Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kebahagiaan


__ADS_3

Wejangan dari sang ibu mampu membuat Aska merasa lega. Dia akan memulai aktifitasnya mulai hari ini.


Ting!


Sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel Aska.


"Dia sudah keluar dari rumah sakit."


Sebuah laporan yang dikirimkan oleh anak buah Aska yang berjaga. Tidak ada jawaban dari Aska. Dia hanya dapat menghela napas kasar. Dia memilih untuk turun ke lantai bawah, ternyata sudah ada ibu dan juga abangnya.


"Riana mana, Bang?" Aska tidak melihat Riana pagi ini. Biasanya, dia seperti perangko yang selalu menempel di tubuh sang suami.


"Baru aja tidur." Terlihat wajah Aksa pun kurang tidur.


"Periksa ke dokter ya, Bang. Kasihan istri kamu kalau begitu terus setiap malam," imbuh Ayanda.


"Tolong atur jadwalnya ya, Mom, tapi jangan malam. Takut lemas seperti semalam."


"Lah, emang udah boleh main kuda-kudaan?" sergah Aska.


Aksa dan Ayanda menatap tajam ke arah Aska. Terlebih Ayanda yang sudah mengarahkan pisau ke arah wajah sang putra.


"Et dah, ngapa pada serem begitu mukanya," ucap Aska, sambil memundurkan kepalanya.


"Kenapa dipikiran kamu selalu hal plus-plus yang nyantol?" omel sang ibu. "Semalam nego masalah ciuman," ocehnya lagi.


"Potong aja Mom burungnya. Biar gak bisa cicicuit," balas Aksa. Seketika Aska memegang aset berharganya yang belum terjamah oleh tangan siapapun, kecuali tangannya sendiri. Eits, jangan negative thinking. Sosis jumbo milikinya pasti dipegang jika tengah pipis. Jangan traveling ya, pamali.


"Ya janganlah, entar gua gak bisa bikin cewek men-the-sah atuh."


Plak!


Centong nasi mengenai kepala Aska. Siapa lagi jika bukan ulah dari sang ibu tercinta.


"Hari ini Mommy akan sidak kamar kamu, Dek. Mommy curiga kalau kamu kolektor film dewasa." Aska melongo mendengar ucapan sang ibu.


"Astaghfirullah, Mom. Tampang ganteng, alim dan Soleh begini dikira kolektor film biru. Sungguh terlalu." Mendramatisir sekali Aska. Ayanda hanya berdecih kesal, sedangkan Aksa mengembangkan senyum melihat perdebatan ibu dan adiknya.


"Den, ini kopinya." Secangkir kopi sudah tersedia di depan Aksa. Dia pun segera menyesap kopi yang masih mengepulkan asap tersebut.

__ADS_1


"Ke kantor pakai sopir ya, Bang. Jangan nyetir sendirian." Aksa mengangguk.


"Mimo!" Suara tiga anak perempuan cantik menggema di telinga. Suapan lagi jika bukan ketiga cucu Ayanda.


"Uncle!"


Mereka bertiga mengapa Aksa dan mencium pipi sang om secara bergantian.


"Uncle selalu sempurna," ucap Aleena. Aksa pun tertawa dan mengusap lembut rambut snag keponakan.


Beda halnya dengan Aleesa yang menghampiri Aska. Dia menatap wajah Aska. Dia mencari-cari luka lebam yang Aska derita.


"Kamu kenapa?" sergah Aska.


Aleesa malah mendekatkan wajahnya ke telinga Aska. "Bukannya Om dihajar dan punya luka lebam." Mata Aska seketika melebar. Dia memberi kode kepada Aleesa untuk diam dan Aleesa pun membentuk jarinya menjadi huruf O.


"Tapi, ada syaratnya," bisik Aleesa.


"Alamat boncos gua." Batin Aska berkata.


"Boleh ya ke kafe Om. Kakak Sa suka makanan di sana," imbuhnya.


"Riana mana, Bang?" Echa menanyakan adiknya.


"Di kamar, Kak. Dia baru aja tidur, semalaman muntah-muntah terus. Kasihan Abang lihatnya," ujar Aksa.


Echa tersenyum ke arah adiknya itu. Dia mengusap lembut pundak sang adik.


"Anak kamu tahu, dia tidak hanya ingin menyusahkan ibunya saja. Dia juga ingin menyusahkan kamu," kelakar Echa.


Aksa pun tertawa, sebenarnya inilah yang diinginkan Aksa. Melihat istrinya ngidam ketika dia ada di sampingnya.


"Bang, itu gak bahaya 'kan?" tanya Aksa kepada Radit.


"Gua bukan dokter kandungan," sahut Radit. Aksa pun mendengkus kesal. Apalagi wajah Radit yang terlihat sangat menyebalkan.


"Boleh gak sih Uncle bunuh ayah kalian?" ucap Aksa dengan tatapan tajam ke arah Radit. Namun, Radit seolah biasa saja.


"Jangan!" jawab ketiga anak Radit dan Echa yang kini berlari ke arah sang ayah.

__ADS_1


"Biarin aja sih, nanti Bubu kalian dapat ayah pengganti kalian yang lebih ganteng, kaya juga sayang sama kalian. Apapun yang kalian inginkan pasti akan dipenuhi." Aska sudah menjelma menjadi kompor meleduk.


Namun, ketiga anak Radit malah memeluk ayah mereka dengan sangat erat.


"Baba gak bisa digantikan oleh siapapun." Kompak sekali kurcaci tiga ini. Aska dan Aksa menggelengkan kepala, sedangkan Ayanda juga Echa tertawa.


Setelah sarapan, mereka kembali kepada aktifitas mereka masing-masing. Sedari pagi Aksa tidak terlalu fokus pada pekerjaannya. Dia teringat semalam sang istri yang terus-terusan bolak-balik ke kamar mandi dan tidur pun di kloset duduk karena sudah lemas dan tak mampu berdiri. Dia juga tidak ingin menyusahkan sang suami yang harus bolak-balik menggendong dirinya.


Ketika jam istirahat, Aksa memilih untuk pulang. Dia ingin melihat langsung sang istri.


"Tumben pulang?" tanya Ayanda.


"Abang ingin melihat Riana, Mom." Wajah khawatir nampak terlihat jelas. Ayanda mengusap lembut pundak putranya.


"Bang, wanita hamil itu wajar seperti itu. Riana pernah mengalami morning sickness meskipun gak lama. Sekarang malah berbalik." Senyum hangat Ayanda berikan kepada Aksa agar putranya itu sedikit tenang.


"Kamu jangan khawatir. Mommy akan menjaga Riana di sini." Bibir Aksa pun tersungging mendengar ucapan sang ibu. Dia merasa sangat beruntung memiliki ibu yang pengertian seperti Mommy-nya ini.


"Mom, perlakukan Riana seperti anak kandung Mommy sendiri, ya." Sebuah permintaan yang terucap dari mulut Aksa.


"Tanpa kamu minta, Mommy sudah menganggap Riana seperti anak Mommy sendiri. Siapapun yang akan menjadi menantu Mommy, pasti akan Mommy perlakukan seperti anak sendiri." Aksa memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat. Terima kasih, kata yang terus Aksa ucapkan kepada ibunya.


"Abang ke atas dulu, ya." Ayanda pun mengangguk seraya tersenyum.


Tidak ada kebahagiaan selain melihat anak-anaknya bahagia. Echa sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kisah kecil yang menyedihkan yang pernah putrinya itu alami kini membawanya kepada kebahagiaan yang sesungguhnya.


Sekarang, dia juga melihat putra pertamanya sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Setelah perjalanan berliku yang harus dia tempuh. Air mata yang selalu Aksa teteskan jika tengah bercerita kepadanya. Tibalah kini Aksa berjodoh dengan Riana, anak dari mantan suaminya dengan almarhum Amanda yang sangat putranya cintai.


Dia hanya tinggal menunggu jodoh Aska. Wanita mana yang akan menjadi jodoh Askara? Apa dia sama seperti Radit dan Riana yang memiliki kisah menyedihkan. Atau malah sebaliknya. Wanita yang sangat amat disayangi oleh keluarganya.


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Ayanda. Dia tidak ingin mendahului Tuhan. Siapapun pilihan Aska, jika Aska bahagia dia pasti akan menyetujuinya. Terlepas wanita itu bukan dari kalangan berada itu tidak masalah. Kebahagiaan itu tidak terletak dari materi, tetapi pada hati dan diri sendiri.


...****************...


Aku up lagi nih ...


Bosen gak nih?


Masalah cerita Aska yang dipisah karena aku ingin mendapat uang jajan dari kisah si playboy tengil, Mak. Lumayan Mak buat jajan cilok.😁

__ADS_1


__ADS_2