
Keesokan paginya, Jingga terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Dia mengubah posisinya menjadi duduk sambil memeluk foto yang sedari semalam berada di dadanya.
"Semalam aku bermimpi Bang As," gumamnya.
Wajah tampan dengan luka lebam yang sudah mulai memudar yang Jingga lihat. Tubuhnya dibalut baju rumah sakit.
"Apa itu kamu, Bang As?" tanya Jingga dalam hati. "Aku sangat melihat jelas," lanjutnya lagi dalam hati.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Jingga. Sepertinya dia hanya bermimpi karena rasa rindu di dalam dadanya yang sudah tidak bisa dia tahan. Dia meraih ponselnya yang berada di atas meja kecil. Sudah banyak panggilan tak terjawab yang masuk ke dalam ponselnya.
"Bantu Fajar keluar dari penjara! Atau kamu akan mati!"
Isi pesan dari sang Bu'de yang membuat Jingga meletakkan ponselnya dengan lemah. Jingga menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dia memejamkan matanya sejenak.
"Kenapa harus selalu ada ancaman?" gumam Jingga lagi.
Tak ada niatan sedikit pun untuk Jingga membalas pesan tersebut. Malah nomor bu'denya tersebut akan dia blokir agar tidak dapat mengganggunya lagi.
"Kamu itu memang anak pembawa sial untuk semua orang. Anak tidak tahu diuntung!"
Pesan dari bu'denya lagi. Makian dan cacian dari kakak dari ibunya itu sudah menjadi makanan Jingga sehari-hari. "Aku sudah lelah ... aku juga ingin bahagia," lirih Jingga.
Jingga meraih ponselnya kembali. Dia memblokir nomor sang bu'de pada saat itu juga. Sudah terlalu banyak kesedihan yang Jingga terima. Sudah terlalu banyak kesakitan yang Jingga rasakan.
"Aku kira memiliki keluarga itu membahagiakan, ternyata malah menyakitkan," gumamnya dengan senyum kecut.
Hampir tiga tahun tinggal di Jogja ternyata hanya menggoreskan luka yang sangat dalam. Tidak ada kebahagiaan yang dia dapatkan. Orang yang dia kira keluarga ternyata memperlakukannya seperti hewan. Setiap malam dia hanya tidur di gudang yang pengap dan penuh debu. Diberi makan hanya nasi dan garam itupun satu kali sehari, sedangkan semua pekerjaan rumah Jingga yang mengerjakan.
__ADS_1
"Ketika Bunda pergi, tidak ada lagi tempat untukku pulang," ucapnya seraya tersenyum perih.
Setiap kali Jingga diperlakukan kasar, bundanya selalu datang ke dalam mimpinya sambil menangis.
"Maafkan Bunda, Jingga."
Hanya kata itu yang mampu ibu dari Jingga itu katakan. Jingga akan merasa dipeluk hangat oleh ibunya sepanjang malam seperti memberikan perlindungan untuknya.
"Ah ... jika mengenangmu, Bunda, tidak akan pernah surut air mata ini," imbuhnya sambil mengecup foto sang ibu.
Jingga beranjak dari kasur dan menyudahi kesedihannya di pagi hari. Dia menncepol rambutnya yang sudah berantakan. Dia menuju pintu kosan. Jingga mengerutkan dahi ketika melihat tidak ada kunci yang menggantung di daun pintu. Dia sedikit terkejut hingga dia menginjak sesuatu. Jingga pun bisa bernapas lega.
"Ternyata jatuh," gumamnya.
Jingga segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia sudah berjanji kepada dirinya jika di hadapan orang lain jangan pernah menunjukkan kesedihan karena orang lain akan menjadi netizen yang sangat pedas melebihi cabe setan yang tengah murah.
Dia sudah melepaskan pakaiannya. Namun, dia masih asyik berdiri tanpa melakukan apapun. Terbesit pikiran bahwa ini adalah hari terakhirnya untuk bekerja. Bayang-bayang kemurkaan pemilik kafe itu sudah melintasi kepalanya.
Dia mencoba menguatkan dirinya sendiri. Pada nyatanya dia sudah tidak sanggup lagi. Ketika hidupnya nyaman di Jakarta, dia disuruh ke Jogja. Jingga menurutinya saja karena sesungguhnya dia sangat merindukan sosok seorang ibu. Berharap bu'denya akan menjadi ibu kedua untuknya. Namun, di sana dia malah dimasukan ke dalam lubang buaya dan dijadikan alat oleh bu'denya. Bukannya bahagia Jingga malah hidup menderita.
Jingga memandangi dirinya di cermin. Wajahnya terlihat sangat layu bagai bunga yang sudah mati. Tidak ada gairah juga tidak ada semangat. Dia hanya mengikuti alur yang akan membawanya ke jurang kematian atau malah membawanya ke lembah kebahagiaan.
"Jingga, ketika Bunda tiada jadilah wanita yang kuat dan tangguh. Mampu menghadapi segala rintangan dan cobaan yang pastinya akan datang kepada kamu. Jangan pernah menyerah meskipun kamu hanya berjuang sendiri. Ada Tuhan yang selalu bersama kamu."
Jingga menengadahkan kepalanya ke atas. Jika, ucapan itu terngiang-ngiang di kepalanya pasti air matanya akan tumpah lagi. Perkataan yang bundanya ucapkan dua jam sebelum bundanya pergi menghadap pencipta. Darah yang berceceran di aspal membuatnya menangis lagi dan lagi.
"Kenapa tidak Bunda biarkan aku yang pergi? Andai, aku yang pergi pada waktu itu ... pasti aku tidak akan menjalani hidup yang melelahkan ini, Bunda."
__ADS_1
Baru kali ini Jingga rapuh seperti ini. Dia merasa hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Bukan Jingga namanya jika dia tidak mampu mengubah raut wajahnya secepat kilat. Sekarang, dia sudah segar dengan riasan tipis di wajahnya.
"Apapun harus bisa aku lewati," ucapnya untuk menyemangati diri.
Melelahkan memang jika harus seperti ini terus. Namun, kerasnya perjuangan hidup Jingga membuatnya terbiasa. Dia mengunci pintu kosannya dan menuju kafe.
Alangkah terkejutnya pegawai kafe dengan keadaan kafe yang sudah seperti sedia kala. Perbaikan kafenya sangatlah cepat sekali. Jingga yang baru saja datang pun merasa sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia berpikir ini adalah kafe milik Aksa karena kemarin Aksalah yang datang ke sini. Ketika Fajar dan Aska berduel pun Aksa datang.
"Kenapa kamu bisa memiliki pacar yang arogan sih?" tanya salah seorang perawi Jomblo's kafe kepada Jingga.
Jingga terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh teman kerjanya itu. Namun, Jingga hanya menjawabnya dengan seulas senyum. Telinganya sudah terbiasa mendengar gunjingan sana sini. Dia tidak akan merasa sakit hati apalagi marah. Wajar juga jika pegawai di sana marah kepada Jingga. Dialah yang menyebabkan kegaduhan dan keributan di kafe kekinian ini.
Dua pria tampan masuk ke dalam kafe beriringan. Pegawai yang tengah menggunjing Jingga menghentikan ucapan mereka.
"Sepuluh menit lagi kita akan adakan briefing," ucap Ken.
Pria yang biasanya menebarkan senyum ke arah Jingga kini malah sebaliknya. Dia bersikap dingin dan datar, tetapi Jingga memakluminya.
Briefing pun dimulai, Ken dan Juno memberikan pengarahan demi pengarahan kepada para karyawan di sana. Mereka juga membahas masalah kerugian yang menimpa kafe tersebut.
"Saya harap tidak akan ada lagi kejadian serupa seperti ini lagi. Jika, terjadi lagi karyawan itu akan kami pecat tanpa mendapatkan apapun," tegas Juno.
Jingga tersenyum tipis. Hari ini akan menjadi hari terakhir untuknya bekerja di sini. Kafe yang membuatnya sangat nyaman.
Ken menatap Jingga dengan tatapan cukup tajam. Jingga tidak berani membalas tatapan Ken tersebut.
"Jingga, ke ruangan atas sekarang!"
__ADS_1
...****************...
Maaf ya, akan crazy up lagi sampai akhir bulan ini.