrinya, Fahri yang terlonjak kaget. Dia menggelengkan kepala tak percaya mendengar ucapan sang atasan.
"Sultan Mah bebas."
Riana tertawa dari balik sambungan telepon. "Tidak apa-apa, Bang. Sehat kalau banyak gerak."
Fahri menyaksikan secara langsung betapa Aksa sangat mengkhawatirkan istrinya. Sudah lebih dari empat bulan ini dia tidak bertemu dengan Aksa. Ternyata sudah banyak perubahan pada diri Aksara.
"Bagaimana dengan Fahrani?" tanya Aksa sekarang.
"Dia sudah mulai terbiasa. Saya harap, dia akan kembali ke samping saya dengan sikap yang lebih baik lagi."
Nada yang sedikit bergetar yang terdengar di telinga Aksa. Tidak dipungkiri, Fahri memang merindukan sosok adiknya itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Fahrani wanita baik. Dia hanya terobsesi akan oase cinta." Fahri mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh Aksa.
Tidak banyak yang mereka obrolkan dikarenakan meeting penting sudah akan dimulai. Berkali-kali Aksara mengerang kesal ketika semua laporan yang dia terima tidak sesuai dengan data yang ada.
Aksa tidak banyak bicara, dia hanya terus memandangi laptop juga mendengarkan penjelasan-penjelasan dari orang-orang yang memang diikut sertakan dalam meeting tersebut.
"Benar-benar kacau."
Batin Aksa mengerang sangat kesal.
Ketika adzan berkumandang, barulah Aksa tiba di unit apartment miliknya. Wajahnya sudah sangat tidak bersahabat karena keadaan di perusahaan WGN sangat kacau. Harus ekstra kerja keras untuk mengembalikan semuanya.
Baru saja masuk, Aksa sudah disuguhkan dengan aroma yang menenangkan. Apalagi istrinya sudah menyambutnya dengan penampilan yang sangat cantik. Dress tanpa lengan di atas lutut. Memperlihatkan baby bump juga kakinya yang sangat mulus.
Rasa pusing dan lelah Aksa menguap begitu saja. Dia tersenyum karena sang istri sudah memeluk tubuhnya.
"Pasti capek banget," tebak Riana. Aksa hanya tertawa dan mengecup kening istrinya.
Riana melepaskan jas yang dipakai suaminya dan menaruhnya di tempat pakaian kotor. Riana pun membawakan secangkir cokelat panas untuk sang suami.
__ADS_1
"Biar mood Abang kembali baik lagi," ucapnya. Aksa hanya tertawa dan mencubit gemas pipi Riana.
Perlakuan manja sang istri membuat hati Aksa kembali menghangat. Emosinya reda seketika, apalagi istrinya memakai dress mini dengan belahan dada rendah. Membuat Aksa ingin cepat menerkamnya.
"Kenapa kamu sangat menggoda?" Riana hanya tersenyum manis dan mengecup bibir Aksara dengan sangat lembut.
Darah Aksara pun mulai membara, dia sudah tidak sabar untuk menjenguk calon anaknya yang setiap malam selalu dia ajak bermain.
Tanda merah sudah memenuhi gunung gede sang istri. Benda segitiga sudah Aksa buang sembarangan. Dia benar-benar buas karena setiap hari istrinya semakin membuatnya bergairah dan betah di rumah.
"Ahh ...."
The Sahan manja Riana yang sudah tidak bisa dia tahan. Aksa semakin menjadi, membuat Riana semakin merancau penuh kenikmatan.
"A-bang ...."
Teriakan kecil yang menandakan Riana sudah mencapai puncak tertinggi. Napasnya sudah tak karuhan. Dadanya sudah turun naik dengan cepat.
"Mau terus digoyang apa diemut?" tanya Aksara.
Riana tidak menjawab, dia malah menyuruh sang suami terlentang dan dia yang berada di atas. Sungguh nikmat sekali permainan Riana membuat Aksa yang biasanya lama mencapai puncak, kini hanya perlu sepuluh menit saja. Semua cairan susu kental manis menyembur di ladang becek milik Riana.
Baby moon yang sangat menggairahkan. Begitulah yang Aksa rasakan.
Ketika malam tiba, Riana merengek ingin pergi keluar untuk menikmati waktu malam di Jogja. Dia rindu musik live yang ada di kafe-kafe tempat biasa dia menghabiskan waktu bersama Risa dan Raisa.
"Mau mengenang pertemuan kamu sama si Arkana?"
Ucapan Aksa membuat Riana menukikkan kedua alisnya. Dia saja sudah tidak mengingat perihal itu. Malah suaminya yang mengingatkannya kembali.
"Ri, hanya rindu suasana kafe itu, Bang." Seperti biasa Riana menunjukkan puppy eyes-nya dan merangkul manja lengan Aksa
Akhirnya, mereka berdua menuju kafe yang Riana inginkan. Tempatnya lumayan jauh. Riana sengaja memutar lagi di mobil. Kebetulan ada lagu yang sangat Riana sukai akhir-akhir ini.
🎶
Seperti nadimu yang
Slalu denyutkan setia
Aku bahagia menjadi pemiliknya
Bagaimana bisa aku jatuh cinta
Berulang kali berulang kali
Pada orang yang sama
Riana menatap ke arah suaminya dengan senyum yang merekah. Aksa membalasnya dengan mengusap lembut pipi sang istri tercinta. Seperti kisah mereka berdua, yang masih mencintai orang yang sama.
Tibanya di kafe, Riana memesan apa yang biasa dia pesan di kafe tersebut. Bagai bernostalgia di jaman kuliah. Melihat istrinya bahagia, Aksa pasti akan ikut bahagia. Mereka terus berbincang santai dengan terus mengumbar kemesraan.
Seketika senyum indah Riana menguap karena melihat seseorang yang sangat dia kenali.
"Jingga."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...