
"Jangan Daddy!"
Bukan Aksa yang menjawab, melainkan seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan Giondra. Kedua pria yang sedang ada di ruangan tersebut menoleh. Seorang wanita dengan perut yang membukit sudah berada di ruangan tersebut. Napasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran.
"Sayang."
"Riana."
Aksa segera menghampiri sang istri yang sudah terlihat pucat. Setengah meter lagi hendak sampai ke arah Riana, tiba-tiba tubuh Riana limbung. Untung saja Aksa dengan sigap menahan tubuh Riana.
"Sayang! Bangun, Sayang!"
Gio pun terlihat panik ketika melihat sang menantu tak sadarkan diri. "Bawa dia ke rumah sakit. Cepat!"
Fahri dan Remon yang berada di luar ruangan pun sangat terkejut ketika Aksa membopong tubuh istrinya yang tengah hamil enam bulan.
"Kenapa ini, Bos?" tanya Remon kepada Gio.
"Jangan banyak bicara!" sentaknya. "Cepat siapkan mobil!"
Jika, sudah begini kondisi sudah genting. Remon segera mempersiapkan mobil diikuti Fahri dari belakang.
"Baru aja si Jingga selamat. Sekarang malah nyonya bos," gerutu Fahri pelan.
Fahri yakin Aksa pergi menggunakan mobil yang dipakai Giondra. Dia hanya mengikutinya dari belakang saja. Namun, dia juga ketar-ketir karena takut jikalau Gio membawa Riana ke rumah sakit yang sama di mana Jingga dirawat.
"Semoga saja gak ke rumah sakit yang tadi." Rapalan doa Fahri panjatkan. Bukan tanpa sebab, dia tidak ingin terjadinya kemurkaan lagi ketika bos besarnya mengetahui semuanya.
Tibanya di rumah sakit, Aksa segera membawa Riana ke ruang IGD. Aksa terus mengikutinya. Dia sudah dilarang untuk masuk ke ruangan tersebut, tetapi Aksa terus memaksa. Pada akhirnya, pihak rumah sakit yang mengalah.
Hanya rasa takut kehilangan yang kini Aksa rasakan. Dia takut anak dan istrinya kenapa-kenapa. Dia juga mengerang kesal ketika para anak buahnya tidak bisa menjaga Riana. Malah mereka kecolongan.
Selama dokter memeriksa kondisi Riana, Aksa tak henti mengusap lembut Riana dengan tangan yang satunya menggenggam erat tangan Riana.
"Bertahan, Sayang."
Dokter umum sudah memeriksa kondisi Riana. Baru saja datang seorang dokter lagi, dari gelar di belakangnya Aksa dapat menebak bahwa dokter itu adalah dokter kandungan. Masih muda juga cantik.
"Saya periksa dulu, ya."
Dokter itu mengatakan ingin memeriksa, pada nyatanya pandangannya terus menatap ke arah Aksa.
"Dok," tegur salah seorang perawat karena stetoskopnya yang kunjung dia letakkan di atas perut Riana.
"Maaf," jawab dokter tersebut yang bernama Mentari.
Aksa terkadang heran dengan wanita zaman sekarang. Lebih menyukai barang milik orang lain, dari pada mencari sendiri. Dalam artian, barang itu bekas. Masih saja tetap mau. Malah kebanyakan yang seperti itu adalah wanita yang memiliki pendidikan tinggi. Orang yang pastinya pandai, tapi terlalu bodoh dalam hal membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Cenderung ingin merebut milik orang lain.
"Kondisi janin di dalam kandungan pasien sehat. Dia sangat kuat, ibunya hanya kelelahan dan stres berlebihan," jelas dokter Mentari seraya tersenyum manis ke arah Aksa.
Semanis apapun senyuman dokter itu, Aksa tetaplah Aksa. Manusia yang hanya melihat Riana yang paling cantik di dunia ini. Tidak ada yang lain, karena dia bukan turunan buaya. Aksa adalah pria yang setia, cukup dengan satu wanita di sampingnya. Menemaninya dalam keadaan suka maupun duka.
__ADS_1
"Saya mau ganti dokter kandungan."
Kalimat jawaban yang membuat dokter Mentari juga dokter yang lain terkejut. Begitu juga dengan para perawat.
"Saya hanya ingin dokter kandungan yang terbaik untuk istri saya. Dokter yang benar-benar profesional." Ucapan yang penuh dengan penekanan dan tak terbantahkan.
Aksa mengeluarkan ponselnya. Dia menekan nomor seseorang.
"Dokter Gwen."
Tubuh dokter Mentari menegang seketika mendengar nama yang Aksa sebutkan.
"Saya ingin dokter Gwen ke Jogja sekarang. Memeriksa kandungan istri saya sekarang juga."
Nyali dokter Mentari sedikit menciut mendengar ucapan dari Aksa. Apalagi mereka semua tahu siapa dokter Gwen.
Sambungan telepon pun dia putus secara sepihak. Aksa tidak menghiraukan pandangan para dokter dan juga perawat di sana. Dia dengan erat menggenggam tangan Riana.
"Bagiamana keadaan menantu Daddy?"
Pertanyaan dari pria paruh baya yang baru saja masuk membuat dokter Mentari tersentak. Dia melihat jelas wajah khawatir seorang mertua kepada menantu.
"Abang sudah menghubungi dokter Gwen. Abang juga sudah menyuruh Fahri untuk memesan kamar paling private. Abang tidak ingin sembarangan orang menemui istri Abang."
Gio mengangguk mengerti, dia menatap ke arah sang menantu yang masih terpejam dengan wajah yang masih pucat.
Calon pelakor mundur alon-alon. Dia merasa pertahanan Aksa tidaklah mudah. Dia memiliki benteng yang sangat kokoh yang tidak bisa dia tembus dengan gampang.
"Bangun Jingga! Bangun!" ucap pelan Aska. Suaranya sudah sangat serak, mulutnya tak bisa berkata banyak.
"Ijinkan aku mengucapkan kata pisah untuk selamanya. Ijinkan aku melupakanmu, walaupun nantinya aku harus berdarah-darah dan terluka lagi karena masih mengingat kamu. Setidaknya ... kamu masih bisa melihat indahnya dunia. Walaupun hati kamu terluka dan akan sembuh dalam waktu yang lama."
Hembusan napas berat keluar dari mulut Aska. Dia sungguh tidak rela jika harus meninggalakan Jingga. Namun, keadaannya kini sudah berbeda. Jingga sudah menjadi milik orang lain, sedangkan dia hanya seroang pria yang menyedihkan yang masih berharap akan ada keajaiban. Masih selalu berdoa jika ini hanya mimpi buruk belaka.
Aksa meletakkan punggung tangan Jingga di pipinya. Memejamkan matanya barang sejenak untuk merasakan hangatnya tangan itu. Sebentar lagi, dia tidak akan pernah merasakan kehangatan seperti lagi. Hanya ada kesepian juga kesedihan yang pastinya akan bersarang di hatinya.
Aska merasakan pergerakan tangan Jingga. Matanya segera terbuka, dan dilihatnya Jingga sudah menitikan air mata.
"Aku tidak bahagia," lirih Jingga. "Bawa aku pergi!" pintanya.
Kalimat yang sangat menyayat hati. Tidak ada respon apapun dari Aska. Dia mengusap lembut pipi Jingga yang sudah bermandikan air mata.
"Aku tidak akan menjadi pria pecundang. Aku tidak akan membawa lari kamu. Biarlah waktu yang akan membawa kamu kembali kepada aku."
Air mata Jingga semakin mengalir deras mendengar ucapan dari Aska. Wajah Aska yang sangat datar seakan menyakiti hatinya. Dia melihat tidak ada perjuangan sama sekali dari Aska.
"Katanya Bang As mencintaiku, tetapi kenapa tidak mau berjuang?"
Aska menatap lamat-lamat manik mata Jingga. Sorot matanya menyiratkan kesedihan mendalam ketika mendengar ucapan Jingga.
"Aku sudah lama berjuang, tapi kamu yang tak pernah sadar. Aku sudah lama menunggu, tapi kamu yang selalu mengulur waktu. Sekarang, ketika seperti ini kamu yang mendesak aku untuk berjuang. Apa kurangkah perjuangan aku selama ini? Apa kurang sabarkah aku selama ini menunggu kamu?"
__ADS_1
Mulut Jingga pun kelu mendengar sergahan dari Aska. Nada bicaranya lembut, tetapi sangat menusuk.
"Aku yang ingin membawa kamu ke jenjang serius, malah kamu abaikan terus. Aku yang ingin membahagiakan kamu, malah aku yang digantung sama kamu. Apa di sini aku yang salah? Apa di sini aku yang tidak berjuang? Apa di sini aku yang kurang sabar?"
Lelehan air mata terus membanjiri wajah Jingga. Ucapan Aska benar-benar menampar hatinya.
"Andai, aku bisa mengulang waktu ... akan aku paksa kamu untuk menikah dengan aku. Akan aku bawa kamu kepada kedua orang tua aku. Mengenalkan kamu sebagai calon istri aku kepada mereka," paparnya.
"Namun, itu tidak bisa terulang lagi. Semuanya sudah terjadi. Aku yang dengan bahagia datang ke kosan kamu, malah berujung duka. Bukan hanya kamu yang terluka, aku juga. Aku lebih sakit, apalagi yang ...."
Aska sudah tidak sanggup lagi berkata. Dia memilih menghembuskan napas kasar dengan pandangan ke mana-mana karena menahan sesak di dada.
"Maafkan aku," lirih Jingga.
Aska kembali menatap wajah Jingga yang sudah sangat pilu. Dia mengusap lembut rambut Jingga dengan senyuman yang sangat dipaksakan.
"Tidak ada yang salah. Inilah jalan takdir kita berdua. Mungkin, aku gak pantas untuk kamu." Hati Aska sangat sakit mengatakan ini semua. Bohong, itulah yang sedang Aska ucapkan.
"Sekuat tenaga aku berjuang untuk memantaskan diri. Jika, pada nyatanya Tuhan tidak bisa menghendaki, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi," tuturnya.
"Bukan aku tidak berjuang, tapi kamu sudah membuang-buang kesempatan hingga pada akhirnya kesedihan juga kekecewaan yang aku dan kamu dapatkan."
"Aku mencintai kamu, Bang As," balas Jingga.
"I know that, tapi semua itu sudah terlambat. Aku tidak ingin menjadi manusia egois, merebut kamu dari orang yang aku anggap sahabat, meskipun dia sudah berkhianat." Aska menjeda ucapannya, mulai menggenggam tangan Jingga dengan begitu erat.
"Cinta kamu ke aku, mungkin tidak sekuat cinta aku kepada kamu. Jadi, kamu bisa dengan mudah melupakan aku. Biarlah aku yang tersiksa dengan rasa cinta yang aku punya. Kamu bagai oase di padang gurun. Terlihat nyata, pada nyatanya hanya bayangan semu semata."
"Aku sungguh mencintai kamu, Bang As," ucap Jingga lagi.
"Aku pun, tapi apa mungkin kita bisa bersatu? Apa mungkin dia mau merelakan kamu untuk aku? Apa mungkin ...."
Aska menggelengkan kepalanya. Kisah cintanya terlalu rumit. Dia juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
"Biarkan takdir yang mempertemukan kita kembali. Biarkan sekarang kita sama-sama tersakiti, karena aku yakin ... bahagia pasti sedang menanti." Seulas senyum Aska tunjukkan kepada Jingga. Wanita yang sedari tadi menitikan air mata.
"Jangan menangis lagi. Aku janji, aku akan terus menemani kamu di sini."
Inilah kesempatan terakhir Aska untuk bersama Jingga. Mengukir kenangan indah berdua. Setelah itu, dia akan pergi jauh ke lain benua. Mencoba melupakan apa yang sudah terukir di hati dan juga memori otaknya.
Aska mengusap air mata yang sudah memandangi wajah Jingga. Dia mengecup hangat kening Jingga. Matanya terpejam seakan sedang meresapi apa yang tengah dia lakukan. Sama halnya dengan Jingga. Dia memejamkan matanya, merasakan kecupan hangat dan penuh cinta dari Askara.
"Bhang Sat!"
"Itu istri gua!"
...****************...
Komen atuh ...
Tembus 100 komen UP lagi,
__ADS_1