Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Jodoh Terkahir


__ADS_3

"Jahat!"


Seruan tersebut membuat Aska menghela napas berat. Apalagi tubuhnya sudah dipeluk dengan sangat erat oleh orang yang baru saja masuk.


"Kenapa harus pergi?" tanyanya.


Aska pun tersenyum. Dia mengurai pelukannya dan menangkup wajah cantik yang telah memeluk tubuhnya.


"Kakak ingin belajar untuk mengurus usaha dengan Kakek," jawabnya.


"Jingga 'kan?" sergah perempuan itu. "Dia yang membuat Kakak pergi dan sudah Kakak sakit hati."


Aska menatap ke arah Arya. Namun, orang tua dari si perempuan itu hanya terdiam.


"Salah satu alasannya adalah itu." Aska harus berkata jujur karena jika dia berdusta urusannya akan lebih runyam lagi.


"Di mana perempuan itu? Beraninya bikin Kakak sakit hati seperti ini," oceh anak remaja itu. Beeya yang tak lain anak dari Beby juga Arya akan menjadi orang terdepan untuk membela Aska. Mereka adalah partner yang cocok.


"Dia sudah menikah dan pasti nanti akan bahagia dengan pasangannya," ujar Aska dengan nada yang sangat pilu.


Beeya tahu akan sosok Jingga, tetapi dia tidak tahu bahwa Jingga menikah dengan sahabat Aska. Mendengar ucapan Aska, Beeya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia memeluk erat tubuh Aska lagi.


"Tidak ada best partner lagi," keluh Beeya. Tangannya sudah melingkar sangat erat di pinggang Aska.


"Ketika Kakak main ke sini, pasti ada waktu untuk kita berdua." Aska sendiri sudah menganggap Beeya seperti adiknya.


Semakin berat sebenarnya untuk meninggalakan orang-orang yang sangat Aska sayangi. Terlebih kembarannya yang seakan menahan sedih yang teramat dalam.


"Semuanya, Adek berangkat, ya. Adek janji, kita akan bertemu lagi dan akan berkumpul seperti ini lagi."


Lambaian tangan Aska mengakhiri perpisahan itu. Ketika pintu kamar perawatan tertutup di situlah laju air mata mulai berjatuhan.


"Pah."


Beeya sudah merengek ke arah Arya. Arya hanya memeluknya dengan erat sedangkan Beby sudah memeluk tubuh Ayanda. Dia tahu yang paling terpukul atas keputusan Aska adalah ibundanya.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju bandara, Aska hanya terdiam. Tidak ada yang dia ucapkan.


"Daddy harap kamu kembali ke Indonesia menjadi pengusaha yang disegani oleh pengusaha lain."


Harapan yang dilontarkan oleh Gio membuat Aska menganggukkan kepalanya pelan. Dia menatap sang ayah dengan sangat dalam.


"Maafkan Adek, Dad." Penyesalan yang Aska rasakan.


"Tidak masalah. Dari rasa sakit pasti kamu akan menemukan kekuatan yang tak tertandingi," balas Gio.


Aska hanya bisa memberikan senyumannya kepada sang ayah. Dia meraih tangan Gio dan menciumnya dengan sangat lama.


"Dad, doakan anakmu ini, ya. Semoga Adek bisa menjadi orang sukses seperti Daddy dan bisa mendapat pendamping yang baik yang Daddy dan Mommy sukai."


Hati Gio mencelos mendengar ucapan tulus dari Askara. Putranya yang jarang sekali berbicara kepadanya, kecuali jika ada hal yang penting. Beda halnya dengan Aksa yang selalu mengajaknya berdiskusi.


"Tentu, Dek. Daddy akan selalu mendoakan kamu," ujarnya. Gio memeluk tubuh putranya, tak terasa air matanya menetes. Haru dan bahagia jadi satu. Ujian yang menimpa Aska membawa keberkahan untuknya, yaitu bisa dekat dengan anak bungsunya.


"Di balik ujian pasti ada hikmahnya. Kini, aku merasakan hikmah yang sangat luar biasa ini."


"Apa kepergian Jingga ada sangkut pautnya dengan Daddy?" Pertanyaan Aska membuat Gio mengerutkan dahinya.


"Kenapa menuduh Daddy?" hardik Gio.


"Bukan menuduh, hanya saja terbilang mendadak. Hanya orang-orang seperti Daddy yang bisa melakukannya."


Gio pun tertawa, begitu juga dengan Remon. "Anda sudah dicap jelek oleh putra Anda, Pak Bos," gurau Remon.


"Gak gitu, Om," elak Aska. Dia takut jika ayahnya akan marah.


Gio malah sangat bahagia, putra bungsunya ini tetaplah anak kecil yang selalu ingin tahu tindak tanduk sang ayah. Gio seakan bernostalgia ke tahun di mana Aska dan Aksa masih sekolah PAUD.


"Daddy tidak akan mengurus hal selain ranah Daddy," balas Gio. "Kamu mengerti 'kan." Aska pun mengangguk.


Tidak ada kebohongan di mata sang ayah itulah yang membuat Aska percaya. Dia akan menyudahi pikirannya perihal Jingga. Mulai detik ini, menit ini dan pada ketinggian seribu lima ratus kaki dia akan mencoba untuk amnesia. Menghilangkan semua ingatan juga kenangan tentangnya juga Jingga. Serta menutup hatinya pelan-pelan untuk para wanita, hingga pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membuat hatinya terketuk dan dia akan membuka hatinya kembali.

__ADS_1


"Selamat tinggal lukaku. Selamat tinggal cinta pertamaku. Namun, aku masih berharap ... Tuhan akan berbaik hati kepadaku dan menjadikan kamu jodoh terakhirku."


****


Di sebuah rumah yang serba putih, seorang wanita tengah duduk di balkon dengan memeluk kedua lututnya. Wajah sedih dan pilu masih terlihat jelas. Menghirup udara di pagi hari sekaligus menyinari hati yang sudah gelap akan kisah cinta dan kehidupan yang amat menyakitkan.


Dia menatap ke bagian bawah lehernya. Menggantung sebuah cincin yang sangat manis. Cincin pemberian dari seseorang yang masih dia sayang.


"Aku juga salah ... aku sudah terlalu lambat memberikan jawaban. Aku yang selalu berpikir pakai logika, padahal boleh sesekali hati yang menentukan semuanya."


Hembusan napasnya kasar mengakhiri gumamannya di pagi hari ini. Kepalanya dia dongakkan ke atas. Matanya pun terpejam dan tangannya sudah memegang cincin yang menggantung di lehernya.


"Tuhan ... aku mencintainya. Apakah masih bisa aku dan dia dipersatukan kembali? Bisakah Engkau menjadikannya jodoh terakhir dalam hidupku?


Dia pun mulai beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya kembali. Menelisik sudut demi sudut kamar yang dia tinggali. Luas dan juga sangat nyaman.


"Siapa pemilik rumah ini?"


Masih menjadi misteri orang yang sudah membawanya pergi. Namun, dia juga sangat merasa berterima kasih kepada orang misterius itu. Berkat jasanya, dia bisa pergi meninggalakan laki-laki yang sudah merusaknya. Laki-laki yang sangat dia benci di dunia ini setelah ayahnya.


Suara pintu terbuka, senyuman hangat diberikan oleh salah seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah besar ini.


"Selamat pagi," sarapan hangat wanita paruh baya itu berikan. Dia berjalan dengan membawa nampan di tangan.


"Ini sarapannya, Non. Harus dihabiskan karena tubuh Non sangat-sangat kurus," ucap asisten tersebut.


Bukannya marah, Jingga malah tertawa. Dia merasa ada teman di sini. Tidak sendirian lagi.


"Habiskan, ya. Biar tubuh Non berisi dan pasti akan terlihat lebih cantik lagi," ujar asisten rumah tangga itu lagi. Jingga hanya mengangguk.


Ketika asisten rumah tangga itu mendekat, aroma masakannya pun sangat menyengat sampai ke hidung. Namun, itu membuat perut Jingga mual seperti diaduk-aduk. Dia menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.


"Huek!"


...****************...

__ADS_1


Komen dong, semoga bisa up lagi menemani malam Minggu kalian.


__ADS_2