Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Keluarga Yang Lengkap


__ADS_3

"Mo-mommy," ucap Riana dengan suara gemetar.


"Boleh Mommy masuk?" Riana mengangguk pelan. Dia membuka lebar pintu kamar. Ayanda duduk samping tempat tidur king size yang sudah rapi.


"Sini!" Ayanda menepuk pinggiran kasur yang tengah dia duduki.


Hati Riana berdegup tidak karuhan. Langkah kakinya pun terlihat gemetar. Ketika sudah duduk di samping mamah mertuanya pun dia hanya menunduk dalam.


"Kenapa?" Sentuhan lembut di rambut Riana membuatnya menoleh ke arah sang mamah mertua. Masih tersimpan rasa takut di hatinya.


"Maafkan Ri, Mom." Riana nampak menyesal. Tak Riana sangka Ayanda malah memeluknya dengan sangat erat.


"Maafkan Mommy juga, Ri. Mommy hanya tidak ingin kamu kesakitan lagi ketika melahirkan nanti. Luka lahiran kemarin saja belum kering," terang Ayanda. Bulir bening menetes begitu saja membasahi wajah Riana. Sosok mertua yang dia miliki seperti ibu kandungnya sendiri.


Ayanda mengurai pelukannya, dia tersenyum ke arah menantunya yang sudah menitikan air mata. Telapak tangan yang halus dan lembut itu mengusap wajah Riana yang sudah basah.


"Jangan salah paham ya, Ri. Bukan hanya Mommy yang khawatir, pasti ayah juga akan khawatir."


Riana mengangguk mengerti. Sekarang, Ayanda sudah menggenggam erat tangan menantunya itu. "Sungguh, Mommy sangat bahagia mendengarnya. Namun, disatu sisi Mommy kasihan sama kamu karena Gavin masih kecil. Pasti nantinya kamu akan repot."


Benar yang dikatakan suaminya, Aksara. Ibu mertuanya bukanlah tipe mertua yang kejam seperti di sinetron ikan terbang. Jahatnya tidak ketulungan. Ayanda memang ibu mertua yang sangat lembut. Ketika dia memiliki salah pun dia yang meminta maaf terlebih dahulu kepada Riana.


"Maafkan Ri ya, Mom. Ri, udah berburuk sangka sama Mommy." Ayanda hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut Riana. Wajar jika Riana berpikir seperti itu. Ayanda pun tidak akan marah. Awalnya dia memang marah kepada menantunya ini. Diberi tahu, tapi tak digubris. Hal yang membuat Ayanda kesal.


"Gak apa-apa, Sayang." Ayanda harus bisa memaklumi Riana. Dia juga tidak boleh membuat Riana stres. Apalagi sekarang Riana tengah mengandung cucu kelimanya. Sebisa mungkin Ayanda akan membuat Riana merasa nyaman. Dia juga tidak akan membiarkan menantunya kelelahan. Ada janin yang tengah berkembang di dalam perut menantunya.


Kelegaan kini hadir di hati Riana. Selama tinggal bersama sang mamah mertua, tidak pernah sekalipun Ayanda memarahinya. Seringnya Ayanda memarahi kedua putranya yang selalu menyulut emosi. Riana sangat bersyukur memiliki mertua rasa ibu kandung seperti Ayanda. Dari Ayanda dia mampu belajar kelembutan hati. Juga ketulusan yang dimiliki Ayanda sangatlah kuat biasa.


"Ya udah, sekarang kamu istirahat, ya." Ayanda kini beranjak dari kamar Riana. Namun, langkahnya terhenti ketika hendak membuka pintu. "Kalau ingin sesuatu bilang Mommy." Riana pun mengangguk. Selalu saja ibu mertuanya itu mau direpotkan olehnya.


Suasana rumah Ayanda malam hari bagai pasar malam karena kabar bahagia itu sudah tersebar ke telinga keluarga yang lain. Terutama keluarga Rion. Ketika mendengar kabar bahwa Riana hamil Rionlah yang naik darah. Menantunya sungguh kurang ajar. Bisa-bisanya menghamili anaknya lagi di usia putranya yang masih merah. Sungguh keterlaluan.


"Mana si Abang, Dek?" Rion sudah menanyakan sang menantu kepada Ayanda, sudah pasti dia akan memarahi Aksara.


"Belum pulang, Ayah," sahut Riana yang tengah mengambil susu untuk Gavin.


Si triplets tengah bermain dengan Gavin, mengajaknya bicara juga bercanda hingga bayi berusia tiga bulan itu tak berhenti tertawa. Semua orang gemas kepada balita tampan itu.


"Mimi dulu, Nak." Aleena mengambil botol susu yang dibawa oleh Riana dan memberikannya kepada sepupunya.


"Ri, Empin buat Kakak aja, ya." Riana menatap tajam ke arah kakaknya yang terdengar asal bicara.


"Emang boneka," sahut Riana.


Echa pun tertawa. Dia mencium keponakanya dengan sangat gemas. Menguyel-uyel pipi Gavin, tetapi snag keponakan tidak merasa terganggu. Malah merasa sangat bahagia.


"Empin mau punya adik?" Gavin hanya tertawa dengan tangan yang terus mengusap lembut pipi Echa. Sungguh Echa menginginkan memiliki bayi lagi. Namun, Tuhan sudah tidak mengijinkan.


"Empin tinggal sama Bubu aja, ya. Jadi anak Bubu, biar Baba ada teman main bola." Si triplets pun setuju dengan perkataan sang ibu. Namun, Radit berdecak kesal.


"Biarin Baba jadi pria tertampan di keluarga."

__ADS_1


"Percaya diri sekali Anda, Bandit!" Suara Aksa sudah terdengar. Riana tersenyum melihat suaminya yang baru saja pulang.


Aksa menghampiri istrinya. Kemudian dia mengecup kening Riana dengan sangat dalam. Namun, tubuhnya harus mundur beberapa langkah ke belakang karena tarikan di kerah bajunya.


"Loh ... ada apa ini, Ayah?" Wajah murka Rion sudah terpampang nyata. Sesangar apapun wajah Rion, tetap saja pada menantunya tidak ada yang takut.


"Kenapa seneng banget buntingin anak Ayah?" sergahnya. "Anak Ayah itu manusia, bukan kucing!" omelnya. "Kucing hari ini lahiran besok udah bisa jalan, seminggu kemudian udah kawin lagi. Anak Ayah ini manusia, Aksara!"


Belum selesai mengomeli menantunya. Kini, Rion yang ditarik oleh sahabatnya sendiri.


"Duda tua, jangan marah-marah mulu. Nanti hipertensi lu kumat lagi." Arya mendudukkan tubuh Rion dengan paksa.


"Diem di situ," pintanya.


Kini, Arya sudah menyilangkan tangannya di atas dada. Dia menatap tajam ke arah Aksa yang tengah memeluk tubuh Riana.


"Abang Aksa," panggil Arya dan yang si empunya nama pun menoleh.


"Kenapa lu dengan mudah bisa menghamili Riana lagi?"


Dahi Aksa pun mengkerut mendengar pertanyaan tak bermutu dari Arya. "Emang ada yang salah seorang suami menghamili istrinya?"


Rion menatap jengah ke arah sang menantu. Ada saja jawaban dari menantunya itu yang membuat aliran darahnya naik kembali.


"Enggak ada sih. Malah gua mau nanya gimana caranya biar tokcer begitu." Semua orang pun tertawa dan Rion sudah menatap Arya dengan tatapan membunuhnya.


"Gua kira lu bakal ngebela gua, bajing!"


"Bang ke!"


Pergulatan dua orang pria paruh baya pun tak terelakan. Mereka benar-benar bagai anak kecil yang tengah berebut mainan.


"Stop!" Pekikan suara Aleeya membuat dua pria paruh baya itu menghentikan tingkah konyol mereka. Tangan Aleeya sudah menarik telinga Rion dan Arya hingga dua pria itu kompak mengaduh.


"Engkong dan Wawa selalu ngajarin kita untuk tidak bertengkar, tapi kalian malah yang bertengkar." Kedua tangan Aleeya pun sudah menyilang di dada.


"Tak patut, tak patut," balas Aleesa seraya menggeleng.


Kedua pria paruh baya itupun malah terdiam mendengar omelan dari bocah enam tahun itu. Tidak bisa menyangkal sama sekali.


"Akhirnya, pawangnya turun gunung," celetuk Radit.


Semua orang pun tertawa dan sekarang ponsel Aksa yang berdering. Dahinya mengkerut ketika melihat panggilan video dari adiknya.


"Kenapa?"


"Caboel amat lu! Anak belum gede juga udah nambah lagi aja. Gak kasihan apa lu sama cebong gua yang setiap malam selalu kedinginan karena belum dapat rumah yang menghangatkan." Aska sudah mengomel tanpa titik juga koma.


Semua orang pun tertawa mendengar omelan ala emak-emak komplek yang keluar dari mulut Aska. walaupun jauh berada di negeri kanguru sana tetap saja kabar bahagia itu Samali ke telinga Aska. Aksa mengedarkan ponselnya ke semua arah dan umpatan lagi yang keluar dari mulut kembarannya.


"Adek, kalau cebong kamu macam-macam di sana. Mommy buntungin!" Ayanda sudah berada di depan layar ponsel Aksa dengan membawa pisau buah. Mengancam putra bungsunya itu. Sebagai seorang ibu pasti ada rasa cemas dan khawatir jikalau Aska salah pergaulan.

__ADS_1


"Ngilu, Mom. Ngilu!" Aska berucap dengan raut wajah meringis.


Riana merasa keluarganya sangat lengkap sekali. Mereka menyambut kebahagiaan Riana dengan cara mereka masing-masing. Ayahnya yang membalut bahagia dengan pura-pura memarahi Aksa sedangkan sang mamah mertua kasihan kepadanya karena pasti akan repot jika mengurus balita dua sekaligus. Sungguh perpaduan keluarga yang sangat sempurna.


.


"Adek pacar," goda Beeya sambil menyenggol tangan Iyan yang tengah bermain gadget.


Iyan hanya melirik dengan ujung matanya, kemudian melengos lagi. "Malam Minggu jalan yuk," ajak Beeya seraya memamerkan senyum manisnya.


"Gak ada harga diri amat jadi cewek." Beeya mencebikkan bibirnya mendengar sindiran keras dari Iyan. Namun, Beeya dengan kasar menangkup wajah Iyan.


"Malam Minggu kita jalan pokoknya." Beeya tetap saja menjadi perempuan pemaksa. Tatapan tajam Beeya membuat Iyan berdecih kesal.


"Mau mutusin pacar yang mana lagi? Gak capek jadiin aku kelinci percobaan," cibir Iyan. Kini dia sudah mengalihkan pandangannya kembali ke gadget miliknya lagi.


"Suudzon banget, sih," sungut Beeya. "Mau ajak calon suami kencan juga." Wajah Beeya merengut, tetapi tak dipedulikan oleh Iyan. Dia masih fokus ke layar ponselnya. Jika, sudah begini Beeya pasti memiliki niat terselubung.


"Iyan, lu dengerin gua ngomong gak sih?" Beeya benar-benar dibuat kesal oleh anak SMP ini.


"Aku gak budek."


Saking kesalnya Beeya meninggalakan Iyan dan memilih bergabung bersama sang papah. Dia menyingkirkan tubuh Rion yang tengah berada dekat dengan Arya.


"Minggir, bestienya Papah," usir Beeya. Rion menatap kesal ke arah Beeya dan menarik rambut Beeya yang tengah digerai hingga anak itu mengaduh. "Sakit, Ayah!"


"Bocah gemblung!"


Jika, melihat Beeya membuat emosi Rion tak terkendali. Sebelas dua belas dengan papahnya, menyebalkan.


"Pah, masa Iyan gak mau Bee ajak malam mingguan," adunya pada sang papah. Arya tidak mengindahkan ucapan putrinya itu. Sudah biasa Beeya merengek tak jelas.


Semua orang menatap lucu ke arah Beeya yang tengah merengek.


"Mending aku malam mingguan sama Mbak Kunti dari pada sama Kakak Bee."


Jawaban Iyan pun membuat semua orang tertawa. Iyan kini duduk di samping sang kakak keduanya. Memeluk pinggang Riana dengan sangat erat. Mengusap lembut perut Riana yang katanya ada penghuni di dalamnya.


"Beeya emang kenapa?" tanya Riana seraya mengusap lembut rambut sang adik yang sudah beranjak remaja.


"Siyal terus bawaannya kalau dekat sama Kak Bee," keluh Iyan. "Ngajak Iyan buat putusin dua sampai tiga cowoknya kalau ngajak jalan juga. Terus, pas udah putus Iyan yang cowok-cowok itu kejar. Kan males," paparnya.


Iyan dikejar-kejar karena dianggap perusak hubungan Beeya dengan mereka. Pernah Iyan hampir kena serang para mantan pacar Beeya jikalau Jojo tidak memberitahunya


Arya menatap tajam ke arah sang putri seakan ingin menguliti Beeya hidup-hidup. "Katanya udah insaf," sindir Arya.


"Kali ini cuma tujuh, Pah."


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2